Share

Bab 5

Author: Ke Ke
last update publish date: 2025-11-30 19:53:16

Hassan tak akan pernah melepaskan keluarga Wang yang sudah ia raih susah payah. Selagi menguntungkan perusahaan akan ia lakukan dengan berbagai cara.

Gennie yang sedang makan siang makan siang merasakan firasat buruk, maka di ruang yang hanya ia sendiri, Gennie bersin secara berturut-turut.

Sekretarisnya yang datang mengantarkan kopi, berkata dengan khawatir. "Bu Gennie, bagaimana kalo kopinya saya ganti teh herbal?"

"Tidak perlu."

"Baik," sebelum Mey pergi ia menaikkan suhu ruangan, berusaha mengurangi ketidaknyamanan manajer.

•••

Gennie merebahkan diri di sofa ruang tamu, meraih ponsel untuk melihat jadwal kegiatan besok.

Menaruh kembali ponselnya setelah ia mengetahui apa saja yang akan ia lakukan besok. Tatapannya tiba-tiba mengarah ke sebuah paket.

Paket itu sudah terabaikan seminggu lebih, bahkan saat memiliki apartemen baru pun ia baru ingat.

Paket itu sendiri berisi sepatu sneakers, niatnya akan diberikan untuk Dorn Wang tepat di hari 3 tahun anniversary mereka. Sayangnya pengiriman telat dalam 2 hari.

Namun, itu adalah hal baik, karena Gennie jadi tak memberikan sebuah hadiah sebagus itu.

Sayang sekali sepatu yang sudah ia pesan berbulan-bulan lamanya akan menjadi pemilik tak dikenal.

Dengan sepatu ditentengnya, Gennie turun dari lantai 7 apartemen berniat membuang sampah pada tempat pembuangan sampah.

Begitu di tempat, Gennie langsung saja membuang sampah sesuai jenisnya. Sedangkan untuk sepatu ia taruh di samping, entah siapa yang beruntung menemukan sepatu itu akan menjadi pemiliknya.

Saat berbalik menuju tempat tinggal, Gennie sesaat merasa tatapan seseorang. Berbalik menatap ternyata dari lantai 8 apartemen, lantai teratas.

Walaupun ia tak dapat melihat bayangan seseorang di sana. Gennie yakin tatapan yang ia rasakan barusan berasal dari lantai 8. Firasatnya selalu benar jika tentang pandangan orang lain padanya.

Namun, baru 2 hari ia tinggal di apartemen ini. Gennie tak mungkin ia memiliki seorang penguntitkan?

Lagipula apartemen yang Yaya temukan untuknya tak sembarang menerima penghuni, selain uang dibutuhkan juga latar belakang yang baik, barulah seseorang bisa tinggal di sini.

Dan dengar-dengar penghuni lantai 8 hanya ada satu orang itupun jarang terlihat. Jadi, Gennie acuh tak acuh pada penghuni lantai 8 ini, dan untuk tatapan tadi mungkin saja hanya sebuah kebetulan.

Sepeninggalan Gennie, datanglah seorang pengangkut sampah. Pengangkut sampah itu sendiri sudah terbiasa mengangkut sampah di daerah ini, ia tahu orang-orang yang tinggal adalah orang-orang kaya, sehingga mengangkut sampah pun ada jamnya.

Ketika sedang mengambil sampah-sampah itu, matanya secara tak sengaja melirik sepatu yang tergeletak, ia begitu terkejut dan mengambil sepatu itu.

Sepatu sebagus ini apa benar sudah tidak dibutuhkan lagi pikirnya, jika diambil ia tak akan dianggap pencuri kan? Lagipula sepatu ini berada di tempat pembuangan sampah jadi sepertinya tak apa untuk ia ambil.

"Kalo dikasih buat Shella dia pasti senang." Monolognya seraya mengingat bahwa hari ini adalah ulang tahun putrinya.

•••

Begitu kembali ke apartemen Gennie kembali memikirkan kejadian barusan, walau ia ingin melupakan tatapan tadi itu begitu intens seakan ingin melahapnya.

Namun, perhatiannya segera teralihkan pada ponsel yang bergetar, mengambil ponselnya Gennie langsung melihat nama kontak yang menghubunginya 'Mama.'

"Kenapa Ma? Gak biasa banget nelpon malam-malam gini." Dibandingkan dengan etika pada ayahnya, Gennie lebih lembut jika menyangkut ibunya.

"Gennie... Kamu ada waktu?"

