Beranda / Romansa / Ah! Perih Om / Bab 1 Dunia Mecca

Share

Ah! Perih Om
Ah! Perih Om
Penulis: Goresan Hara

Bab 1 Dunia Mecca

Penulis: Goresan Hara
last update Tanggal publikasi: 2026-08-28 18:12:03

Jakarta tak pernah tidur, dan Mecca Ardani pun sama.

Pukul tujuh pagi, gadis itu sudah melangkah keluar dari apartemen kecilnya di Kuningan dengan langkah yang begitu percaya diri terlalu percaya diri, malah, untuk seorang mahasiswi baru masuk semester tiga. Rambut hitam panjangnya diikat tinggi ke atas, tas ransel tersampir seenaknya di satu bahu, dan sepatu kets putihnya mengetuk trotoar seolah menantang siapa saja yang berani menghalanginya.

“Mecca! Tunggu!”

Suara itu melengking dari belakang, napasnya terengah-engah, dan sangat ia kenal. Naya, sahabatnya sejak hari pertama orientasi kampus, berlari kecil mengejar sambil memeluk gelas kopi es yang nyaris tumpah.

“Kamu ini, jalan saja seperti dikejar setan,” kata Naya sambil mengatur napas setelah berhasil menyamai langkahnya. “Saya baru saja keluar dari lift, kamu sudah pergi secepat pelari maraton.”

Mecca menoleh sekilas, sudut bibirnya terangkat sedikit. “Yang lambat itu kamu, Nay. Bukan saya yang berjalan terlalu cepat.”

“Sama saja saja!”

Mereka berjalan berdampingan menuju halte bus kampus. Pagi itu Jakarta tetap seperti biasa panas, bising, dan dipenuhi orang-orang yang terburu-buru, mengejar sesuatu yang mungkin tak akan pernah benar-benar mereka temukan. Tapi Mecca tak pernah merasa dirinya bagian dari keramaian itu. Ia tahu persis apa yang ia kejar: gelar sarjana bisnis, karier yang dibangun sendiri, dan kebebasan benar-benar bebas dari siapa pun yang ingin mengatur hidupnya.

Termasuk kedua orang tuanya.

“Eh, tadi pagi ibumu menghubungimu lagi?” tanya Naya sambil menyeruput kopinya.

Mecca mendengus pelan. “Kapan dia tidak? Sudah tiga kali menelepon pagi ini, bahkan sebelum saya bangun.”

“Apa maunya?”

“Entahlah, saya tidak angkat.” Mecca mengangkat bahu. “Pasti soal pulang ke rumah lagi. Atau lagi menguliahi soal ‘masa depan yang harus dipikirkan dari sekarang’.” Ia menirukan nada ibunya dengan begitu pas sampai Naya hampir menyemburkan kopinya.

“Kamu jahat sekali sama ibumu, tahu.”

“Bukan jahat. Hanya realistis.” Mecca menatap lurus ke depan. “Saya sayang mereka, Nay. Tapi kalau saya menuruti semua kemauan mereka, saya bukan lagi Mecca. Saya cuma akan jadi boneka yang digerakkan sesuka hati.”

Naya terdiam sejenak, lalu mengangguk pelan. Ia sudah cukup lama mengenal Mecca untuk tahu di balik kata-kata yang terdengar tajam itu, ada sesuatu yang lebih dalam, sesuatu yang mungkin Mecca sendiri belum sepenuhnya sadari.

Bus kampus tiba. Mereka naik dan duduk di barisan paling belakang. Bahkan sebelum bus bergerak, Mecca sudah membuka laptopnya; presentasi Manajemen Strategi menantinya, dan ia tak pernah melakukan sesuatu setengah-setengah.

“Kamu sudah menyelesaikan presentasinya?” tanya Naya, melirik layar yang sudah penuh dengan susunan slide yang rapi.

“Sudah, sejak tiga hari lalu.”

“Tiga hari lalu —” Naya menatapnya tak percaya. “Mec, presentasinya baru besok.”

