Beranda / Romansa / Ah! Mantap, Sayang / 2. ONE NIGHT STAND

Share

2. ONE NIGHT STAND

Penulis: NONA_DELANIE
last update Tanggal publikasi: 2026-01-28 09:19:21

“Sialan! Jadi, kau menjebakku, Hazel?!”

Sebuah bantal berukuran besar melayang kasar, menghantam kepala Hazel sebelum jatuh tak berdaya ke atas pangkuannya.

Hazel tidak bergeming. Ia tetap duduk bersandar dengan tenang, seolah kemarahan pria di sampingnya hanyalah angin lalu.

Pria itu—Hexa Cash River—menyugar rambutnya ke belakang dengan frustasi yang meledak-ledak. Jari jemarinya gemetar saat ia memunguti pakaian yang tercecer di lantai, mengenakannya dengan tergesa.

Di luar sana, Hexa adalah seorang Jaksa Penuntut Umum Senior yang sangat disegani. Pria tiga puluh lima tahun yang karirnya tanpa celah. Namun di dalam kamar ini, di hadapan Hazel Adeline Rush, martabatnya seolah hancur berkeping-keping.

Mata hijau zamrud Hexa berkilat penuh kebencian. Ia menatap Hazel yang masih tak acuh, justru meraih sebatang rokok dari nakas dan menyalakannya.

Hazel menyesap rokok itu dalam-dalam, membiarkan nikotin menenangkan debar jantungnya yang sebenarnya juga tak karuan. Ia mengembuskan asap tipis ke udara, memperhatikan gumpalan abu-abu itu merambat naik ke langit-langit, sementara matanya menatap Hexa dengan datar sekaligus dingin.

Merasa diabaikan, kesabaran Hexa habis. Hanya dalam satu gerakan cepat, ia menerjang. Kedua telapak tangan besarnya mencengkeram leher Hazel, menekannya ke headboard ranjang.

Pria itu menindih paha Hazel, mengungkungnya dengan tubuh kekar yang masih menyisakan aroma gairah sisa semalam.

“Katakan apa maumu?!” geram Hexa tepat di depan wajah Hazel. Napasnya memburu, panas dan berbahaya. “Kau lupa siapa aku, huh? Aku bisa menjebloskanmu ke penjara bahkan sebelum kau sempat mengadu pada dunia!”

Hazel tidak melawan secara fisik. Ia justru membiarkan Hexa melihat betapa tenangnya ia di bawah ancaman itu.

Hazel yakin, si jaksa penegak hukum yang lurus ini tak akan berani menjadi pembunuh.

Dengan tenang, Hazel menyingkirkan tangan Hexa dari lehernya. Ia membasahi bibirnya yang memerah, lalu berbisik rendah, “Aku tahu kau calon adik iparku, Sayang. Itu poin utamanya.”

Jawaban itu seperti menyiramkan bensin ke dalam kobaran api yang telah membumbung tinggi, makin membakar sanubari. Rahang Hexa mengeras, otot-otot lengannya menegang hingga urat-uratnya menonjol. Ia terlihat siap meledak.

“Kalau kau tahu, kenapa kau melakukannya?!” desis Hexa. Telunjuknya menghujam udara tepat di depan hidung Hazel. “Kau tahu apa yang bisa kulakukan pada wanita sepertimu—”

Mendadak, kata-kata Hexa tersangkut di kerongkongan. Mata hijau zamrud itu tak sengaja menangkap noda merah yang mengering di atas seprai putih yang kacau. Hanya noda kecil, namun cukup untuk menghantam logika Hexa hingga hancur.

‘Mustahil dia masih perawan!’ Pikirannya berteriak menolak.

Sejak kejadian ini, pikiran Hexa dipenuhi dengan praduga liar. Ia mengira, Hazel pasti sering melakukan ini dengan pria lain. Tapi noda itu ... noda yang kontras di atas kain putih itu seolah menertawakan semua asumsinya.

Belum sempat Hexa mencerna kenyataan yang baru saja menghantam logikanya, Hazel sudah mendorong dadanya dengan tenaga yang cukup kuat untuk membuat Hexa yang tengah linglung terjengkang ke belakang.

