Share

BAB. 150

last update publish date: 2026-01-23 09:04:23

Malam itu, Celine tertidur pulas di ranjang rumah sakit. Napasnya teratur, wajahnya tampak jauh lebih tenang dibanding pagi tadi. Selimut menutup tubuhnya hingga dada.

Aldean duduk di kursi samping ranjang. Satu tangannya membelai rambut Celine perlahan, sementara tangan lainnya menggenggam jemarinya. Ibu jari Aldean bergerak pelan, seolah memastikan Celine benar-benar ada di sana. Hangat dan Nyata.

Ia menatapnya lama. Hingga suara ketukan pelan terdengar dari balik pintu.

Aldean menoleh.
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Ah! Sentuh Aku Lagi, Om   BAB. 161

    Aldean masih berdiri di tempatnya. Tatapannya yang semula tertuju pada Kayra perlahan bergeser ke arah Amira.Hening menyelimuti ruangan.Tak ada yang berani bersuara, bahkan napas pun terdengar terlalu keras di ruangan itu. Amira menyambut tatapan Aldean dengan tenang. Bibirnya tersungging tipis, seolah tidak ada yang perlu ia khawatirkan.Ia tetap yakin, tetap merasa aman. Karena menurutnya tak ada seorang pun selain dirinya dan Celine yang mengetahui apa yang sebenarnya terjadi di ruang bawah tanah waktu itu. Dan Celine juga tidak memiliki bukti apa pun.Pikiran itu membuat Amira merasa menang.Sekarang, tatapannya pada Aldean berubah lebih lembut, seolah ia adalah korban di tengah semua ini.“Mas Aldean…” ucapnya lirih, tapi terukur. Ekspresinya seolah-olah dibuat rapuh. Tanpa rasa malu, ia masih terus bersandiwara. “Aku nggak mau masalah ini jadi lebih besar.”Ia menunduk sedikit.“Tapi di sini… Celine memang bersalah. Dia yang bertanggung jawab atas apa yang terjadi kepadaku.”

  • Ah! Sentuh Aku Lagi, Om   BAB. 160

    Dalam sekejap suasana berubah. Tawa mengejek terhenti. Bisik-bisik cemoohan lenyap. Beberapa staf yang tadi masih tersenyum sinis langsung membeku di tempat. Perlahan, satu per satu dari mereka menoleh ke arah pintu. Dan detik itu juga, wajah mereka berubah pucat. Aldean melangkah masuk lebih jauh. Pelan dan terukur. Tak. Tak. Tak. Suara langkahnya menggema di ruangan yang sunyi. Setiap langkah terasa menekan, seolah-olah menginjak harga diri semua orang yang tadi berani menghina Celine. Ia berhenti. Tatapannya menyapu ruangan, satu per satu, tanpa terburu-buru. Namun cukup untuk membuat semua orang menunduk, tak berani menatap balik. “T-Tuan Aldean…” Seorang staf berbisik nyaris tak terdengar. Kepalanya tertunduk hormat. Vita refleks berdiri tegak di tempatnya. Tubuhnya menegang. “Selamat siang, Tuan…” sapanya dengan sopan, namun suaranya terdengar gugup. Tak ada yang berani bergerak lagi. Tak ada yang berani mengeluarkan suara. Semua orang seperti tertangkap bas

  • Ah! Sentuh Aku Lagi, Om   BAB. 159

    Kayra berjalan cepat ke arah Celine. Tatapannya tajam.“Jangan panggil aku seperti itu!”Suara Kayra menggema di seluruh ruangan. Semua staf langsung saling pandang.Vita menatap Celine dengan bingung. “Ada apa ini?”Kayra berhenti tepat di depan Celine. Tatapannya penuh kemarahan.“Jadi selama ini kamu yang sudah menyakiti Mamaku?”Celine mengerutkan dahi.“Apa maksudmu, Kay?”Kayra tertawa sinis.“Apa kamu beneran mau pura-pura nggak tahu, Celine?!”Celine benar-benar tidak mengerti.“Kay, aku nggak paham—”“Jangan pura-pura!”Suara Kayra meninggi. Ia menunjuk langsung ke wajah Celine.“Kamu yang membuat Mamaku jadi cacat seperti ini?!”Seluruh ruangan langsung gempar.Vita membelalak. “Apa?!”Beberapa staf mulai berbisik satu sama lain. Celine sendiri terlihat benar-benar terkejut.“Kay… apa yang kamu omongin?” tanya bingung.Kayra menatap Celine dengan mata penuh amarah.“Berhenti berpura-pura!”Ia menunjuk ke arah ibunya. “Kamu pikir aku tidak tahu? Mamaku cacat seperti ini gara-

  • Ah! Sentuh Aku Lagi, Om   BAB. 158

    Amira menatap lurus ke mata putrinya.Beberapa detik berlalu sebelum akhirnya ia berkata pelan, “Orang itu adalah… sahabatmu sendiri, Nak.”Kayra membeku.“…Apa?”Amira tetap menatap putrinya tanpa berkedip.“Celine.”Mata Kayra langsung membesar, seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.“Ma… apa Mama serius?”Namun sebelum Amira sempat menjawab, tiba-tiba terdengar tawa pendek dari arah meja kerja.Aldean.Pria itu terkekeh pelan. Bukan tawa keras, hanya satu hembusan tawa singkat yang terdengar begitu dingin di ruangan yang penuh ketegangan itu. Kayra langsung menoleh tajam.“Papa ketawa?”Aldean bersandar santai di kursinya. Tatapannya datar, hampir malas.“Menarik saja,” jawabnya ringan.Kayra semakin emosi.“Menarik?” ulangnya tak percaya. “Pa, Mama baru saja bilang Celine yang bertanggung jawab atas semua ini!”Aldean hanya mengangkat alis tipis.“Lalu?”Jawaban santai dari ayahnya itu justru membuat Kayra semakin marah.“Papa masih membela dia?” desaknya.Ald

