LOGINKarin dibuat memilih oleh suaminya. Menjadi penjual asi atau harus merelakan diri tinggal di jalanan karena hutang yang menumpuk. Hari pertama Karin menjual asi kepada bos besar yang menderita syndrom kasih sayang. Bos berkata selain asi, ia menginginkan yang lain lagi. "Ahh, Bos. Jika ketahuan bagaimana?" tanya Karin. "Aku mau jadi simpananmu?" Bos kaya mau jadi simpanan, lalu bagaimana dengan pria di belakangku ini?
View More"Kamu mau aku jadi pendonor asi? Kamu sadar nggak, Mas Teguh? Aku ini istrimu," ucap Karin.
Sama sekali tidak pernah terbayangkan bagi Karin ketika mendengar ucapan suaminya sendiri yang menginginkan dirinya menjadi pendonor asi bagi pria dewasa. Ia adalah istrinya dan menyusui itu sudah termasuk dalam hal yang berbeda. "Bayarannya mahal. Satu bidang dihargai satu juta dan dua bidang jadi dua juta. Hanya sampai kenyang. Itu hanya perlu waktu satu jam atau satu gelas saja, kan? Kamu nggak perlu menyusui secara langsung. Cukup ditampung saja dalam gelas," ujar Teguh mengajari. "I-Itu menjijikan, Mas." Nada Karin memohon. Ia tidak setuju apa pun bentuk metode pemberian asi itu. "Menjijikan mana dari ditagih hutang oleh rentenir, hah?" Emosi Teguh tersulut. "Aku ini capek, Karin. Hutang bapakmu saja masih 100 juta dan bunganya setiap hari selalu berjalan. Siapa yang bayar selama ini? Aku! Belum lagi bayar rumah kontrakan. Kamu juga nggak mikir hutang rumah sakit? Kondisi kamu gara-gara asi itu. Anak kita sudah meninggal, asi itu terus keluar dan menyakiti tubuh kamu sendiri. Pikirkan itu." Betul yang dikatakan oleh Teguh. Mereka punya hutang, kondisi keuangan rumah tangga yang krisis. Karin juga malu pada Teguh yang selama ini menampung hutang keluarga. Orang tua Karin sendiri telah menyebabkan kesengsaraan bagi rumah tangganya. Membawa lari surat tanah orang yang digadai sebesar 100 juta. Selama ini Teguh hanya mampu membayar bunganya saja. Jika terus-terusan begini, siapa yang tahu nantinya mereka juga bakal hidup menggelandang. "Pikirkan itu," ucap Teguh lagi. "Siapa yang harus kuberikan asi?" tanya Karin. "Dia bos di tempat kerjaku. Dia menderita Lacto Comfort Syndrom. Aku sendiri juga tidak tahu apa artinya. Pokoknya dia ingin asi. Kalau kamu setuju, besok pagi aku bawa kamu menemuinya." "Aku perlu memikirkannya lagi." "Apa lagi yang kamu pikirkan, hah? Sebentar lagi penagih akan datang ke rumah kita. Kamu mau rumah ini diacak-acak lagi? Pokoknya malam ini harus ada keputusannya!" Teguh beranjak dari duduknya, ia keluar dengan membanting pintu dan berhasil membuat Karin kaget. Perasaan Karin terluka karena desakan Teguh. Di satu sisi ia juga mengerti mengapa sampai suaminya melakukan ini padanya karena inilah satu-satunya cara yang bisa dilakukan. Harta berharga tidak punya, bahkan untuk mengisi perut saja susah. Apa yang diharapkan dari gaji seorang kuli bangunan. Tidak seberapa dengan resiko besar. Ditambah masalah hutang sepertinya sudah pasti membuat kepala Teguh berdenyut. Sungguh Karin ingin membantu, tetapi ia tidak berpendidikan tinggi. Sebelum menikah, ia hanya bekerja sebagai penjaga toko kelontong. Lama Karin memikirkam tawaran Teguh sembari melihat keadaan rumah dan dirinya sendiri. Buah kembarnya membengkak hingga menyebabkan Karin kesakitan. Ia mengambil gelas, lalu memerasnya sedikit demi sedikit untuk meredakan sakit. Ini tidak bertahan lama karena nantinya akan kembali terisi penuh dan Karin harus memerasnya lagi. Satu gelas terisi penuh. Lalu Karin memeras bagian satunya lagi. Sangat disayangkan bila harus dibuang begitu saja. Tapi siapa yang mau minum asi sebanyak itu? "Sudah kamu pikirkan soal tadi?" Teguh muncul. Ditangannya terdapat dua bungkus mie instan. Hanya itu saja yang bisa dijadikan makan malam hari ini. Ia melihat dua gelas susu yang baru saja diperah. "Sangat sayang bila dibuang. Lebih baik di jual dan kita dapat uang untuk bayar hutang. Pikirkan itu, Karin." Karin mengangguk. "Baiklah, aku setuju." "Kamu serius?" Teguh mendekatinya. Ia tatap wajah istri tercintanya ini. "Aku dengar Bos Dewa sangat kaya. Dia mau ibu pendonor yang bersih dan di sana nanti kamu bakal dirawat." "Apa aku tinggal di sana?" tanya Karin. "Tidak. Kamu cukup datang di pagi dan malam hari saja. Siang harinya beliau bekerja. Bos Dewa bilang soal makanan tidak perlu khawatir. Dia mau asi berkualitas dan artinya dia mau merawatmu juga." "Apa benar seperti itu? Aku boleh makan apa saja?" Teguh mengangguk, ia peluk istrinya. "Besok pagi, kita ke rumah beliau."Leonard dan Dewa bertepuk tangan atas aksi Shanaya yang membuat Sinta tersiksa. Luka-luka ditubuhnya itu tentu saja memerlukan waktu untuk disembuhkan. Namun, yang lebih menyakitkan tentu saja soal hati. Dendam yang membara.