LOGINRoni mulai menyentuh dada Miya yang membuat Miya menutup matanya. Saat Roni menyadari bahwa dada Miya besar, dia semakin tidak bisa menahannya. Roni membantu Miya melepaskan bajunya dan mencium lehernya, sementara tangan Miya diarahkan ke sosis hangat Roni, sementara tangan Roni bermain di dada Miya.
Miya tidak tahan lagi, terutama karena ini adalah pengalaman pertamanya. Suara percikan air diselingi dengan suara nafas mereka yang saling mencumbu. Roni mendengar detak jantung Miya dengan jelas. Roni melepas celananya dan mengarahkan senjatanya ke arah selangkangan Miya, namun saat itu Roni menyadari bahwa Miya masih gadis. Dia pun menjauhkan dirinya dari pelukan Miya. "Kenapa kamu berhenti, Roni?" tanya Miya heran. "Maaf, aku tidak bisa melakukannya, Miya. Kamu masih gadis dan aku tidak ingin merenggut kegadisanmu," jawab Roni sambil menggelengkan kepala. "Jadi kamu hanya ingin aku tidak gadis, atau kamu tidak menyukai tubuhku?" ujar Miya sedikit kecewa. "Bukan begitu, Miya. Aku tidak ingin menyakitimu. Simpan keperawananmu untuk orang yang akan kau pilih kelak," kata Roni sambil menjelaskan lalu berbalik hendak naik ke atas, namun Miya memeluknya dari belakang agar tidak pergi. "Roni, aku tidak ingin berhenti. Tolong lakukan untukku, aku sangat menginginkannya denganmu. Saya tidak peduli dengan siapa, yang penting sekarang aku menginginkanmu. Tolong jangan menolakku," ungkap Miya sambil mempererat pelukannya pada tubuh Roni. Roni memejamkan matanya lalu mendongak ke langit sambil menarik nafas. Dia lalu berbalik memegang wajah Miya. "Miya, aku hanya seorang pria miskin yang tidak pantas menerima sesuatu yang berharga dalam hidupmu. Menunggu adalah yang terbaik. Temukanlah pria yang pantas dan berikanlah kepadanya. Aku menolak bukan karena tidak tertarik, melainkan karena menghormati dirimu. Lupakan hal ini, temukanlah pria yang pantas untukmu, bukan aku," ucap Roni sambil melepas sentuhan tangan Miya yang memegang pinggangnya. Meskipun begitu, Miya masih memeluknya. Mohon dimaafkan atas isi yang mungkin tidak sesuai dengan keinginan Anda. Jika ada yang perlu dikoreksi, tolong beri tahu saya. Terima kasih. Tidak, Roni. Aku hanya ingin menjadi milikmu, aku jatuh cinta padamu sejak pertama kali bertemu. Apakah kamu masih ingat ketika kita bertabrakan di lapangan dulu? Itulah saat di mana rasa tertarikku padamu mulai muncul. Jangan katakan lagi tentang status sosial atau kekayaan, karena hal itu tidak penting bagiku. Aku hidup dalam kelimpahan harta, namun yang aku cari hanyalah dirimu. Aku tahu kita berasal dari dunia yang berbeda, tapi aku tidak peduli. Aku hanya ingin bersamamu, kenyamanan yang kurasakan saat bersamamu sudah membuatku bahagia. Tolong, jangan tinggalkan aku. Setidaknya coba untuk memahamiku," ujar Miya. Dia mengungkapkan perasaannya dengan tulus kepada Roni. Namun, Roni tetap menolak tawaran Miya dengan berbagai alasan. Miya tidak menyerah begitu saja, dia mencoba memperkuat pendiriannya dengan tindakan fisik. Miya kemudian merayu Roni dengan sentuhan di bagian sensitifnya, membuatnya sulit untuk menolak. Roni merasa terkejut dan frustasi dengan cara Miya. Dia mencoba menolak dan meminta Miya untuk berhenti, tetapi Miya terus memaksanya. Akhirnya, Roni terpaksa menyerah dan melakukan hal yang sebelumnya dia tolak. Namun, saat mereka sedang asyik, terdengar suara mobil Bobi mendekat. Roni segera menghentikan aktivitasnya dan meminta Miya untuk segera mengenakan pakaiannya kembali. Miya patuh dan mengenakan pakaiannya. Mereka sepakat untuk bertemu di kamar miya setelah Bobi tertidur. Roni membersihkan kolam renang dari noda darah yang keluar karena insiden tadi, sementara Miya pergi ke atas dan