Share

Tiba di Hotel

Penulis: Dita SY
last update Terakhir Diperbarui: 2025-06-27 08:00:48

"Kamu mesan makanan lagi, Mas? Kan kita udah makan." Febby baru saja mengambil makanan yang diantar petugas hotel.

Dua bungkus makanan pesanan Dirga, ia letakan di atas meja samping ranjang.

"Kamu harus banyak makan, biar cepet mengandung anakku," senyum Dirga sambil menatap wanita yang hanya mengenakan piyama tidur tanpa dalaman.

Sementara tubuh Dokter Tampan itu, hanya terbungkus selimut tipis berbaring di atas ranjang berukuran king size.

"Sini." Dirga mengayunkan satu tangan, meminta Febby mendekat.

"Aku mau makan dulu. Kamu makan juga, percuma dipesan kalau ngga dimakan."

"Oke." Dirga beranjak turun dari ranjang, lalu duduk di kursi. "Kita makan berdua, ya."

"Pakai baju dulu Mas, masa telanjang gitu. Kayak bayi aja. Kalau bayi lucu, kalau kamu ... ngga ada lucu-lucunya. Malu sama Belalai kamu," lirik Febby ke arah Sosis Jumbo Dirga yang masih berdiri tegak.

Dirga terkekeh, "Abis makan kita star lagi, Baby.
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (8)
goodnovel comment avatar
Ririn Rindayani
muda2han Feby dgn Dirga bersatu ,,,,dan hidup bahagia slmax
goodnovel comment avatar
Pryono Dian
siapa yg menang hayoooo
goodnovel comment avatar
ACCOUNTING PUSAKA TUNGGAL ANUGERAH
wah ...kasian Febby ini kalau sampe anggun tau,, cerita nya seru tapi mereka salah melakukan perselingkuhan
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Ah! Enak Mas Dokter   Tangisan Sisca

    Indonesia~Baru saja Barta mendapat telepon dari Bramanto dan berbicara panjang lebar tentang rencana kepulangan Dylan dua hari lagi."Beritahu Istri kamu ya Nak, biar dia bisa membantu bibinya menyiapkan acara penyambutan kepulangan Dylan nanti," ucap Bramanto. "Iya Pa, pasti. Makasih informasinya. Aku nggak sabar ingin secepatnya melihat keponakan aku pulang.""Papa juga. Kita doakan saja semua lancar. Dua hari lagi mereka pasti pulang.""Amin Pa, Amin," senyum Barta. "Ya sudah, Papa mau melanjutkan pekerjaan Papa. Sudah dulu ya." Bramanto mengakhiri telepon.Setelah telepon diakhiri, Barta buru-buru mencari istrinya yang tak terlihat di dalam kamar Utama.Jam baru menunjukkan pukul tujuh pagi. Sisca memang selalu bangun lebih pagi dari ayam tetangga. Sementara Ibu mertuanya pasti sedang mengajak cucu Kesayangan berjemur di taman komplek.Barta melangkah menuju dapur, satu-satunya tempat f

  • Ah! Enak Mas Dokter   Teka-teki

    "Silakan duduk Nak Adrian, dan .... " Fandi menggantung ucapan, menatap Intan sambil menggaruk kerutan kening, berusaha mengingat nama wanita muda di depannya.Melihat itu, Adrian langsung memahami. "Namanya Intan, Pak Fandi," ucapnya mengenalkan. "Dia wanita yang berhasil melenyapkan Prams. Berkat dia masalah kita semua selesai."Fandi membuka mulut sedikit dengan tatapan kagum. Dengan cepat ia melangkah mendekati Intan lalu mengulurkan tangan. "Jadi kamu yang namanya Intan?" senyumnya. "Neng Geulis yang berjuang sendiri di Hong Kong. Makasih ya Neng. Makasih banyak."Intan hanya tersenyum, menyambut uluran tangan pria baya itu."Makasih banyak Neng. Kalau bukan karena kamu, nggak mungkin semua masalah ini berakhir. Makasih nyak.""Sama-sama Pak, makasih juga sudah menjemput saya." Intan menundukkan kepala.Diam-diam Adrian terus memperhatikan wanita cantik itu. Senyum di bibirnya mengembang, mengagumi sikap sopan dan