Tanpa sepatah kata, Hazel mengabaikan kehadiran Hexa seolah pria itu hanyalah benda mati. Ia menjatuhkan puntung rokoknya ke lantai, menginjaknya perlahan dengan sandal bulu-bulu yang ada di dekat sofa, lalu menarik selimut tebal untuk melilit tubuh polosnya.

Dengan gerakan tenang—penuh keangkuhan, Hazel memunguti pakaiannya yang berserak di bawah kaki.

Sambil membawa pakaiannya, Hazel melangkah menuju kamar mandi di sudut ruangan, memunggungi Hexa tanpa takut akan ada serangan balasan. Ia bersikap seolah pria yang baru saja menindihnya itu tak lagi memiliki arti.

Hexa mengamati Hazel. Ada yang salah dengan langkah wanita itu. “Kenapa … Hazel berjalan seperti itu?”

Cara jalan Hazel yang pincang dan mengangkang membuat Hexa gundah. “Shit!” umpatnya setelah terdiam beberapa saat, bergelut dengan penyangkalan yang berkecamuk di kepalanya.

Kesadarannya tersentak. Hexa bangkit dan mengejar Hazel dengan langkah lebar. Namun tepat saat ia mencapai ambang pintu, daun pintu kayu itu dibanting keras tepat di depan wajahnya.

Suara benturan yang menggema di seluruh kamar itu membuat Hexa terlonjak, detak jantungnya berpacu liar antara kaget dan amarah yang semakin membumbung tinggi.

Hexa menghantam pintu itu dengan kepalan tangan, memberi peringatan dengan suara rendah yang mengancam. “Keluar, Hazel! Aku beri waktu lima menit atau akan kuhancurkan pintu ini dan membuatmu menyesal!”

Diabaikan untuk kesekian kalinya, Hexa memutar tumit dengan napas gusar yang memburu. Ia melangkah menuju sofa, menjatuhkan tubuh kekarnya di sana dengan posisi membungkuk, menumpukan kedua siku berada di atas paha.

Pandangannya tertuju lurus pada pintu kamar mandi yang tertutup rapat. Di bawah cahaya mentari pagi yang menyorot lembut dari jendela kamar ini, sang Jaksa Penuntut Umum yang biasanya tak terkalahkan itu kini tampak hancur oleh frustasi dan sebuah noda merah yang terus menghantui pikirannya.

Menit demi menit berlalu, di atas sofa itu, Hexa mulai menyusun kembali kepingan ingatan semalam yang sempat tercerai-berai.

Hexa ingat suasana kelab malam itu. Ia ingat aroma parfum Hazel yang memabukkan saat wanita itu duduk di sampingnya, mungkin satu jam setelah ia tiba.

Mereka sempat berbincang santai tentang hukum dan pekerjaan yang biasanya membosankan, namun terasa berbeda saat Hazel yang mengucapkannya.

Hexa bukanlah peminum amatir. Dua gelas whiskey seharusnya tak akan sanggup meruntuhkan pertahanannya. Namun, pada gelas whiskey terakhir itu ….

Hexa memejamkan mata, teringat bagaimana pandangannya mendadak berpijar aneh tak lama setelah Hazel berpamitan pergi.

Sementara jantung berdebar kencang tak normal, rasa panas yang tidak wajar mulai menjalar, membakar pembuluh darahnya, dan melumpuhkan akal sehatnya dengan hasrat yang menuntut.

Hexa mengepalkan tangan hingga kuku-kuku jarinya memutih. Ia bukan pria bodoh. Ia tahu persis apa yang terjadi. Whiskey itu telah dibubuhi sesuatu—obat perangsang. Dan satu-satunya orang yang berada cukup dekat untuk melakukannya hanyalah Hazel.

Sempurna. Hazel tidak hanya menjebaknya secara fisik, tapi juga telah merancang kehancuran karirnya dengan sangat rapi.

Lima menit berselang, pintu terbuka. Hazel keluar dengan aura yang jauh lebih segar. Rambut ikalnya yang panjang dan pirang keemasan dibiarkan tergerai liar di punggung, membingkai wajah yang tampak begitu murni—sangat kontras dengan rencana busuk yang baru saja ia jalankan.

Hexa tak mampu memalingkan wajah. Munafik jika ia menafikan kecantikan di depannya. Hazel memiliki segalanya. Tubuh yang proporsional, kulit putih pucat yang kontras dengan bibir merah muda, dan sepasang mata yang tampak tak berdosa.

