LOGINMalam di saat Lucy memergoki kekasihnya berselingkuh dengan sahabatnya sendiri adalah malam penuh kemalangan. Setelah mabuk dan diracun dengan obat yang membuat tubuhnya kehausan sentuhan, Lucy bertemu dengan pria yang mengajarinya kenikmatan semalam. Lucy pikir, malam itu hanya kesalahan yang akan dilupakan segera. Siapa sangka jika Lucy malah bertemu dengan pria itu lagi, di kampus, sebagai dosen dan mahasiswi?
View MoreNeither the darkness of the night nor the freezing rain would stop me.
I couldn't see anything because of how late it was and the clothes I was wearing, the only thing I had with me besides from the small bag my sister had given me, started to get soaked and make my body shiver from the ice water falling on me at that moment.
Then my tears couldn’t be contained any longer, and I started to cry for the fear drowning me, but it was too late to go back, because if I did, I knew what awaited me in that place.
Suddenly I stopped as the lights of a car shone on my faces, which made my breathing stop.
The car lowered its lights and when it was close to me, I realized that it was a cargo truck and that it was driven by a woman.
“Are you lost, girl?” the lady shouted from the other side of the road to be heard above the rain.
"I'm going to New York,” I answered back, afraid to get closer.
What I said must have been funny as the lady started to laugh louder.
"I'm going there too,” she said smiling at me. "And unless you have a lot of money, you're never going to get there, girl. We are somewhat far from your destination.”
"I only have a hundred dollars.” the only thing my sister had managed to steal.
“Why don't you get in, girl?” the woman tapped the side of the truck in invitation form “You can buy me breakfast in the morning.”
Without much thinking, since I had no other options, I ran to the truck and got in it, grateful that the interior was warm and dry.
"My name is Silvie, girl. What about you?” The lady asked starting quickly.
"Evangeline,” I murmured feeling myself relax for the first time in days.
"That’s a very long name for someone so small. Eva is easier.”
I said nothing. This woman was helping me, so she could call me whatever she wanted.
“How old are you, Eva?
“Thirteen.”
“And what are you looking for in New York?
“My brother Michael.”
“Do you have an address? Maybe I can leave you where he lives.” Silvie insisted.
"My sister gave me a paper with something written on it,” I explained feeling that fear came back to me, "But the rain damaged it and I don't know what it said."
Contrary to everything I thought she would say, Silvie simply nodded.
"Well, I'm not a fortune teller, Eva. But you look like someone running from something ugly, so I won't leave you on your own, girl. But I can't have you with me either, my sister has a bar in town though, you can stay with her while you find your brother, okay? She will help you however she can... you won't need to run away anymore.
"Thanks,” I mumbled before breaking down in tears.
I would no longer need to run away.
I would find Michael and for the first time, I would be safe.