“Bebaskan mereka,” ucap Leonard.“Baik, Bos.”Leonard tertawa. “Kerja bagus, Nona Shanaya. Karena aksimu ini, kamu bebas. Lain kali jangan berani melakukan hal yang merugikan ke depannya. Meski hanya niat. Ini peringatan untukmu.”“Ba-Baik.” Shanaya melepaskan cambuk di tangannya, lalu bergegas mengikuti bawahan Leonard. Sementara Sinta dibawa oleh dua orang anggota klan langsung ke rumah sakit. Wanita itu masih belum boleh mati.“Kamu melepaskannya,” ucap Dewa.“Setelah ini perhatian Sinta akan teralih pada Shanaya, Paula dan mungkin Agnes. Kita tidak perlu khawatir soal Karin untuk sementara waktu. Bila dilihat dari sifat Sinta, dia akan membuat perhitungan.”Dewa terkekeh. “Pantas saja kamu berhasil merebut wilayah barat.”“Kita hanya tinggal melihat aksi pemba
“Apa yang ingin kalian lakukan?” Sinta panik, ia memandang Dewa, memohon agar bisa dibebaskan. “Kumohon, Dewa. Demi hubungan kita di masa lalu.”“Aku sangat ingin membebaskan dirimu, tetapi kekasih Karin bukan hanya aku. Jika kamu ingin memohon, minta kepada Damian atau Leonard.”“Dewa!” teriak Sinta, ia yakin Dewa bisa bicara dengan teman-temannya, tetapi dia sengaja tidak mau melakukannya. “Sudah bertahun-tahun kita bersama. Apa begini saja kamu tidak mau membantuku?!”“Bos, pelaku utamanya sudah di sini.” Pelaku penusukan itu didorong ke depan. Ia jatuh di depan kaki Sinta serta Shanaya.Perlahan wanita muda itu bangkit. Dia merupakan fans fanatik aktor Eden Voss yang menjadikan hubungan toxic antara idola dan penggemarnya. Fans seperti ini lebih kepada mencelakakan idola, bukan mendukung.Selalu tahu perkembangan idolanya, berani memasuki rumah, mengikuti ke mana pun idolanya pergi. Cemburu pada wanita lain atau artis wanita yang dekat dengan idolanya. Fans seperti itu bisa membua
“Jangan harap bisa membawa pergi adikku,” ucap Anthony.“Kalau begitu, aku tinggal menyerahkannya kepada polisi. Tentu kamu tidak keberatan kan, Dewa?” Leonard memandang pria itu karena Sinta merupakan wanita yang pernah sangat dicintai oleh Dewa.“Aku serahkan semuanya padamu.” Dewa memalingkan wajah ke arah lain.Leonard bertepuk tangan beberapa kali, lalu memberi perintah kepada bawahan agar menahan Sinta, Agnes, dan Shanaya. Begitu tiba di bagian Shanaya Shaw, asisten dari keluarga Sinclair menghalangi.“Kita bisa membicarakan ini Tuan Dewa, Tuan Leonard.”Leonard menyunggingkan senyum dinginnya. “Damian sendiri yang memerintahkan agar aku membawa Shanaya.”“Maaf, Tuan. Saya tidak bisa membiarkan Anda membawa Nona Shanaya.”“Kalau begitu, kamu mati saja.” Leonard meletakan pistol di kening pria itu. Meski terlihat tangguh, tetapi tubuhnya bergetar. “Pelurunya penuh. Tidak masalah jika berkurang satu, asal bisa mengirimmu langsung ke neraka.”“Ma-Maafkan saya, Tuan.” Asisten ini ma
“Sepertinya ini menjadi sangat menarik.” Leonard terkekeh. “Tunjukan bukti yang kamu punya, Sinta.” Dewa berjalan ke depan, lalu duduk di sofa dengan diikuti oleh Leonard. Sinta tersenyum sinis memandang Paula. Ingin menjadikannya sebagai kambing hitam, mereka berpikir terlalu jauh. Bagi seorang Sinta, ketiga wanita ini hanya merupakan pemula. Bermain trik, ia jagonya. “Ada apa ini? Sinta!” Anthony datang dengan tergesa-gesa. Melihat saudara laki-lakinya tiba di club ini, Sinta tersenyum puas. Ia merasa telah menang karena dari awal sampai akhir, ia lah yang mengatur permainan ini. “Kak, mereka menuduhku telah mencelakai Karin. Ini sungguh menyakitkan,” ucap Sinta. Siapa pun tahu betapa sayangnya Anthony terhadap Sinta, bahkan pria ini rela masuk penjara karena pernah mencelakai Karin. Ya, nama tersebut membuat Anthony naik darah. Ia tidak akan pernah lupa. Gara-gara Karin lah ia dipukuli, bahkan bagian terlarangnya perlu disembuhkan. Sekarang, adiknya sedih juga gara-gara






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviewsMore