Share

Bab 124.

last update publish date: 2026-03-05 12:08:39

Suara tembakan itu dilesatkan langsung oleh Panji dan tepat mengenai lengan Ali, membuat Ali terjatuh sambil menahan rasa sakitnya.

Timah panas itu terasa seperti membakar tubuhnya, Ali berusaha menahan rasa sakit itu.

“Kalo kamu masih melawan, aku tidak segan-segan menembakimu lagi. Maka oleh sebab itu menurutlah,” ujar Johan.

Mau nggak mau, Ali pun menurut sebab saat ini dia juga sudah terluka.

Ali lalu dibawa ke tempat di mana Xyro disekap. Tempatnya adalah sebuah vila yang sudah lama tidak
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Ah! Mantap Sekali Mbak   Bab 213

    Setelah membicarakan soal masalah itu, Roni sebelum berangkat ke Surabaya memutuskan untuk pulang dulu dengan diikuti oleh Mbak Maya, sementara Meli masih tinggal untuk melepas rindu kepada anak-anak itu. Roni dan Mbak Maya memberikannya waktu untuk itu.Sesampainya di rumah, Ali yang sudah menunggu kedatangan papanya berdiri di depan pintu saat melihat mobil yang ditumpangi papanya memasuki halaman rumah.Saat papanya keluar dari mobil, Ali seketika berlari menghampirinya.“Papa...” peluknya erat untuk melepas rindu.“Eh sayang, kamu kapan tibanya?” tanya Roni.“Kemarin, Pa. Astaga, Ali begitu rindu sama Papa. Papa baik-baik saja kan? Maafkan Ali, Ali gak di rumah saat Papa kembali,” ucap Ali tanpa melepaskan pelukannya.“Iya, tidak mengapa sayang. Bagaimana dengan kuliahmu, semua lancar kan?” tanya Roni.“Iya, Pa. Seperti yang Mama dan Papa harapkan, Ali senang sekali Papa ternyata selamat. Ali setiap hari selalu memikirkan Papa, Ali tidak sanggup kehilangan Papa,” katanya sambil me

  • Ah! Mantap Sekali Mbak   Bab 212

    Bara, ikut mama, mama mau ngomong sebentar denganmu," tiba-tiba Mbak Maya keluar dan menemui Bara yang sedang menggendong bayinya di halaman rumah."Baik, Ma," Bara pun mengikuti mamanya masuk."Ada apa, Ma? Sepertinya serius sekali?" tanya Bara, sebab ini adalah kali pertama mamanya ingin berbicara serius dengannya lagi setelah beberapa waktu lalu dia sempat mengecewakan mama karena gagal menangani perusahaan."Ini soal Sera," kata Mbak Maya."Sera? Ada apa dengan Sera?" tanya Bara. Sudah lama rasanya dia tidak membicarakan Sera lagi, dan tiba-tiba mamanya membahas soal Sera sekarang."Beberapa waktu lalu mama pergi menemui Sera di Surabaya, dan mama berbicara dengan kakeknya. Di sana mama membicarakan sesuatu yang serius tentang masa depan Sera. Mungkin ini sangat berat bagimu, tapi mama tidak punya pilihan juga. Jadi mama ingin tahu pendapatmu dan keputusanmu saja," ujar Mbak Maya."Maksud Mama? Bara belum mengerti apa yang Mama bicarakan, bukankah sera sendirinjuga setuju tinggal

  • Ah! Mantap Sekali Mbak   Bab 211

    Tepat di saat Bara sudah menyiapkan semuanya untuk ikut berangkat bersama papanya, Mbak Maya melihatnya."Hai Bara, kamu mau ke mana?" tanya Mbak Maya."Ini, Ma, aku mau ikut sama Papa menjemput anak-anak," jawab Bara."Tidak usah, kamu nggak usah ikut. Kalau kamu pergi siapa laki-laki di rumah ini? Kalau ada apa-apa gimana?" kata mamanya langsung melarangnya buat ikut."Tapi, Ma, kan cuma sebentar. Lagian kan Ali bakalan pulang," kata Bara."Bara, sudah berapa kali Mama harus nasehatin kamu, kamu belum juga mengerti. Mau sampai kapan kamu seperti ini? Iya, Mama tahu Ali bakalan pulang, tapi masa kamu mengharapkan adik kamu. Ali pulang itu buat istirahat. Kamu lupa tugas kamu apa? Mama sudah katakan berapa kali, kalau Papa kamu nggak ada, kamulah yang menggantikan Papa kamu di keluarga ini. Kalau kamu ikut pergi siapa yang ngurus perusahaan sementara Papa kamu pergi? Harapin Maria? Ingat, Maria menantu di keluarga kita. Pokoknya kamu nggak usah ikut, tetap di sini. Kalau ada apa-apa b

