Share

Bab 7

Penulis: Ipak Munthe
last update Tanggal publikasi: 2026-03-20 08:37:47

Arsen terbangun di ruang kerjanya saat hari sudah pagi, tubuhnya acak-acakan, semalaman ia berada di ruang kerjanya ditemani minuman.

Kini seluruh tubuhnya terasa letih, ia pun berdiri lalu berjalan ke arah jendela sambil merenggangkan otot-ototnya yang kaku.

Namun, tatapannya jatuh ke luar. Matanya menatap kebawah, sebuah mobil yang masuk ke halaman dan berhenti, Karla turun dari mobilnya.

"Semalaman dia tidak pulang?" gumam Arsen menyadarinya.

Ia pun segera menghampiri istrinya itu, padahal kemarahan tadi malam saja belum mereda sepenuhnya tapi Karla seperti memancing kemarahan lagi.

"Karla!" panggilnya saat melihat istrinya itu melintas di ruang keluarga.

"Iya, aku capek. Aku mau istirahat, ngomongnya nanti aja," jawab Karla cuek.

Ia bahkan tak melirik Arsen sama sekali, langkahnya hanya fokus menuju kamar.

Arsen mengepalkan tangannya, sebagai seorang suami Arsen merasa tak pernah dihargai lagi.

Semenjak menikah Karla tak lagi seperti dulu, dia tidak manja, tidak pernah bertanya apa yang Arsen inginkan. Dan puncaknya setelah punya anak dia benar-benar anti disentuh.

Tapi tanpa sengaja matanya menatap seseorang di kejauhan, Vivian berdiri disana.

Saat matanya melihat Vivian tampak menundukkan kepalanya.

Sejenak Arsen terdiam karena tak menyangka Vivian melihatnya, ia juga merasa malu karena sikap Karla padanya.

Kemudian Arsen pun memilih untuk melangkah menuju kamar menyusul Karla.

Terlihat Karla sudah berbaring diranjang, matanya terpejam ia benar-benar kelelahan.

Arsen pun mencoba menahan diri, ia bisa bicara setelah Karla bangun. Ia sadar, percuma bicara dalam keadaan Karla seperti itu. Sudah pasti akan berakhir dengan pertengkaran lagi, sedangkan Arsen ingin rumah tangannya tetap damai dan utuh.

Sekaligus Arsen mau Karla menyudahi karirnya sebagai model agar fokus pada keluarga kecil mereka.

Karena rumah tangga yang mereka jalani sangat tidak sehat. Semuanya kacau hanya karena istrinya itu jauh lebih mementingkan pekerjaannya dari pada suami dan anaknya sendiri.

Padahal Arsen bisa memberikan segalanya tanpa harus bersusah payah.

Arsen pun memutuskan duduk di sofa, didepan jendela besar yang pemandangannya langsung mengarang ke luar, tapi matanya melihat Vivian yang duduk di luar, dibangku taman.

Ia menatap punggung wanita itu, Vivian terlihat sedang memangku putrinya. sesekali wanita itu merubah posisi bayi itu dengan hati-hati.

Kembali Arsen sadar, bahkan Karla saja tak pernah melakukan hal tersebut pada putrinya sendiri.

Akhirnya setelah satu jam berlalu Karla pun bangun, perlahan ia mulai merenggangkan otot-ototnya lalu masuk ke kamar mandi.

Terdengar suara percikan air dari dalam sana, Arsen hanya menatap pintu yang tertutup rapat. Ia ingin ikut masuk, tapi ia juga tau pasti hanya akan menciptakan keributan lagi.

Hingga tak lama kemudian pintu pun terbuka perlahan, Karla keluar lebih segar dengan balutan handuk di tubuhnya. Hal yang sering ia lakukan.

Arsen yang masih duduk di sofa memijat kepalanya sesaat, Karla hanya seperti panjangan. Diliat tapi tak bisa disentuh. Dimiliki tapi tak menguasainya.

Bahkan Karla tak sedikitpun berbasa-basi padanya, padahl jelas melihatnya duduk di sofa.

Tapi sampai disini Arsen mengerti, mungkin karena tadi malam istrinya itu masih kesal.

"Karla," panggil Arsen sekaligus membuka pembicaraan.

"Apa?" Jawabnya sambil berjalan menuju ruang ganti.

Arsen berusaha untuk tetap tenang, kemudian Karla pun keluar dari ruang ganti sudah dengan dres di badannya, bagian atasnya terbuka dan potongan bawahnya juga terlihat terbuka.

Arsen ingin sekali menyentuhnya, ia laki-laki normal butuh istri untuk memanjakannya.

