LOGINHassan tak akan pernah melepaskan keluarga Wang yang sudah ia raih susah payah. Selagi menguntungkan perusahaan akan ia lakukan dengan berbagai cara.
Gennie yang sedang makan siang makan siang merasakan firasat buruk, maka di ruang yang hanya ia sendiri, Gennie bersin secara berturut-turut. Sekretarisnya yang datang mengantarkan kopi, berkata dengan khawatir. "Bu Gennie, bagaimana kalo kopinya saya ganti teh herbal?" "Tidak perlu." "Baik," sebelum Mey pergi ia menaikkan suhu ruangan, berusaha mengurangi ketidaknyamanan manajer. ••• Gennie merebahkan diri di sofa ruang tamu, meraih ponsel untuk melihat jadwal kegiatan besok. Menaruh kembali ponselnya setelah ia mengetahui apa saja yang akan ia lakukan besok. Tatapannya tiba-tiba mengarah ke sebuah paket. Paket itu sudah terabaikan seminggu lebih, bahkan saat memiliki apartemen baru pun ia baru ingat. Paket itu sendiri berisi sepatu sneakers, niatnya akan diberikan untuk Dorn Wang tepat di hari 3 tahun anniversary mereka. Sayangnya pengiriman telat dalam 2 hari. Namun, itu adalah hal baik, karena Gennie jadi tak memberikan sebuah hadiah sebagus itu. Sayang sekali sepatu yang sudah ia pesan berbulan-bulan lamanya akan menjadi pemilik tak dikenal. Dengan sepatu ditentengnya, Gennie turun dari lantai 7 apartemen berniat membuang sampah pada tempat pembuangan sampah. Begitu di tempat, Gennie langsung saja membuang sampah sesuai jenisnya. Sedangkan untuk sepatu ia taruh di samping, entah siapa yang beruntung menemukan sepatu itu akan menjadi pemiliknya. Saat berbalik menuju tempat tinggal, Gennie sesaat merasa tatapan seseorang. Berbalik menatap ternyata dari lantai 8 apartemen, lantai teratas. Walaupun ia tak dapat melihat bayangan seseorang di sana. Gennie yakin tatapan yang ia rasakan barusan berasal dari lantai 8. Firasatnya selalu benar jika tentang pandangan orang lain padanya. Namun, baru 2 hari ia tinggal di apartemen ini. Gennie tak mungkin ia memiliki seorang penguntitkan? Lagipula apartemen yang Yaya temukan untuknya tak sembarang menerima penghuni, selain uang dibutuhkan juga latar belakang yang baik, barulah seseorang bisa tinggal di sini. Dan dengar-dengar penghuni lantai 8 hanya ada satu orang itupun jarang terlihat. Jadi, Gennie acuh tak acuh pada penghuni lantai 8 ini, dan untuk tatapan tadi mungkin saja hanya sebuah kebetulan. Sepeninggalan Gennie, datanglah seorang pengangkut sampah. Pengangkut sampah itu sendiri sudah terbiasa mengangkut sampah di daerah ini, ia tahu orang-orang yang tinggal adalah orang-orang kaya, sehingga mengangkut sampah pun ada jamnya. Ketika sedang mengambil sampah-sampah itu, matanya secara tak sengaja melirik sepatu yang tergeletak, ia begitu terkejut dan mengambil sepatu itu. Sepatu sebagus ini apa benar sudah tidak dibutuhkan lagi pikirnya, jika diambil ia tak akan dianggap pencuri kan? Lagipula sepatu ini berada di tempat pembuangan sampah jadi sepertinya tak apa untuk ia ambil. "Kalo dikasih buat Shella dia pasti senang." Monolognya seraya mengingat bahwa hari ini adalah ulang tahun putrinya. ••• Begitu kembali ke apartemen Gennie kembali memikirkan kejadian barusan, walau ia ingin melupakan tatapan tadi itu begitu intens seakan ingin melahapnya. Namun, perhatiannya segera teralihkan pada ponsel yang bergetar, mengambil ponselnya Gennie langsung melihat nama kontak yang menghubunginya 'Mama.' "Kenapa Ma? Gak biasa banget nelpon malam-malam