MasukSudah sejak kemarin sore Lily uring-uringan memikirkan cara untuk membuat pertemuan, dan pada malam ini barulah ia memberanikan diri untuk merayu tapi belum sempat merayunya putrinya dengan mudah setuju.
Lily buru-buru menyampaikan hasilnya pada sang suami. Anda : [Suami, dia setuju.] Hanya butuh kurang dari 5 menit untuk Hassan membalas. Suami : [Bagus, aku akan memberitahunya.] Lily menatap lekat ponselnya, menahan rasa bersalah pada putrinya. 'Semoga putrinya bisa memaklumi' monolog Lily dalam hati. ••• Di lantai 8 apartemen tepatnya di kamar mandi terdapat seorang pria, dilihat dari tampangnya usianya berkisar di awal 20-an. Pria itu berdiri di bawah pancuran, membiarkan air dingin membasahi tubuhnya. Air yang mengenai tubuh serasa memijat menghilangkan kelelahan aktivitas kesehariannya. Wewangian dari sabun cair sandalwood atau Cendana menguar memenuhi kamar mandi. Matanya terpejam membayangkan sosok gadis yang tinggal di lantai 7, mengambil napas dalam-dalam. Suasana di kamar mandi menjadi panas, "aku mau dia." Mengingat mata yang begitu indah, napasnya menjadi lebih berat ia berkata lagi dengan suara serak. "Aku mau dia." Sekitar 1 jam kemudian, pria itu menghela napas panjang, mengeluarkan suara lega yang samar. Ia meraih handuk yang tergantung, membungkuskannya di pinggang, lalu melangkah keluar dari kamar mandi. Meraih ponselnya, ia mendapati adanya pesan dari sekretarisnya. Sekretaris Jav : [Tuan, kontraknya sudah selesai dibuat.] Anda : [Bagus, simpan dulu saja.] Menaruh kembali ponselnya, pria itu memandang jendela apartemen, matanya menunjukkan kegilaan dan hasrat yang tak bisa ia tahan. ••• Malam itu, pelataran Gedung Kesenian Ibukota diubah menjadi lorong cahaya yang dipenuhi kemewahan. Dibawah naungan pilar-pilar yang kokoh, deretan mobil mewah berhenti satu persatu, menurunkan para tamu yang biasanya susah ditemui bagi kalangan bawah. Terutama Darrel Wang investor utama dari acara amal tersebut, begitu ia keluar dari mobilnya Darrel Wang langsung dikerumuni oleh orang-orang yang ingin menjilatnya. Mereka menyanjungnya, memujinya bagaikan dewa. Kerumunan itu menarik perhatian Gennie yang baru saja tiba. Dibandingkan dengan keadaan dirinya dan asisten kecilnya mereka tidak lebih seperti npc, walaupun penampilannya mencolok Gennie tidak memiliki pengaruh yang begitu besar sehingga orang-orang mengerumuni nya. Ayahnya jika ada di sini pastilah seperti orang yang berkerumun itu. Namun, Gennie ialah orang yang tidak peduli. Lagipula ia bukanlah pewaris perusahaan mengapa harus repot-repot mengembangkannya? Dengan langkah yang anggun, ia memasuki ruangan lelang. Begitu langkahnya melewati pintu jati besar suasana yang luar biasa mewah langsung terpampang. Para tamu disambut oleh aroma bunga mawar yang sejuk, diikuti dentingan harpa yang mengalun lembut. Langit-langit tinggi gedung dihiasi kristal chandelier memantulkan cahaya pada permukaan gelas sampanye. Seperti para tamu di luar, para tamu yang sudah di dalam berpenampilan menarik. Dengan para pria yang mengenakan setelan tuxedo dari rancangan jahit ternama kesukaan masing-masing, bergerak dengan aura kesombongan dan kepercayaan diri yang penuh. Para wanita sendiri memiliki penampilan yang beragam tapi tetap memancarkan aura masing-masing, dilengkapi dengan perhiasan berlian mereka yang seolah berlomba dengan cahaya lampu ruangan. Gennie sendiri mengenakan gaun malam haute couture yang berkilauan, lehernya berhiasan sebuah