"Arsen, tubuhku menurutmu gimana? Aku masih harus berusaha bisa kurus," katanya lagi sambil menatap dirinya dengan tidak percaya diri di cermin.

"Aku mau kamu menyudahi semuanya," ucap Arsen tiba-tiba.

Karla pun bingung, ia melirik Arsen sesaat kemudian kembali melihat pantulan dirinya di cermin besar itu.

"Kamu ngomong apa sih?" tanyanya.

Arsen pun bangkit dari duduknya kemudian mendekati Karla.

"Kamu kok gini sih? Bau banget," Karla mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajahnya, kakinya mundur selangkah, "mandi sana, udah kaya gembel. Apa jadinya kalau dilihat orang kamu begini, aku bisa malu diomongin orang," katanya lagi.

"Kamu memikirkan ucapan orang?" tanya Arsen tak percaya.

Karla menatapnya kesal sekaligus tanpa rasa bersalah, "Iya lah, aku ini terkenal di mana-mana. Jaga dong nama baik aku!" Katanya dengan nada suara kesal.

Arsen pun menendang guci di dekatnya, harganya mahal dan begitu indah. Sayang semuanya tak berarti karena rumah tangga yang semakin kacau, alasan Karla yang tidak masuk akal.

Kranggg!!!

Karla terkejut tapi sesaat kemudian ia menatap Arsen kesal, "Kamu tempramen banget sih? Sedikit-sedikit menghancurkan barang. Ini guci kesayangan aku! Aku belinya di Paris!" pekiknya.

"Kalau cuma guci ini seratus lagi bisa aku datangkan kesini hari ini juga, tapi kamu bisa mengerti aku?" Tanya Arsen dengan penuh kemarahan.

"Aku tau kamu bisa beli, tapi ini hasil kerja keras aku. Hargai dong!" Balas Kayla lagi dengan sedikit menaikan nada suaranya.

"Kamu minta aku menghargai guci ini, menghargai kerja kerasmu? Kamu menghargai aku sebagai suami tidak?!" tanya Arsen.

"Lebay, kamu. Terlalu mendramatisir keadaan. Minggir, aku mau pergi, aku ada pemotretan!" Karla ingin segera pergi, tapi Arsen terus menghalanginya.

Membuat Karla kesal.

"Minggir, apa si?! " geramnya.

"Masalah kita belum selesai, lagi pula aku mau kamu meninggalkan pekerjaanmu itu, apapun yang kamu mau aku penuhi. Apapun!" tegas Arsen.

"Nggak, aku nggak mau! Aku mau kerja menikmati hidupku, aku nggak mau stress ngurus anak, ngurus kamu, terkurung sampai tua. Aku nggak mau!" tolaknya.

"Tapi kamu memutuskan untuk menikah, artinya kamu siap untuk terkurung bersama pernikahan ini!" Tegas Arsen.

"Engga, aku nggak mau! Aku mau bebas, aku mau menikmati hidupku! Paham!" kata Karla. Kemudian ia mendorong Arsen dari hadapannya, "minggir, aku mau lewat!"

Karla pun segera pergi tak peduli sekalipun Arsen terus memanggilnya.

"Karla, aku belum. selesai bicara!" kata Arsen.

Karla memilih mempercepat langkahnya, karena takut terlambat untuk pemotretan hari ini.

Tapi saat menginjakkan kaki dianak tangga terakhir ia malah menyenggol seseorang.

Vivian terkejut, tapi ia masih sadar saat terjatuh ia memeluk Cila.

Seakan melindungi agar tidak sampai terlempar dari tangannya.

"Hey, kamu kalau jalan liat-liat dong!" katanya.

Setelah itu Karla pun kembali melanjutkan langkah kakinya, tanpa bertanya keadaan anaknya yang menangis di pelukan Vivian.

Tapi saat itu dengan langkah cepat Arsen menuruni tangga dan mengambil anaknya. Wajahnya terlihat sangat khawatir.

Kemudian tangan Arsen tiba-tiba terulur padanya.

Vivian tidak langsung menerimanya ia masih diam menatap tangan kekar yang menggantung di depan matanya.