menunggu di kamar nya. "Kamu kenapa jalannya sempoyongan begitu miya?," tanya bibo, saat melihat miya berjalan tertatih-tatih karena habis melepas keperawanannya tadi dengan roni. "Aku tadi habis terjatuh kak, pinggir kolamnya terlalu licin, aku gak berhati-hati," jawab miya berbohong, sambil sambil terus melangkah melewati bobi yang memperhatikan cara berjalan adiknya. "Makaknya lain kali berhati-hati, sana masuk tidur!," kata bobi, meminta miya untuk langsung tidur. Bobi lalu berjalan ke pinggir kolam renang sambil memberikan handuk kepada roni. "Ni pakailah, nanti pakai dulu pakaian ku bukat ganti," ucap bobi kepada roni. Setelah itu mereka masuk berdua ke dalam, dan di dalam bobi memberikan roni pakaiannya untuk di pakai dulu karena pakaian roni basah semua. " Kalo ngantuk tidur aja di kamarku, aku mau lanjut ngerjain tugas kuliah dulu, kalo butuh apa-apa tinggal panggil oke!," pesan bobi, lalu dia berjalan ke ruang belajar. Roni masuk ke dalam kamar bobi sekedar mengganti pakaiannya lalu keluar lagi dan duduk di sopa sambil termenung memikirkan kejadian tadi dengan miya. Dia masih tidak menyangka miya dengan entengnya meminta dia menidurinya, tapi roni juga tidak memungkiri kalo dia juga menikmati permainan singkat mereka tadi. "Ah...aku jadi pengen cepet pulang, mbak maya pasti menungguku," katanya, malah memikirkan mbak maya untuk dia gunakan melampiaskan keinginannya yang belum terluaskan itu. Beberapa saat kemudian karena tidak ada kerjaan hanya merenung saja, roni jadi tertidur di sofa, dan beberapa saat bobi keluar dari ruang belajar, karena merasa kanguk dia berniat untuk tidur dan melanjutkan tugasnya besok. "Nih bocah malah tidur di sini lagi, sudah di suruh tidur di dalem," ujar bobi yang melihat roni malah tidur di sofa. Karena melihat tidur robi yang begitu pulasnya, bobi tidak langsung membangunkannya untuk pindah ke kamarnya, dia mengambilkannya selimut dan menutupi tubuh roni dengan selimut itu, lalu dia sendiri kembali ke kamarnya untuk tidur. Di kamar seberang terlihat miya masih belum tidur, dia membolak balik kan tubuhnya, sambil menunggu roni masuk ke dalam kamarmya. "Kok lama sekali ya, apa kak bobi belum tidur?," ucapnya. Karena tidak sabar dia pun keluar sendiri untuk memastikan, dia dengan perlahan berjalan, dan dia melihat roni ternyata tidur di sofa. "Astaga, yang di tunggu ternyata tidur di sini," katanya, terlihat sedikit kesal, tapi dia berjalan menuju kamar kakaknya, haya sekedar memastikan bobi sudah tidur atau belum. Setelah memastikan kalo bobi ternyata sudah tidur, miya kembali berjalan ke arah sofa di mana roni tidur. "Apa aku lakukan sendiri ya, aku penasaran soalnya, walaupun agak sakit tapi ada enaknya juga, ah banyak mikir keburu ngantuk," ungkapnya, sambil membukakan sendiri celana roni yang tertidur di depannya. Waktu miya membuka celana bobi benda yang di carinya pun menampakkan diri dengan gagahnya di depannya. "Astaga besar sekali pantas sakit," katanya sambil mulai memeganya, sambil memastikan sepi gak ada yang sudah bangun misa mulai naik ke atas tubuh roni dan perlahan melakukannya sendiri tanpa sepengetahuan roni yang tertidur pulas. "Kok masih sakit ya," katanya sambil mencoba memasukkannya sendiri sampai akhirnya masuk semua, di saat miya mulai menggerakkan tubuhnya roni di buat terbangun. "Miya apa yang kamu lakukan, kalo kakakmu lihat bagaimana?," ujar roni , terlihat sangat terkejut melihat miya sedang bermain di atas tubuhnya. "Aku sudah pastiin tadi kakak sudah tidur, lagian aku menunggumu lama sekali, ternyata kamu tidur disini, ya aku lakukan sendiri lah," ucapnya, sedikitpun tidak ada rasa bersalah. Roni melihat miya sekarang sudah lebih berani membuat