“Justru itu. Saya mau perbaiki lagi.”

Naya menggeleng-gelengkan kepala. “Kadang saya bingung, kamu ini mahasiswi atau CEO perusahaan besar.”

Mecca tak menjawab, tapi sudut bibirnya sedikit tersenyum. CEO. Kata itu terasa aneh di telinganya pagi ini, meski ia tak tahu alasannya.

Di kampus, Mecca adalah sosok yang tak bisa diabaikan. Bukan karena ia berisik walau suaranya selalu terdengar tegas di setiap diskusi melainkan karena caranya berbicara membuat orang lain berhenti dan mendengarkan. Dosen menyebutnya “kritis”. Teman-teman menyebutnya “galak”. Bagi Mecca sendiri, itu cuma satu hal: jujur.

“Saya tidak setuju dengan analisis kelompok tiga.”

Suara Mecca membelah ruangan saat diskusi berlangsung. Beberapa teman menoleh, ada yang menghela napas mereka sudah hafal sifatnya itu.

“Strategi masuk pasar yang kalian usulkan terlalu konservatif untuk selera Gen-Z,” lanjutnya sambil berdiri dari kursi tanpa diminta. “Data yang dipakai berasal dari tahun 2021. Tiga tahun lalu. Keadaan sekarang sudah berubah sepenuhnya.”

Ketua kelompok tiga, Adit, menatapnya kesal sekaligus kagum. Ekspresi yang kini kerap muncul di wajah siapa pun yang berhadapan dengan Mecca Ardani.

“Lalu menurutmu bagaimana?” tantang Adit.

Mecca tersenyum tipis bukan senyum yang manis, melainkan senyum penuh keyakinan. “Kalau mau, setelah kelas selesai saya berikan referensinya. Gratis.”

Satu kelas tertawa. Dosen tersenyum sambil menggeleng. Mecca duduk kembali dengan perasaan puas yang tulus; ia tak butuh pujian, tapi menyampaikan apa yang benar sudah seperti naluri yang tak bisa ia tahan.

Setelah kelas usai, mereka duduk di kantin. Mecca memesan nasi goreng dan es teh sederhana sekali untuk anak dari keluarga berada, hal yang kerap membuat orang lain heran.

“Sebenarnya kamu bisa saja hidup enak, Mec,” kata Naya sambil menatap piring di depannya. “Mobil disediakan, apartemen dibayarkan, uang saku berlimpah. Tapi kamu malah memilih naik bus kampus dan makan di sini.”

“Itu mobil milik Ayah, bukan milik saya,” jawab Mecca tenang. “Saya ingin hidup dari hasil kerja saya sendiri. Uang mereka selalu ada syaratnya, Nay. Selalu.”

“Syarat apa?”

Mecca menusuk nasi gorengnya sedikit terlalu kuat. “Tunduk.”

Satu kata itu menggantung di udara berat, sunyi.

Ponsel di meja bergetar. Layarnya menyala: Mama. Panggilan keempat hari ini. Mecca menatapnya tiga detik cukup lama merasakan sesak di dada, tapi belum cukup untuk membuatnya menyerah.

Ia membalikkan ponsel, layarnya menempel ke meja.

“Tidak diangkat?” tanya Naya pelan.

“Nanti,” jawab Mecca. Tapi nada suaranya berkata lain: mungkin tidak sekarang, mungkin tidak besok, mungkin tidak sampai ia siap menghadapi apa pun yang menanti di ujung telepon itu.

Mecca belum tahu panggilan kali ini berbeda dari yang lain.

Ia belum tahu, bahwa di rumah keluarganya yang besar di Menteng, kedua orang tuanya sedang duduk berhadapan dengan seseorang, seorang pria yang namanya belum pernah ia dengar, tapi yang akan mengubah seluruh arah hidupnya.

Yang ia tahu hari ini hanyalah satu hal: ia adalah Mecca Ardani, dan tak seorang pun berhak menentukan jalan hidupnya.