  • Ah! Enak Mas Dokter   Tiba di Amerika

    "Mas."Setibanya di Rumah Sakit terbesar di Amerika, Dirga langsung disambut pelukan dan tangisan khawatir istrinya. "Kamu baik-baik saja 'kan Mas? Aku khawatir sama kamu." Pelukan itu semakin erat.Dirga mengusap lembut punggung Kesayangan. Matanya melirik Adrian dan Intan yang diajak masuk ke kamar perawatan oleh Fandi. "Aku baik-baik saja Sayang," jawabnya sambil mengecup jenjang leher Febby. Memejamkan mata, menikmati harum khas wanita Kesayangan yang dirindukan setengah mati.Febby melepas pelukan, menatap suaminya dengan kedua manik mata berkaca-kaca. "Aku khawatir Mas. Aku pikir kamu nggak akan sampai ke sini. Aku dengar ada badai yang membuat Pesawat kamu gagal landing."Dirga mengangguk sambil menghela napas dalam. Sejujurnya ia juga berpikiran yang sama.Ada ketakutan dan sedikit trauma yang membekas saat mengingat turbulensi yang sempat dialami di perjalanan menuju Hong Kong. Beruntung saat kembali ke Amerik

  • Ah! Enak Mas Dokter   Cemburu Buta

    Perjalanan menuju Amerika masih panjang. Setelah puas beristirahat, Adrian memutuskan berkeliling Pesawat Pribadi milik Fandi. Dari kejauhan ia melihat ruang kamar tidur Intan. Sepertinya wanita cantik itu masih terlelap. Sementara di ruang VVIP, kemungkinan Dirga juga masih menjelajahi mimpi. Tak ingin mengusik ketenangan orang lain, Adrian melanjutkan perjalanan mengelilingi kabin Pesawat. Melangkah perlahan, Adrian mengedarkan pandangan di setiap sudut mewah yang memanjakan mata, sambil tersenyum kagum. Langkah kakinya tak henti menyusuri lorong Pesawat Pribadi milik Fandi, matanya tak lepas dari setiap detail mewah yang tersaji. Dinding Pesawat berbalut kayu gelap berkilau, dengan panel-panel emas yang menghias di sudut-sudutnya. Tanpa sadar kepalanya menggeleng dengan senyuman terkagum-kagum. Matanya menyempit saat melihat silau lamp

  • Ah! Enak Mas Dokter   Keinginan Elina

    "Aku akan membawa Tuan Prams ke kampung halamanku. Di sana kami akan memulai hidup baru. Aku akan merawatnya dengan baik."Elina menyampaikan niatnya pada Wylan untuk membawa Prams pergi dari Kota. Pergi dari kehidupan mewah sang Mafia.Bukan hanya itu, Elina juga meminta Wylan untuk menggantikan posisi Prams sebagai Ketua Mafia ... sementara ... sampai Edgar tumbuh besar dan siap memimpin kekuasaan ayahnya.Edgar adalah satu-satunya hak waris atas kekayaan dan kekuasaan Prams, yang kini akan pensiun dari semua itu.Kondisi Prams memang belum membaik. Pria itu masih koma. Namun, Elina akan tetap membawa calon suaminya yang akan menjalani pengobatan tradisional di kampung halaman.Rencana itu sudah disusun matang oleh Elina, setelah mendengar penjelasan Dokter tentang kondisi Prams jika calon suaminya itu berhasil melewati masa kritis."Apa Nona yakin dengan keputusan Nona?" tanya Wylan.Elina menganggukkan kepala berkali-kali. "Aku yakin. Aku akan membicarakan semua ini pada Dokter."

  • Ah! Enak Mas Dokter   Dunia Seakan Runtuh

    "Hubby!" Teriakan histeris Elina memecah keheningan kamar mewah bernuansa pink putih. Disusul suara tangis lirih Edgar.Bocah kecil itu merangkak, mendekati sang ibu lalu memeluknya erat. Tak ada kata yang terucap, Edgar hanya menangis melihat ibunya menjerit-jerit.Sementara di tempat lain, ia melihat sang ayah terbaring lemah tak sadarkan diri. Wajah tampan itu, yang selalu tersenyum meski ia sedang marah, terlihat pucat dengan bibir berbusa."Mommy ... kenapa Daddy tidak menatapku?" Edgar mendongak. Tangan mungilnya mengusap air mata sang Ibu. Elina hanya menggeleng berkali-kali. Air matanya mengalir kian deras, tak terbendung.Tatapannya tak lepas pada Prams yang tengah diberi pertolongan pertama oleh Wylan. "Daddy kenapa Mom? Kenapa Paman itu menekan dada Daddy?" Suara Edgar kian parau, nyaris habis karena menangis. Elina belum juga menjawab pertanyaan sang anak. Apa yang harus ia jelaskan pada Edgar?

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status