Inicio / Romansa / Ah! Enak Mas Dokter / Tak Ingin Diusik

Compartir

Tak Ingin Diusik

Autor: Dita SY
last update Fecha de publicación: 2025-11-22 08:00:15

Masih tak percaya, Dirga kembali menatap wajah Anggun yang pucat seperti mayat.

Darah segar terlihat mengalir dari mulut.

Bibir tebal yang semula merah terlihat membiru.

Kemungkinan Anggun meninggal karena kehabisan oksigen dan gagal jantung, karena tekanan yang sangat berat di area dada dan cekikan kuat di leher.

Dirga menghela napas panjang. Terdiam membisu sambil menatap wajah mantan istrinya yang kini sudah tak lagi berwarna.

Satu tangannya mem
Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App
Capítulo bloqueado
Comentarios (6)
goodnovel comment avatar
Desak Alin
polisi India Oma bgt ..
goodnovel comment avatar
Kayra Pratiwi
lnjut doong,bkin pnsrn
goodnovel comment avatar
Bella charisa
AKHIRNYA ANGGUN MENINGGAL JUGAAA...🫰🏻
VER TODOS LOS COMENTARIOS

Último capítulo

  • Ah! Enak Mas Dokter   Bab 614: Kekhawatiran

    Malam itu, setelah anak-anak terlelap, atmosfer di kediaman Dirga. Dokter tampan itu sedang berdiri di balkon kamar yang gelap, sambil memegang ponsel satelitnya dengan erat.Di ujung panggilan, suara Adrian terdengar berat, diiringi sayup-sayup ketikan jari di atas papan tombol komputer."Apa Anda yakin dengan yang kamu lihat itu?" tanya Adrian.​"Aku yakin itu bukan kebetulan, Adrian," bisik Dirga, suaranya sarat dengan kecemasan yang tertahan."Hmm." Di ujung sana Adrian mendengarkan dengan seksama."Pria itu tidak melihat ke arah wahana, dia tidak melihat pengunjung lain. Matanya terkunci pada Dylan. Dan saat aku mencoba mendekatinya, dia menghilang lewat pintu darurat staf seolah sudah menguasai denah tempat itu," lanjut Dirga.​"Anda harus tenang dulu, Dok," jawab Adrian dari seberang telepon. "Bisa Anda deskripsikan ciri-cirinya lebih detail? Tinggi badan, cara berjalan, atau mungkin ada tanda khusus?"​"Tinggi, tegap, sekitar 180 senti. Dia memakai hoodie gelap dan kacamata hi

  • Ah! Enak Mas Dokter   Bab 613: Diawasi

    Minggu pagi, saat Febby mengatakan pada suaminya ingin menghabiskan weekend bersama keluarga, Dirga langsung mengiyakan.Dylan, yang biasanya tampak terlalu dewasa dengan pemikiran logisnya, terlihat sangat antusias saat Dirga mengumumkan bahwa mereka akan menghabiskan waktu di sebuah wahana permainan besar di pusat kota.​"Daddy serius? Aku boleh ke luar nih?" Mata Dylan berbinar, memancarkan binar murni seorang bocah seusianya.​"Hanya untuk hari ini, dan hanya karena Mommy yang memintanya," jawab Dirga sambil mengacak rambut Dylan. "Tapi ingat, tetap dalam jangkauan Daddy.""Horee! Okey Daddy!" seru Dylan dan Farah berbarengan.​Setibanya di taman bermain, suasana ceria langsung menyambut mereka. Dylan dan Farah, berlarian menuju area roller coaster dan komidi putar.Sementara Febby dan Dirga berjalan santai di belakang, mengawasi kedua buah hati mereka de