kalung berlian merah. Walaupun ia kurang suka berinteraksi dengan orang-orang kalangan atas ini, untuk membuatnya tidak tertinggal ia mengobrol dan tertawa bersama sekumpulan sosialita. Dengan wajah munafik Gennie dengan riang berhasil berinteraksi bersama para Nona Muda yang suka bergosip. "Kamu lihat gak? Tadi itu Darrel Wang!" Seru salah satu dari mereka dengan antusias. "Ahhh! Aku melihatnya!" Pekiknya riang. "Sangat tampan... Sayangnya aku hanya melihat dari jauh." Desah gadis itu dengan kecewa. "Ah! Kamu melihatnya itu sudah cukup beruntung! Lihat aku, aku datang telat sampai tidak melihat jejak kakinya." "Kasiannya..." Dengan perihatin gadis bergaun putih mengusap punggung temannya. "Namun tak apa, ada aku! Aku bisa mendeskripsikannya untukmu!" "Benar?! Terimakasih, kamu benar teman terbaikku." Seru gadis itu dengan riang. Diantara para gadis yang bersemangat Gennie diam, energi para gadis sungguh besar hingga ia tak mampu menimpali.Keluar dari kantor sipil, Gennie dengan linglung mengikuti Darrel Wang. Bahkan saat dalam perjalanan pulang pun ia masih kehilangan jiwanya."Silakan, buku nikahmu." Darrel Wang menyerahkan buku itu pada Gennie."Ah, oke, terimakasih." Gennie dengan linglung mengambil.Menatap buku nikah ditangannya ia sungguh tak percaya di umurnya yang baru menginjak 23 tahun ia sudah menikah, dengan orang yang tak terduga pula.Menatap gadis di sampingnya, walaupun wajahnya datar matanya tak bisa menyembunyikan kasih sayang yang meluap."Mulai hari ini, kamu tinggal di kediamanku saja.""Ah? Kenapa?" Tanyanya heran."Kita sudah menikah, jadi wajar tinggal bersama. Jika, tinggal berpisah apa yang akan dipikirkan oleh orang tua itu, dia pasti mengira kita tak akur." Ucapnya dengan sempurna."Betul juga, tapi-""Tenang, kita pisah kamar. Saya tidak akan mengganggu kehidupan pribadimu." "Oke, lalu saya akan kasih tahu keluargaku dulu.""Tidak perlu, saya sudah memberi tahu mereka."Astaga, Darrel Wan
"Dia gay!" Serunya dengan antusias. "Menurutmu, dia sudah berusia 25 tahun tapi tidak pernah terlibat romantis. Dan juga ada beberapa keluarga yang menawarkan putrinya tapi dia menolak! Kalau bukan gay apalagi coba!""Richy kamu terlalu mengada-ada ya? Dia cuman nolak cewek tapi kamu mencapnya begitu?" Hati-hati loh terkena karma lanjutnya dalam hati."Gennie! Kamu tahu gak siapa salah satu cewek itu? Dia Diana, Nona Muda dari keluarga Mandey!" Katanya dengan menggebu-gebu."Ah... jadi gitu ya." Ucap Gennie helaan napas panjang. Sayangnya, wajah se-tampan itu sungguh sayang desahnya dalam hati.Meminum secangkir teh lagi, "kalo ceweknya bukan Diana, akupun gak bakal nyangka gini tapi ini Diana! Si cantik kalangan atas."Bergosip adalah kesenangan Richy, "mau gosip yang lainnya?" "Gak perlu," jawab Gennie canggung."Bener gak mau dengar yang lain?" Bujuknya."Benar-benar gak perlu, terimakasih ya." Buru-buru ia mematikan ponsel, barulah Gennie tenang, aura gosip Richy benar-benar besa
Dalam kurung waktu 3 hari, Gennie mengalami hari-harinya menjadi lebih sulit. Dimulai tekanan keluarga, hasil kerja yang kurang memuaskan, lalu beberapa mitra yang tiba-tiba saja membatalkan kerjasama.Perusahaan tentu mengalami kerugian, apalagi mereka tidak mendapatkan kompensasi dari para mitra tersebut. Mereka dibodohi dengan dalih bahwa kerjasama belum sampai hingga kedua belah pihak tidak menjalin kontrak.Kegagalan yang terus-menerus ini disadari oleh ayahnya, Hassan mengira keluarga Wang mulai membalaskan dendam, dalam kecemasan ia memojokkan putrinya sendiri.Menuduhnya anak tak berbakti, tak tahu balas budi, dan menyebutnya tak berguna. Saat Hassan rasa sudah puas barulah ia berhenti, sebaliknya ia malah mulai menjilati keluarga Wang.Melihat keadaan yang kacau membuat Gennie tidak bisa berpikir jernih, saat waktu yang ditentukan akan datang ia dengan tergesa-gesa menghubungi Darrel Wang melalui sekertaris Jav.Begitu berhasil membuat janji temu, ia termenung. Hal yang di
