MasukMecca baru mengangkat telepon ibunya menjelang sore, saat langit Jakarta mulai memerah jingga di balik deretan gedung pencakar langit. Bukan karena ia sudah siap, tapi karena panggilan itu sudah sampai tujuh kali, dan bahkan Mecca Ardani punya batas kesabaran untuk mengabaikannya.
“Halo, Ma.” “Mecca Ardani.” Suara ibunya tegas bukan marah, melainkan jenis nada yang lebih berat: nada yang sudah memutuskan sesuatu. “Kamu pulang malam ini. Makan malam keluarga.” “Ma, aku ada tugas—” “Bukan permintaan, Mecca. Ini perintah.” Kalimat itu menggantung di udara sebentar. Mecca tahu betul sifat ibunya biasanya kehendaknya selalu dibungkus kelembutan, disampaikan dengan ajakan halus. Tapi sore ini? Tak ada pembungkus. Tak ada tawar-menawar. “Papa juga memintanya,” tambah ibunya, nadanya melembut seketika, seolah sadar nama itu punya bobot tersendiri bagi Mecca. Mecca menelan ludah. Papa. Ayahnya nyaris tak pernah ikut campur urusan begini. Kalau sampai Papa yang meminta… “Jam berapa?” tanyanya akhirnya. “Tujuh. Jangan terlambat. Dan Mecca—” ada jeda sejenak “—pakai baju yang rapi, ya.” Telepon diputus sebelum Mecca sempat bertanya alasannya. Pakai yang rapi. Tiga kata itu justru lebih mengganggu daripada semua perkataan ibunya tadi. Biasanya makan malam keluarga di rumah berarti nasi rendang kesukaan Mama, obrolan santai soal bisnis Papa, dan Mecca yang diam-diam menambah lauk. Tak pernah ada aturan berpakaian khusus. Kecuali kalau ada tamu. Mecca menatap layar ponsel yang gelap, lalu mendengus pelan. “Siapa lagi sih,” gumamnya sendiri. Ia tak bertanya. Kalau bertanya berarti peduli. Dan saat ini, Mecca tak ingin peduli. Tapi tiga puluh menit kemudian, ia sudah berdiri di depan lemari pakaian di apartemen, memilah baju sambil mengerutkan kening sesuatu yang tak ingin ia akui sedang terjadi di hatinya. • • • Rumah keluarga Ardani di Menteng berdiri kokoh di ujung jalan yang rindang, dikelilingi pohon-pohon tua yang sudah berakar di sana jauh sebelum penghuni rumah ini lahir. Gerbang besi hitam terbuka lebar saat taksi yang ditumpangi Mecca berhenti; penjaga sudah menunggu di depan, yang artinya ibunya sudah memberi tahu seluruh rumah bahwa putrinya akan datang. Begitu melangkah masuk, Mecca langsung merasakan bedanya. Lampu taman menyala lebih terang dari biasanya. Dua mobil asing terparkir rapi di halaman — sebuah sedan hitam mengilap dengan plat nomor yang tak dikenalnya. Dari teras tercium aroma masakan khas rumah, bercampur wangi bunga segar yang biasanya hanya muncul kalau ada tamu penting. “Mecca!” Ibunya muncul dari arah ruang tamu dengan senyum yang terlalu lebar. Wanita itu mengenakan kebaya kutu baru warna krem pakaian yang biasanya tersimpan rapi hanya untuk acara besar. “Ma.” Mecca mencium tangan ibunya. “Ini acara apa sih? Mama seolah mau menyambut pejabat.” “Sstt.” Ibunya menggenggam tangan Mecca dan menariknya masuk. “Nanti kamu tahu. Yang penting, jaga sikapmu, ya.” Jaga sikap kode ibunya yang artinya: jangan membantah, jangan keras kepala, dan untuk sekali saja, bersikaplah seperti putri yang sopan. Mecca ingin bertanya lebih jauh, tapi mereka sudah sampai di ruang makan. Dan saat itulah rasanya dunianya sedikit bergeser. Ruang makan yang biasanya terasa hangat dan sederhana kini tertata rapi bagai restoran mewah. Taplak putih bersih, piring keramik yang hanya dikeluarkan saat Lebaran, dan lilin-lilin kecil menerangi meja panjang. Papanya duduk di ujung meja, mengenakan kemeja biru tua, rambut tersisir rapi, wajahnya tenang topeng yang sudah Mecca kenal bertahun-tahun. Di sebelahnya, duduk seorang pria asing paruh baya berkumis tipis, setelan jas halus, sedang berbincang sambil tersenyum. Di sisi lain meja, ada seorang wanita anggun berusia sekitar lima puluh tahun yang memegang cangkir teh dengan gerakan terlalu sempurna untuk terasa wajar. Dua keluarga. Satu meja. Peringatan di kepala Mecca langsung berbunyi nyaring. “Nah, inilah putri kami!” Papa berdiri, tersenyum lebih cerah dari