  • Ah! Enak Mas Dokter   Bab 612: Melacak

    Setelah pulang dari rumah Dirga, Adrian menyibukkan diri dengan penemuannya. Alamat yang diberikan Dylan tadi akan menjadi jawaban dari pertanyaannya selama beberapa tahun ini.Di luar langit semakin gelap, namun cahaya biru dari layar monitor di apartemen pribadi Adrian masih menyala terang.Di hadapannya, tiga buah layar menampilkan barisan kode enkripsi yang bergerak cepat.Adrian tahu, denah yang digambar Dylan bukan sekadar coretan anak kecil ... itu adalah peta menuju Kotak Pandora milik Marco.​Ia meraih ponsel satelitnya dan melakukan panggilan melalui jalur terenkripsi.Tak lama, wajah seorang pria dengan kacamata tebal muncul di layar kecil. Dia adalah Darko, peretas kepercayaan Adrian yang berbasis di luar negeri.​"Kau membangunkanku di jam yang salah, Adrian," gerutu Darko sambil mengucek mata.​"Simpan keluhanmu, Dark. Aku m

  • Ah! Enak Mas Dokter   Bab 611: Catatan Rahasia

    Adrian terdiam sejenak, menatap lekat ke dalam mata Dylan yang seolah-olah mampu menembus lapisan rahasia yang ia simpan.​"Dylan, kamu benar. Ada sesuatu yang tidak dikatakan orang tuamu karena mereka ingin melindungimu," bisik Adrian sambil memajukan posisi duduknya."Iya Om, aku paham tapi .... " Dylan menggantung ucapannya, kemudian Adrian melanjutkan."Kakek bertato naga itu ... dia ... sepertinya dia hubungan dengan pria bernama Marco. Marco adalah musuh besar Papamu di masa lalu. Tapi, dunia ini sempit. Marco juga adalah ayah biologis dari anak perempuan Tante Intan, bayi kami yang baru berusia satu tahun itu."​Dylan terkesiap. Ia tahu Tante Intan adalah wanita yang baru saja dinikahi Om Adrian. Berarti, ayah kandung atau setidaknya kerabat dari bayi kecil itu adalah orang yang muncul dalam kegelapannya.​"Marco sudah meninggal," lanjut Adrian dengan nada rendah. "Tapi wa

  • Ah! Enak Mas Dokter   Bab 610: Masa Lalu

    Adrian meletakkan cangkir kopi yang sudah dingin ke atas meja kayu jati. Matanya yang tajam menatap Dirga, memberikan tatapan yang sulit diartikan.Sebagai seorang detektif yang telah bertahun-tahun berurusan dengan sisi gelap manusia, Adrian tahu bahwa ketenangan Dylan bukanlah sekadar bakat alami, melainkan sisa dari mekanisme pertahanan diri yang terbangun sejak kejadian kelam beberapa tahun lalu.​"Dok, apa aku boleh bicara dengan Dylan," ujar Adrian pelan namun penuh keyakinan. "Aku ingin tahu sesuatu, mungkin Dylan bisa menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi, dan aku dapat memahaminya."​Dirga mengerutkan dahi, tampak ragu. "Maaf, tapi dia sedang menjalani hukuman, Adrian. Aku tidak ingin dia merasa tindakannya kemarin bisa dinegosiasikan dengan kehadiranmu."​"Ini bukan soal negosiasi, Dok," potong Adrian. "Ini soal apa yang dia lihat di mimpinya. Kamu ingat Marco, kan? Mafia yang hampir meng

  • Ah! Enak Mas Dokter   Bab 609: Curhat Bapak-Bapak

    Pada malam hari setelah selesai bekerja, Dirga duduk di ruang kerja yang beraroma kopi.Suasana terasa lebih berat dari biasanya, ia duduk bersandar di kursi kebesaran, menatap kosong ke arah jendela.Sementara di hadapannya, dua sahabat terdekat hadir ... Barta, dan Adrian. Setelah Adrian resmi menjadi suami Intan, hubungan Dirga dan Detektif itu semakin dekat, sudah seperti keluarga.Kedua laki-laki tampan itu sengaja datang ke istana Dirga setelah mendengar kabar tentang hilangnya Dylan, dan petualangan bocah pintar itu.​"Dia hampir mati. Kalau saja tim SAR telat sepuluh menit, mungkin ceritanya akan beda," gumam Dirga sambil memijat pelipisnya. "Aku benar-benar tidak habis pikir dengan polah anak laki-lakiku sendiri. Bagaimana bisa dia melakukan petualangan seperti itu? Dulu, aku saja tidak berani untuk sekedar naik kendaraan umum seorang diri menuju sekolah. Dia masih SD, masih sangat kecil unt

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status