gini." Dibandingkan dengan etika pada ayahnya, Gennie lebih lembut jika menyangkut ibunya. "Gennie... Kamu ada waktu?" "Ma, Mama mau apa? Kalo untuk besok atau lusa Gennie gak bisa." "Gini... Mama mau ngajak kamu makan malam bisa?" "Bisa dong Ma, tapi palingan akhir pekan gapapa?" "Gapapa-gapapa akhir pekan juga oke." "Ada Papa?" Jika ada sang ayah Gennie lebih baik tak jadi pergi. "Gak ada, hanya ada kita berdua tentang aja." "Oke akhir bulan ya, Gennie usahain buat kosongkan jadwal malamnya. Untuk tempatnya?" "Restoran Barat, Restoran Barat yang ada di blok M itu." Setelah mendengar putrinya setuju Lily langsung mengusulkan tempat. "Oke, tutup dulu ya Ma." "Iya-iya, jangan tidur larut malam ya." "Iya, aku tahu Ma." 'Bip' Lily menatap ponsel ia tak menyangka begitu mudah membuat janji dengan putrinya, awak Lily kira ia akan ditolak seperti suaminya.Keluar dari kantor sipil, Gennie dengan linglung mengikuti Darrel Wang. Bahkan saat dalam perjalanan pulang pun ia masih kehilangan jiwanya."Silakan, buku nikahmu." Darrel Wang menyerahkan buku itu pada Gennie."Ah, oke, terimakasih." Gennie dengan linglung mengambil.Menatap buku nikah ditangannya ia sungguh tak percaya di umurnya yang baru menginjak 23 tahun ia sudah menikah, dengan orang yang tak terduga pula.Menatap gadis di sampingnya, walaupun wajahnya datar matanya tak bisa menyembunyikan kasih sayang yang meluap."Mulai hari ini, kamu tinggal di kediamanku saja.""Ah? Kenapa?" Tanyanya heran."Kita sudah menikah, jadi wajar tinggal bersama. Jika, tinggal berpisah apa yang akan dipikirkan oleh orang tua itu, dia pasti mengira kita tak akur." Ucapnya dengan sempurna."Betul juga, tapi-""Tenang, kita pisah kamar. Saya tidak akan mengganggu kehidupan pribadimu." "Oke, lalu saya akan kasih tahu keluargaku dulu.""Tidak perlu, saya sudah memberi tahu mereka."Astaga, Darrel Wan
"Dia gay!" Serunya dengan antusias. "Menurutmu, dia sudah berusia 25 tahun tapi tidak pernah terlibat romantis. Dan juga ada beberapa keluarga yang menawarkan putrinya tapi dia menolak! Kalau bukan gay apalagi coba!""Richy kamu terlalu mengada-ada ya? Dia cuman nolak cewek tapi kamu mencapnya begitu?" Hati-hati loh terkena karma lanjutnya dalam hati."Gennie! Kamu tahu gak siapa salah satu cewek itu? Dia Diana, Nona Muda dari keluarga Mandey!" Katanya dengan menggebu-gebu."Ah... jadi gitu ya." Ucap Gennie helaan napas panjang. Sayangnya, wajah se-tampan itu sungguh sayang desahnya dalam hati.Meminum secangkir teh lagi, "kalo ceweknya bukan Diana, akupun gak bakal nyangka gini tapi ini Diana! Si cantik kalangan atas."Bergosip adalah kesenangan Richy, "mau gosip yang lainnya?" "Gak perlu," jawab Gennie canggung."Bener gak mau dengar yang lain?" Bujuknya."Benar-benar gak perlu, terimakasih ya." Buru-buru ia mematikan ponsel, barulah Gennie tenang, aura gosip Richy benar-benar besa
Dalam kurung waktu 3 hari, Gennie mengalami hari-harinya menjadi lebih sulit. Dimulai tekanan keluarga, hasil kerja yang kurang memuaskan, lalu beberapa mitra yang tiba-tiba saja membatalkan kerjasama.Perusahaan tentu mengalami kerugian, apalagi mereka tidak mendapatkan kompensasi dari para mitra tersebut. Mereka dibodohi dengan dalih bahwa kerjasama belum sampai hingga kedua belah pihak tidak menjalin kontrak.Kegagalan yang terus-menerus ini disadari oleh ayahnya, Hassan mengira keluarga Wang mulai membalaskan dendam, dalam kecemasan ia memojokkan putrinya sendiri.Menuduhnya anak tak berbakti, tak tahu balas budi, dan menyebutnya tak berguna. Saat Hassan rasa sudah puas barulah ia berhenti, sebaliknya ia malah mulai menjilati keluarga Wang.Melihat keadaan yang kacau membuat Gennie tidak bisa berpikir jernih, saat waktu yang ditentukan akan datang ia dengan tergesa-gesa menghubungi Darrel Wang melalui sekertaris Jav.Begitu berhasil membuat janji temu, ia termenung. Hal yang di