Ipak Munthe

Hay teman-teman tercinta, saya kembali lagi dan mohon untuk memberikan komentar agar saya lebih bersemangat melanjutkan cerita ini, terimakasih.

| 40
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Komen (5)
goodnovel comment avatar
Zelly Frida
baby blues can't detected , silent killer
goodnovel comment avatar
Rini
kayanya cinta pertama nya,
goodnovel comment avatar
Ayung Suzfridar
siapa Vivi buat Arsen,? penolong nya kah?
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Air Susuku, Harga Kebangkrutan Suamiku   TAMAT

    Beberapa hari kemudian, Vivian akhirnya diperbolehkan pulang dari rumah sakit. Begitu tiba di rumah, suasana langsung berubah total. Rumah yang sebelumnya sudah ramai oleh tingkah Cila kini menjadi jauh lebih hidup. "Oeee... oeee..." Tangisan salah satu bayi terdengar dari lantai atas. Belum sempat suara itu reda, bayi satunya ikut menangis. "Oeee... oeee..." "Astaga," gumam Arsen sambil mengusap wajahnya. Baru saja ia berhasil menenangkan anak pertama, kini anak kedua ikut menangis. Dari ruang keluarga terdengar tawa Melati yang sedang menggendong salah satu cucunya. Sedangkan Ferdy sibuk mondar-mandir membawa botol susu seperti seorang ajudan pribadi. Rumah itu benar-benar dipenuhi suara bayi. Namun di tengah semua keramaian itu, ada satu orang yang mulai menunjukkan perubahan. Cila. Gadis kecil itu kini terlihat lebih lengket daripada biasanya kepada Vivian. Setiap kali Vivian menggendong salah satu bayi, Cila akan segera datang dan memeluk kaki atau le

  • Air Susuku, Harga Kebangkrutan Suamiku   Bab 172

    "Ibu," seru Cila yang digendong babysitter nya. Vivian pun menoleh lalu tersenyum, bocah berusia tiga tahun itu terlihat semakin lucu dan menggemaskan. Vivian langsung mengangkat tangannya, "Anak Ibu," Katanya. Lalu Babysitter langsung memberikan pada Vivian. Vivian langsung memeluknya erat, "Aku nggak mau tambah anak lagi, Mas. Aku sudah cukup punya tiga anak, aku nggak mau Cila kurang kasih sayang karena kita terlalu punya banyak anak," Ucap Vivian. Arsen yang sedang berdiri di samping ranjang langsung menoleh ke arah Vivian. Di pelukan Vivian, Cila tampak manja. Kedua tangan kecilnya melingkar di leher sang ibu, seolah takut kehilangan perhatian setelah kehadiran dua adik barunya. Vivian mengecup pipi putrinya berkali-kali. "Aku nggak mau tambah anak lagi, Mas. Aku sudah cukup punya tiga anak. Aku nggak mau Cila kurang kasih sayang karena kita terlalu punya banyak anak," ucap Vivian dengan tulus. Ya, ada rasa takut yang terlintas di hatinya. Ia takut tidak bisa mencint

  • Air Susuku, Harga Kebangkrutan Suamiku   Bab 171

    Beberapa bulan kemudian. "Oeee... oeee..." Suara tangisan bayi memenuhi ruang bersalin rumah sakit, memecah ketegangan yang sejak tadi menyelimuti suasana. Vivian akhirnya melahirkan bayi kembar. Keduanya laki-laki, sehat, dan sangat menggemaskan. Tangisan mereka terdengar nyaring seolah mengumumkan kedatangan mereka ke dunia. Rasa bahagia yang dirasakan Arsen sulit untuk diungkapkan dengan kata-kata. Dadanya terasa penuh oleh haru, syukur, dan kebahagiaan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Selama hidupnya, ia sudah melewati banyak hal—kehilangan, penyesalan, dan berbagai ujian yang nyaris merenggut kebahagiaannya. Namun di detik ini, saat mendengar tangisan kedua putranya, semua rasa lelah itu seolah terbayar lunas. Arsen berdiri di samping ranjang Vivian dengan mata yang memerah. Tangannya menggenggam erat tangan sang istri. "Vivian..." suaranya bergetar. Vivian yang masih lemah menoleh sambil tersenyum kecil. "Kita punya dua anak laki-laki, Mas," bisiknya. A

  • Air Susuku, Harga Kebangkrutan Suamiku   Bab 170

    Ponsel Nindy yang berada di tangan Sandy berdering. Sandy melirik layar ponsel itu dan tersenyum tipis saat melihat nama yang tertera. Nino. Tanpa ragu, ia langsung menerima panggilan tersebut. "Nindy! Sekarang aku bangkrut! Apa kamu sengaja menghancurkan aku? Apa kamu meminta Arsen untuk menghancurkan aku?!" bentak Nino begitu panggilan tersambung. "Aku yang menghancurkanmu." Sandy menyandarkan tubuhnya dengan santai. Di seberang sana, Nino terdiam sesaat. "Kau?!" geramnya ketika mengenali suara Sandy. "Sandy! Beraninya kau lancang!" Sandy terkekeh pelan. "Lancang?" ulangnya. "Aku cuma memastikan seseorang menerima akibat dari perbuatannya." "Jangan gila! Mana mungkin kau bisa menikahi majikanmu? Kau pasti mengincar hartanya!" Senyum di wajah Sandy perlahan menghilang. "Aku tidak seperti dirimu, Nino." Suara Sandy terdengar tenang, namun justru itulah yang membuatnya terasa lebih mengintimidasi. "Kau mendekati Nindy karena apa yang dimilikinya. Sedangkan