"Enak, betul kan?" Suara itu berasal dari belakangnya membuat Gennie berpaling.Seorang pria berkemeja satin hitam polos, matanya tajam berbentuk seperti mata rubah, rambut yang bergaya undercut comb over, bibir berwarna pink pucat, ditambah kulit putih yang hampir mengarah kuning Langsat. Untuk tingginya Gennie menebak pria ini pasti disekitaran 190 cm.Penampilan ini membuatnya terpana, sesaat melupakan untuk menyapa. "Tuan Darrel.""Duduklah, tak perlu se- formal itu."Kembali duduk tatapannya tertuju pada Darrel Wang, "Tuan Darrel, kamu membawaku ke sini. Mohon, untuk apa?""Tak perlu terburu-buru, kuenya sesuai selera mu kan?" Darrel Wang bertanya, senyum tipis tersungging dibibirnya, terlihat menggoda."Koki dari keluarga Wang tentu hebat. Ini enak, saya suka terimakasih."Kata-katanya membuat Darrel Wang agak terdiam, tapi senyum tipis itu tak luntur. "Jika kamu suka itu bagus, bagaimanapun kamu tamuku di sini." Lalu melanjutkan, "mau dibawa pulang?""Tak perlu repot-repot, Tua
Dorn Wang mematuhi perintah adiknya, ia tak lagi merecoki Gennie hingga Gennie merasa salah satu masalah hidupnya hilang. Kecuali spam pesan dari ayahnya, untuk saat ini Gennie rasa kehidupannya menjadi lebih tenang. Malam hari selepas pulang kerja ia bertemu dengan seorang teman. Dari obrolan singkat, kedua teman lama itu sepakat untuk berbincang ria di Fun Bar. Meskipun masih satu kontak mereka sudah tak bertemu selama hampir setengah tahun. Mereka tidak memesan ruangan pribadi, melainkan duduk di tempat yang umum, ikut arus dalam kebisingan bar. "Bagaimana kabarmu akhir-akhir ini?" Tanya agak keras Tamma seraya meminum anggurnya. "Lumayan." "Apanya yang lumayan? Jangan-jangan kamu sudah putus dengannya?" Mengingat saat menyelidiki poto, Tamma bertanya dengan satu alis yang ia naikkan. "Kami sudah putus." Jawabannya seraya menyesap jus melon. Terkekeh, selera temannya benar-benar tidak berubah. "Jika hanya untuk minum jus melon, kenapa perlu ke Bar segala? Gak bisa ke coffee
Di akhir pekan Gennie memanfaatkan waktunya dengan bermalas-malasan, ia diam tidak bergerak di tempat tidur.Tidak ada rasa jenuh dari dirinya saat ia melakukan hal ini.Sore harinya, Gennie bergerak mempersiapkan diri untuk makan malam bersama ibunya.Mengenakan pakaian kasual yang nyaman, ia mengendarai mobilnya, Gennie berangkat menuju restoran yang telah disepakati ibunya.Setibanya di sana Gennie langsung disambut oleh seorang pelayan, mengantarkannya pada ruang VIP. Mengamati sekitar, Gennie menahan perasaan aneh, dan benar saja saat pintu ruang VIP terbuka yang terlihat ialah Dorn Wang bukan ibunya.Menahan rasa kesal yang akan memuncak Gennie ingin berbalik tapi segera ditahan oleh Dorn Wang."Gennie... Mamamu gak kasih tahu?" Tanyanya dengan ragu."Mamaku?" Kata Gennie dengan heran, lalu mengecek ponsel yang ternyata ada pesan baru dari ibunya.Mama : [Gennie maaf bukannya mama mau berbohong tapi setiap hubungan pasti ada saja masalah, jadi kamu selesaikan baik-baik dengan Do







