Share

Bab 7

Author: Ke Ke
last update publish date: 2025-12-01 11:15:34

Seusai dengan derajat keluarganya, Gennie ditempatkan di lantai 1 yang di mana tidak memiliki ruang khusus hanya berupa sofa-sofa dengan setiap mejanya memiliki sebuah brosur tentang barang yang akan dilelang.

Mencari tempat yang tidak mencolok, ia duduk di sofa pojok meminimalisir kehadirannya.

Suasana yang tadinya ramai oleh percakapan para tamu, mendadak hening saat juru lelang naik ke podium. Dengan suara yang menyenangkannya memulai awal acara.

Objek pertama yang dilelang ialah sebuah lukisan dari seniman terkenal, ia meniru lukisan jaman prasejarah.

Juru lelang memperkenalkan lukisan itu, tapi para tamu yang terdiri dari kalangan atas segera mengetahui begitu tirai dibuka. Daripada seniman terkenal itu, mereka lebih tertarik pada isi lukisan.

Maka setelah harga awal ditetapkan, mereka berbondong-bondong menawar.

"Seratus juta rupiah!" Seru seorang sosialita sambil mengangkat papan lelangnya dengan gerakan anggun, senyumnya terpatri kala lukisan itu menjadi miliknya.

Tamu lain yang tidak mampu menawar lagi hanya bisa menggertak gigi masing-masing. Mereka dengan pasrah menunggu barang bagus lainnya.

Objek kedua ialah berupa paket liburan pribadi di pulau terpencil.

Mereka yang suka mengekspor jelas mengincarnya.

"Paket liburan ini dimulai dari harga lima puluh juta rupiah, silakan!" Begitu juru lelang mengumumkan beberapa langsung mengangkat papan lelang mereka.

"Baik! Dua ratus juta rupiah! Ada lagi?" Seru sang juru lelang, karena tidak ada lagi yang menawar ia mengetuk palu 3 kali.

Di sudut, Gennie hanya memperhatikan tindakannya tidak menunjukkan ketertarikan yang jelas pada objek lelang.

Dari awal ia memang tidak berniat untuk menawar, perannya hanya datang mewakili keluarganya.

Gennie hanya terfokus bagaimana para tamu menawar dengan harga tinggi, melewatkan tatapan intens yang tertuju padanya.

Di lantai atas, ruang utama yang diidamkan oleh para tamu. Di sana duduk Darrel Wang, suasana yang ramai dan meriah seperti disaring oleh telinganya. Ia hanya sibuk memandangi gadisnya.

Bahkan jika gadis itu duduk di sudut pun masih terlihat oleh mata jeli Darrel Wang.

'Sungguh cantik,' batinnya kagum.

Hal-hal yang menyenangkan memang tidak bertahan lama ketika sekretarisnya membisikkan sesuatu padanya.

Dengan wajah muram ia memberikan instruksi pada sekretarisnya, "usir dia, jangan sampai bertemu dengan Gennie."

Sekretaris Jav walaupun ragu untuk mengusir Tuan Muda Kedua, ia tetap menjalankan tugasnya.

Di keluarga Wang yang berkuasa ialah Tuannya, maka untuk alasan apa jika ia berani menolak Tuannya sendiri.

Selesainya acara amal masih ada perjamuan makan, diantara orang-orang senior ini Gennie hanya bisa meminum anggurnya sebagai bentuk penghormatan pada seorang tetua.

Percakapan para tamu santai dan tertata, tapi diam-diam menindas mereka yang di bawahnya.

Untuk hal ini Gennie tidak bisa berbuat apa-apa, hanya tersenyum sopan dan meminta arahan pada mereka.

Di bawah tatapan para elit, ia menghabiskan hampir seluruh kampanye di mejanya.

Wajahnya memerah menarik perhatian mereka yang mendambakan kecantikannya.

Inilah tujuan mereka, membuat si cantik kecil tak berdaya, hanya bisa patuh dan tunduk.

Dengan tubuh yang goyah Gennie dibantu berdiri oleh seorang tamu pria, mencari kesempatan untuk menyentuh kecantikan.

Walau berusaha menghindar Gennie tetap saja tidak berdaya, ia dibantu sampai mobilnya barulah pria itu pergi walau ia kurang puas dengan sentuhan sekecil itu.

Pria ini tidak menyadari bahaya yang akan datang, masih berpikir untuk bermimpi bersetubuh dengan si cantik.

