LOGINPagi itu, Roni mengeluarkan ponsel yang diberikan Bobi kepadanya dari dalam tas dan menanyakan cara menggunakannya.
“Miya, tolong dong kamu ajarin dia sampai bisa, ya,” pinta Bobi kepada Miya agar mengajarkan Roni cara menggunakan ponsel. “Baiklah, sini aku ajarin. Begini ya caranya,” kata Miya sambil mulai menjelaskan cara menggunakan ponsel kepada Roni. Roni hanya memperhatikan jari-jari Miya yang lincah mengotak-atik ponsel itu. “Sebentar, aku save dulu nomormu. Di dalam ponsel ini sudah ada kartu, kan? Nih, pegang dulu. Aku coba telepon,” kata Miya. Ketika Miya menelepon nomor di ponsel Roni, tiba-tiba ponsel itu berdering keras. Roni terkejut hingga membuang ponsel tersebut. Untung saja, ponsel itu jatuh di atas pasir pantai. “Kok kamu buang? Astaga...” ujar Miya sambil tersenyum melihat tingkah Roni. “Aku kira mau meledak. Suara tadi apa, sih? Kok tiba-tiba?” tanya Roni dengan wajah serius. “Tadi itu namanya nada dering. Aku kan menghubungi nomor di ponselmu, jadi ponselmu berbunyi,” kata Miya, yang tidak bisa menyembunyikan senyumnya. Ia hampir tertawa terbahak-bahak, diikuti Bobi yang juga tertawa dari kejauhan. “Begitu ya... Astaga, kenapa kamu nggak kasih tahu tadi? Aku kira tadi mau meledak! Bikin aku kaget saja,” ucap Roni sambil memungut kembali ponselnya. “Halo...” ujar Roni dengan ragu. “Nah, itu suara aku, kan? Kamu bicara lewat ponsel ini, suaramu bisa terdengar di ponselku,” jelas Miya. Roni hanya mendengarkan dengan patuh seperti anak sekolah yang memperhatikan gurunya. “Baiklah, aku mengerti sekarang. Lalu setelah itu bagaimana?” tanya Roni lagi. Miya pun melanjutkan penjelasannya dengan rinci. “Baiklah, kita akan pulang nanti sore, ya. Kalian mandi atau bersantai dulu. Masih banyak waktu,” kata Bobi, memotong penjelasan Miya kepada Roni. Hari pun mulai sore. Mereka bergegas untuk pulang dan merapikan semua tenda yang mereka dirikan. Setelah semuanya siap, mereka berangkat menuju kota. Karena tempat itu cukup jauh dari kota, tepatnya di dekat kampung, mereka membutuhkan waktu berjam-jam untuk sampai. Akhirnya, malam hari sekitar pukul sepuluh, mereka tiba di kota. “Roni, bagaimana kalau malam ini kamu menginap di rumahku saja? Besok pagi aku antar pulang, bagaimana?” kata Bobi sambil fokus menyetir. “Baiklah,” jawab Roni singkat sambil terus mengotak-atik ponselnya. Sejak awal perjalanan, ia tidak berhenti mencoba memahami cara menggunakan ponsel tersebut, meskipun masih bingung. Beberapa saat kemudian, mereka sampai di kediaman Bobi. Bobi memarkirkan mobilnya di halaman rumah. “Nah, ini dia rumahku, Roni. Ayo turun, kita masuk,” ajak Bobi. Roni turun dari mobil bersama Miya, yang sedari tadi memperhatikan Roni sibuk dengan ponselnya. “Kapan kamu antar aku pulang?” tiba-tiba Roni bertanya. Rupanya, sejak tadi ia hanya fokus pada ponselnya tanpa mendengarkan ucapan Bobi. Bobi berbalik, memandang Roni dengan melotot. “Jadi kamu dari tadi nggak mendengarkan apa yang aku katakan? Astaga, sia-sia juga kerongkonganku kering bicara sepanjang jalan!” kata Bobi dengan nada kesal. “Jadi begini, Roni. Untuk malam ini, kamu menginap dulu di rumahku. Besok aku antar pulang, oke?” kata Bobi, mengulangi ucapannya. “Tapi aku nggak enak sama orang tuamu,” kata Roni. “Tidak apa-apa. Mereka juga sedang di luar kota, jadi kamu santai saja, oke?” ujar Bobi. Roni pun tidak bisa menolak. “Baiklah, ayo masuk,” ajak Bobi. Roni hanya mengikutinya. Bobi menggandeng kekasihnya masuk ke dalam rumah. Kekasihnya itu sedari tadi tidak melepas lengannya, seperti lem yang melekat erat di tubuh Bobi. “Bik, buatkan makanan yang banyak, ya. Kami sangat lapar,” pesan Bobi kepada pembantu rumah tangga di