biasanya. “Mecca, kemari. Kenalkan, ini Om Farhan dan Tante Shinta.” Mecca tersenyum sopan senyum yang sudah dilatih sejak kecil untuk situasi begini. Ia mengulurkan tangan. “Salam kenal, Om. Tante.” “Wah, cantik sekali,” puji Tante Shinta, matanya berbinar menatap Mecca dengan tatapan yang membuat bulu kuduknya merinding. “Sangat mirip ibunya waktu muda.” Mecca melirik ibunya. Wanita itu tersenyum terlalu manis, terlalu puas. Ada sesuatu yang tak beres. Mecca duduk di kursi yang sudah disiapkan, tepat di hadapan sebuah kursi kosong yang peralatannya sudah lengkap. Seseorang belum datang. “Kita tunggu sebentar ya,” kata Om Farhan dengan nada sopan yang terdengar seperti sudah dilatih. “Anak saya masih di jalan. Rapatnya baru selesai.” Anak saya. Dua kata itu terasa berat di telinga Mecca. Ia menoleh ke ibunya ibunya membuang muka. Menoleh ke papanya, Papa sibuk menuangkan air ke gelas tamu. Sesuatu yang dingin merayap di dadanya: perasaan yang selalu muncul kalau menyadari keputusan besar sudah diambil tanpa ia tahu apa-apa, tentang dirinya. Jemarinya mencengkeram serbet di pangkuan. “Ma,” bisiknya pelan saat ibunya duduk di sebelahnya. “Sebenarnya ini acara apa?” Ibunya menepuk paha Mecca pelan gerakan yang seharusnya menenangkan, malah membuatnya makin waspada. “Sabar, Nak. Nanti kamu tahu.” Mecca tak suka menunggu. Tak suka teka-teki. Dan paling tak suka berada di tempat di mana semua orang tahu sesuatu yang tak ia ketahui. Tapi malam ini, ia tak punya pilihan selain duduk, menatap kursi kosong di depannya, dan menunggu siapa pun yang akan duduk di sana. Ponsel di saku bergetar. Pesan dari Naya: “Gimana makan malamnya? Serem nggak?” Mecca mengetik cepat di bawah meja: “Ada tamu. Keluarga lain. Di depan gue ada kursi kosong, sepertinya anak cowoknya belum datang. Nay, gue punya firasat buruk.” Balasan datang seketika: “JANGAN-JANGAN—” Mecca tak sempat membaca sisa pesannya. Karena pintu ruang makan terbuka, dan suasana di ruangan itu seketika berubah.Mecca sama sekali tak bisa tidur.Bukan karena tak bisa tidur tubuhnya lelah, matanya pun berat. Tapi setiap kali ia memejam, yang muncul bukan kegelapan. Yang muncul justru tatapan tenang pria itu, saat duduk di kursi ruang tamu. Cara ia mendengarkan tiga halaman penjelasan Mecca tanpa mengubah ekspresi sedikit pun. Cara ia berkata pada Papa: "Saya justru lebih lega kalau dia tidak langsung setuju"—seolah penolakan Mecca bukan penghinaan, melainkan sesuatu yang justru menguatkan keyakinannya.Menguatkan apa, Mecca tak mau memikirkannya.Pukul dua dini hari, ia duduk di tepi ranjang, menyalakan lampu nakas, lalu mengambil buku catatan biru dari laci. Buku yang sama yang biasa ia pakai untuk menyusun rencana presentasi, menulis draf tugas, dan sesekali menumpahkan apa yang tak bisa ia sampaikan kepada siapa pun.Di halaman baru, ia menulis dengan huruf besar semua:MISI: BUAT DIA MUNDUR SENDIRIDigarisbawahi. Dua kali."Baiklah," gumamnya, sambil mengetukkan ujung pulpen ke dagu. "Kala
Reyhan tidak langsung pulang setelah pertemuan itu.Mobil Mercedes hitamnya yang tampak terlalu bersih untuk jalanan Jakarta meluncur pelan di Jalan Diponegoro, sementara Pak Budi, sopirnya, mengurai kemacetan dengan kesabaran yang sudah teruji delapan tahun lamanya.Di jok belakang, Reyhan melonggarkan satu kancing teratas kemejanya lalu menyandarkan kepala ke sandaran kulit. Matanya terpejam, tapi pikirannya tidak bisa tenang."Due diligence."Dua kata itu terus berputar di kepalanya, seperti lagu yang tak bisa dihentikan.Gadis itu Mecca, yang dua puluh satu tahun lebih muda darinya, mahasiswi semester tiga yang bahkan belum pernah menandatangani kontrak sungguhan baru saja menyebut apa yang dilakukannya itu sebagai due diligence.Bukan kepo. Bukan mengintai. Due diligence. Langkah yang memang biasa dilakukan sebelum memutuskan sesuatu.Sudut bibir Reyhan sedikit terangkat.Dia sudah bertemu begitu banyak wanita. Di dunia properti, urusan bisnis sering kali bercampur dengan ajakan
