เข้าสู่ระบบ"Mami, mau ikut? Apa kau masih punya banyak pekerjaan?" tanya Elena. Zalen menggeleng pelan. "Mami ikut, banyak yang harus kita beli nanti, dan Mami tidak yakin kau bisa memilihnya."Hampir saja Elena memekik tidak terima, namun Amerta lebih dulu turun dengan pakaian yang sudah berganti. Ketiganya berangkat dengan mobil terpisah, Elena satu mobil bersama Zalen. Karena kata Zalen, mereka akan belanja banyak dan tidak yakin hanya cukup satu mobil. Elena jadi membayangkan, apa saja yang akan dibeli sang ibu hingga akan memenuhi dua mobil? Kemarin, Zalen memang sempat memisahkan beberapa pakaiannya dan Elena yang sekiranya sudah tidak terpakai. Lemari mereka juga hampir kosong, bersisa beberapa dress dan piama satin saja. Kaus-kaus ketat pun dipisahkan, katanya untuk diberikan pada anak-anak buah Zalen di bar. Sekitar lima belas perjalanan, mereka sudah sampai di mall milik Alberto. Tentu saja, Amerta langsung disambut oleh prianya itu di pintu masuk. Seolah lupa dengan kehadiran Z
Cukup melelahkan untuk Elena hari ini, yang tengah sibuk membawa barang belanjaan Amerta di sebuah pasar tradisional yang baru saja buka kemarin. Awalnya, Elena menolak keras karena enggan berdesakan. Ia juga ingin menghabiskan waktunya di dalam kamar di rumah Zalen, dan bermalas-malasan sebelum nanti mengurus bisnis lagi. Namun, Zalen justru menitahnya dengan keras. Ia berkata, sekaligus belajar menjadi calon istri yang baik. "Apa-apaan calon istri yang baik?! Nanti jika aku menjadi istri siapa pun, aku tidak mau memasak! Aku mau memesan saja, aaaahh!" gerutu Elena. Bibirnya maju beberapa senti, alisnya menukik dengan tatapan sinis yang ia layangkan pada pengunjung lainnya. Sesekali, Elena akan mencubit lengan Amerta untuk meminta pulang. Namun, wanita itu acuh. Amerta tetap fokus memilih bahan-bahan baku dan memborongnya. "Diamlah, Elena!" desisnya, saat cubitan Elena semakin kuat. Elena menghentakkan kaki, matanya sudah berkaca-kaca karena menahan rasa panas, sesak, dan beris
Hari ini, Elena sudah siap dengan pakaian formalnya. Ia memakai kemeja merah tertutup, dibalut blazer hitam. Dengan bawahan rok senada, yang panjangnya di atas lutut. Jadwal Elena sekarang adalah menemui klien barunya, untuk membuka bisnis restoran tradisional di sini. Karena setelah kepergian Elena, Zhangbu memiliki tren makanan baru. Anak-anak muda berlomba mencari restoran atau tempat hiburan, yang menyajikan suasana tradisional. Mereka menyadari, betapa pentingnya ketenangan di tengah-tengah kepadatan Ibu kota. Elena yang sudah membangun restoran tradisional di Zevallus dan memiliki beberapa cabang, membuat klien itu tertarik menjalin kerja sama. Klien itu tidak lain adalah Riven, manjan majikannya. Elena sangat bersamangat untuk bertemu Riven, dengan perubahannya. Ia tidak sendiri, melainkan bersama Zalen yang juga ikut andil dalam kerja sama ini, sebagai klien lainnya. Sepasang anak dan ibu itu berangkat menggunakan mobil pribadi, yang baru dibeli Zalen minggu lalu. Merek
Setelah sampai di kediaman Zalen, Elena langsung pergi ke kamarnya untuk membersihkan diri. Kemudian, merapihkan barang-barang bawaannya sebelum turun untuk ikut makan bersama. "Mam, aku benar-benar lelah hari ini. Aku juga bertemu dengan Riven dan Jay," ujarnya menceritakan hal-hal yang ia temukan dengan antusias. Zalen menggigit keras paha ayam cabai di tangannya, rasanya masih geram ketika mendengar nama 'Riven', apalagi saat disebutkan oleh sang anak. Amerta yang melihat itu, lantas tertawa. "Asal kau tau, Elena. Mamimu ini masih sangat dendam pada Riven, karena membuat hidupmu penuh drama," katanya. Elena yang sebelumnya memasang raut antusias, langsung meredup dan dengan cepat bangkit dari duduknya untuk memeluk Zalen yang masih cemberut. "Ummm, Mamiii. Maaf, ya. Tapi aku masih suka sama Riven, Mam, dia terlihat lebih baik," ujarnya membujuk. Zalen hanya mendengus, dan melanjutkan acara makannya tanpa menjawab bujukan Elena. Ia membiarkan sang anak mengecup pipinya b
"iya, Mami. Ini aku sudah di bandara, di mana Amerta? Katanya dia akan menjemputku?" Sungguh repot Elena sekarang, sudah sejak 20 menit lalu ia mendarat di Zhangbu, dengan barang-barang yang sangat banyak. Zalen bilang, Amerta akan menjemputnya di bandara, karena Zalen sedang sibuk dengan acara masaknya. Namun, Elena belum juga menemukan presensi teman sang ibu tersebut. Ia berdecak, saat Zalen bilang kemungkinan ada kendala di jalan. Ia duduk di kursi tunggu dan menyandarkan tubuhnya, helaan napas terdengar sangat lelah, sorot mata Elena pun terlihat kesal. Lalu lalang manusia, dan robot-robot membuat Elena semakin lelah. Ia ingin lebih cepat merebahkan tubuhnya, dan tertidur tanpa gangguan. Saat akan memejamkan mata sejenak, Elena menangkap siluet yang familiar. Ia segera memakai masker untuk menutupi hidng dan mulutnya. Jaket yang sebelumnya tidak dirapatkan, Elena rapatkan agar dadanya sama sekali tidak terlihat lagi. Lalu, topi kupluknya ia turunkan, agar siluet orang
Langkah Elena terasa sangat ringan hari ini, ia mengunjungi beberapa mall untuk berbelanja buah tangan yang akan dibawa ke Zhangbu nanti. Elena berencana untuk pulang ke negaranya hari ini, dan meninggalkan Zevellus I. Ia sudah sangat merindukan Zalen, dan ingin melihat tuan dan tuan mudanya dari jauh. Selain itu, bisnisnya di sini juga sangat sukses. Ia bahkan menerima tawaran kerja sama, dari mantan majikannya, Riven. Pria itu tidak mengetahui, siapa yang menjadi pemilik sah restoran miliknya. Akan jadi kesempatan yang bagus, jika Elena datang sebagai rekan kerja Riven, 'kan? Mungkin, Ciara nanti akan lebih memandangnya juga. Namun untuk kali ini, Elena enggan terburu-buru. Ia juga tidak ingin menjadikan statusnya pada Riven dahulu sebagai alat dirinya mendekati Riven. Elena ingin Riven mengenalnya sebagai wanita, bukan pelayan. "Humm, ini bagus untukku. Aku ingin ini semua," ujarnya seraya menyerahkan setumpuk pakaian di meja kasir. Pakaian itu, tidak hanya untukny