Lucy menjerit kesakitan ketika tangan Riko dengan kasar menjambak rambutnya, menyeretnya dari pintu depan ke dalam apartemen. Tubuh Lucy dihempaskan begitu saja, hingga jatuh dan menubruk kaki meja. "Ah!!" Rasa nyeri menyerang badannya, kepalanya sedikit pusing akibat jambakan kencang itu. Riko menatap nyalang seperti predator yang menemukan mangsa. "Wah, senang sekali bisa ketemu denganmu lagi, Lucy," desis Riko sambil menyeringai lebar. "A-apa yang kamu lakukan di sini?" Lucy menahan rasa sakit, suaranya bergetar. "Menemuimu. Apalagi? Kamu tak kangen padaku?" jawab Riko santai. "Apalagi, kamu meninggalkanku malam itu dengan tidak sopan." Pria itu berjongkok di depan Lucy dan mencapit dagunya, memaksa Lucy untuk mendongakkan muka. "A-aku tidak..." Napas Lucy tercekat oleh rasa takut. Lucy tidak menyangka, kakak tingkat yang dulu sangat ramah, bisa terlihat begitu menyeramkan dari dekat. "Aku sedikit penasaran, Lu ... Apa yang kamu lakukan dengan pamanku setelah
"Apa?" Lucy terdiam lama. Dia pikir dia baru saja salah dengar. Otaknya perlu memproses informasi itu. Riko ingin menuntut balas? Bukankah korban sebenarnya di sini itu Lucy? "Tapi, tenang saja," ujar Alex santai. "Saya sudah mengambil langkah untuk mencegahnya. Untuk saat ini, dia tidak akan bisa melakukan apa-apa." Lucy menelan ludah. Pria ini benar-benar santai saat mengucapkannya. Tapi, apa Lucy bisa mempercayainya? "Bagaimana caranya ... Anda mencegahnya?" tanyanya. "Riko bukan pekerja keras. Apa yang dimilikinya saat ini adalah hasil pemberian orang tuanya," jelas Alex. Lucy jadi teringat, bagaimana Alex dan Riko tampak akrab di bar malam itu, dan Riko memanggilnya paman. Dengar-dengar, keluarga Alex adalah donatur kampus terbesar. Apa karena berasal dari kalangan yang kuat seperti itu, Riko jadi bertindak sesuai kehendaknya sendiri? "Oleh karena itu, saya sudah membuat fasilitas Riko dicabut darinya. Dia tidak bisa apa-apa, untuk saat ini." Penjelasan lanj
Wajah itu, tak salah lagi. Itu adalah Alex. Pria yang semalam menyelamatkannya dari Riko di kejadian di bar. Juga yang telah membawanya ke hotel, di mana Lucy memohon-mohon untuk disentuh dan dipuaskan. Bagaimana bisa ... pria itu kini berdiri di sana dengan pakaian rapi sebagai dosen?! "Selamat pagi," sapa dosen itu, semakin meyakinkan Lucy dari suaranya kalau dia memang Alex. "Saya Alex Darmawan, yang akan mengajar mata kuliah ilmu sosial dasar mulai hari ini," lanjutnya dengan tenang. Lucy masih memperhatikannya dengan ternganga. Saat tatapan Alex berseborok dengan tatapan Lucy, sontak wajah Lucy palingkan. Astaga! Keadaan canggung macam apa ini?! *** Kelas itu entah kenapa berlangsung sangat lama, hingga akhirnya selesai satu jam kemudian. Lucy buru-buru membereskan barang-barangnya. Hari ini dia hanya punya kelas pagi dan kelas umum di sore hari, jadi berencana untuk menghabiskan siang di perpustakaan. "Lucy! Mau makan siang dengan kami?" Ella mengajak tiba-ti
Suara cecapan dari bibir yang saling beradu itu memenuhi langit-langit hotel. Lucy tak kuasa menahan erangan, saat bibir rakus pria itu menguasai bibirnya. Baru kali ini Lucy berciuman seperti kelaparan. Perlahan, dirasakannya tangan besar pria itu menyusuri pinggangnya, lalu bergerak ke punggung. Ah, inikah akhirnya? Pria itu akan menyentuhnya? Dan Lucy akan menyerahkan pertama kalinya pada pria tampan yang bahkan belum dikenalnya ini. Tapi... grep! Bola mata Lucy membulat saat menyadari bahwa tubuhnya tak bisa bergerak. Lucy melihat ke bawah, dan baru disadarinya jika Alex ternyata melilit tubuhnya dengan selimut hingga menjadi seperti kepompong! "T-tunggu! Kenapa Anda melakukan ini?!" seru Lucy sambil menggeliat. Alex tersenyum miring. "Kamu tidak berpikir aku benar-benar akan meniduri perempuan yang baru kutemui kurang dari satu jam yang lalu, kan?" Wajah Lucy memanas. Rasa malu dan terhina menggerayangi dirinya. Pria ini ... baru saja memberinya harapan dengan ciu






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.