•••

Dibantu asistennya, Yaya. Gennie dengan selamat sampai di apartemen, meminta bantuannya untuk memanaskan sup mabuk, ia memasuki kamar mandi berniat membersihkan sisa-sisa alkohol.

Berendam di bathtub yang berisi air hangat, ia merasa nyaman, kelelahan hilang seketika. Dengan wangi sabun yang ia sukai, Gennie memejamkan mata menikmati kenyamanan sejenak.

Hanya sekitar 10 menit kenyamanan berlangsung, ketika ponsel yang ia taruh di samping berbunyi notifikasi, menyeka tangan ke kain terdekat Gennie lalu mengambil ponselnya dan melihat adanya pesan dari sang ibu.

Dari obrolan chat ibunya mengingatkan bahwa besok ia harus makan malam dengannya. Dengan senyum tipis yang tersungging ia membalas 'Iya, aku tahu Ma.'

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Ah! Presdir Wang Mengejarku!   Bab 50

    "Aku sudah menjelaskan semuanya, seharusnya kamu mengerti." Darrel Wang mencondongkan tubuhnya ke depan, tangannya memainkan gelas anggur dengan santai, "jadi... aku ingin mengejar mu."Ia menatapnya lekat, "aku menyukaimu, aku ingin memulai hubungan yang jelas, bukan hanya sekedar pasangan kontrak."Gennie diam, benar-benar tak tahu harus menjawab apa.Jadi sebenarnya perasaan sukanya bukan sebelah pihak saja? Seharusnya itu hal bagus, tapi Gennie malah takut dan bingung.Ia tak percaya akan disukai oleh pria seperti Darrel Wang, pria itu jelas terlihat memiliki semuanya. Dan apa yang disukai dia darinya?Gennie benar-benar tak paham."Karena kamu sudah tahu aku menyukaimu, kalau gitu aku gak perlu basa-basi lagi." Ia memotong steak nya dan menukar dengan gadisnya, menopang dagunya dan menatap minat, "ini bisa dibilang kencan pertama kita, aku mau kita mulai dari awal. Jadi... kamu tanya saja.""Tanya apa?" Tanya Gennie refleks."Misalnya... minat dan hobi?" Ucapnya riang."Hah?"

  • Ah! Presdir Wang Mengejarku!   Bab 49

    "Jav yang kasih tahu," ia melempar masalah pada sekretarisnya.Jav? Dia memang bisa melakukan itu, tapi... tanpa perintah Tuannya ia pasti tidak akan melakukannya kan?Gennie menyipitkan matanya, semakin curiga.Tepat pada saat waktu itu, pelayan menyajikan makanan.Darrel Wang langsung memutus pembicaraan, ia menyesap anggurnya, "anggur ini tidak buruk."Ia mengangkat gelasnya, "kamu coba."Gennie menatap gelas anggur itu, ia tidak langsung menerimanya.Memalingkan mukanya dengan perasaan bersalah, "maaf, aku tidak bisa minum."Darrel Wang mengangkat alisnya, "oh? Tapi seingat saya kamu pernah minum sampai mabuk sama rekan kerja sebelumnya."Sial, ketahuan. Gennie semakin merasa bersalah, ia berusaha berdalih, "ini... berbeda.""Apa bedanya? Kamu minum sama teman lain tapi... aku gimana? Aku kan suamimu." Keluh Darrel Wang.Gennie langsung tersedak."Su-suami?" ulangnya refleks, wajahnya memerah seketika.Ia menatap Darrel Wang dengan mata membesar, jelas tidak siap dengan cara pria

  • Ah! Presdir Wang Mengejarku!   Bab 48

    Begitu masuk, suasana langsung berubah. Hangat dan tenang, terlihat berbeda dari dunia luar yang baru saja mereka tinggalkan.Lampu gantung berwarna kuning lembut menerangi ruangan, memantulkan bayangan samar di lantai marmer. Musik pelan mengalun, cukup untuk terdengar, tapi tidak mengganggu percakapan.Gennie melangkah pelan di samping Darrel Wang.Tangannya masih digenggam, jemarinya sedikit menegang tapi tetap tidak ia lepas.Pelayan menyambut mereka dengan senyum profesional, lalu mengantar ke meja dekat jendela.Pemandangan kota malam terlihat jelas dari sana. Lampu-lampu berkelap-kelip seperti bintang yang jatuh ke bumi.Sangat cantik, Gennie sempat terpaku sedikit sebelum ia menatap tangan mereka yang terjalin, ia menatap lama hingga akhirnya mendongak dan mendapati Darrel Wang sedang menatapnya.Gennie langsung mengalihkan pandangannya.Gerakannya cepat dan terburu-buru seolah tertangkap melakukan sesuatu yang tidak seharusnya.Pipinya perlahan memanas, ia menarik napas kecil