rumahnya. “Baik, Den. Ditunggu, ya,” jawab sang pembantu dengan patuh. “Ini rumah atau istana? Besar sekali, mewah juga! Astaga, aku baru pertama kali masuk rumah sebesar ini,” gumam Roni sambil memandang ke sekeliling rumah Bobi. Ia melihat berbagai barang mewah yang menghiasi rumah tersebut. “Miya, tolong temani Roni, ya. Aku mau mengabari Mama kalau kita sudah pulang. Kemarin beliau berpesan agar aku memberi kabar saat sudah sampai,” kata Bobi kepada Miya. “Baik, Kak,” jawab Miya. Ia menghampiri Roni dan mengajaknya mengobrol sambil menunggu makanan tersaji. Beberapa saat kemudian, pembantu rumah itu memberi tahu bahwa makanan telah dihidangkan. Bobi segera mengajak Roni untuk makan malam bersama. Setelah makan malam selesai, Miya mengajak Roni untuk duduk dan minum di area kolam renang di belakang rumahnya. Sementara itu, Bobi kembali ke kamarnya untuk menyelesaikan tugas kuliah. Tahun ini adalah tahun terakhirnya, dan ia akan segera lulus untuk melanjutkan studi S2 di luar negeri, sesuai permintaan ayahnya. Karena itu, Bobi benar-benar fokus belajar demi mendapatkan nilai yang baik. “Bolehkah aku mandi di sini?” tanya Roni tiba-tiba, sambil melihat kolam renang dengan air yang tampak begitu jernih. “Serius kamu mau mandi malam-malam? Baiklah, kalau kamu mau, mandi saja. Tidak ada yang melarang,” jawab Miya sambil tersenyum, mempersilakan Roni. “Kamu nggak ikut mandi?” tanya Roni lagi. “Nanti, deh. Kamu mandi dulu. Aku ambil air putih sebentar, tunggu, ya,” ucap Miya, lalu beranjak pergi ke dapur untuk mengambil air putih. Saat Miya berada di dapur, suara ponselnya berdering. Kebetulan, Bobi juga mendengar suara dering ponsel tersebut. “Di mana Roni? Oh iya, itu siapa yang nelpon?” tanya Bobi dengan nada tegas. “Biasa, Kak. Jack. Dia selalu menghubungiku jam segini, tapi tidak aku respons,” jawab Miya santai. “Sini, biar aku yang ngomong. Kamu pergi temani Roni. Aku juga mau antar Seli pulang,” ujar Bobi sambil merebut ponsel Miya. Miya pun menurut, lalu meninggalkan dapur untuk kembali menemui Roni di kolam renang. “Halo, ya ada apa? Buat apa menghubungi adikku?” tanya Bobi dengan suara tegas karena memang tidak menyukai Jack, yang selalu ingin mendekati adiknya. “Halo, Bro... Di mana Miya? Boleh saya bicara sebentar?” jawab Jack dari seberang. “Dia sedang sibuk. Tolong jangan telepon dia lagi, dengar tidak?” jawab Bobi dengan suara kesal. “Astaga, ada masalah apa sih sama gue, Bro? Kau selalu saja melarangku mendekati adikmu. Aku benar-benar menyukainya!” ujar Jack dengan nada serius. “Telan kembali kata-katamu! Aku tidak suka kau mendekati adikku. Dia tidak suka orang sepertimu,” tegas Bobi. “Yang tidak suka itu kau atau dia?” tanya Jack, namun sebelum ia menyelesaikan kalimatnya, Bobi langsung memutus panggilan telepon tersebut. Hal itu membuat Jack sangat geram hingga memukul meja di depannya. “Sialan... Dia berani memutus panggilanku! Kau tidak tahu siapa aku, Bob. Andai kau bukan kakaknya Miya, sudah kuhabisi kau, sialan!” gerutu Jack dengan marah. Bobi meletakkan ponsel Miya di meja, lalu segera pergi mengantarkan kekasihnya pulang. Jack adalah seseorang yang tidak disukai Bobi sejak awal. Di kampus, Jack dikenal sebagai orang yang sombong dan suka pamer kekayaan. Dari awal Jack masuk kampus, Bobi sudah tidak menyukainya. Jack seangkatan dengan Miya, sehingga Bobi sebagai senior merasa perlu menjaga adiknya dari pengaruh Jack. Sementara itu, Miya kembali ke kolam renang sambil membawa gelas berisi air putih di tangannya. Perlahan, ia berjalan dengan pandangan yang terus tertuju pada tubuh Roni. Wajah tampannya yang basah serta rambut panjang yang disibakkan ke belakang membuat Miya tanpa sadar tersenyum. Kalung kain