FAZER LOGIN“Oh, damn! Ya ampun, enak sekali... Hexa!”
Pekikan Hazel yang jujur itu membuat Hexa menelan ludah dengan susah payah. Di dalam benaknya, rasa bersalah dan keraguan kini berpacu setara dengan getaran hasrat yang meluap tak terkendali. Sumpah demi apa pun, kenyataannya persis seperti yang Hazel katakan tadi bahwa wanita ini benar-benar sanggup meruntuhkan akal kewarasannya. Hazel memang luar biasa. Sensasi yang Hexa rasakan begitu n“Lalu, aku harus bagaimana?”Suara Hazel serak, isak tangis yang sejak tadi ditahannya mulai terdengar memilukan. Pertahanan kedokterannya runtuh seketika saat dihadapkan pada kemungkinan bahwa ibunya masih bernapas di suatu tempat.Hexa tak tega melihat kehancuran itu. Mengabaikan nyeri di perutnya, ia segera berdiri dan menarik kepala Hazel ke dalam dekapannya, menyandarkannya erat pada pinggangnya. Tangan Hexa mengusap rambut Hazel, mencoba menyalurkan kekuatan.“Tunggu satu minggu. Setelah hasil tes DNA keluar … maka kita lakukan operasi penyelamatan. Kau setuju?” bisik Hexa menenangkan.Hazel mengangguk di balik tangisnya, air matanya membasahi telapak tangan Hexa. Sambil mengusap wajahnya yang sembap, ia mendongak dengan tatapan menuntut. “Kalau begitu, apa kita bisa melakukan tes DNA sekarang juga?”Hexa tercengang. “Sekarang juga?”“Ya. Kalau Enrico sudah memegang sampel rambut wanita itu, bukankah tes
“Bawakan sampel rambut istrimu ke River Regional Hospital besok, kita bertemu di sana. Kita harus mencocokkan DNA wanita di kastil itu dengan DNA istrimu.”Tubuh Hexa menegang seketika saat membaca pesan singkat dari Enrico yang baru saja masuk. Setiap kata di layar ponsel itu seakan menjadi beban berat yang menghantam dadanya.Dada Hexa berdebar kencang. Di sela pelukannya yang masih melingkar hangat pada Hazel, pikirannya justru berkelana liar. Bagaimana caranya ia bisa mencabut sehelai rambut istrinya tanpa menimbulkan kecurigaan?Hazel adalah dokter, ia sangat peka terhadap sentuhan dan detail kecil. Satu gerakan salah, maka tamatlah rencananya.Hingga pelukan itu terlepas, Hexa tetap tak menemukan celah. Ia memutuskan untuk menunda niatnya, menunggu waktu yang lebih tepat saat Hazel benar-benar lengah.“Hexa?” Hazel menggoyangkan telapak tangan di depan wajah Hexa yang mendadak kosong. “Mengapa kau melamun?”Kesadaran Hexa bagai ditarik paksa kembali ke realita. “Ah, tidak ada
“Obsesi gelap selalu membutakan akal sehat. Jika Anda berniat menemuinya, pikirkanlah matang-matang, Nona. Jangan gegabah. Jenna bukan lawan yang mudah disentuh.”Enrico memperingatkan dengan tatapan lekat. Hanya sekali lihat, dia tahu betul kalau Hazel menyimpan kemarahan yang besar.Seharusnya, Enrico memegang mandat Hexa untuk menutup rapat rahasia ini. Namun, nasi telah menjadi bubur. Kini, prioritas utamanya bergeser karena ia harus memastikan keselamatan Hazel setelah wanita itu mengetahui kebenaran yang berbahaya ini.Hazel mengangguk tenang, namun sorot matanya sedingin es. “Aku paham. Aku bukan wanita bodoh yang akan menyerang tanpa strategi.”“Boleh saya minta satu hal pada Anda, Nona?”Hazel melirik ketika Enrico bertanya seperti itu, tapi ia tak menjawab. Sorot manatnya jelas berkata, “Ya!”“Saya mohon ... jangan katakan pada Tuan Hexa bahwa saya yang memberitahu Anda,” pinta Enrico sekali lagi. Ia takut, Hexa akan mengamuk padanya.“Tenang saja, aku tidak akan mengatakan
