LOGIN“Sialan! Jadi, kau menjebakku, Hazel?!”
Sebuah bantal berukuran besar melayang kasar, menghantam kepala Hazel sebelum jatuh tak berdaya ke atas pangkuannya. Hazel tidak bergeming. Ia tetap duduk bersandar dengan tenang, seolah kemarahan pria di sampingnya hanyalah angin lalu. Pria itu—Hexa Cash River—menyugar rambutnya ke belakang dengan frustasi yang meledak-ledak. Jari jemarinya gemetar saat ia memunguti pakaian yang tercecer di lantai, mengenakannya dengan tergesa. Di luar sana, Hexa adalah seorang Jaksa Penuntut Umum Senior yang sangat disegani. Pria tiga puluh lima tahun yang karirnya tanpa celah. Namun di dalam kamar ini, di hadapan Hazel Adeline Rush, martabatnya seolah hancur berkeping-keping. Mata hijau zamrud Hexa berkilat penuh kebencian. Ia menatap Hazel yang masih tak acuh, justru meraih sebatang rokok dari nakas dan menyalakannya. Hazel menyesap rokok itu dalam-dalam, membiarkan nikotin menenangkan debar jantungnya yang sebenarnya juga tak karuan. Ia mengembuskan asap tipis ke udara, memperhatikan gumpalan abu-abu itu merambat naik ke langit-langit, sementara matanya menatap Hexa dengan datar sekaligus dingin. Merasa diabaikan, kesabaran Hexa habis. Hanya dalam satu gerakan cepat, ia menerjang. Kedua telapak tangan besarnya mencengkeram leher Hazel, menekannya ke headboard ranjang. Pria itu menindih paha Hazel, mengungkungnya dengan tubuh kekar yang masih menyisakan aroma gairah sisa semalam. “Katakan apa maumu?!” geram Hexa tepat di depan wajah Hazel. Napasnya memburu, panas dan berbahaya. “Kau lupa siapa aku, huh? Aku bisa menjebloskanmu ke penjara bahkan sebelum kau sempat mengadu pada dunia!” Hazel tidak melawan secara fisik. Ia justru membiarkan Hexa melihat betapa tenangnya ia di bawah ancaman itu. Hazel yakin, si jaksa penegak hukum yang lurus ini tak akan berani menjadi pembunuh. Dengan tenang, Hazel menyingkirkan tangan Hexa dari lehernya. Ia membasahi bibirnya yang memerah, lalu berbisik rendah, “Aku tahu kau calon adik iparku, Sayang. Itu poin utamanya.” Jawaban itu seperti menyiramkan bensin ke dalam kobaran api yang telah membumbung tinggi, makin membakar sanubari. Rahang Hexa mengeras, otot-otot lengannya menegang hingga urat-uratnya menonjol. Ia terlihat siap meledak. “Kalau kau tahu, kenapa kau melakukannya?!” desis Hexa. Telunjuknya menghujam udara tepat di depan hidung Hazel. “Kau tahu apa yang bisa kulakukan pada wanita sepertimu—” Mendadak, kata-kata Hexa tersangkut di kerongkongan. Mata hijau zamrud itu tak sengaja menangkap noda merah yang mengering di atas seprai putih yang kacau. Hanya noda kecil, namun cukup untuk menghantam logika Hexa hingga hancur. ‘Mustahil dia masih perawan!’ Pikirannya berteriak menolak. Sejak kejadian ini, pikiran Hexa dipenuhi dengan praduga liar. Ia mengira, Hazel pasti sering melakukan ini dengan pria lain. Tapi noda itu ... noda yang kontras di atas kain putih itu seolah menertawakan semua asumsinya. Belum sempat Hexa mencerna kenyataan yang baru saja menghantam logikanya, Hazel sudah mendorong dadanya dengan tenaga yang cukup kuat untuk membuat Hexa yang tengah linglung terjengkang ke belakang. Tanpa sepatah kata, Hazel mengabaikan kehadiran Hexa seolah pria itu hanyalah benda mati. Ia menjatuhkan puntung rokoknya ke lantai, menginjaknya