Share

Bab 153

Author: Renita April
last update publish date: 2026-08-31 17:49:24

Sertifikat perceraian yang telah lama Dewa inginkan akhirnya berakhir di tangannya juga. Ia tidak pernah menyesal memulai hubungan bersama Sinta maupun mengakhirinya sekarang. Dulu Sinta pernah menjadi perempuan yang paling ia prioritaskan. Namun, hubungan tersebut perlahan kandas.

Bukan berarti Dewa tidak pernah memperbaikinya. Ia telah mencoba banyak hal, bahkan sebelum mengenal Karin ia telah melakukan segala cara demi mempertahankan pernikahan itu.

Ketika berpisah dari Karin pun ia juga m
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Aduh, Pelan-Pelan, Bos   Bab 320

    Ucapan Damian membuat Dewa kepikiran. Sudah lama ia tidak mendengar nama Karin untuk dibahas. Ia telah menghentikan pencarian ketika wanita itu tidak mau memberi kabar. Bukan Dewa tidak berusaha, ia terus melacak keberadaan Karin, bahkan perusahaan Evernight. Namun, mendapat informasi saja sudah seperti mencari jarum ditumpukan jemari. Orang-orang biasa tidak banyak yang tahu. Itu karena pemimpin asli tidak senang menampakkan diri. Frustasi? Ya, Dewa hampir saja hancur karena tidak menemukan kekasihnya. Sekarang haruskah ia kembali berharap? Ia memandang jas serta cincin pertunangan di atas meja. Dalam minggu ini, ia akan bertunangan dengan Olivia Hart. Dua keluarga telah setuju dengan penyatuan ini. Dewa juga mendapat keuntungan karena ia butuh koneksi dari keluarga Hart. Teluk York itu perlu ia kuasai. Rencananya Dewa akan membuat resort, restoran serta pabrik makanan beku. Ia telah mengincarnya selama tiga tahun ini, tetapi belum juga dapat. Ada yang bilang teluk York itu dikuasa

  • Aduh, Pelan-Pelan, Bos   Bab 319

    Malam ini, Damian tidak bisa menikmati pesta. Ia juga menolak wanita-wanita itu mendekat, dan memilih pergi, meski beberapa teman menyebutnya tidak asik. Damian tidak peduli soal itu. Yang terpenting adalah apakah wanita itu benar-benar Karin atau bukan. Ia tidak mungkin salah lagi. Tiga tahun ini mana mungkin ia bisa lupa.Damian mengirim pesan kepada Dewa dan Leonard. Mengajak keduanya bertemu di tempat biasa. Mereka punya club privat yang digunakan untuk membicarakan soal bisnis atau sekadar nongkrong saja. Hubungan ketiganya semakin akrab.“Tuan Damian, saya di sini.” Tom telah hadir, ia dipanggil malam-malam begini. Entah apa lagi yang dibuat oleh atasannya ini. Semenjak Karin tidak ada, Damian memang menjadi pria liar. Selalu saja ada masalah yang melibatkan dirinya. Entah itu wanita atau bertengkar dengan seorang teman.“Cek cctv di club ini. Temukan Karin,” pinta Damian.“No-Nona Karin?” Tom tidak percaya bahwa ia masih bisa mendengar nama tersebut.“Apa kurang jelas? Aku baru

  • Aduh, Pelan-Pelan, Bos   Bab 318

    “Aku tidak punya hubungan apa-apa dengan Tuan Dewa. Aku sungguh tidak berani.” Wanita ini terintimidasi oleh ketiga orang wanita di depannya. “Oh, ya? Kamu pasti mendengar kabar pertunangan mengenai Nona Olivia Hart dan Tuan Dewa, tapi kamu masih saja mendekat. Dasar jalang. Hajar dia! Rusak wajahnya biar dia tidak berani muncul di depan Tuan Dewa.” “Kenapa kalian melakukan ini semua, hah? Aku sungguh tidak tahu soal pertunangan itu. Tuan Dewa hanya mengajakku makan malam, bukan berarti aku ini kekasihnya.” “Dia memberimu hadiah, dan kamu memamerkannya melalui media sosial. Itu namanya cari penyakit.” “Aku minta maaf, kumohon lepaskan aku.” Wanita ini menangkupkan kedua tangan memohon agar dilepaskan. “Kami juga tidak mau melakukan ini, tetapi Nona Olivia sangat marah.” Ketiga wanita itu tersenyum penuh arti, dan membuat korbannya semakin takut. “Tunggu apa lagi? Cepat rusak wajahnya.” Salah satu dari mereka memerintah kedua temannya. Salah satu pintu toilet terbuka, membuat s