“Aku rindu bercinta denganmu, Hazel.”Hazel memutar bola mata malas, meski rona merah di pipinya tak bisa berbohong. Ia mendorong bahu Hexa dengan hati-hati agar suaminya itu segera masuk ke dalam kamar dan berhenti membualkan hal yang tidak pantas di depan para pelayan.Sejam lalu—setelah dirawat selama seminggu penuh, Hexa memang diperbolehkan pulang. Tak menunggu lama, mereka sampai di rumah.Begitu Hexa duduk bersandar di atas ranjang king size mereka, Hazel tidak memberikan celah sedikit pun. Ia berdiri di depan suaminya, melipat tangan di dada dengan tatapan menginterogasi. “Kau tahu siapa yang mencelakaimu?”“Hm,” gumam Hexa singkat. Ia mengabaikan rasa nyeri di perutnya demi menarik tangan Hazel, merengkuh pinggang istrinya agar duduk menempel di sisinya. “Jangan khawatir, aku akan mengurus semuanya.”“Aku ingin tahu siapa dia, cepat katakan,” tuntut Hazel, matanya mencari kejujuran di balik netra gelap Hexa.“Kau tidak perlu tahu. Cukup pikirkan kesehatanmu, kandunganmu, dan
“Oh iya. Bagaimana keadaan bayi kita? Dia tidak merepotkan mu, ‘kan?”“Tidak!”“Apa dia sudah menendang?” tanya Hexa dengan suara rendah yang dalam.“Iya. Dia baru saja bilang padaku kalau dia ingin sekali menendang Daddy-nya yang menyebalkan ini. Dia bahkan membisikkan pesan agar aku mewakilinya menendangmu,” balas Hazel ketus, meski ia tidak menepis tangan Hexa dari perutnya. “Bagaimana? Mau direalisasikan sekarang tendangannya? Dia bilang padaku, ingin menendang tepat ke arah dua bijimu!”Hexa menelan ludah. Benarkah Hazel sekejam dan setega itu padanya?Hexa menghela napas panjang, benar-benar merasa buntu. Ia menatap langit-langit kamar VVIP itu dengan pasrah. Sejak tadi ia sudah mengerahkan segala kemampuan diplomasinya sebagai jaksa, mencoba membujuk dan meminta maaf, namun Hazel tetap saja memasang benteng tinggi dengan sikap ketusnya.“Kalau bayi kita benar-benar menendangku nanti, tolong katakan padanya kalau
“Berhenti menatapku seperti itu. Kau terlihat menakutkan, seolah-olah sedang ingin mencabut nyawaku saat ini juga.” Hazel menghentikan gerakannya. Ia mendongak, menatap lurus ke dalam manik mata Hexa dengan sorot mata yang masih menyimpan sisa-sisa amarah dan luka. “Seperti apa?” Hexa sadar sepenuhnya bahwa ia sedang berada di posisi yang sangat sulit. Membantah hanya akan memperkeruh suasana. Dengan suara yang dilembutkan, ia akhirnya menyerah. “Aku minta maaf, Hazel.” “Tidak penting meminta maaf sekarang,” balas Hazel dingin, tangannya sibuk menyiapkan perban baru. “Semuanya sudah terjadi.” “Oke, aku tahu kau marah. Aku—” “Aku tidak marah. Siapa yang marah?” Hazel menjawab ketus tanpa sedikit pun menoleh ke arah Hexa. Hexa meringis pelan, bukan hanya karena luka di perutnya yang terasa berdenyut, tapi juga karena cara Hazel memasangkan perban anti-air yang baru. Gerakannya sang







