分享

BAB. 178

last update publish date: 2026-05-17 23:58:11

Perjalanan menuju rumah besar milik Aldean Devantara malam itu dilewati dalam keheningan yang mencekik.

Begitu mobil mewah itu berhenti di halaman depan, atmosfer dingin langsung menyambut mereka. Rumah itu luas, tapi terasa mati.

Evan dengan sigap membukakan pintu mobil. Aldean turun lebih dulu, diikuti Kayra yang melangkah dengan tubuh lemas, namun rahangnya tetap mengatup rapat. Sisa air mata masih membekas di pipinya.

Mereka melangkah masuk ke dalam ruang tengah yang sepi. Lampu gantung
在 APP 繼續免費閱讀本書
掃碼下載 APP
已鎖定章節

最新章節

  • Ah! Sentuh Aku Lagi, Om   BAB. 178

    Perjalanan menuju rumah besar milik Aldean Devantara malam itu dilewati dalam keheningan yang mencekik. Begitu mobil mewah itu berhenti di halaman depan, atmosfer dingin langsung menyambut mereka. Rumah itu luas, tapi terasa mati. Evan dengan sigap membukakan pintu mobil. Aldean turun lebih dulu, diikuti Kayra yang melangkah dengan tubuh lemas, namun rahangnya tetap mengatup rapat. Sisa air mata masih membekas di pipinya. Mereka melangkah masuk ke dalam ruang tengah yang sepi. Lampu gantung kristal yang temaram memantulkan bayangan dua manusia yang sama-sama terluka, namun berdiri di kubu yang berbeda. Aldean membalikkan badannya, menatap anak gadisnya dengan raut wajah yang kembali datar dan sulit dibaca. “Masuk ke kamar kamu, Kay. Tenangkan dirimu di sana,” perintah Aldean. Suaranya terdengar begitu lelah, berat oleh beban tak kasat mata yang sejak tadi menggelayuti pundaknya. Kayra berdiri membeku di tempatnya selama beberapa detik, tangannya mengepal erat di sisi tubuhnya. A

  • Ah! Sentuh Aku Lagi, Om   BAB. 177

    Pemberontakan Kayra membuat suasana di koridor kantor polisi semakin menegang. Beberapa petugas penyidik yang menyaksikan hanya bisa saling lempar pandang, enggan ikut campur dalam badai domestik keluarga itu. Aldean tidak melepaskan cengkeramannya dari kedua pergelangan tangan Kayra. Alih-alih melunak oleh tangisan anaknya, tatapan Aldean justru semakin dingin, memancarkan kilat ketegasan yang tidak bisa diganggu gugat. “Evan,” panggil Aldean, suaranya teramat tenang, namun justru ketenangan itulah yang paling mengerikan dari seorang Aldean Devantara. “Ya, Tuan?” Evan segera mendekat, memasang badan. “Bawa Kayra ke mobil. Pastikan central lock-nya aktif begitu dia masuk,” perintah Aldean tanpa mengalihkan pandangannya dari Kayra. “Baik, Tuan.” Evan membungkuk hormat, lalu bergegas mendekati Kayra untuk mengantarnya ke mobil. Menyadari dirinya akan dipaksa pergi, Kayra semakin kalap. Ia menyentakkan tubuhnya ke belakang dengan sekuat tenaga, berusaha melepaskan diri sebe

  • Ah! Sentuh Aku Lagi, Om   BAB. 176

    Petugas polisi yang berjaga hanya bisa mengembuskan napas berat, tetap bungkam dan menjalankan protokol sesuai permintaan khusus dari Aldean sebelumnya.Aldean menghentikan langkahnya beberapa meter dari kerumunan itu. Ia mematung, menatap anaknya dengan pandangan yang sulit diartikan—campuran antara rasa lelah yang teramat sangat, kepedihan seorang ayah, dan kilat kemarahan yang tertahan.​Dada Aldean berdenyut ngilu. Setiap teriakan Kayra yang membela Amira terasa seperti belati yang menusuk rasa bersalahnya pada Celine.Di tempat ini, darah dagingnya sendiri sedang mengamuk demi seorang pembunuh, sementara di belahan kota lain, istrinya sedang meratapi nasib ibunya yang tewas oleh wanita yang sama.​​“Lihat betapa gilanya situasi ini,” batin Aldean perih.Ia merasa gagal. Gagal menjaga ketenangan rumah tangga yang baru saja ia bina bersama Celine, juga gagal menjadi pelindung yang adil bagi dua orang yang sangat ia sayangi.​“Nona Kayra, tolong tenang. Tuan Aldean sedang dalam perj