  • Aduh, Pelan-Pelan, Bos   Bab 317

    Dulunya Karin tidak berani datang ke club, meski dibawa oleh kekasihnya. Karena menurutnya tempat ini tidaklah baik. Ya, setengah benar dan setengahnya lagi tidak. Club atas rata-rata dikunjungi oleh orang-orang kaya yang dipakai untuk melepas penat, bisnis, dan banyak hal lainnya juga. Sebab itulah, Karin datang ke club ini demi hubungan sosial. Sebagai ketua klan yang baru, ia harus banyak menjalin hubungan dengan orang-orang tertentu melalui jaringan yang namanya koneksi.“Saya sudah memesan ruangan khusus, Nona,” ucap Alexa.“Aku ingin di sini dulu.” Karin memilih untuk duduk di meja yang paling sudut. Ia melihat pengunjung bergoyang di lantai dansa. “Pesankan aku minuman.”Alexa mengangguk, lalu memanggil pelayan. Ia memesan minuman untuk Karin dan untuknya juga. Bekerja bersama Karin tidaklah terlalu harus menurut pada aturan. Karin memperlakukan bawahannya seperti seorang teman. Alexa boleh duduk di sampingnya.“Saya pesankan minuman yang sedikit mengandung alkohol.”“Apa aku h

  • Aduh, Pelan-Pelan, Bos   Bab 316

    Semua menunduk hormat kepada Karin yang merupakan kepala klan Evernight. Karena sudah tidak ada lagi yang menantang, maka Karin menetapkan aturan yang ia buat sendiri sebagai kepala keluarga yang baru. Termasuk menguasai perusahaan-perusahaan Evernight.“Seminggu lagi, kita kembali ke negara Creston. Kumpulkan semua perwakilan, kita akan membahas rapat di sana,” ucap Karin.“Baik, Nona.”Acara pengakuan ini berjalan lancar, meski ada sedikit kehebohan. Karin bisa mengendalikan semua, ia juga tidak lagi malu-malu. Ia telah menjadi Karin yang sangat berbeda. Bahkan namanya sekarang adalah Guzela Zeline Evernight. Nama itu memang terasa berat karena memikul beban nama klan Evernight.“Nona, kita akan kembali ke negara Creston,” ucap Alexa.“Aku tahu. Tidak perlu melakukan apa pun.” Tidak ada alasan harus menghubungi Dewa, Damian maupun Leonard. Hubungan itu harusnya telah berakhir. Masing-masing telah menjalani kehidupan baru, dan Karin juga ingin memulai kehidupan sebagai ketua klan. “

  • Aduh, Pelan-Pelan, Bos   Bab 315

    Anggota klan Evernoght berada di luar, tepatnya di sebuah halaman yang telah disiapkan untuk melakukan taruhan panahan. Siapa pun yang menang, maka dia akan menjadi kepala klan selanjutnya. Memegang tampuk kekuasaan serta aset-aset keluarga Evernight.Taruhan yang sangat menggiurkan. Jika dengan pertandingan ini saja bisa menjadikan mereka sebagai kepala pelayan, maka tidak perlu adanya persaingan, bahkan saling menjatuhkan.Tentu saja hal ini membuat Alaric was-was. Ia baru saja selesai melatih Karin, tetapi pengalaman Josh tentu tidak bisa diremehkan. Dia pastinya sangat ahli dalam panahan. Bagaimana bisa Karin akan mengalahkannya?“Kemarilah, Edmund.”“Ya, Tuan.” Edmund mendekatkan diri, lalu Alaric berbisik. Ia mengangguk mengerti, lalu melangkah pergi.Alaric menghela napas panjang. Ia tidak akan membiarkan kepala klan dikuasai oleh yang bukan keturunan Ivana langsung. Ini hak Karin, bukan mereka.Masing-masing disuruh ke depan. Dua buah busur panah sudah tergeletak di meja, beri

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status