Tiga hari berlalu sejak malam makan malam itu, dan Mecca sudah menyiapkan segalanya. Di meja belajar apartemennya, tiga halaman catatan rapi tersusun di samping laptop. Poin-poin argumen ditulis dengan spidol hitam, diberi nomor, diberi highlight kuning di bagian yang paling kuat. Dia bahkan sudah latihan bicara di depan cermin dua kali seperti mau presentasi di depan dosen penguji. "Pertama, perbedaan usia dua belas tahun secara statistik meningkatkan risiko ketidakcocokan nilai dan gaya hidup." Mecca membaca ulang catatannya, mengangguk puas. "Kedua, aku masih semester tiga dan belum memiliki kemandirian finansial. Menikah sekarang berarti menghentikan proses pertumbuhanku sebagai individu." Argumen ketiga yang menurutnya paling mematikan digaris bawahi dua kali: "Pernikahan berbasis perjodohan bisnis berpotensi menjadikan hubungan sebagai transaksi, bukan kemitraan." Sempurna. Logis. Tidak emosional. Papa tidak akan bisa menangkis ini. Ponselnya bergetar. Chat dari Ma
Mecca tak tidur semalam. Bukan karena kasur di kamar lamanya tak nyaman justru sebaliknya. Kasur itu terlalu empuk, terlalu akrab, terlalu berbau masa kecil yang dulu terasa begitu aman. Dan keamanan itulah yang kini membuat pertahanannya runtuh.Dia menangis sampai bantal basah, marah sampai seluruh tubuhnya terasa pegal, lalu akhirnya diam saja, menatap langit-langit kamar yang masih ditempeli stiker bintang bercahaya yang dipasang Papa saat dia berumur delapan tahun.Bintang-bintang itu kini sudah tak menyala lagi.Pukul empat pagi, dia menyelinap keluar rumah tanpa pamit. Memesan taksi online di depan gerbang yang belum terkunci rapat; penjaga yang masih setengah mengantuk hanya mengangguk pelan saat dia lewat. Di dalam mobil, Jakarta yang masih gelap terasa seperti sekutunya kota ini pun tak pernah benar-benar tidur.Ponselnya menyala. Dua puluh tiga pesan dari Naya yang dikirim semalam, belum sempat dibaca semuanya. Tiga panggilan tak terjawab dari Mama. Satu dari Papa.Tak ada
Pria itu masuk tanpa suara. Bukan karena langkahnya ringan justru sebaliknya. Ada sesuatu yang berat dan kokoh dalam cara dia melangkah, seolah gravitasi di ruangan ini ikut bergeser ke arahnya, tanpa perlu minta izin.Tinggi, kulitnya sawo matang, rahangnya tegas, rambut hitam tersisir rapi ke belakang, tak sehelai pun berantakan. Kemeja putih lengannya digulung sampai siku, memperlihatkan arloji perak di pergelangan tangan kirinya sederhana, tapi jelas bukan barang murahan.Hal pertama yang disadari Mecca bukan wajahnya.Melainkan matanya.Gelap. Tenang. Dan dingin jenis dingin yang bukan karena tak peduli, melainkan karena sudah terlalu lama menahan segalanya sendirian."Maaf terlambat," ucapnya. Suaranya rendah, datar, tak ada penyesalan yang tulus. Dia mengangguk ke arah Om Farhan dan Tante Shinta, lalu ke Papa dan Mama Mecca sopan, terukur, persis seperti orang yang sudah menghitung setiap gerakan sebelum melakukannya."Nah, ini dia!" Om Farhan berdiri dengan antusias, sangat ko
Mecca baru mengangkat telepon ibunya menjelang sore, saat langit Jakarta mulai memerah jingga di balik deretan gedung pencakar langit. Bukan karena ia sudah siap, tapi karena panggilan itu sudah sampai tujuh kali, dan bahkan Mecca Ardani punya batas kesabaran untuk mengabaikannya.“Halo, Ma.”“Mecca Ardani.” Suara ibunya tegas bukan marah, melainkan jenis nada yang lebih berat: nada yang sudah memutuskan sesuatu. “Kamu pulang malam ini. Makan malam keluarga.”“Ma, aku ada tugas—”“Bukan permintaan, Mecca. Ini perintah.”Kalimat itu menggantung di udara sebentar. Mecca tahu betul sifat ibunya biasanya kehendaknya selalu dibungkus kelembutan, disampaikan dengan ajakan halus. Tapi sore ini? Tak ada pembungkus. Tak ada tawar-menawar.“Papa juga memintanya,” tambah ibunya, nadanya melembut seketika, seolah sadar nama itu punya bobot tersendiri bagi Mecca.Mecca menelan ludah. Papa. Ayahnya nyaris tak pernah ikut campur urusan begini. Kalau sampai Papa yang meminta…“Jam berapa?” tanyanya a