"Ma, Mama mau apa? Kalo untuk besok atau lusa Gennie gak bisa."

"Gini... Mama mau ngajak kamu makan malam bisa?"

"Bisa dong Ma, tapi palingan akhir pekan gapapa?"

"Gapapa-gapapa akhir pekan juga oke."

"Ada Papa?" Jika ada sang ayah Gennie lebih baik tak jadi pergi.

"Gak ada, hanya ada kita berdua tentang aja."

"Oke akhir bulan ya, Gennie usahain buat kosongkan jadwal malamnya. Untuk tempatnya?"

"Restoran Barat, Restoran Barat yang ada di blok M itu." Setelah mendengar putrinya setuju Lily langsung mengusulkan tempat.

"Oke, tutup dulu ya Ma."

"Iya-iya, jangan tidur larut malam ya."

"Iya, aku tahu Ma."

'Bip' Lily menatap ponsel ia tak menyangka begitu mudah membuat janji dengan putrinya, awak Lily kira ia akan ditolak seperti suaminya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Ah! Presdir Wang Mengejarku!   Bab 50

    "Aku sudah menjelaskan semuanya, seharusnya kamu mengerti." Darrel Wang mencondongkan tubuhnya ke depan, tangannya memainkan gelas anggur dengan santai, "jadi... aku ingin mengejar mu."Ia menatapnya lekat, "aku menyukaimu, aku ingin memulai hubungan yang jelas, bukan hanya sekedar pasangan kontrak."Gennie diam, benar-benar tak tahu harus menjawab apa.Jadi sebenarnya perasaan sukanya bukan sebelah pihak saja? Seharusnya itu hal bagus, tapi Gennie malah takut dan bingung.Ia tak percaya akan disukai oleh pria seperti Darrel Wang, pria itu jelas terlihat memiliki semuanya. Dan apa yang disukai dia darinya?Gennie benar-benar tak paham."Karena kamu sudah tahu aku menyukaimu, kalau gitu aku gak perlu basa-basi lagi." Ia memotong steak nya dan menukar dengan gadisnya, menopang dagunya dan menatap minat, "ini bisa dibilang kencan pertama kita, aku mau kita mulai dari awal. Jadi... kamu tanya saja.""Tanya apa?" Tanya Gennie refleks."Misalnya... minat dan hobi?" Ucapnya riang."Hah?"

  • Ah! Presdir Wang Mengejarku!   Bab 49

    "Jav yang kasih tahu," ia melempar masalah pada sekretarisnya.Jav? Dia memang bisa melakukan itu, tapi... tanpa perintah Tuannya ia pasti tidak akan melakukannya kan?Gennie menyipitkan matanya, semakin curiga.Tepat pada saat waktu itu, pelayan menyajikan makanan.Darrel Wang langsung memutus pembicaraan, ia menyesap anggurnya, "anggur ini tidak buruk."Ia mengangkat gelasnya, "kamu coba."Gennie menatap gelas anggur itu, ia tidak langsung menerimanya.Memalingkan mukanya dengan perasaan bersalah, "maaf, aku tidak bisa minum."Darrel Wang mengangkat alisnya, "oh? Tapi seingat saya kamu pernah minum sampai mabuk sama rekan kerja sebelumnya."Sial, ketahuan. Gennie semakin merasa bersalah, ia berusaha berdalih, "ini... berbeda.""Apa bedanya? Kamu minum sama teman lain tapi... aku gimana? Aku kan suamimu." Keluh Darrel Wang.Gennie langsung tersedak."Su-suami?" ulangnya refleks, wajahnya memerah seketika.Ia menatap Darrel Wang dengan mata membesar, jelas tidak siap dengan cara pria

  • Ah! Presdir Wang Mengejarku!   Bab 48

    Begitu masuk, suasana langsung berubah. Hangat dan tenang, terlihat berbeda dari dunia luar yang baru saja mereka tinggalkan.Lampu gantung berwarna kuning lembut menerangi ruangan, memantulkan bayangan samar di lantai marmer. Musik pelan mengalun, cukup untuk terdengar, tapi tidak mengganggu percakapan.Gennie melangkah pelan di samping Darrel Wang.Tangannya masih digenggam, jemarinya sedikit menegang tapi tetap tidak ia lepas.Pelayan menyambut mereka dengan senyum profesional, lalu mengantar ke meja dekat jendela.Pemandangan kota malam terlihat jelas dari sana. Lampu-lampu berkelap-kelip seperti bintang yang jatuh ke bumi.Sangat cantik, Gennie sempat terpaku sedikit sebelum ia menatap tangan mereka yang terjalin, ia menatap lama hingga akhirnya mendongak dan mendapati Darrel Wang sedang menatapnya.Gennie langsung mengalihkan pandangannya.Gerakannya cepat dan terburu-buru seolah tertangkap melakukan sesuatu yang tidak seharusnya.Pipinya perlahan memanas, ia menarik napas kecil