  • Ah! Presdir Wang Mengejarku!   Bab 47

    Sore itu, tepat pada jam pulang kerja.Ketika para karyawan sudah mulai berkemas, Gennie masih duduk diam di mejanya.Suara kursi bergeser, tas ditutup, obrolan ringan mulai terdengar. Suasana kantor perlahan berubah dari formal menjadi santai.Gennie tahu jika ia berdiri sekarang sama saja dengan kabur, ia akan tak tahan untuk lari.Karena tak ingin terlihat sedang menunggu, ia menyibukkan dirinya dengan laptopnya.Namun sepuluh menit berlalu dan pria itu belum muncul, Gennie sudah jelas-jelas menajamkan telinganya tapi langkah kaki itu tetap tak terdengar.Gennie mulai berpikir, apakah pria itu lupa? Namun... bukankah itu hal bagus, dengan begitu ia bisa menghindar.Ia sempat terpikir untuk kabur, melirik jam, Gennie diam-diam meraih tasnya.Baru saja akan berdiri, suara pria di belakang mengejutkannya."Belum pulang?"Gennie terlonjak kecil, ia menoleh cepat dan mendapati Darrel Wang sudah berdiri di sana.Namun, sejak kapan? Ia bahkan tidak mendengar langkahnya!Kemejanya sedikit

  • Ah! Presdir Wang Mengejarku!   Bab 46

    Gennie berdiri kaku di depan mejanya.Tangannya gemetar saat memegang ponsel, matanya membesar menatap angka yang tertera di layar.Nominal itu... terlalu tak masuk akal. Bahkan gajinya saat menjabat manajer pemasaran pun tak sampai, ini lima kali lipat dari gaji sebelumnya!"Ini... gak salah transfer kan?" Gumamnya pelan, hampir tak percaya.Ia mengusap matanya sekali, dua kali, lalu melihat lagi. Angkanya masih sama, tidak berubah sama sekali.Sangat besar untuk seseorang yang baru bekerja satu bulan seperti dirinya.Jantungnya yang tadi sudah tidak karuan kini semakin kacau.Kalimat dari Darrel Wang tadi langsung terngiang, "gajinya sudah ditransfer."Gennie menelan ludah, ia berbisik, "ini bukan gaji..."Lebih seperti... uang tutup mulut?Atau uang untuk… sesuatu yang lain?Pipinya kembali memanas mengingat apa yang baru saja terjadi di ruangan itu. Pengakuannya, tatapan matanya, dan cara pria itu berlutut.Gennie langsung menutup wajahnya dengan kedua tangan. "Apa-apaan ini?"Ia

  • Ah! Presdir Wang Mengejarku!   Bab 45

    Gennie menyandarkan tubuhnya ke pintu, jantungnya berdetak kencang, napasnya terasa tidak teratur.Apa yang dilihatnya tadi benar-benar mengejutkan, Darrel Wang dan Jav sedang berpelukan, jadi... orang yang disukainya ternyata sekretarisnya sendiri?!"Beneran gay ya..." Gumamnya pelan, suaranya hampir tak terdengar. Ia tertawa kecil, tapi terdengar pahit.Ia bahkan belum sempat melangkah maju, belum sempat mencoba apa pun, tapi sudah kalah telak.Perasaannya terasa konyol, benar-benar konyol.Perlahan, pandangannya turun. Ia menatap dadanya sendiri, diam cukup lama.Pikiran aneh mulai muncul tanpa bisa ia tahan, "yang disukainya itu... yang kayak dia?"Datar dan tidak lembut seperti dirinya.Gennie mengerucutkan bibir, lalu menyentuh ringan dadanya sendiri, "padahal yang kaya gini lebih oke."Kemudian ia tiba-tiba mematung, pipinya sedikit memanas. Kenapa pula ia jadi memikirkan seperti itu?!Ia menggelengkan kepalanya kuat, berusaha mengusir pikiran tak jelas. Gennie menatap kosong

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status