roni menggelengkan kepala tapi tidak melepas dirinya dari miya yang asih menggoyangkan pinggulnya di atasnya. Mleihat roni yang bengong saja miya mempercepat gerakannya membuat roni menjadi bergairah. Dia pun bangkit dan meletakkan tubuh miya di atas sofa lalu dia tindih. "Ini yang kamu mau kan?," katanya. Miya mengagguk sambil terenyum. "Tunggu sebentar, kita pindah ke kamar ku aja ayo," kata miya, meminta roni untuk berhenti sebentar dan pindah kamar. Sambil menunjuk ke arah kamarnya. Tanpa berpikir panjang roni mengangkat tubuh miya dan menggendongnya untuk pindah ke kamar. Sesampai di dalam kamar roni langsung menghempaskan tubuh miya dan segera dia tindih dan masuki. "Kamarku kedap suara jadi lakukan sesukamu," bisik miya, mendengar itu seperti mendapat tantangan dari miya, roni pin menghujam miya dengan gerakan pinggalnya yang begitu cepat dan keras membuat miya merkntih dan mendesah hebat, ruangan itu seketika penuh dengan teriakan kenikmatan yang di rasakan miya. Keringat mulai bercucuran di tubuh mereka berdua mengiringi gerakan pinggul roni yang tidak henti-hentinya, membuat desahan dari mulut miya semakin kencang. Malam mulai gelap tapi suasana di kamar itu masih belum ada tanda-tanda aktivitas mereka akan berhenti, sampai akhirnya miya yang merasa capek sampai pingsan juga, tapi roni tidak menyadarinya dan terus bergerak sampai akhirnya.... Bersambung...Keesokan paginya, saat Miya pulang, Roni melihat sebuah bingkisan di kursi depan kamarnya."Siapa yang menaruh ini di sini?" gumam Roni bertanya-tanya.Ia membuka bingkisan itu dan mendapati isinya adalah nasi kotak."Wah, makanan! Pasti Bayu yang menaruh ini," pikirnya.Roni berjalan menuju kamar Bayu dan mengetuk pintunya, namun tidak ada jawaban dari dalam. Ia melirik jam tangannya dan terkejut."Astaga, ternyata sudah jam 10 pagi! Mungkin Bayu sudah pergi bekerja," ujarnya sambil berbalik arah.Setelah mandi, Roni memutuskan pergi ke gudang. Karena kuliahnya baru dimulai sore nanti, ia memilih ke sana daripada hanya berdiam diri di kos tanpa pekerjaan.Saat Miya pulang ke rumah, ayahnya sudah menunggunya di sofa. Begitu ia masuk, ayahnya langsung bertanya, "Miya, kamu ke mana saja? Bapak sudah beberapa kali menghubungimu, tapi tidak ada jawaban."Miya tersenyum dan menjawab santai, "Semalam ada acara bersama teman, jadi aku tidak sempat melihat ponsel, Pak."Ayahnya menghela napas
Hari demi hari berlalu, tanpa terasa sudah satu tahun Roni berada di kota. Sekarang, banyak perubahan yang telah terjadi. Roni kini telah dipercaya oleh Bapak Bobi untuk membantunya dalam mengelola usaha. Bahkan, ia telah diberikan tanggung jawab besar untuk memegang kendali gudang besar milik keluarga Bob. Namun, semua itu tidak didapatkan dengan mudah. Sebelum memperoleh kepercayaan sebesar itu, Roni harus menghadapi berbagai rintangan dan cobaan, mulai dari pekerja yang iri hingga ancaman pembunuhan. Meski begitu, dengan ketabahan dan kejujurannya, Roni berhasil melewati semuanya.Sementara itu, di kampus, Jack semakin berani menunjukkan dominasinya. Ia berusaha untuk menguasai kampus dengan sering membuat keributan dan masalah. Geng motornya pun semakin menjadi-jadi di jalanan, terutama setelah Bobi dan kelompoknya telah lulus dari kampus tersebut.Namun, meskipun begitu, Roni tidak pernah takut kepada Jack dan gengnya. Bahkan, beberapa kali Jack mengirim anak buahnya untuk mengga
