MasukMobil Aldean melaju pelan menyusuri jalanan pagi yang masih lengang. Cahaya matahari menyelinap di antara gedung-gedung, memantul lembut di kaca mobil.Celine duduk diam di samping Aldean. Tangannya bertaut di pangkuan, jemarinya saling meremas tanpa sadar. Sejak tadi Aldean hampir tidak bicara.Celine menoleh. Menatap wajah pria di sampingnya yang terlihat tenang. “Om…” panggilnya ragu.“Hm?” Aldean melirik sekilas tanpa melepaskan fokus dari jalan.“Om lagi gugup?” tanyanya pelan.Aldean tersenyum tipis. “Kenapa nanya gitu?”“Soalnya Om dari tadi diem,” jawab Celine jujur. “Biasanya Om nggak kayak gini.”Aldean menarik napas pelan. Ada jeda singkat sebelum ia menjawab, seolah menimbang kata-katanya sendiri.“Aku cuma lagi mikir,” katanya akhirnya.“Mikir apa?” Celine mengejar, suaranya pelan, tapi ada rasa penasaran sekaligus kecemasan yang tak ia sembunyikan.Aldean tidak menjawab.Mobil melambat dan akhirnya berhenti.“Sudah sampai, Sayang,” ucap Aldean sambil menatap sang kekasi
Pagi itu, cahaya matahari menyusup pelan melalui celah tirai apartemen.Celine terbangun perlahan. Tubuhnya masih terasa ringan dalam balutan selimut, napasnya tenang. Aroma Aldean masih melekat, hangat dan menenangkan. Ia menoleh ke samping.Aldean sudah duduk di tepi ranjang, mengenakan kemeja putih bersih dengan lengan tergulung rapi. Punggungnya tegak, sikapnya tenang, terlalu tenang, seperti seseorang yang sudah memutuskan sesuatu sejak lama.“Om…” panggil Celine pelan, suaranya masih serak karena baru bangun.Aldean menoleh. Senyum kecil muncul di wajahnya, lembut tapi penuh makna.“Udah bangun?”Celine mengangguk, lalu mengerutkan dahi kecil.“Om bilang semalam punya kejutan. Apa Kejutannya?”Aldean berdiri tanpa menjawab langsung. Ia melangkah ke arah lemari, membuka pintunya, lalu mengeluarkan sebuah kotak besar berwarna putih gading. Tangannya memegang kotak itu dengan hati-hati, seolah benda rapuh yang tak boleh terguncang.“Kita pergi pagi ini,” katanya akhirnya. Nada suar
Malam itu, Celine duduk di tepi ranjang apartemen, mengenakan sweater kebesaran yang hampir menelan tubuhnya dan celana pendek bermotif boneka. Rambutnya masih sedikit kusut, wajahnya polos tanpa riasan, terlihat tenang, tapi rapuh.Aldean menuangkan air hangat ke dalam gelas, lalu menyerahkannya bersamaan beberapa butir obat.“Minum obatnya dulu, Sayang.”Celine menerimanya, menelan obat pemulihan luka di lengannya tanpa banyak protes. Setelah itu, ia menatap Aldean sebentar sebelum memanggil lirih, “Om…”“Hm?” Aldean menoleh.“Om… beneran nggak mau pulang?”Aldean duduk di sampingnya. “Iya.”Hening sesaat. Rahangnya mengeras samar sebelum ia melanjutkan, “Kayra ngajak Mamanya tinggal di rumah.”Tubuh Celine menegang. “Om…”“Aku nggak bisa tinggal di sana kalau Amira juga ada,” potong Aldean tenang, tanpa ragu. “Aku akan tetap di sini.”Celine menoleh cepat. “Tapi Om—”“Sayang,” Aldean menyela pelan, tapi tegas. Tangannya meraih jemari Celine, menggenggamnya erat seolah menahan sesua
Malam itu, Celine tertidur pulas di ranjang rumah sakit. Napasnya teratur, wajahnya tampak jauh lebih tenang dibanding pagi tadi. Selimut menutup tubuhnya hingga dada. Aldean duduk di kursi samping ranjang. Satu tangannya membelai rambut Celine perlahan, sementara tangan lainnya menggenggam jemarinya. Ibu jari Aldean bergerak pelan, seolah memastikan Celine benar-benar ada di sana. Hangat dan Nyata. Ia menatapnya lama. Hingga suara ketukan pelan terdengar dari balik pintu. Aldean menoleh. Ia berdiri perlahan, memastikan selimut Celine rapi sebelum melangkah dan membuka pintu. Evan berdiri di depan ruang perawatan, membawa map cokelat tebal di tangannya. “Maaf mengganggu malam-malam, Tuan,” ucapnya rendah. Aldean mengangguk singkat. “Tidak apa-apa. Celine sedang tidur. Kita bicara di luar.” Mereka berpindah ke ruang tunggu yang sepi. Aldean duduk di salah satu kursi, sementara Evan berdiri di sampingnya. Evan membuka map dan menyerahkan beberapa berkas. “Ini dokumen y
Kayra terkekeh kecil, hampa. Ia bangkit perlahan, dadanya terasa diremas dari dalam. Matanya basah, bukan karena jatuh barusan, tapi karena sesuatu yang jauh lebih menyakitkan. Ia lalu menatap Celine sekali lagi. Tatapan itu penuh benci, cemburu, dan kehilangan yang tak bisa diperbaiki. Tanpa sepatah kata pun, Kayra berbalik. BRAK. Pintu tertutup keras. Aldean tetap memeluk Celine, menahan tubuhnya yang gemetar. Suaranya merendah saat berbisik di telinga Celine. “Maaf,” katanya pelan. “Aku seharusnya bisa jaga kamu lebih baik.” Ia memejamkan mata. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Aldean Devantara sadar bahwa ia baru saja kehilangan anaknya sendiri. Namun, ia juga tahu bahwa ia tak lagi mampu melepaskan rumah dan masa depannya: Celine. . . Kayra berjalan menyusuri koridor rumah sakit dengan langkah goyah. Lampu-lampu putih di langit-langit terasa terlalu terang. Suara langkah kaki orang lain, derit troli medis, bisikan perawat, semuanya berbaur menjadi deng
Kayra tertawa kecil lagi, kali ini lebih keras. Suaranya menggema di ruangan itu. “Tau nggak?” katanya sambil melangkah masuk. Pintu ruang perawatan itu dibiarkannya terbuka lebar. “Kondisi Mama aku sekarang kayak apa?” Celine langsung menegang. Punggungnya menempel di sandaran ranjang, jantungnya berdegup tak karuan. “Apa maksud kamu, Kay…?” suaranya lirih, ragu. Kayra berhenti tepat di depan ranjang. Matanya merah dan basah, tapi yang paling menakutkan adalah sorotnya—liar, penuh luka yang berubah menjadi amarah. “Mama aku kehilangan kakinya,” ucapnya pelan, lalu suaranya berubah lebih tajam, “Kakinya diamputasi.” Deg. Dunia Celine seolah runtuh seketika. Wajahnya pucat pasi, matanya membesar tak percaya. “A-apa…?” napasnya tercekat. “Kay… aku—aku beneran nggak tahu…” Kata-katanya terputus di tenggorokan. Sementara Aldean, tetap diam. Wajahnya tenang, terlalu tenang. Hanya rahangnya yang mengeras tipis, hampir tak terlihat. Kayra menangkap ekspresi itu. Ia meli