  • Air Susuku, Harga Kebangkrutan Suamiku   Bab 169

    Dreettt. Ponsel Vivian bergetar, membuatnya langsung menunduk dan melihat layar. Ia segera mengangkat panggilan itu. "Halo," jawab Vivian. "Vivian, aku Karla... aku ingin bicara. Temui aku di Restoran Bintang sekarang ya. Aku tunggu di sana, terima kasih," suara Karla terdengar dari seberang. "Eh—Karla?" Vivian sedikit terkejut. Namun panggilan itu sudah terputus. Vivian pun terpaku menatap layar ponselnya yang kembali gelap. Alisnya mengernyit, bingung. Kenapa Karla tiba-tiba mengajaknya bertemu? Ia menggigit bibir, ragu. Biasanya Karla selalu berbicara tajam padanya, tapi ini berbeda. Nada suaranya tadi juga terasa berbeda—lebih tenang, tapi justru membuat Vivian merasa tidak nyaman. Vivian menoleh ke arah koridor tempat Nindy dan Sandy pergi tadi. "Harusnya aku gimana, ya..." gumamnya pelan. Ia kembali menatap ponselnya, masih ragu antara pergi atau mengabaikannya. Tapi ada sesuatu di hatinya yang berkata bahwa ini bukan pertemuan biasa. *** Vivian tib

  • Air Susuku, Harga Kebangkrutan Suamiku   Bab 168

    Nindy pun segera menuju kantor Arsen. Ia bahkan langsung melangkah masuk tanpa menunggu izin. Begitu pintu terbuka, ia melihat Arsen tengah duduk di kursi kebesarannya. Pria itu langsung menghentikan pekerjaannya saat menyadari kehadiran Nindy, lalu mengalihkan seluruh perhatiannya pada sang adik. "Ada apa?" tanya Arsen. "Sebenarnya Sandy itu seperti apa?" tanya Nindy langsung. Arsen mengernyitkan kening, sedikit bingung dengan pertanyaan tiba-tiba itu. "Seperti apa?" ulang Arsen. "Arsen, dia itu orang seperti apa? Kenapa dia berubah?" tanya Nindy akhirnya. Arsen tersenyum miring mendengar pertanyaan kakaknya itu. "Kamu yang mau menikah dengannya, kenapa malah bertanya padaku?" tanya Arsen balik. "Tapi..." Nindy terdiam. Ucapan Arsen memang benar. Seharusnya dia yang lebih mengenal Sandy, bukan malah mencari jawaban dari orang lain. "Dia berubah, atau sebenarnya kamu yang tidak pernah benar-benar mengenalnya?" kata Arsen setengah mengejek. Nindy langsung terdia

  • Air Susuku, Harga Kebangkrutan Suamiku   Bab 4

    Pintu depan terbuka. Seorang wanita melangkah masuk dengan langkah percaya diri. Namun langkahnya langsung terhenti begitu matanya menangkap sosok seorang wanita asing yang berdiri di ruang tamu. Alisnya langsung berkerut. Pandangan tajam itu bergerak dari kepala hingga kaki Vivian, seolah

  • Air Susuku, Harga Kebangkrutan Suamiku   Bab 49

    "Sayang, kan aku bilang aku tunggu di kamar." Arsen ingat sebelumnya Karla berbisik padanya, yang katanya ingin memuaskannya malam ini, tapi Arsen sudah tidak tertarik pada tawaran Karla karena sudah terlalu sering di tolak atau bahkan Karla tidak menyelesaikan permainan hingga selesai dan itu bu

  • Air Susuku, Harga Kebangkrutan Suamiku   Bab 6

    Kepala Arsen terasa seperti ingin meledak. Ia baru saja keluar dari kamar mandi dengan wajah tegang. Rambutnya masih sedikit basah karena air yang tadi ia guyurkan ke wajahnya berkali-kali. Hampir tiga puluh menit ia mengurung diri di sana. Mencoba menenangkan pikirannya. Mencoba mengusir r

  • Air Susuku, Harga Kebangkrutan Suamiku   Bab 5

    Karla keluar dari kamar mandi dengan tubuh masih terbalut handuk putih tebal. Rambutnya yang basah menjuntai di bahunya, beberapa tetes air masih menetes di kulitnya. Arsen yang sejak tadi berdiri di dekat jendela menoleh. Tatapannya tertuju pada istrinya. Sudah hampir tiga bulan berlalu seja

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status