LOGINCup!
Kecupan lembut mendarat di bibir Febby, membuat wanita itu mendesis risih. Menahan air mata yang nyaris tumpah.Entah apa yang terjadi, Febby sendiri bingung kenapa dia merasa jijik berada di dekat Andi, bahkan membuat perutnya bergejolak, mual."Mas! A-aku ... aku mau muntah." Febby menggerakkan tubuhnya. "Turun Mas! Aku mau muntah. Cepat!"Andi mengerutkan kening, "Kamu mau muntah?""Iya, Mas. Hoek!" Satu tangan memegang mulut."TunDi dalam mobil yang melaju membelah sisa kabut pagi menuju Jakarta, suasana terasa begitu berat.Dylan duduk di kursi belakang, dibalut selimut tebal dan memegang botol air hangat yang diberikan petugas medis.Febby duduk di sampingnya, mendekap bahu putranya seolah tak mau kehilangan sedetik pun, sementara Dirga fokus menyetir dengan rahang yang terkatup rapat.Setelah keheningan yang cukup lama, Dylan akhirnya membuka suara.Suaranya kecil, serak, dan masih menyimpan sisa trauma."Daddy ... Mommy ... sebenarnya ada satu hal yang mau aku tanya," bisik Dylan. "Kalian harus jawab ya, Mommy, Daddy.""Istirahat dulu, Dylan. Kamu baru saja melewati malam yang mengerikan, jangan memikirkan hal yang tidak-tidak lagi, hmm," jawab Febby lembut, mencoba mengusap kotoran yang masih menempel di pipi anaknya."Tapi ini penting. Di sana ... tadi a
Ketegangan di bawah rumah pohon itu mencapai puncak. Buaya muara tersebut, yang merasa terdesak oleh kepungan cahaya senter, mulai menunjukkan perilaku agresif.Ia menghantamkan moncong kerasnya ke batang pohon beringin tua itu berkali-kali. Setiap benturan membuat struktur rumah pohon di atasnya berderit ngeri."Komandan! Kayu penyangganya mulai retak!" teriak salah satu petugas SAR saat melihat papan lantai rumah pohon mulai miring."Rumah pohon itu sudah sangat usang dan berumur, pasti kayu-kayu di sana sudah sangat rapuh," ucap salah satu tim SAR merasa khawatir."Dylan, Giandra! Jangan bergerak ke pinggir!" perintah Dirga lantang, suaranya berusaha menutupi gemuruh jantungnya yang berpacu gila. "Tetap diam Sayang! Sebentar lagi kami akan ke sama menolong kalian berdua!""Kita harus secepatnya bergerak!"Tim SAR segera mengeksekusi rencana darurat. Dua
"Dylan! Giandra! Jawab Mommy, Nak!"Suara itu kini bukan lagi sekadar sayup-sayup yang dibawa angin.Teriakan Febby terdengar begitu dekat, membelah kesunyian hutan yang mencekam.Kali ini, Giandra tidak bisa lagi menganggap itu sebagai halusinasi. Ia mendongak, matanya yang basah oleh air mata seketika melebar."Lan ... itu beneran suara Mommy kamu!" bisik Giandra dengan bibir yang gemetar karena kombinasi rasa dingin dan harapan yang mendadak muncul.Dylan mengangguk cepat, tetapi ia tetap waspada. Di bawah kaki mereka, predator raksasa itu masih ada.Buaya muara tersebut seolah terusik oleh suara-suara manusia yang mendekat.Ekornya yang besar menghantam semak-semak, menciptakan suara kresek yang berat dan mengerikan."Kita harus kasih tanda, Gian. Tapi kita nggak bisa turun." Dylan berpikir cepat. 
Di atas rumah pohon yang reyot itu, Dylan terpaku.Di tengah deru angin dan gesekan dedaunan, telinganya yang tajam menangkap sesuatu yang berbeda.Sebuah suara yang sangat ia kenal, meski terdengar samar dan terdistorsi oleh jarak serta lebatnya kabut."Mommy .... " bisik Dylan pelan. Matanya melebar, menatap ke arah kegelapan di balik rimbunnya hutan. "Gian! Aku dengar suara Mommy! Mereka di sana!"Giandra, yang sedang berusaha mengatur napasnya yang sesak, menggelengkan kepala dengan cepat.Wajahnya yang kotor tampak sangat sangsi. "Nggak ada suara apa-apa, Lan. Cuma suara angin. Kamu cuma berhalusinasi karena kita terlalu capek.""Nggak, Gian! Aku yakin itu Mommy!" Dylan bergerak menuju pinggiran lantai kayu yang sudah lapuk, hendak menggapai batang pohon untuk turun."Kamu mau ke mana Dylan?""Kita harus turun
Cahaya senter dari tim SAR terus menyapu permukaan tanah yang dipenuhi daun kering dan lumpur hitam.Febby berjalan dengan napas yang mulai tersengal, namun setiap kali kakinya terasa lemas, bayangan wajah Dylan yang ketakutan memaksanya untuk terus melangkah.Dirga berada tepat di sampingnya, memegang lengan Febby dengan kuat agar istrinya itu tidak terperosok ke dalam akar beringin yang menjulur liar."Sabar, Sayang. Kita pasti temukan dia," bisik Dirga, meski matanya sendiri terus bergerak gelisah menyisir kegelapan.Tiba-tiba, komandan tim SAR yang berada paling depan mengangkat tangan, memberi isyarat agar seluruh barisan berhenti."Semuanya, diam! Matikan suara radio!"Hening seketika menyergap.Satu-satunya yang terdengar hanyalah desau angin yang menggesek dahan-dahan tua dan suara napas berat para pencari.Anjing pelaca
"Aku ngantuk Dylan." Giandra terus merengek."Tidurlah.""Tapi aku takut, kalau kita tidur nanti ada hewan buas mangsa kita.""Nggak akan," jawab Dylan datar. "Tidurlah. Biar aku yang jaga kamu."Kedinginan yang menggigit tulang akhirnya memaksa kelopak mata Dylan dan Giandra terpejam karena kelelahan yang luar biasa.Di bawah naungan akar beringin yang lembap, kedua bocah itu tertidur dalam posisi saling meringkuk, berusaha membagi sisa kehangatan tubuh yang kian menipis.Giandra tampak mengigau pelan. Dalam tidurnya yang tidak nyenyak, ia bermimpi sedang berada di meja makan rumahnya yang mewah.Di hadapannya tersaji sepiring besar nasi goreng wagyu kesukaannya, lengkap dengan telur mata sapi yang masih panas dan kepulan uap yang menggugah selera.Tangannya baru saja hendak menyuapkan sesendok penuh nasi goreng itu