perlahan dengan sandal bulu-bulu yang ada di dekat sofa, lalu menarik selimut tebal untuk melilit tubuh polosnya. Dengan gerakan tenang—penuh keangkuhan, Hazel memunguti pakaiannya yang berserak di bawah kaki. Sambil membawa pakaiannya, Hazel melangkah menuju kamar mandi di sudut ruangan, memunggungi Hexa tanpa takut akan ada serangan balasan. Ia bersikap seolah pria yang baru saja menindihnya itu tak lagi memiliki arti. Hexa mengamati Hazel. Ada yang salah dengan langkah wanita itu. “Kenapa … Hazel berjalan seperti itu?” Cara jalan Hazel yang pincang dan mengangkang membuat Hexa gundah. “Shit!” umpatnya setelah terdiam beberapa saat, bergelut dengan penyangkalan yang berkecamuk di kepalanya. Kesadarannya tersentak. Hexa bangkit dan mengejar Hazel dengan langkah lebar. Namun tepat saat ia mencapai ambang pintu, daun pintu kayu itu dibanting keras tepat di depan wajahnya. Suara benturan yang menggema di seluruh kamar itu membuat Hexa terlonjak, detak jantungnya berpacu liar antara kaget dan amarah yang semakin membumbung tinggi. Hexa menghantam pintu itu dengan kepalan tangan, memberi peringatan dengan suara rendah yang mengancam. “Keluar, Hazel! Aku beri waktu lima menit atau akan kuhancurkan pintu ini dan membuatmu menyesal!” Diabaikan untuk kesekian kalinya, Hexa memutar tumit dengan napas gusar yang memburu. Ia melangkah menuju sofa, menjatuhkan tubuh kekarnya di sana dengan posisi membungkuk, menumpukan kedua siku berada di atas paha. Pandangannya tertuju lurus pada pintu kamar mandi yang tertutup rapat. Di bawah cahaya mentari pagi yang menyorot lembut dari jendela kamar ini, sang Jaksa Penuntut Umum yang biasanya tak terkalahkan itu kini tampak hancur oleh frustasi dan sebuah noda merah yang terus menghantui pikirannya. Menit demi menit berlalu, di atas sofa itu, Hexa mulai menyusun kembali kepingan ingatan semalam yang sempat tercerai-berai. Hexa ingat suasana kelab malam itu. Ia ingat aroma parfum Hazel yang memabukkan saat wanita itu duduk di sampingnya, mungkin satu jam setelah ia tiba. Mereka sempat berbincang santai tentang hukum dan pekerjaan yang biasanya membosankan, namun terasa berbeda saat Hazel yang mengucapkannya. Hexa bukanlah peminum amatir. Dua gelas whiskey seharusnya tak akan sanggup meruntuhkan pertahanannya. Namun, pada gelas whiskey terakhir itu …. Hexa memejamkan mata, teringat bagaimana pandangannya mendadak berpijar aneh tak lama setelah Hazel berpamitan pergi. Sementara jantung berdebar kencang tak normal, rasa panas yang tidak wajar mulai menjalar, membakar pembuluh darahnya, dan melumpuhkan akal sehatnya dengan hasrat yang menuntut. Hexa mengepalkan tangan hingga kuku-kuku jarinya memutih. Ia bukan pria bodoh. Ia tahu persis apa yang terjadi. Whiskey itu telah dibubuhi sesuatu—obat perangsang. Dan satu-satunya orang yang berada cukup dekat untuk melakukannya hanyalah Hazel. Sempurna. Hazel tidak hanya menjebaknya secara fisik, tapi juga telah merancang kehancuran karirnya dengan sangat rapi. Lima menit berselang, pintu terbuka. Hazel keluar dengan aura yang jauh lebih segar. Rambut ikalnya yang panjang dan pirang keemasan dibiarkan tergerai liar di punggung, membingkai wajah yang tampak begitu murni—sangat kontras dengan rencana busuk yang baru saja ia jalankan. Hexa tak mampu