hitam yang melingkar di leher Roni menambah daya tariknya, apalagi tubuhnya yang putih dan mulus semakin mempesona di mata Miya. “Kenapa dia begitu tampan sekali? Aku bersumpah, baru kali ini aku melihat pemuda setampan dia,” gumam Miya dalam hati. Walau Roni hanya seorang pemuda kampung yang tidak memiliki apa-apa selain ketampanannya, Miya sama sekali tidak peduli. Ia merasa sangat terpesona oleh paras tampan Roni dan ingin selalu berada di dekatnya. “Hai, apa yang kau lihat? Ayo gabung,” panggil Roni, membuyarkan lamunan Miya. Miya pun mengangguk, lalu melepas jaketnya sebelum melompat ke dalam kolam renang. Mereka berenang bersama sambil berbincang-bincang seperti biasa. Namun, saat sedang mengobrol, Miya tanpa sadar meletakkan jarinya di perut Roni yang berotot. Gerakan spontan itu membuat Roni menatapnya tajam, berpikir bahwa Miya sedang menggodanya. Mereka saling bertatapan begitu lama. Wajah cantik dan sikap polos Miya membuat Roni tidak bisa menahan diri. Ia mendekat, lalu menarik tubuh Miya agar lebih dekat dengannya. “Miya...” bisik Roni lembut. “Iyah...” jawab Miya dengan suara berbisik juga. Tanpa diduga, Roni langsung mencium bibir Miya. Miya terkejut, tidak menyangka bahwa Roni akan menciumnya. Namun, ia justru membalas ciuman Roni. Ciuman itu semakin lama semakin dalam. Suasana pun berubah, membuat Roni perlahan kehilangan kendali. Bersambung.....Keesokan paginya, saat Miya pulang, Roni melihat sebuah bingkisan di kursi depan kamarnya."Siapa yang menaruh ini di sini?" gumam Roni bertanya-tanya.Ia membuka bingkisan itu dan mendapati isinya adalah nasi kotak."Wah, makanan! Pasti Bayu yang menaruh ini," pikirnya.Roni berjalan menuju kamar Bayu dan mengetuk pintunya, namun tidak ada jawaban dari dalam. Ia melirik jam tangannya dan terkejut."Astaga, ternyata sudah jam 10 pagi! Mungkin Bayu sudah pergi bekerja," ujarnya sambil berbalik arah.Setelah mandi, Roni memutuskan pergi ke gudang. Karena kuliahnya baru dimulai sore nanti, ia memilih ke sana daripada hanya berdiam diri di kos tanpa pekerjaan.Saat Miya pulang ke rumah, ayahnya sudah menunggunya di sofa. Begitu ia masuk, ayahnya langsung bertanya, "Miya, kamu ke mana saja? Bapak sudah beberapa kali menghubungimu, tapi tidak ada jawaban."Miya tersenyum dan menjawab santai, "Semalam ada acara bersama teman, jadi aku tidak sempat melihat ponsel, Pak."Ayahnya menghela napas
Hari demi hari berlalu, tanpa terasa sudah satu tahun Roni berada di kota. Sekarang, banyak perubahan yang telah terjadi. Roni kini telah dipercaya oleh Bapak Bobi untuk membantunya dalam mengelola usaha. Bahkan, ia telah diberikan tanggung jawab besar untuk memegang kendali gudang besar milik keluarga Bob. Namun, semua itu tidak didapatkan dengan mudah. Sebelum memperoleh kepercayaan sebesar itu, Roni harus menghadapi berbagai rintangan dan cobaan, mulai dari pekerja yang iri hingga ancaman pembunuhan. Meski begitu, dengan ketabahan dan kejujurannya, Roni berhasil melewati semuanya.Sementara itu, di kampus, Jack semakin berani menunjukkan dominasinya. Ia berusaha untuk menguasai kampus dengan sering membuat keributan dan masalah. Geng motornya pun semakin menjadi-jadi di jalanan, terutama setelah Bobi dan kelompoknya telah lulus dari kampus tersebut.Namun, meskipun begitu, Roni tidak pernah takut kepada Jack dan gengnya. Bahkan, beberapa kali Jack mengirim anak buahnya untuk mengga