  • Ah! Sentuh Aku Lagi, Om   BAB. 175

    Ting.​Suara denting lift memecah keheningan. Pintu besi otomatis itu bergeser perlahan, membuka jalan bagi Celine untuk keluar ke area lobi utama Aldevra Group yang sudah sepi.Begitu ia melangkah melewati pintu kaca besar gedung, embusan angin malam langsung menyapu wajahnya—dingin menusuk seperti es, tapi entah mengapa tidak mampu membekukan kepalanya yang kian mendidih.​Celine menghentikan langkahnya tepat di undakan tangga depan gedung pencakar langit itu. Ia menengadah sesaat, menatap kemegahan Aldevra Group yang menjulang tinggi menantang langit malam.Tempat ini milik Aldean, suaminya yang beberapa jam lalu baru saja memintanya menutupi semua kebenaran tentang kematian ibunya demi untuk menjaga perasaan Kayra. ​Celine memejamkan mata, meremas jemarinya sendiri yang gemetar. Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba mengais sisa-sisa ketegaran yang tersisa di dasar hatinya.​​“Cukup, Celine...” batinnya berbisik tajam. ​“Cukup jadi Celine yang selalu mengerti orang lain.”Isak ta

  • Ah! Sentuh Aku Lagi, Om   BAB. 174

    Aldean menatap layar ponsel yang menyala di genggamannya. Nama Evan berkedip di sana. Seketika, ingatan Aldean ditarik pada perintah yang ia berikan beberapa jam lalu. Ia sendiri yang mengutus asisten pribadinya itu untuk mengawal proses penangkapan Amira, sekaligus memastikan Kayra tidak membuat kekacauan di sana. ​Tanpa membuang waktu, Aldean menggeser tombol hijau dan menempelkan ponsel itu ke telinganya. ​“Halo, Evan. Bagaimana situasi di sana?” tanya Aldean langsung, berusaha keras menekan badai emosi yang baru saja ditinggalkan Celine di ruang kerjanya. ​“Halo, Tuan,” suara Evan di seberang telepon terdengar agak tergesa, ada kegaduhan samar seperti suara jeritan yang melatarbelakangi panggilannya. “Situasi di kantor polisi agak di luar kendali.” ​Rahang Aldean seketika mengeras. Jantungnya berdegup dua kali lebih cepat. “Apa yang terjadi?”​“Nona Kayra mengamuk, Tuan. Dia memaksa polisi melepaskan Nyonya Amira dan bersikeras ingin masuk ke sel isolasi,” lapor Evan dengan c

  • Ah! Sentuh Aku Lagi, Om   BAB. 173

    Ruangan jatuh dalam keheningan yang pekat. Untuk pertama kalinya sore itu, Aldean—pria yang biasanya selalu punya jawaban untuk segala hal—kehilangan kata-kata. Ia hanya berdiri terpaku, menatap Celine.​Ia mencoba mendekat, namun langkahnya tertahan oleh aura dingin yang terpancar dari istrinya.“Sayang... aku tahu aku minta terlalu banyak saat ini,” ucap Aldean dengan suara rendah, menatap lurus ke mata Celine. “Tapi aku juga nggak akan ninggalin kamu sendirian menghadapi semua ini.”Celine tertawa kecil—pendek dan hambar—namun suaranya terasa jauh lebih pahit dari sebelumnya. “Lucu.” Ia mengangkat wajah, menatap suaminya lurus-lurus. “Om bilang nggak akan ninggalin aku sendirian?” Nada suaranya datar. “Tapi di saat aku lagi sehancur ini... Om malah memaksaku mikirin perasaan Kayra. Di mana letak ‘bersamanya’ kalau aku masih harus menelan lukaku sendirian?”​Deg.​Kalimat itu telak menghantam ego Aldean. Rahangnya mengeras, tapi ia tak mampu membantah. Karena Celine benar, sa

更多章節
探索並免費閱讀 優質小說
GoodNovel APP 免費暢讀海量優秀小說,下載喜歡的書籍,隨時隨地閱讀。
在 APP 免費閱讀書籍
掃碼在 APP 閱讀
DMCA.com Protection Status