FAZER LOGINMalam di saat Lucy memergoki kekasihnya berselingkuh dengan sahabatnya sendiri adalah malam penuh kemalangan. Setelah mabuk dan diracun dengan obat yang membuat tubuhnya kehausan sentuhan, Lucy bertemu dengan pria yang mengajarinya kenikmatan semalam. Lucy pikir, malam itu hanya kesalahan yang akan dilupakan segera. Siapa sangka jika Lucy malah bertemu dengan pria itu lagi, di kampus, sebagai dosen dan mahasiswi?
Ver mais"Ahh, Davin! Teruskan, Sayang!"
Suara desah bersahut-sahutan yang beradu dengan derit ranjang itu terdengar nyaring saat Lucy baru saja memasuki apartemen kekasihnya. Darah Lucy berdesir. Suara erangan itu, jelas dia kenal, adalah milik Davin. Sedangkan jeritan wanita itu entah siapa, yang jelas bukan Lucy sendiri. Tangan Lucy yang tengah membawa kotak kue bergetar. Harusnya, Lucy memberikan kue ini sebagai perayaan anniversary jadian mereka yang ke-2 tahun. Lucy memang sengaja tidak memberi tahu Davin sebelumnya. Rencananya, dia ingin memberi kejutan. Makanya dia beralasan tidak bisa bertemu hari ini, meski sebenarnya tengah menyiapkan kue itu. Tidak disangka, Lucy malah mendapati suara-suara bejat kekasihnya itu dengan wanita lain dari kamarnya. Inikah sebabnya telepon Lucy tidak diangkat seharian ini? "Ahhh! Kamu benar-benar luar biasa, Ella!" Sekujur badan Lucy meremang saat nama itu disebutkan. Wanita itu ... Ella? Lucy menggigit bibir. Saat itulah Lucy tak kuasa lagi membendung air mata. Tanpa melangkah lebih jauh ke dalam apartemen, tanpa membiarkan kedua orang yang sibuk bercinta itu tahu, Lucy melangkah pergi. "Benar-benar keterlaluan..." Lucy berdesis dengan gemetar. Kotak kue dibuang begitu saja di tempat sampah di ujung jalan. Tangis Lucy pecah di jalan malam yang sepi. Ella, nama yang tak asing, sebab nama itu adalah nama sahabatnya sendiri. Teman dekat sejak masa sekolah, hingga sekarang tahun terakhir kuliahnya. Lucy tidak percaya, Ella dan Devan, kedua orang yang paling dipercayainya, benar-benar menusuknya dari belakang. Begitulah bagaimana Lucy kini berada di bar dengan kondisi mabuk. Setelah menangis dan berjalan seperti orang kelimpungan di jalanan malam kota yang sibuk, Lucy masuk ke sebuah bar yang cukup ramai. Lucy meneguk minumannya, lalu meletakkan gelas itu dengan cegukan kecil. Entah sudah gelas keberapa yang dia minum kini. Dia hanya ingin mabuk dan melupakan masalah. "Hik... benar-benar kejam..." gumam Lucy, terisak pelan dengan wajah merah. "Malangnya nasibmu," ujar Riko, yang sedari tadi duduk sambil mendengarkan keluh kesah Lucy. Riko adalah seniornya di kampus. Pria yang tampan, sekaligus orang yang cukup terkenal karena supel dan ramah. Lucy tak sengaja bertemu dengannya di bar ini. Ini pertama kalinya Lucy mengunjungi bar sendiri. Sejak dulu, dia anti datang ke tempat seperti itu. Tapi ternyata, bisa meluapkan isi hati seperti ini cukup terasa melegakan. "Ayo, ayo, minum saja dan keluarkan semuanya, Lu. Malam ini, biar aku yang traktir," ujar Riko sambil menyeringai. Lucy tak begitu mendengarkan. Pandangannya sudah kabur dan matanya terasa