Accueil / Romansa / Ah! Jangan Berhenti, Tuan Riven! / 113. "Nanti kita ke sana."

Share

113. "Nanti kita ke sana."

last update Dernière mise à jour: 2025-12-10 12:51:18

"Nnggh, nngghh, yaahh, Tuan ... lebih dalam, ahhh!"

Napas keduanya terengah-engah, Elena merasa perutnya sangat penuh dan kenyang. Tumbukan yang sag tuan berikan, mampu membuatnya melayang dan menginginkannya lebih lagi.

Namun, karena tengah malam sudah berlalu, dan waktu menunjukkan hampir pagi, keduanya justru tertidur pulas.

Setelah Riven melepas penyatuan mereka, ia tertidur di samping Elena, begitu pun sang wanita. Sedangkan di Zevellus III, Orion tenggelam dengan rasa amarahnya.

Tangannya mengeluarkan darah, sebab ia memukul dinding berkali-kali. Terdapat banyak ceceran cairannya di lantai dekat pojok ruangan, yang juga terciprat ke dinding dan gambar anatomi.

Selama mendengar suara Elena, ia melakukannya sendirian. Mencari kepuasan dari pelepasannya, yang justru membuat Orion emosi karena Elena tidak pernah melakukan itu bersamanya.

Tak lama, ia juga tertidur di lantai dengan kondisi tubuh dan ruangan yang berantakan. Miris, Orion nyatanya hanya manusia tampan yang sudah t
Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application
Chapitre verrouillé

Latest chapter

  • Ah! Jangan Berhenti, Tuan Riven!   140. Disuapi Bunda ... lagi

    "Apa makanannya enak, Jay?" tanya Amerta. Jay mengangguk antusias, ia memakan masakan Elena dengan sangat lahap. Kepalanya sesekali bergoyang ke kanan dan kiri, ketika lidahnya menyecap rasa yang familiar. Setelah memakan masakan utama Elena, ia disajikan sebuah hidangan penutup yang baru saja Elena buat. Katanya, wanita itu mencoba resep baru, dan Jay bersyukur bisa menyicipinya pertama kali. Amerta melihatnya dengan perasaan senang, ia jadi semakin ingin memiliki anak bersama Alberto. Mungkin, kehidupannya nanti bisa jadi sangat baik ketika memiliki anak. Amerta sendiri awalnya tidak ingin memiliki anak, dan memilih hidup berdua dengan Alberto setelah menikah nanti. Pria itu juga tidak menekannya soal anak, namun Amerta seringkali melihat Alberto bahagia ketika bersama anak-anak di panti. Sepertinya, keputusan itu harus ia pikirkan lagi. "Jay, bisa ikut aku sebentar?" Ucapan Elena membuyarkan lamunan Amerta, ia bisa melihat Jay menegang. Bahkan, kunyahannya di mulut berhen

  • Ah! Jangan Berhenti, Tuan Riven!   139. Rahasia Jay

    Setelah drama menangis di bawah salju pertama, Elena dan Jay kini pulang bersama ke kediaman Zalen. Wanita itu mengajak Jay untuk pergi ke rumah sang ibu, karena Jay bilang akan pergi main. Jay juga tidak. menolak, dan memilih membatalkan janji mainnya. "Kau sudah besar dan sangat tampan ya, Jay," puji Amerta. Jay tersipu malu, ia menunduk menutupi wajahnya yang bersemu. Sedangkan Zalen berdecih, ia yang kesal dengan Riven, terbawa saat melihat wajah Jay. Anak itu benar-benar semakin mirip Riven, bahkan hampir tidak ada garis wajah Diana di sana. Zalen jadi sangsi, ia bertanya-tanya apakah Jay segitu membenci Diana? Hingga wajahnya saja enggan memiliki garis dari Diana. "Elena! Setidaknya bawa dulu anakmu ini untuk. ganti pakaian, dia terlihat kedinginan," seru Zalen pada Elena. Jay sedikit tersentak, mendengar bagaimana Zalen memanggiknya 'anak Elena'. Ia menyunggingkan senyum tipis, keberadaannya setidaknya masih dianggap. Jay sudah paham, mengenai masalah yang menimpa ayah

  • Ah! Jangan Berhenti, Tuan Riven!   138. Salju Pertama Bersama Jay?