Tok... tok... suara pintu kamar Roni diketuk dari luar. Awalnya, Roni tidak menyahut sebab dia memang sudah terlalu lelah. Namun, karena suara ketukan itu semakin keras, akhirnya Roni bangun."Siapa ya yang mengetuk pintu tengah malam begini? Apa Bayu ya? Sepertinya dia sudah pulang bekerja, tapi kenapa malah membangunkanku pula..." pikir Roni. Dia mengira kalau itu adalah Bayu, lalu berjalan menuju pintu untuk membukanya.Saat pintu dibuka, bukan Bayu yang ia lihat, melainkan Mbak Maya yang berdiri sambil menatapnya. Sontak, Roni sedikit terkejut hingga mundur ke belakang. Wajahnya masih terlihat mengantuk karena tidurnya begitu pulas, sehingga ia benar-benar terganggu."Kenapa kau malah terkejut seperti itu, seolah-olah aku ini hantu?" ujar Mbak Maya dengan nada sedikit kesal."Bukan seperti itu, Mbak. Astaga, maaf. Tak kira tadi Bayu, eh pas aku buka ternyata Mbak, jadi aku terkejut dong," ucap Roni mencoba menjelaskan agar Mbak Maya tidak salah paham.Mbak Maya menoleh ke kiri dan
Sesampainya di rumah, Roni langsung berjalan ke arah meja, menaruh tas selempangnya, dan menuju kamar mandi. Namun, saat baru saja membuka pintu kamar mandi, dia dikejutkan oleh Mbak Maya yang keluar dari sana hanya mengenakan handuk.Mbak Maya yang melihat pakaian Roni begitu kotor langsung bertanya, "Kenapa kamu begitu kotor, seperti anak sekolah dasar yang baru pulang main saja?" tanyanya, karena kondisi Roni memang benar-benar kotor dan bau telur busuk."Tadi ada sedikit kejutan saja," jawab Roni sambil tersenyum dan melewati Mbak Maya untuk masuk ke kamar mandi dan membersihkan tubuhnya. Namun, Mbak Maya justru mengikutinya kembali ke dalam kamar mandi sambil melepas handuknya."Mbak, kenapa masuk lagi? Aku mau mandi, Mbak," tanya Roni, terkejut melihat Mbak Maya yang mengikutinya masuk."Sini, lepas semua pakaianmu. Aku akan mencucinya. Astaga baunya," kata Mbak Maya sambil meraih pakaian Roni yang dia pegang, menunggu Roni melepas celananya. Setelah itu, Mbak Maya mulai mencuci
Suara kicauan burung terdengar begitu indah di pagi hari, diikuti oleh suara siulan yang dimainkan oleh Roni yang sedang asyik di dalam kamar mandi. Pagi ini, dia mengawali hari dengan keceriaan karena sudah bertekad untuk terus semangat mengejar mimpinya.Setelah selesai mandi, dia sarapan, lalu berangkat ke kampusnya. Sementara itu, Mbak Maya masih tertidur pulas karena permainan panas yang dilakukan Roni tadi malam, membuatnya begitu kelelahan.Seperti biasanya, Roni berjalan kaki dengan tas selempang yang selalu ia bawa saat ke kampus. Dalam perjalanan, ia menyapa setiap orang yang ditemuinya, termasuk teman-temannya di jalan. Kadang, dengan keisengannya, Roni melempar batu kecil ke arah dahi salah satu temannya, lalu berlari dikejar. Bukannya panik, Roni justru tertawa sambil mengejek mereka. Mungkin itu salah satu alasan mengapa Roni selalu ngos-ngosan saat sampai di gerbang kampusnya. Di atas gapura kampus, tertulis: Universitas Bina Bangsa."Akhirnya sampai juga," gumamnya sam
"Ayu, setiap hari dan malam kamu selalu melamun. Sejak kepergian pria miskin itu, kamu terus seperti ini. Apa istimewanya dia sampai-sampai kamu seperti ini terus?" ujar Tuan Hasan, ayah Ayu, mencoba membuka pembicaraan dengan putrinya.Setelah kepergian Roni, Ayu memang selalu terlihat melamun, tenggelam dalam pikirannya. Apalagi, Roni sama sekali tidak pernah mengirim kabar sejak pertama kali pergi."Papa tidak mengerti apa yang aku rasakan. Papa hanya melihat Roni dari sisi buruknya saja," balas Ayu sambil menatap ayahnya dengan penuh penyesalan."Bagaimana bapakmu ini tidak berpikir seperti itu? Lihat saja, dia pergi begitu saja dan meninggalkanmu dalam keadaan seperti ini. Pokoknya, besok kamu harus bersiap-siap. Reza dan ayahnya akan datang ke rumah untuk melamarmu," ungkap Tuan Hasan tegas, memberitahu bahwa Reza, anak seorang pengusaha kaya sekaligus juragan ternama di desa, akan melamar Ayu esok pagi."Papa, Ayu tidak mau menikah! Apa pun yang terjadi, Ayu akan tetap setia ke