Share

Bab 33: Viral

Author: Goresan Hara
last update publish date: 2026-10-24 22:07:22

Hari ke-58

Malam itu, Mecca duduk di lantai kamar kos, punggung bersandar pada tepi ranjang. Naya di sebelahnya, bahu mereka saling menyentuh, seperti selalu saat dunia terasa terlalu berisik di luar. Layar ponsel tergeletak di antara mereka, redup notifikasi sudah dimatikan sejak satu jam lalu, supaya bunyi getar dan dering tak lagi terasa seperti ketukan di dada.

"Utasnya sekarang sudah 5.200 retweet," kata Naya pelan, suaranya lembut di keheningan malam. "Tapi perlahan mulai banyak yang memb
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Menikah dengan Om CEO   Bab 55: Mandat

    Hari keseratus empat belas.Mecca menunggu di luar gedung itu.Bukan di lobi ber-AC, bukan di kursi tamu yang empuk. Dia cuma duduk di bangku panjang dekat pos satpam, di bawah pohon yang tingginya cuma sedikit di atas kepalanya. Tas dipangku, ponselnya dibalik menghadap ke bawah.Dia sudah berpikir: kalau dia masuk, lewat lobi, naik lift, dan duduk di ruangan itu, dia secara resmi jadi "pihak yang hadir". Dan seluruh hidup bapaknya mantan tukang las akan selamanya dijelaskan orang lain, bukan dengan kata-katanya sendiri.Mecca memilih bangku itu.Sepuluh menit setelah rapat dimulai, ponselnya bergetar. Pesan dari Naya, cuma satu baris:Aku di dalam. Nayla duduk dua kursi sebelahku.Naya ada di sana sebagai notulen. Mecca sudah tahu itu tiga hari lalu, waktu Naya mengirim foto meja rapat nama-nama sudah tertempel rapi, sembilan kursi total. Satu untuk Reyhan, satu untuk Nayla, satu kosong untuk Bu Mira yang bisa datang kapan saja. Dan di ujung meja, satu kursi tamu yang namanya: Soegi

  • Menikah dengan Om CEO   Bab 54: Kubur itu ada di Kota ini

    Hari keseratus sebelas.Ternyata kuburnya ada di kota ini.Itu hal pertama yang bikin Mecca terkejut bukan karena panas matahari. Selama ini dia membayangkan tempat seperti itu jauh di ujung jalan, di kota kecil yang sepi. Ternyata cuma di pemakaman pinggir kota yang sudah sering dia lewati sejak kecil, tanpa pernah tahu.Reyhan menyetir tanpa nyalakan musik. Selama empat puluh menit di mobil, nggak banyak yang ngobrol. Mecca bersyukur dia butuh waktu buat menenangkan diri, karena hari ini dia akan berdiri di makam seseorang yang ternyata sudah menyentuh hidupnya jauh sebelum mereka bertemu.Papa duduk di kursi belakang. Pakai kemeja terbaiknya, yang biasa dipakai ke undangan pernikahan. Di tangannya ada botol air yang diambil dari rumah.Reyhan nggak tanya kenapa Papa ikut. Mecca sudah bilang sebelumnya, cuma satu kalimat: Bapak kenal dia. Dulu dia yang tanya soal mesin ke Bapak. Reyhan cuma mengangguk, seakan baru sadar: di makam ini hari ini bukan cuma ada dirinya.Pintu masuk pema

  • Menikah dengan Om CEO   Bab 53: Yang Dimasak Papa

    Hari keseratus delapan.Mecca sampai di rumah jam tujuh pagi satu setengah jam sebelum Reyhan dijadwalkan datang. Dia sengaja datang lebih awal karena dua alasan: pertama, supaya dia ada di sana waktu Papa mulai panik, dan kedua, karena dia mau duduk dulu di dapur itu sebelum semuanya berubah jadi panggung.Tapi dapurnya sudah berubah jadi berantakan sebelum dia datang.Papa menyalakan kompor dan membiarkan wajan terlalu lama, sampai asapnya mengepul menutupi lampu. Di meja ada tiga kantong belanja, isinya sayuran yang separuh sudah dibuang. Di lantai ada panci yang tumpah, airnya belum kering sepenuhnya.Mama berdiri di dekat pintu, tangan di pinggang. Wajahnya seperti orang yang baru saja menyaksikan sesuatu yang nggak akan dia percaya kalau nggak dilihat sendiri."Papa udah bangun jam empat," kata Mama langsung. "Siap-siap, belanja, terus masak. Tanya mau masak apa, dia jawab kayak anak kecil yang lagi ngambek.""Mau masak apa, Pa?" tanya Mecca."Gulai tongkol." Papa menjawab tanpa