memalingkan wajah. Munafik jika ia menafikan kecantikan di depannya. Hazel memiliki segalanya. Tubuh yang proporsional, kulit putih pucat yang kontras dengan bibir merah muda, dan sepasang mata yang tampak tak berdosa. Sesaat, Hexa terpaku. Bayangan tentang bagaimana ia menjamah raga itu semalam melintas tanpa permisi. Kenyataan bahwa dialah pria pertama yang menyentuh Hazel—fakta yang dibuktikan oleh noda di seprai tadi—membuat hatinya berdesir aneh. Ada amarah, tapi ada juga secercah rasa memiliki yang egois. Asumsi liar yang membakar mulai berkecamuk di benak Hexa. Hexa mulai bertanya-tanya. Benarkah ia pria pertama untuk Hazel malam tadi? Atau … Hazel justru sudah tidak perawan dan noda darah di sprei hanyalah manipulasi agar ia bersimpati pada wanita itu?“Oh iya. Bagaimana keadaan bayi kita? Dia tidak merepotkan mu, ‘kan?”“Tidak!”“Apa dia sudah menendang?” tanya Hexa dengan suara rendah yang dalam.“Iya. Dia baru saja bilang padaku kalau dia ingin sekali menendang Daddy-nya yang menyebalkan ini. Dia bahkan membisikkan pesan agar aku mewakilinya menendangmu,” balas Hazel ketus, meski ia tidak menepis tangan Hexa dari perutnya. “Bagaimana? Mau direalisasikan sekarang tendangannya? Dia bilang padaku, ingin menendang tepat ke arah dua bijimu!”Hexa menelan ludah. Benarkah Hazel sekejam dan setega itu padanya?Hexa menghela napas panjang, benar-benar merasa buntu. Ia menatap langit-langit kamar VVIP itu dengan pasrah. Sejak tadi ia sudah mengerahkan segala kemampuan diplomasinya sebagai jaksa, mencoba membujuk dan meminta maaf, namun Hazel tetap saja memasang benteng tinggi dengan sikap ketusnya.“Kalau bayi kita benar-benar menendangku nanti, tolong katakan padanya kalau
“Berhenti menatapku seperti itu. Kau terlihat menakutkan, seolah-olah sedang ingin mencabut nyawaku saat ini juga.” Hazel menghentikan gerakannya. Ia mendongak, menatap lurus ke dalam manik mata Hexa dengan sorot mata yang masih menyimpan sisa-sisa amarah dan luka. “Seperti apa?” Hexa sadar sepenuhnya bahwa ia sedang berada di posisi yang sangat sulit. Membantah hanya akan memperkeruh suasana. Dengan suara yang dilembutkan, ia akhirnya menyerah. “Aku minta maaf, Hazel.” “Tidak penting meminta maaf sekarang,” balas Hazel dingin, tangannya sibuk menyiapkan perban baru. “Semuanya sudah terjadi.” “Oke, aku tahu kau marah. Aku—” “Aku tidak marah. Siapa yang marah?” Hazel menjawab ketus tanpa sedikit pun menoleh ke arah Hexa. Hexa meringis pelan, bukan hanya karena luka di perutnya yang terasa berdenyut, tapi juga karena cara Hazel memasangkan perban anti-air yang baru. Gerakannya sang
“Jadi, ini yang kamu sembunyikan dariku?”Hazel langsung merangsek masuk. Begitu ia melewati ambang pintu, langkahnya mendadak membeku. Napasnya tercekat melihat pemandangan di depannya ketika Hexa sedang setengah terbaring di ranjang rumah sakit, bertelanjang dada dengan lilitan perban tebal yang menutupi area perutnya.Wajah suaminya yang biasanya terlihat perkasa, kini nampak pucat di bawah benderang lampu ruang perawatan. Hazel merasakan dunianya seolah runtuh melihat kondisi pria yang baru saja ia cintai, ternyata jauh dari kata ‘baik-baik saja’.Keheningan yang mencekam seketika menyelimuti ruang VVIP itu. Kejutan besar terpahat jelas di wajah semua orang. Baik Enrico, Elon, dan Gracia seolah membatu di posisi masing-masing, menatap Hazel yang berdiri gemetar di ambang pintu dengan napas memburu.Pandangan Elon beralih tajam ke arah Hexa, sebuah isyarat tanpa suara yang menuntut putranya untuk segera membereskan situasi yang pecah di luar rencana ini.Hexa mengembuskan napas