berat. Kepalanya juga sedikit pening. Apa dia sudah mabuk? Tapi ... badannya terasa panas, membuat Lucy menggigil pelan. "Ah, tubuhku, panas," desah Lucy, gelas terlepas dari genggamannya dan jatuh tergeletak di meja. Riko di sampingnya menyeringai makin lebar. "Panas, ya? Mungkin butuh udara segar," Riko merangkul pundak Lucy. "Aku tahu tempat yang cukup sejuk." Tapi, kepala Lucy terlalu pening untuk mendengarkan Riko. Pemuda itu sudah menuntunnya berdiri. "Kurasa, aku tidak enak badan, aku mau pulang," keluh Lucy lemas. Sekujur badan Lucy mendadak merinding saat satu tangan Riko menyusuri paha mulus Lucy dan meremasnya penuh nafsu. "Oh, kamu bukan butuh pulang Lucy," kekeh Riko pelan, lalu berbisik di telinganya. "Kalau badanmu terasa panas, kamu perlu ... membuka bajumu." Seketika Lucy membeku ngeri. Napasnya tertahan di tenggorokan. Di saat itulah Lucy sadar. Dia menoleh ke arah gelas-gelas di meja yang telah diteguknya hingga ludas. Sebagian dari gelas-gelas itu adalah traktiran Riko. Mungkinkah Riko telah mencampurkan sesuatu ke dalamnya, hingga badan Lucy memanas seperti ini? "T-tidak..." Gawat, Lucy sudah mabuk dan sulit untuk berpikir jernih. Dengan kesadaran yang tersisa, Lucy melepaskan diri dan menjauh, tapi malah tersandung kursi dan jatuh berdebum ke lantai. "Ah!" "Astaga, Lucy, mari kubantu," Riko mendecak terhibur, merengkuh Lucy dan menuntunnya. Badan Lucy tidak hanya terasa panas, jantungnya juga berdebar, dan darahnya terasa berdesir. Ada denyut aneh di area antara kedua pahanya. Lelaki sialan! Tampaknya Riko sudah mencampurkan obat perangsang ke minuman Lucy. "Kita bisa memesan kamar, dan ... meredakan rasa panas ini bersama," bisik lelaki itu di telinganya. Plak! Tawaran Riko disambut tamparan Lucy. Sementara Riko kaget dengan serangan tak terduga itu, Lucy bergegas lari ke arah pintu keluar. "Dasar jalang kurang ajar!" Tapi pintu bar itu terbuka tepat ketika seseorang masuk. Bruk! Lucy segera terjatuh ke lantai setelah menabrak orang itu. Di depannya, pria tinggi yang baru saja ditabraknya menatap ke bawah, ke arah Lucy yang meraih baju pria itu dengan dua tangan gemetar. "T-tolong! Tolong saya!"Lucy menjerit kesakitan ketika tangan Riko dengan kasar menjambak rambutnya, menyeretnya dari pintu depan ke dalam apartemen. Tubuh Lucy dihempaskan begitu saja, hingga jatuh dan menubruk kaki meja. "Ah!!" Rasa nyeri menyerang badannya, kepalanya sedikit pusing akibat jambakan kencang itu. Riko menatap nyalang seperti predator yang menemukan mangsa. "Wah, senang sekali bisa ketemu denganmu lagi, Lucy," desis Riko sambil menyeringai lebar. "A-apa yang kamu lakukan di sini?" Lucy menahan rasa sakit, suaranya bergetar. "Menemuimu. Apalagi? Kamu tak kangen padaku?" jawab Riko santai. "Apalagi, kamu meninggalkanku malam itu dengan tidak sopan." Pria itu berjongkok di depan Lucy dan mencapit dagunya, memaksa Lucy untuk mendongakkan muka. "A-aku tidak..." Napas Lucy tercekat oleh rasa takut. Lucy tidak menyangka, kakak tingkat yang dulu sangat ramah, bisa terlihat begitu menyeramkan dari dekat. "Aku sedikit penasaran, Lu ... Apa yang kamu lakukan dengan pamanku setelah