Sesaat, Hexa terpaku. Bayangan tentang bagaimana ia menjamah raga itu semalam melintas tanpa permisi. Kenyataan bahwa dialah pria pertama yang menyentuh Hazel—fakta yang dibuktikan oleh noda di seprai tadi—membuat hatinya berdesir aneh.

Ada amarah, tapi ada juga secercah rasa memiliki yang egois. Asumsi liar yang membakar mulai berkecamuk di benak Hexa.

Hexa mulai bertanya-tanya. Benarkah ia pria pertama untuk Hazel malam tadi? Atau … Hazel justru sudah tidak perawan dan noda darah di sprei hanyalah manipulasi agar ia bersimpati pada wanita itu?

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Ah! Mantap, Sayang   115. TERASA JANGGAL

    “Bukalah!”“Apa ini?” Hazel menatap beberapa amplop dengan logo rumah sakit yang disodorkan Hexa ke atas bantal di pangkuannya. Fokusnya yang semula tertuju pada buku referensi tesis seketika buyar.“Aku sudah menyuruh anak buah Enrico mengambil hasil tes DNA dari beberapa rumah sakit. Semua hasilnya masih tersegel. Lihatlah sendiri,” jelas Hexa dengan suara rendah, mencoba memberikan ruang bagi istrinya untuk memproses keadaan.Hazel menatap Hexa cukup lama—terlalu lama hingga membuat suaminya itu kembali bertanya.“Apa yang membuatmu tidak langsung membukanya?”“Aku hanya takut hasilnya tidak sesuai ekspektasi,” bisik Hazel seraya menunduk.Ia menyingkirkan amplop-amplop itu dari pangkuannya dengan gerakan pelan, seolah benda-benda itu bisa meledak kapan saja. Tatapannya kini melayang jauh ke arah pemandangan di luar jendela kamar.Langit di luar tampak mendung, seirama dengan keresahan yang sedang berkecamuk di dalam dadanya. “Selama ini aku hidup dengan keyakinan bahwa Mama sudah

  • Ah! Mantap, Sayang   114. HUKUMAN TIDAK MAIN-MAIN

    “Kalau ibuku benar-benar masih hidup dan berhasil kita selamatkan, apa kau mau menerimanya—maksudku, menampungnya di rumahmu?”“Hah?” Hexa tertegun sejenak. Pertanyaan itu cukup mengejutkan. Ia belum memikirkan sejauh itu karena fokusnya masih pada hasil tes DNA yang belum pasti.Iya kalau hasilnya cocok, kalau tidak, lantas bagaimana? Ia pasti akan kelimpungan menenangkan Hazel yang bersedih.“Kenapa? Kau keberatan?” Hazel mencecar saat melihat keraguan di wajah suaminya. “Kalau kau keberatan dia tinggal di kediaman River, bisakah kau memberikan satu rumah lagi untukku?”Hexa mengernyit, masih diam karena otaknya sedang menimbang berbagai risiko keamanan dan birokrasi keluarga besar mereka.Melihat respons Hexa yang pasif, Hazel merasa dirinya terlalu menuntut. Ia pun sadar diri, lalu menundukkan wajahnya dengan gurat kecewa yang jelas.“Ya sudah kalau kau keberatan. Aku akan menyewa rumah sendiri untuk Mama nanti. Pasti beliau sangat senang jika bisa tinggal bersamaku lagi.”Hexa m

  • Ah! Mantap, Sayang   113. SAMPEL RAMBUT

    “Lalu, aku harus bagaimana?”Suara Hazel serak, isak tangis yang sejak tadi ditahannya mulai terdengar memilukan. Pertahanan kedokterannya runtuh seketika saat dihadapkan pada kemungkinan bahwa ibunya masih bernapas di suatu tempat.Hexa tak tega melihat kehancuran itu. Mengabaikan nyeri di perutnya, ia segera berdiri dan menarik kepala Hazel ke dalam dekapannya, menyandarkannya erat pada pinggangnya. Tangan Hexa mengusap rambut Hazel, mencoba menyalurkan kekuatan.“Tunggu satu minggu. Setelah hasil tes DNA keluar … maka kita lakukan operasi penyelamatan. Kau setuju?” bisik Hexa menenangkan.Hazel mengangguk di balik tangisnya, air matanya membasahi telapak tangan Hexa. Sambil mengusap wajahnya yang sembap, ia mendongak dengan tatapan menuntut. “Kalau begitu, apa kita bisa melakukan tes DNA sekarang juga?”Hexa tercengang. “Sekarang juga?”“Ya. Kalau Enrico sudah memegang sampel rambut wanita itu, bukankah tes