Derap langkah Hazel yang mondar mandir di ruang tamu, menyelimuti ketegangan di kediaman river malam itu. Hazel tak mau berhenti. Gracia, sang mertua, memperhatikannya dengan tatapan yang sulit diartikan. “Ma, kenapa Hexa belum pulang? Apa ... terjadi sesuatu dengannya? Perasaanku benar-benar tidak enak,” bisik Hazel parau, kedua tangannya saling meremas dengan gelisah.Gracia memaksakan senyum, mencoba tetap tenang meski hatinya sendiri bergejolak. “Semoga Hexa baik-baik saja. Dia pria yang tangguh, kau tahu itu. Jangan terlalu khawatir.”Kalimat itu sudah diucapkan Gracia berulang kali sejak senja tadi, namun nyatanya tak pernah benar-benar mampu menenangkan badai di hati Hazel. Kecemasan itu terus menghimpit dadanya hingga larut malam, sampai akhirnya Gracia harus mengantarnya kembali ke kamar di lantai atas agar ia mau beristirahat.Namun, tidur adalah hal mustahil bagi Hazel. Hingga fajar menyingsing dan pagi menyapa, sosok Hexa tak kunjung menampakkan batang hidungnya. Harap
Hexa terbangun tidak lama setelah dipindahkan ke ruang perawatan VVIP yang hening dan steril. Aroma antiseptik yang tajam menyambut kesadarannya yang perlahan pulih. Dengan gerakan pelan dan rintihan tertahan, ia menyandarkan punggungnya pada tumpukan bantal, mencoba mencari posisi nyaman sebelum menatap lurus ke arah Elon, sang ayah, yang duduk di sisi ranjang. “Papa tidak memberitahu Hazel tentang keadaanku, ‘kan?” tanya Hexa, suaranya masih serak dan lemah. Elon menatap putranya dengan tatapan yang sulit diartikan—campuran antara lega dan ketegasan. “Tentu saja tidak. Dia tidak akan tahu apa pun. Papa sudah memastikan semua laporan di rumah tetap tenang.” Hexa mengangguk pelan, merasa sedikit lega. Ia melirik ke bawah, merasakan lilitan perban yang tebal di balik pakaian rumah sakitnya. Anehnya, ia belum merasakan perih yang menghujam, mungkin karena pengaruh obat bius pasca operasi yang masih bekerja kuat di dalam aliran darahnya. Tak lama kemudian, Elon berdiri. “Ist
Elon tiba di atap rumah sakit dengan helikopter pribadinya setelah mengudara selama 17 menit. Tanpa membuang waktu, ia segera diarahkan ke ruang pengambilan darah. Sebagai pemilik golongan darah yang sama langkanya dengan putranya, Elon memberikan satu kantong darahnya dengan cepat, lalu bergegas menuju lorong ruang operasi dengan langkah lebar yang sarat kewibawaan.Enrico segera berdiri menyambut kedatangan pria kuat itu. “Tuan River, selamat datang,” sapanya dengan nada rendah penuh hormat.Elon hanya menyambut sapaan itu dengan kedipan singkat, wajahnya kaku menahan emosi. Tanpa basa-basi, ia langsung menghujamkan pertanyaan, “Apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa Hexa bisa mengalami kecelakaan sehebat itu?”“Ceritanya panjang, Tuan,” jawab Enrico. Ia kemudian menuturkan semuanya dengan gamblang, mulai dari awal pengejaran di Rute 56 hingga ledakan yang hampir merenggut nyawa Hexa. Di akhir kalimat, Enrico menyatakan dugaannya bersam







