LOGINPedal gas diinjak sedalam-dalamnya. Mobil sport hitam milik Aldean membelah jalanan malam kota yang mulai lengang dengan kecepatan di atas rata-rata. Cengkeraman tangannya pada kemudi begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih. Amarah dan cemburu yang membakar dada membuatnya mengabaikan segala rambu lalu lintas.Di tengah keheningan kabin mobil yang menegang, sebuah dering ponsel memecah konsentrasi Aldean. Sumber suara itu berasal dari dalam dasbor mobil, terhubung langsung dengan sistem audio kendaraan. Layar di dashboard berkedip, menampilkan nama Evan.Aldean menyambar tombol di setir untuk mengangkatnya, langsung mengaktifkan mode speaker.“Katakan, Evan!” seru Aldean tanpa basa-basi, suaranya menggelegar dingin.“Tuan, saya sudah berada di Taman Ria Semesta sekarang,” lapor Evan cepat di seberang telepon, suara riuh latar belakang taman hiburan samar-samar terdengar.“Orang lapangan kita terus mengawasi Nona Celine dari jarak aman agar tidak dicurigai. Sampai detik ini, Nona
Di seberang telepon, suara Evan terdengar agak ragu dan berat, tidak seperti biasanya.“Tuan... saya sudah mendapatkan koordinat posisi Nyonya Celine. Tim IT berhasil melacak taksi yang ditumpanginya. Nona Celine saat ini berada di pinggiran kota, tepatnya di kawasan Taman Ria Semesta.”“Taman hiburan?” Aldean mengernyitkan alisnya, mendadak merasa bingung. Untuk apa Celine pergi ke tempat seramai itu di tengah malam dalam keadaan hancur? “Kirimkan lokasinya sekarang, aku akan berangkat—”“Tunggu, Tuan. Maaf,” potong Evan cepat, nadanya terdengar semakin tidak enak hati. “Saya... saya baru saja menerima laporan visual dari orang lapangan yang saya utus untuk memastikan keadaan Nona Celine di lokasi.”Jantung Aldean mendadak berdegup kencang, firasat buruk kembali menyergapnya. “Maksudmu apa, Evan? Celine baik-baik saja, kan? Dia tidak terluka?”“Nona Celine aman dan sehat, Tuan. Hanya saja... Nona tidak sendirian. Saya sudah mengirimkan beberapa foto yang baru saja diambil oleh orang
Celine tertegun seribu bahasa. Kehangatan di dadanya terasa semakin pekat di tengah dinginnya malam. Di saat dunianya sedang runtuh akibat kenyataan pahit tentang hubungannya dengan Aldean, di atas gondola ini, Darrel justru menatapnya seolah-olah ia adalah hal paling berharga di dunia. Namun, tepat saat debaran aneh itu kian menggila, sebuah sengatan kesadaran mendadak menghantam kepala Celine. Bayangan cincin pernikahan di jarinya dan wajah Aldean terlintas begitu saja. “Enggak, Cel... kamu nggak boleh begini,” batin Celine memperingatkan dirinya sendiri dengan tegas. Rasa hangat yang ditawarkan Darrel malam ini memang sangat menenangkan, tapi Celine tahu ini salah. Seberapapun hancurnya dia karena keegoisan Aldean, seberapapun kecewanya dia pada suaminya, statusnya belum berubah. Dia masih istri sah Aldean Devantara. Dia tidak boleh membiarkan pria lain—bahkan Darrel yang sangat baik sekalipun—melintasi batas yang seharusnya. Celine menarik napas panjang. Secara perlahan dan
Sementara itu, di wahana bermain Taman Ria Semesta, petugas dengan sigap membukakan pintu salah satu gondola besi berwarna merah yang baru saja turun. Darrel masuk terlebih dahulu dengan cekatan, lalu berbalik untuk membantu menuntun Celine yang menggendong Shaka agar bisa melangkah masuk dengan aman. Begitu pintu gondola ditutup dan dikunci dari luar dengan bunyi klek yang khas, wahana itu perlahan mulai bergerak naik. Ruang di dalam gondola itu tidak terlalu besar. Celine duduk di satu sisi dengan Shaka yang langsung menempel di dekat jendela kaca, sementara Darrel duduk tepat di hadapan Celine. Jarak yang dekat itu membuat aroma parfum maskulin Darrel yang segar samar-samar tercium oleh Celine, menciptakan atmosfer intim yang mendadak terasa begitu pekat di antara mereka. “Wahhh! Kak Celine, lihat! Lapangan komidi putarnya jadi kelihatan kecil kayak mainan Shaka!” seru Shaka heboh, menempelkan hidung dan kedua telapak tangan kecilnya ke kaca gondola. Celine seketika terpaku.
“Akhem.”Darrel berdehem pelan, mencoba menenangkan jantungnya yang berdegup kencang.“Kamu... beneran nggak apa-apa, Cel? Nggak terpaksa karena Shaka?”Celine menggeleng pelan, senyumnya semakin melebar. “Beneran, Kak Darrel. Lagipula... aku juga udah lama banget nggak naik wahana itu.”“Sama seperti dulu saat Mama masih ada,” sambung Celine dalam hatinya, merasakan kehangatan yang perlahan mengalir menggantikan rasa dingin di dadanya malam ini.“Horeee! Naik kincir angin bertiga!” sorak Shaka heboh.Ia gegas melepaskan diri dari pangkuan Celine, melompat kecil sambil menarik tangan Celine dan Darrel agar segera berdiri.Darrel akhirnya terkekeh geli, rasa canggungnya menguap digantikan oleh perasaan hangat yang membuncah. Ia berdiri, berjalan di sisi Celine seraya menuntun langkah kecil Shaka menuju antrean wahana.Saat mereka berjalan beriringan di bawah pendar lampu taman yang temaram, dari kejauhan, mereka benar-benar terlihat seperti sebuah keluarga kecil yang utuh, bahagia, dan
Shaka yang berada di pangkuan Darrel tiba-tiba memiringkan kepala. Sepasang mata bulat anak kecil itu menatap lekat ke arah Celine. Bukannya takut atau bersembunyi di dada Darrel seperti biasanya saat bertemu orang asing, anak itu justru mengulurkan tangan kecilnya yang bebas dari balon. “Kakak cantik siapa?” tanya Shaka dengan suara cempreng khas anak kecil, wajahnya tampak begitu penasaran. “Kakak temannya Papa Darrel, ya?” Celine menoleh, melihat binar polos di mata Shaka. Senyuman kaku di bibirnya perlahan mencair menjadi senyuman tulus yang sangat hangat. “Hai, Sayang. Nama Kakak, Celine. Kamu lucu banget, sih.” “Kakak Celine...” Shaka mengeja nama itu dengan menggemaskan, lalu tiba-tiba ia menggeliat turun dari pangkuan Darrel. Tanpa diduga sama sekali, anak laki-laki berkemeja merah kotak-kotak itu melangkah mendekati Celine, lalu menepuk-nepuk paha Celine dengan percaya diri. “Kakak, Shaka mau duduk di sini boleh? Mau lihat kincir angin raksasa sama Kakak!” Melihat tin