Belum ada yang memberitahunya takdir punya rencana lain.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Ah! Perih Om   Bab 7: Strategi Penolakan

    Mecca sama sekali tak bisa tidur.Bukan karena tak bisa tidur tubuhnya lelah, matanya pun berat. Tapi setiap kali ia memejam, yang muncul bukan kegelapan. Yang muncul justru tatapan tenang pria itu, saat duduk di kursi ruang tamu. Cara ia mendengarkan tiga halaman penjelasan Mecca tanpa mengubah ekspresi sedikit pun. Cara ia berkata pada Papa: "Saya justru lebih lega kalau dia tidak langsung setuju"—seolah penolakan Mecca bukan penghinaan, melainkan sesuatu yang justru menguatkan keyakinannya.Menguatkan apa, Mecca tak mau memikirkannya.Pukul dua dini hari, ia duduk di tepi ranjang, menyalakan lampu nakas, lalu mengambil buku catatan biru dari laci. Buku yang sama yang biasa ia pakai untuk menyusun rencana presentasi, menulis draf tugas, dan sesekali menumpahkan apa yang tak bisa ia sampaikan kepada siapa pun.Di halaman baru, ia menulis dengan huruf besar semua:MISI: BUAT DIA MUNDUR SENDIRIDigarisbawahi. Dua kali."Baiklah," gumamnya, sambil mengetukkan ujung pulpen ke dagu. "Kala

  • Ah! Perih Om   Bab 6: Kesan Pertama

    Reyhan tidak langsung pulang setelah pertemuan itu.Mobil Mercedes hitamnya yang tampak terlalu bersih untuk jalanan Jakarta meluncur pelan di Jalan Diponegoro, sementara Pak Budi, sopirnya, mengurai kemacetan dengan kesabaran yang sudah teruji delapan tahun lamanya.Di jok belakang, Reyhan melonggarkan satu kancing teratas kemejanya lalu menyandarkan kepala ke sandaran kulit. Matanya terpejam, tapi pikirannya tidak bisa tenang."Due diligence."Dua kata itu terus berputar di kepalanya, seperti lagu yang tak bisa dihentikan.Gadis itu Mecca, yang dua puluh satu tahun lebih muda darinya, mahasiswi semester tiga yang bahkan belum pernah menandatangani kontrak sungguhan baru saja menyebut apa yang dilakukannya itu sebagai due diligence.Bukan kepo. Bukan mengintai. Due diligence. Langkah yang memang biasa dilakukan sebelum memutuskan sesuatu.Sudut bibir Reyhan sedikit terangkat.Dia sudah bertemu begitu banyak wanita. Di dunia properti, urusan bisnis sering kali bercampur dengan ajakan

  • Ah! Perih Om   Bab 5: Pertemuan Pertama

    Tiga hari berlalu sejak malam makan malam itu, dan Mecca sudah menyiapkan segalanya. Di meja belajar apartemennya, tiga halaman catatan rapi tersusun di samping laptop. Poin-poin argumen ditulis dengan spidol hitam, diberi nomor, diberi highlight kuning di bagian yang paling kuat. Dia bahkan sudah latihan bicara di depan cermin dua kali seperti mau presentasi di depan dosen penguji. "Pertama, perbedaan usia dua belas tahun secara statistik meningkatkan risiko ketidakcocokan nilai dan gaya hidup." Mecca membaca ulang catatannya, mengangguk puas. "Kedua, aku masih semester tiga dan belum memiliki kemandirian finansial. Menikah sekarang berarti menghentikan proses pertumbuhanku sebagai individu." Argumen ketiga yang menurutnya paling mematikan digaris bawahi dua kali: "Pernikahan berbasis perjodohan bisnis berpotensi menjadikan hubungan sebagai transaksi, bukan kemitraan." Sempurna. Logis. Tidak emosional. Papa tidak akan bisa menangkis ini. Ponselnya bergetar. Chat dari Ma

  • Ah! Perih Om   Bab 4 siapa Dia?