  • Ah! Presdir Wang Mengejarku!   Bab 47

    Sore itu, tepat pada jam pulang kerja.Ketika para karyawan sudah mulai berkemas, Gennie masih duduk diam di mejanya.Suara kursi bergeser, tas ditutup, obrolan ringan mulai terdengar. Suasana kantor perlahan berubah dari formal menjadi santai.Gennie tahu jika ia berdiri sekarang sama saja dengan kabur, ia akan tak tahan untuk lari.Karena tak ingin terlihat sedang menunggu, ia menyibukkan dirinya dengan laptopnya.Namun sepuluh menit berlalu dan pria itu belum muncul, Gennie sudah jelas-jelas menajamkan telinganya tapi langkah kaki itu tetap tak terdengar.Gennie mulai berpikir, apakah pria itu lupa? Namun... bukankah itu hal bagus, dengan begitu ia bisa menghindar.Ia sempat terpikir untuk kabur, melirik jam, Gennie diam-diam meraih tasnya.Baru saja akan berdiri, suara pria di belakang mengejutkannya."Belum pulang?"Gennie terlonjak kecil, ia menoleh cepat dan mendapati Darrel Wang sudah berdiri di sana.Namun, sejak kapan? Ia bahkan tidak mendengar langkahnya!Kemejanya sedikit

  • Ah! Presdir Wang Mengejarku!   Bab 46

    Gennie berdiri kaku di depan mejanya.Tangannya gemetar saat memegang ponsel, matanya membesar menatap angka yang tertera di layar.Nominal itu... terlalu tak masuk akal. Bahkan gajinya saat menjabat manajer pemasaran pun tak sampai, ini lima kali lipat dari gaji sebelumnya!"Ini... gak salah transfer kan?" Gumamnya pelan, hampir tak percaya.Ia mengusap matanya sekali, dua kali, lalu melihat lagi. Angkanya masih sama, tidak berubah sama sekali.Sangat besar untuk seseorang yang baru bekerja satu bulan seperti dirinya.Jantungnya yang tadi sudah tidak karuan kini semakin kacau.Kalimat dari Darrel Wang tadi langsung terngiang, "gajinya sudah ditransfer."Gennie menelan ludah, ia berbisik, "ini bukan gaji..."Lebih seperti... uang tutup mulut?Atau uang untuk… sesuatu yang lain?Pipinya kembali memanas mengingat apa yang baru saja terjadi di ruangan itu. Pengakuannya, tatapan matanya, dan cara pria itu berlutut.Gennie langsung menutup wajahnya dengan kedua tangan. "Apa-apaan ini?"Ia

  • Ah! Presdir Wang Mengejarku!   Bab 45

    Gennie menyandarkan tubuhnya ke pintu, jantungnya berdetak kencang, napasnya terasa tidak teratur.Apa yang dilihatnya tadi benar-benar mengejutkan, Darrel Wang dan Jav sedang berpelukan, jadi... orang yang disukainya ternyata sekretarisnya sendiri?!"Beneran gay ya..." Gumamnya pelan, suaranya hampir tak terdengar. Ia tertawa kecil, tapi terdengar pahit.Ia bahkan belum sempat melangkah maju, belum sempat mencoba apa pun, tapi sudah kalah telak.Perasaannya terasa konyol, benar-benar konyol.Perlahan, pandangannya turun. Ia menatap dadanya sendiri, diam cukup lama.Pikiran aneh mulai muncul tanpa bisa ia tahan, "yang disukainya itu... yang kayak dia?"Datar dan tidak lembut seperti dirinya.Gennie mengerucutkan bibir, lalu menyentuh ringan dadanya sendiri, "padahal yang kaya gini lebih oke."Kemudian ia tiba-tiba mematung, pipinya sedikit memanas. Kenapa pula ia jadi memikirkan seperti itu?!Ia menggelengkan kepalanya kuat, berusaha mengusir pikiran tak jelas. Gennie menatap kosong

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status