  • Ah! Sentuh Aku Lagi, Om   BAB. 157

    Sementara itu, di ruang kerja Aldean, suasana terasa jauh lebih tegang.Kayra berdiri di depan meja kerja besar itu, menatap ayahnya dengan emosi yang sulit ia sembunyikan. “Papa sadar, kan? Celine itu sahabat aku,” ucap Kayra dengan suara cukup keras. Aldean tidak langsung menjawab. Ia hanya berdiri tenang di balik meja kerjanya, menatap putrinya dengan ekspresi yang sulit ditebak. “Papa sadar, Kay,” jawabnya pelan. “Kalau sadar, kenapa Papa masih melanjutkan hubungan itu?” desak Kayra. “Papa nggak mikir gimana perasaan aku? Gimana perasaan Mama?” Aldean tetap diam di tempatnya. Tak ada gerakan yang menunjukkan ia tersinggung atau marah. Justru ketenangannya itu yang membuat Kayra semakin kesal.“Papa,” lanjut Kayra, suaranya mulai bergetar, “aku datang ke sini bukan buat ribut. Aku cuma mau Papa berhenti.”Aldean mengangkat alis tipis.“Berhenti?”“Ya. Putusin Celine.” Kalimat itu keluar begitu saja dari mulut Kayra. “Dan kembali ke Mama.”Sunyi menyelimuti ruangan. Kayra

  • Ah! Sentuh Aku Lagi, Om   BAB. 156

    Beberapa detik berlalu, dan Amira masih terdiam.Evan akhirnya berdehem pelan, lalu bertanya, “Nyonya… Anda baik-baik saja?”Kesadaran Amira kembali seketika. Ia tersenyum tipis, seolah tidak terjadi apa-apa.“Ya, Van. Aku baik-baik saja. Memangnya menurutmu bagaimana?”“Ah—maaf, Nyonya.” Evan sedikit menundukkan kepala. “Saya hanya melihat wajah Anda agak pucat. Saya khawatir Anda merasa tidak enak badan.”Amira kembali tersenyum tipis.“Oh iya, Nyonya,” lanjut Evan dengan nada tetap tenang. “Anda belum menjawab pertanyaan saya tadi.”Amira terdiam sejenak sebelum akhirnya berbicara.“Begini ya, Van. Kadang masa lalu tidak selalu selesai dengan baik.”Evan tidak menyela. Ia hanya menunggu. Sementara Amira, menyandarkan punggungnya sedikit pada kursi roda.“Dia pernah menjadi rekan bisnis lama. Ada urusan yang tidak berjalan sesuai keinginannya.” Ia mengangkat bahu kecil. “Beberapa orang terlalu lama menyimpan sakit hati.”Nada bicaranya ringan. Hampir seperti sedang membicarakan sesu

  • Ah! Sentuh Aku Lagi, Om   Sekarang... Aku Cuma Mau Mikirin Kamu

    Pagi itu, cahaya matahari menyusup lewat celah tirai kamar.Celine mengerjap pelan, lalu mengeliat, namun tiba-tiba membeku saat merasakan lengan kuat melingkari pinggangnya. Hangat dan terlalu nyata untuk sebuah mimpi.“Hah—” Ia mendongak cepat.“O-Om Dean?!” suaranya spontan meninggi.Aldean yang

    last updateLast Updated : 2026-03-30
  • Ah! Sentuh Aku Lagi, Om   Lari Sejauh Apa Pun, Aku Akan Tetap Menemukanmu

    Malam menelan jalanan di depan matanya. Surya menggenggam setir dengan kedua tangan, terlalu erat. Mobil melaju kencang di jalan sepi, jauh melampaui batas wajar, tapi dia tak peduli. Dadanya naik turun, napasnya pendek dan tak beraturan. Aldean sudah mengetahui semuanya. Dan sekarang dia sudah

    last updateLast Updated : 2026-03-30
  • Ah! Sentuh Aku Lagi, Om   Ya, Om... Enak Banget

    Sentuhan bibir dan lidah Aldean tak henti, mengecup dan menjelajahi lekuk-lekuk terindah milik Celine di bawah sana, yang kini benar-benar basah. “Om Dean... ah...” desah Celine terdengar semakin berat, terputus-putus oleh intensitas momen itu. Gelombang sensasi yang terus menerjang membuat tubuhny

    last updateLast Updated : 2026-03-30
  • Ah! Sentuh Aku Lagi, Om   Bergelora di Kamar Mandi

    Celine sudah polos, tanpa sehelai benang pun. Namun Aldean tak langsung menyentuhnya. Ia justru membeku, menatap Celine dengan pandangan yang sulit diartikan.Matanya menelusuri setiap lekuk tubuh Celine perlahan. Bukan dengan nafsu liar, melainkan kekaguman yang dalam. Seolah ia baru benar-benar m

    last updateLast Updated : 2026-03-30
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status