    Mecca tak tidur semalam. Bukan karena kasur di kamar lamanya tak nyaman justru sebaliknya. Kasur itu terlalu empuk, terlalu akrab, terlalu berbau masa kecil yang dulu terasa begitu aman. Dan keamanan itulah yang kini membuat pertahanannya runtuh.Dia menangis sampai bantal basah, marah sampai seluruh tubuhnya terasa pegal, lalu akhirnya diam saja, menatap langit-langit kamar yang masih ditempeli stiker bintang bercahaya yang dipasang Papa saat dia berumur delapan tahun.Bintang-bintang itu kini sudah tak menyala lagi.Pukul empat pagi, dia menyelinap keluar rumah tanpa pamit. Memesan taksi online di depan gerbang yang belum terkunci rapat; penjaga yang masih setengah mengantuk hanya mengangguk pelan saat dia lewat. Di dalam mobil, Jakarta yang masih gelap terasa seperti sekutunya kota ini pun tak pernah benar-benar tidur.Ponselnya menyala. Dua puluh tiga pesan dari Naya yang dikirim semalam, belum sempat dibaca semuanya. Tiga panggilan tak terjawab dari Mama. Satu dari Papa.Tak ada

  • Ah! Perih Om   Bab 3 Pengumuman

    Pria itu masuk tanpa suara. Bukan karena langkahnya ringan justru sebaliknya. Ada sesuatu yang berat dan kokoh dalam cara dia melangkah, seolah gravitasi di ruangan ini ikut bergeser ke arahnya, tanpa perlu minta izin.Tinggi, kulitnya sawo matang, rahangnya tegas, rambut hitam tersisir rapi ke belakang, tak sehelai pun berantakan. Kemeja putih lengannya digulung sampai siku, memperlihatkan arloji perak di pergelangan tangan kirinya sederhana, tapi jelas bukan barang murahan.Hal pertama yang disadari Mecca bukan wajahnya.Melainkan matanya.Gelap. Tenang. Dan dingin jenis dingin yang bukan karena tak peduli, melainkan karena sudah terlalu lama menahan segalanya sendirian."Maaf terlambat," ucapnya. Suaranya rendah, datar, tak ada penyesalan yang tulus. Dia mengangguk ke arah Om Farhan dan Tante Shinta, lalu ke Papa dan Mama Mecca sopan, terukur, persis seperti orang yang sudah menghitung setiap gerakan sebelum melakukannya."Nah, ini dia!" Om Farhan berdiri dengan antusias, sangat ko

  • Ah! Perih Om   Bab 2 Makan Malam Keluarga

    Mecca baru mengangkat telepon ibunya menjelang sore, saat langit Jakarta mulai memerah jingga di balik deretan gedung pencakar langit. Bukan karena ia sudah siap, tapi karena panggilan itu sudah sampai tujuh kali, dan bahkan Mecca Ardani punya batas kesabaran untuk mengabaikannya.“Halo, Ma.”“Mecca Ardani.” Suara ibunya tegas bukan marah, melainkan jenis nada yang lebih berat: nada yang sudah memutuskan sesuatu. “Kamu pulang malam ini. Makan malam keluarga.”“Ma, aku ada tugas—”“Bukan permintaan, Mecca. Ini perintah.”Kalimat itu menggantung di udara sebentar. Mecca tahu betul sifat ibunya biasanya kehendaknya selalu dibungkus kelembutan, disampaikan dengan ajakan halus. Tapi sore ini? Tak ada pembungkus. Tak ada tawar-menawar.“Papa juga memintanya,” tambah ibunya, nadanya melembut seketika, seolah sadar nama itu punya bobot tersendiri bagi Mecca.Mecca menelan ludah. Papa. Ayahnya nyaris tak pernah ikut campur urusan begini. Kalau sampai Papa yang meminta…“Jam berapa?” tanyanya a

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status