"Apa?" Lucy terdiam lama. Dia pikir dia baru saja salah dengar. Otaknya perlu memproses informasi itu. Riko ingin menuntut balas? Bukankah korban sebenarnya di sini itu Lucy? "Tapi, tenang saja," ujar Alex santai. "Saya sudah mengambil langkah untuk mencegahnya. Untuk saat ini, dia tidak akan bisa melakukan apa-apa." Lucy menelan ludah. Pria ini benar-benar santai saat mengucapkannya. Tapi, apa Lucy bisa mempercayainya? "Bagaimana caranya ... Anda mencegahnya?" tanyanya. "Riko bukan pekerja keras. Apa yang dimilikinya saat ini adalah hasil pemberian orang tuanya," jelas Alex. Lucy jadi teringat, bagaimana Alex dan Riko tampak akrab di bar malam itu, dan Riko memanggilnya paman. Dengar-dengar, keluarga Alex adalah donatur kampus terbesar. Apa karena berasal dari kalangan yang kuat seperti itu, Riko jadi bertindak sesuai kehendaknya sendiri? "Oleh karena itu, saya sudah membuat fasilitas Riko dicabut darinya. Dia tidak bisa apa-apa, untuk saat ini." Penjelasan lanj
Wajah itu, tak salah lagi. Itu adalah Alex. Pria yang semalam menyelamatkannya dari Riko di kejadian di bar. Juga yang telah membawanya ke hotel, di mana Lucy memohon-mohon untuk disentuh dan dipuaskan. Bagaimana bisa ... pria itu kini berdiri di sana dengan pakaian rapi sebagai dosen?! "Selamat pagi," sapa dosen itu, semakin meyakinkan Lucy dari suaranya kalau dia memang Alex. "Saya Alex Darmawan, yang akan mengajar mata kuliah ilmu sosial dasar mulai hari ini," lanjutnya dengan tenang. Lucy masih memperhatikannya dengan ternganga. Saat tatapan Alex berseborok dengan tatapan Lucy, sontak wajah Lucy palingkan. Astaga! Keadaan canggung macam apa ini?! *** Kelas itu entah kenapa berlangsung sangat lama, hingga akhirnya selesai satu jam kemudian. Lucy buru-buru membereskan barang-barangnya. Hari ini dia hanya punya kelas pagi dan kelas umum di sore hari, jadi berencana untuk menghabiskan siang di perpustakaan. "Lucy! Mau makan siang dengan kami?" Ella mengajak tiba-ti
Suara cecapan dari bibir yang saling beradu itu memenuhi langit-langit hotel. Lucy tak kuasa menahan erangan, saat bibir rakus pria itu menguasai bibirnya. Baru kali ini Lucy berciuman seperti kelaparan. Perlahan, dirasakannya tangan besar pria itu menyusuri pinggangnya, lalu bergerak ke punggung. Ah, inikah akhirnya? Pria itu akan menyentuhnya? Dan Lucy akan menyerahkan pertama kalinya pada pria tampan yang bahkan belum dikenalnya ini. Tapi... grep! Bola mata Lucy membulat saat menyadari bahwa tubuhnya tak bisa bergerak. Lucy melihat ke bawah, dan baru disadarinya jika Alex ternyata melilit tubuhnya dengan selimut hingga menjadi seperti kepompong! "T-tunggu! Kenapa Anda melakukan ini?!" seru Lucy sambil menggeliat. Alex tersenyum miring. "Kamu tidak berpikir aku benar-benar akan meniduri perempuan yang baru kutemui kurang dari satu jam yang lalu, kan?" Wajah Lucy memanas. Rasa malu dan terhina menggerayangi dirinya. Pria ini ... baru saja memberinya harapan dengan ciu


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.