  • Ah! Mantap, Sayang   112. TERLALU MENYAKITKAN

    “Bawakan sampel rambut istrimu ke River Regional Hospital besok, kita bertemu di sana. Kita harus mencocokkan DNA wanita di kastil itu dengan DNA istrimu.”Tubuh Hexa menegang seketika saat membaca pesan singkat dari Enrico yang baru saja masuk. Setiap kata di layar ponsel itu seakan menjadi beban berat yang menghantam dadanya.Dada Hexa berdebar kencang. Di sela pelukannya yang masih melingkar hangat pada Hazel, pikirannya justru berkelana liar. Bagaimana caranya ia bisa mencabut sehelai rambut istrinya tanpa menimbulkan kecurigaan?Hazel adalah dokter, ia sangat peka terhadap sentuhan dan detail kecil. Satu gerakan salah, maka tamatlah rencananya.Hingga pelukan itu terlepas, Hexa tetap tak menemukan celah. Ia memutuskan untuk menunda niatnya, menunggu waktu yang lebih tepat saat Hazel benar-benar lengah.“Hexa?” Hazel menggoyangkan telapak tangan di depan wajah Hexa yang mendadak kosong. “Mengapa kau melamun?”Kesadaran Hexa bagai ditarik paksa kembali ke realita. “Ah, tidak ada

  • Ah! Mantap, Sayang   111. TUBUH YANG MENEGANG

    “Obsesi gelap selalu membutakan akal sehat. Jika Anda berniat menemuinya, pikirkanlah matang-matang, Nona. Jangan gegabah. Jenna bukan lawan yang mudah disentuh.”Enrico memperingatkan dengan tatapan lekat. Hanya sekali lihat, dia tahu betul kalau Hazel menyimpan kemarahan yang besar.Seharusnya, Enrico memegang mandat Hexa untuk menutup rapat rahasia ini. Namun, nasi telah menjadi bubur. Kini, prioritas utamanya bergeser karena ia harus memastikan keselamatan Hazel setelah wanita itu mengetahui kebenaran yang berbahaya ini.Hazel mengangguk tenang, namun sorot matanya sedingin es. “Aku paham. Aku bukan wanita bodoh yang akan menyerang tanpa strategi.”“Boleh saya minta satu hal pada Anda, Nona?”Hazel melirik ketika Enrico bertanya seperti itu, tapi ia tak menjawab. Sorot manatnya jelas berkata, “Ya!”“Saya mohon ... jangan katakan pada Tuan Hexa bahwa saya yang memberitahu Anda,” pinta Enrico sekali lagi. Ia takut, Hexa akan mengamuk padanya.“Tenang saja, aku tidak akan mengatakan

  • Ah! Mantap, Sayang   110. MENYANGKAL KENYATAAN PAHIT

    “Aku rindu bercinta denganmu, Hazel.”Hazel memutar bola mata malas, meski rona merah di pipinya tak bisa berbohong. Ia mendorong bahu Hexa dengan hati-hati agar suaminya itu segera masuk ke dalam kamar dan berhenti membualkan hal yang tidak pantas di depan para pelayan.Sejam lalu—setelah dirawat selama seminggu penuh, Hexa memang diperbolehkan pulang. Tak menunggu lama, mereka sampai di rumah.Begitu Hexa duduk bersandar di atas ranjang king size mereka, Hazel tidak memberikan celah sedikit pun. Ia berdiri di depan suaminya, melipat tangan di dada dengan tatapan menginterogasi. “Kau tahu siapa yang mencelakaimu?”“Hm,” gumam Hexa singkat. Ia mengabaikan rasa nyeri di perutnya demi menarik tangan Hazel, merengkuh pinggang istrinya agar duduk menempel di sisinya. “Jangan khawatir, aku akan mengurus semuanya.”“Aku ingin tahu siapa dia, cepat katakan,” tuntut Hazel, matanya mencari kejujuran di balik netra gelap Hexa.“Kau tidak perlu tahu. Cukup pikirkan kesehatanmu, kandunganmu, dan

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status