  • Menikah dengan Om CEO   Bab 52: Foto di Dinding

    Hari keseratus dua.Mecca nggak menelepon dia pagi itu. Dia nunggu sampai jam empat sore waktu yang nggak terlalu pas, waktu yang dipilih orang kalau mau ngobrol tanpa ada yang sempat nyiapin jawaban duluan.Pesan yang dikirim cuma delapan kata:Aku ada di kos. Ada yang mau aku tunjukin.Reyhan datang dua puluh menit kemudian. Dan Mecca sadar satu hal soal lelaki ini: baju yang dia pakai buat ketemu orang penting dan baju yang dia pakai buat datang ke sini, bedanya bisa kelihatan dari sepuluh meter. Kali ini cuma kemeja, nggak pakai jas, nggak ada jam tangan, nggak bawa map.Mecca sudah naruh bingkai foto itu di meja depan, menghadap ke pintu.Dia nggak langsung cerita. Nggak ada penjelasan panjang lebar, nggak ada pembukaan."Aku cuma mau kamu tahu aku nemu ini," katanya pelan. "Aku nggak nanya apa-apa kok."Reyhan melangkah mendekat. Nunduk melihat ke bawah.Dan untuk pertama kalinya, Mecca melihat lelaki ini benar-benar berhenti bernapas.Bukan kaget orang yang kaget masih bisa ber

  • Menikah dengan Om CEO   Bab 51: Kopi di Meja Makan

    Hari keseratus satu.Dia datang jam sembilan pagi, sendirian.Tidak ada asisten, tidak ada pengawal, tidak ada mobil hitam yang diparkir berhadapan seperti yang biasanya bikin tetangga buru-buru kunci gerbang. Cuma satu mobil tua yang terawat bersih, dan seorang bapak yang turun dari kursi belakang dengan bantuan sopirnya saja. Di tangannya ada kotak kue yang pasti dibeli di kota sebelum masuk ke gang ini.Mecca sudah di rumah sejak jam enam pagi. Dia tidak mau baru pulang dan langsung berpapasan di depan pagar.Mama tidak menyiapkan apa pun yang berlebihan. Tidak ada nampan penuh camilan, tidak ada piring cantik. Cuma kopi padahal sudah lewat jam sembilan, dan semua tahu di rumah ini kopi bukan minum pagi-pagi begini.Foto lama di ruang tamu sudah dibalik menghadap tembok. Bersih, tak berdebu. Seperti sesuatu yang sengaja disimpan agar tak perlu dilihat siapa pun lagi.Mecca baru paham sekarang kenapa malam itu Papa membaliknya. Bukan untuk menyembunyikan orang di foto itu.Tapi untu

  • Menikah dengan Om CEO   Bab 50: Balasan

    Hari kesembilan puluh delapan.Yang pertama kasih tahu Mecca soal balasan itu bukan Reyhan, dan bukan juga Papa.Pukul satu siang, nomor dari kantor hukum itu muncul di layar ponselnya. Bukan kurir lagi; kali ini ada suara pria yang bicara dengan nada yang sudah dihafal betul kaku, rapi, seolah setiap kata sudah dipilihkan sebelumnya. Dia memperkenalkan diri sebagai bagian dari tim administrasi, lalu membacakan satu kalimat dari kertas yang kemarin malam baru saja berpindah tangan."Kami sudah membacanya. Ada satu bagian yang menurut kami perlu dikonfirmasi dulu."Mecca duduk di tangga belakang gedung jurusannya tempat yang sepi, jarang dilewati siapa pun."Bagian mana?""Bagian yang bunyinya begini: kalau ada yang mau bicara soal saya, bicaralah langsung ke saya." Suara itu berhenti sebentar, dan Mecca tahu dia bukan sedang mencari kata-kata dia sedang memutuskan nada bicara yang pas. "Apakah itu bisa kami artikan sebagai ketersediaan untuk berbicara langsung, tanpa surat-menyurat la

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status