    Kamar yang sebelumnya bernuansa terang dengan warna-warna merah muda, hijau muda, biru muda, dan putih ini, berganti menjadi lebih gelap. Cat ditutupi oleh wallpaper dinding, yang bercorak berwarna merah, hitam, dan sedikit emas sebagai garis hias. Lampu-lampu tidur dengan elemen langit, seperti awan dan bulan sabit. Ia juga menghias cermin dengan bunga-bunga palsu, bahkan mengganti karpet dengan yang berbulu. Seprai cokelat, yang sepasang dengan selimutnya, masih membalut tubuh Elena. Wanita itu masih tidur dengan nyaman, dan berniat bangun lebih siang hari ini. Matanya terasa sangat berat, setelah seharian menata ruangan. Isi lemarinya juga sudah berubah, didominasikan oleh pakaian berbulu, dan pakaian yang ukurannya besar. Aroma ruangan yang sebelumnya seperti mawar, berubah menjadi seperti tanah basah setelah hujan. Bahkan tirai penutup jendela dan balkon, juga diganti menjadi warna hitam. Tidak jauh berbeda dengan kamar Zalen, yang suasananya juga berubah drastis. Sebelu

  • Ah! Jangan Berhenti, Tuan Riven!   137. Merubah Isi Rumah

    Kini, Elena berdiri di sebuah kursi untuk membantunya memaku dinding. "Mam! Ambilkan paku, di sana!" titah Elena dengan suara keras. Hal itu membuat Zalen memukul bokongnya, walau tetap menjalankan perintah sang anak. "Jaga nada bicaramu, Bocah!" tegurnya. Elena hanya tertawa pelan, lalu kembali fokus memasang paku di beberapa bagian tembok untuk tempat hiasan dinding. Keringat mengucur dari keningnya, meski pendingin ruangan sudah berada di suhu paling rendah. Amerta sendiri sibuk memilah barang-barang lama, yang sudah Zalen pisahkan. Rencananya, Amerta akan tinggal di sini selama musim dingin. Karena Zalen dan Amerta sudah bersahabat sangat lama, dan Amerta sedang memiliki masalah dengan keluarganya. Elena menghela napas pelan. "Kenapa tidak palai pengerat saja seperti biasa, Mam? Aku seperti hidup di pedesaan kalau harus seperti ini," gerutunya. Zalen yang sedang ikut memilah barang, langsung berdecak. "Percayalah, hal ini berguna untuk masa depanmu, Elena," sahutnya. Sang

  • Ah! Jangan Berhenti, Tuan Riven!   136. Keperluan Musim Dingin

    "Mami, mau ikut? Apa kau masih punya banyak pekerjaan?" tanya Elena. Zalen menggeleng pelan. "Mami ikut, banyak yang harus kita beli nanti, dan Mami tidak yakin kau bisa memilihnya."Hampir saja Elena memekik tidak terima, namun Amerta lebih dulu turun dengan pakaian yang sudah berganti. Ketiganya berangkat dengan mobil terpisah, Elena satu mobil bersama Zalen. Karena kata Zalen, mereka akan belanja banyak dan tidak yakin hanya cukup satu mobil. Elena jadi membayangkan, apa saja yang akan dibeli sang ibu hingga akan memenuhi dua mobil? Kemarin, Zalen memang sempat memisahkan beberapa pakaiannya dan Elena yang sekiranya sudah tidak terpakai. Lemari mereka juga hampir kosong, bersisa beberapa dress dan piama satin saja. Kaus-kaus ketat pun dipisahkan, katanya untuk diberikan pada anak-anak buah Zalen di bar. Sekitar lima belas perjalanan, mereka sudah sampai di mall milik Alberto. Tentu saja, Amerta langsung disambut oleh prianya itu di pintu masuk. Seolah lupa dengan kehadiran Z

  • Ah! Jangan Berhenti, Tuan Riven!   135. Pasar Tradisional

    Cukup melelahkan untuk Elena hari ini, yang tengah sibuk membawa barang belanjaan Amerta di sebuah pasar tradisional yang baru saja buka kemarin. Awalnya, Elena menolak keras karena enggan berdesakan. Ia juga ingin menghabiskan waktunya di dalam kamar di rumah Zalen, dan bermalas-malasan sebelum nanti mengurus bisnis lagi. Namun, Zalen justru menitahnya dengan keras. Ia berkata, sekaligus belajar menjadi calon istri yang baik. "Apa-apaan calon istri yang baik?! Nanti jika aku menjadi istri siapa pun, aku tidak mau memasak! Aku mau memesan saja, aaaahh!" gerutu Elena. Bibirnya maju beberapa senti, alisnya menukik dengan tatapan sinis yang ia layangkan pada pengunjung lainnya. Sesekali, Elena akan mencubit lengan Amerta untuk meminta pulang. Namun, wanita itu acuh. Amerta tetap fokus memilih bahan-bahan baku dan memborongnya. "Diamlah, Elena!" desisnya, saat cubitan Elena semakin kuat. Elena menghentakkan kaki, matanya sudah berkaca-kaca karena menahan rasa panas, sesak, dan beris

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status