"Enak, betul kan?" Suara itu berasal dari belakangnya membuat Gennie berpaling.Seorang pria berkemeja satin hitam polos, matanya tajam berbentuk seperti mata rubah, rambut yang bergaya undercut comb over, bibir berwarna pink pucat, ditambah kulit putih yang hampir mengarah kuning Langsat. Untuk tingginya Gennie menebak pria ini pasti disekitaran 190 cm.Penampilan ini membuatnya terpana, sesaat melupakan untuk menyapa. "Tuan Darrel.""Duduklah, tak perlu se- formal itu."Kembali duduk tatapannya tertuju pada Darrel Wang, "Tuan Darrel, kamu membawaku ke sini. Mohon, untuk apa?""Tak perlu terburu-buru, kuenya sesuai selera mu kan?" Darrel Wang bertanya, senyum tipis tersungging dibibirnya, terlihat menggoda."Koki dari keluarga Wang tentu hebat. Ini enak, saya suka terimakasih."Kata-katanya membuat Darrel Wang agak terdiam, tapi senyum tipis itu tak luntur. "Jika kamu suka itu bagus, bagaimanapun kamu tamuku di sini." Lalu melanjutkan, "mau dibawa pulang?""Tak perlu repot-repot, Tua
Dorn Wang mematuhi perintah adiknya, ia tak lagi merecoki Gennie hingga Gennie merasa salah satu masalah hidupnya hilang. Kecuali spam pesan dari ayahnya, untuk saat ini Gennie rasa kehidupannya menjadi lebih tenang. Malam hari selepas pulang kerja ia bertemu dengan seorang teman. Dari obrolan singkat, kedua teman lama itu sepakat untuk berbincang ria di Fun Bar. Meskipun masih satu kontak mereka sudah tak bertemu selama hampir setengah tahun. Mereka tidak memesan ruangan pribadi, melainkan duduk di tempat yang umum, ikut arus dalam kebisingan bar. "Bagaimana kabarmu akhir-akhir ini?" Tanya agak keras Tamma seraya meminum anggurnya. "Lumayan." "Apanya yang lumayan? Jangan-jangan kamu sudah putus dengannya?" Mengingat saat menyelidiki poto, Tamma bertanya dengan satu alis yang ia naikkan. "Kami sudah putus." Jawabannya seraya menyesap jus melon. Terkekeh, selera temannya benar-benar tidak berubah. "Jika hanya untuk minum jus melon, kenapa perlu ke Bar segala? Gak bisa ke coffee
Di akhir pekan Gennie memanfaatkan waktunya dengan bermalas-malasan, ia diam tidak bergerak di tempat tidur.Tidak ada rasa jenuh dari dirinya saat ia melakukan hal ini.Sore harinya, Gennie bergerak mempersiapkan diri untuk makan malam bersama ibunya.Mengenakan pakaian kasual yang nyaman, ia mengendarai mobilnya, Gennie berangkat menuju restoran yang telah disepakati ibunya.Setibanya di sana Gennie langsung disambut oleh seorang pelayan, mengantarkannya pada ruang VIP. Mengamati sekitar, Gennie menahan perasaan aneh, dan benar saja saat pintu ruang VIP terbuka yang terlihat ialah Dorn Wang bukan ibunya.Menahan rasa kesal yang akan memuncak Gennie ingin berbalik tapi segera ditahan oleh Dorn Wang."Gennie... Mamamu gak kasih tahu?" Tanyanya dengan ragu."Mamaku?" Kata Gennie dengan heran, lalu mengecek ponsel yang ternyata ada pesan baru dari ibunya.Mama : [Gennie maaf bukannya mama mau berbohong tapi setiap hubungan pasti ada saja masalah, jadi kamu selesaikan baik-baik dengan Do