Tok... tok... suara pintu kamar Roni diketuk dari luar. Awalnya, Roni tidak menyahut sebab dia memang sudah terlalu lelah. Namun, karena suara ketukan itu semakin keras, akhirnya Roni bangun."Siapa ya yang mengetuk pintu tengah malam begini? Apa Bayu ya? Sepertinya dia sudah pulang bekerja, tapi kenapa malah membangunkanku pula..." pikir Roni. Dia mengira kalau itu adalah Bayu, lalu berjalan menuju pintu untuk membukanya.Saat pintu dibuka, bukan Bayu yang ia lihat, melainkan Mbak Maya yang berdiri sambil menatapnya. Sontak, Roni sedikit terkejut hingga mundur ke belakang. Wajahnya masih terlihat mengantuk karena tidurnya begitu pulas, sehingga ia benar-benar terganggu."Kenapa kau malah terkejut seperti itu, seolah-olah aku ini hantu?" ujar Mbak Maya dengan nada sedikit kesal."Bukan seperti itu, Mbak. Astaga, maaf. Tak kira tadi Bayu, eh pas aku buka ternyata Mbak, jadi aku terkejut dong," ucap Roni mencoba menjelaskan agar Mbak Maya tidak salah paham.Mbak Maya menoleh ke kiri dan
Sesampainya di rumah, Roni langsung berjalan ke arah meja, menaruh tas selempangnya, dan menuju kamar mandi. Namun, saat baru saja membuka pintu kamar mandi, dia dikejutkan oleh Mbak Maya yang keluar dari sana hanya mengenakan handuk.Mbak Maya yang melihat pakaian Roni begitu kotor langsung bertanya, "Kenapa kamu begitu kotor, seperti anak sekolah dasar yang baru pulang main saja?" tanyanya, karena kondisi Roni memang benar-benar kotor dan bau telur busuk."Tadi ada sedikit kejutan saja," jawab Roni sambil tersenyum dan melewati Mbak Maya untuk masuk ke kamar mandi dan membersihkan tubuhnya. Namun, Mbak Maya justru mengikutinya kembali ke dalam kamar mandi sambil melepas handuknya."Mbak, kenapa masuk lagi? Aku mau mandi, Mbak," tanya Roni, terkejut melihat Mbak Maya yang mengikutinya masuk."Sini, lepas semua pakaianmu. Aku akan mencucinya. Astaga baunya," kata Mbak Maya sambil meraih pakaian Roni yang dia pegang, menunggu Roni melepas celananya. Setelah itu, Mbak Maya mulai mencuci
Suara kicauan burung terdengar begitu indah di pagi hari, diikuti oleh suara siulan yang dimainkan oleh Roni yang sedang asyik di dalam kamar mandi. Pagi ini, dia mengawali hari dengan keceriaan karena sudah bertekad untuk terus semangat mengejar mimpinya.Setelah selesai mandi, dia sarapan, lalu berangkat ke kampusnya. Sementara itu, Mbak Maya masih tertidur pulas karena permainan panas yang dilakukan Roni tadi malam, membuatnya begitu kelelahan.Seperti biasanya, Roni berjalan kaki dengan tas selempang yang selalu ia bawa saat ke kampus. Dalam perjalanan, ia menyapa setiap orang yang ditemuinya, termasuk teman-temannya di jalan. Kadang, dengan keisengannya, Roni melempar batu kecil ke arah dahi salah satu temannya, lalu berlari dikejar. Bukannya panik, Roni justru tertawa sambil mengejek mereka. Mungkin itu salah satu alasan mengapa Roni selalu ngos-ngosan saat sampai di gerbang kampusnya. Di atas gapura kampus, tertulis: Universitas Bina Bangsa."Akhirnya sampai juga," gumamnya sam
"Ayu, setiap hari dan malam kamu selalu melamun. Sejak kepergian pria miskin itu, kamu terus seperti ini. Apa istimewanya dia sampai-sampai kamu seperti ini terus?" ujar Tuan Hasan, ayah Ayu, mencoba membuka pembicaraan dengan putrinya.Setelah kepergian Roni, Ayu memang selalu terlihat melamun, tenggelam dalam pikirannya. Apalagi, Roni sama sekali tidak pernah mengirim kabar sejak pertama kali pergi."Papa tidak mengerti apa yang aku rasakan. Papa hanya melihat Roni dari sisi buruknya saja," balas Ayu sambil menatap ayahnya dengan penuh penyesalan."Bagaimana bapakmu ini tidak berpikir seperti itu? Lihat saja, dia pergi begitu saja dan meninggalkanmu dalam keadaan seperti ini. Pokoknya, besok kamu harus bersiap-siap. Reza dan ayahnya akan datang ke rumah untuk melamarmu," ungkap Tuan Hasan tegas, memberitahu bahwa Reza, anak seorang pengusaha kaya sekaligus juragan ternama di desa, akan melamar Ayu esok pagi."Papa, Ayu tidak mau menikah! Apa pun yang terjadi, Ayu akan tetap setia ke