  • Ah! Mantap Sekali Mbak   Bab 210

    Roni pun memulainya kembali, dan kali ini dia tak lagi menahan diri. Seketika suara-suara di kamar mandi itu menjadi sangat berisik, terutama erangan Ayu yang tak terkendali. Tubuhnya bergetar hebat karena Roni benar-benar bersemangat sekali."Bang, kaki Ayu terasa pegal," kata Ayu karena dia merasa lemas, membuat kakinya tak tahan buat berdiri lagi.Roni berhenti sebentar, dia menoleh ke arah bak mandi. Di sana dia pun menggendong Ayu ke sana dan mereka lanjut di sana. Ayu benar-benar tak menyangka dengan stamina Roni yang begitu kuat, tak seperti biasanya. Iya, mungkin ini terjadi karena kebiasaan Roni yang hidup di hutan yang keras, di mana setiap hari harus pergi berburu dan sebagainya.Bukan hanya Ayu, Mbak Maya pun juga merasakan kalau stamina Roni benar-benar jauh berbeda. Lihat saja wajah Ayu sampai-sampai dibuat merah muda dengan dirinya yang terus-terusan menggigit bibirnya sendiri disebabkan oleh apa yang dirasakannya.Sementara di kamar sebelah, terdengar suara jeritan Lol

  • Ah! Mantap Sekali Mbak   Bab 209

    Setelah berbicara dengan kedua putranya, Roni melangkah menuju kamar di mana Meli berada. Saat membuka pintu kamar, Roni melihat Meli sedang duduk merenung di atas tempat tidur. Melihat itu, Roni mendekatinya, lalu duduk di sampingnya."Sayang, ada apa lagi? Kenapa masih melamun?" tanya Roni.Meli langsung bersandar di dalam pelukan Roni. "Gak tahu kenapa, aku merasa kalau aku hanya beban di sini, Roni. Melihat keluargamu yang begitu bahagia membuatku menjadi tidak enak kalau terus berada di sini," ungkap Meli. Ya, memang itulah yang dia rasakan sekarang. Selain malu, dia juga merasa kalau dirinya tak pantas berada di dalam lingkungan seperti ini."Sayang, coba tatap mataku. Kamu mencintaiku, kan?" kata Roni sambil menyentuh dagu Meli agar menatapnya."Tentu saja aku sangat mencintaimu, hanya saja..." jawabnya sambil menundukkan kepala kembali."Dan aku juga sangat mencintaimu. Begini, sayang, aku tahu ini berat untukmu karena bagaimanapun lingkungan tempat kita berada sekarang berbed

  • Ah! Mantap Sekali Mbak   Bab 208

    "Bang... bangun bang..." panggil Ayu mengguncang badan Roni untuk membangunkannya."Ah iya sayang, ada apa?" tanya Roni sembari terbangun dari tidurnya."Itu makan malam sudah siap, Mbak Maya memintaku membangunkan abang," kata Ayu, sementara Alia masih tertidur di samping papanya sembari mengemut jari tangannya."Iya sayang, wah Alia kayaknya ketiduran juga. Abang tadi ketiduran saat menemaninya bermain, ternyata dia juga ikut tertidur," kata Roni saat melihat putri kecilnya sedang tidur di dekatnya. Ayu hanya tersenyum."Kamu keluar duluan ya, nanti aku susul, aku mandi sebentar," ucap Roni sembari melangkah menuju kamar mandi yang ada di dalam kamar Ayu. Iya, setiap kamar istrinya masing-masing ada kamar mandinya, jadi gak perlu susah-susah ngantri kalau pengen mandi."Baiklah bang kalau begitu.""Kamu mau ikut gak?" kata Roni, sempat-sempatnya dia menggoda."Ayu udah mandi tadi, besok pagi aja sekalian keramas," balas Ayu sambil mengedipkan mata, sembari memberikan kode kepada Ron

  • Ah! Mantap Sekali Mbak   Bab 207

    “Siapa juga yang malu, aku... ee... aku sibuk aja, iya aku sibuk aja makanya belum ada waktu buat bertemu,” ucap Maria mencoba beralasan.“Oh, begitu ya? Saking sibuknya sampai gak nyisain waktu buat ngenalin diri ke mertua sendiri, haha. Iya-iya, itu ide bagus buat beralasan,” kata Roni.“Ayolah,

    last updateLast Updated :
  • Ah! Mantap Sekali Mbak   Bab 206

    Diperlihatkan di mana Roni tiba di perusahaan milik Marjuki. Ya, Roni tahu sekali tempatnya karena memang mereka pernah bekerja sama dulu sebelum Marjuki memutus kontrak kerja sama saat mengira Roni telah meninggal dalam kecelakaan pesawat. Jadi dia adalah salah satu pebisnis yang meninggalkan peru

    last updateLast Updated :
  • Ah! Mantap Sekali Mbak   Bab 205

    Mbak Maya dengan menggendong Arga keluar dari kamar untuk segera membuat sarapan. Tapi saat ia ke dapur, dia terkejut ketika melihat ibunya sudah di sana.“Mama… kok mama di sini? Mama kan belum sembuh, ayo cepat kembali ke kamar,” kata Mbak Maya dengan nada khawatir.“Ndak kok sayang, mama sudah b

    last updateLast Updated :
  • Ah! Mantap Sekali Mbak   Bab 204

    Sore harinya, Mbak Maya mengajak Lia pergi untuk berbelanja membeli bahan makanan buat nanti malam dan besok pagi. Sekalian dia membeli perlengkapan bayinya berupa popok dan sebagainya, sementara Roni diam di rumah untuk menjaga putra kecilnya, Arga.“Tapi kalau dia nangis minta susu gimana?” tanya

    last updateLast Updated :
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status