แชร์

Bab 2

ผู้เขียน: Ipak Munthe
last update วันที่เผยแพร่: 2026-03-10 05:36:19

Perjalanan itu terasa terlalu panjang.

Vivian duduk di kursi penumpang mobil dengan tubuh kaku. Tangannya saling menggenggam di pangkuannya, sementara pandangannya kosong menatap jalan di depan.

Sejak mereka meninggalkan rumah, tidak ada satu kata pun yang keluar dari mulutnya.

Di sampingnya, Rayan menyetir dengan tenang seperti biasanya, seolah hari ini hanyalah hari biasa.

Padahal bagi Vivian, hari ini terasa seperti langkah menuju sesuatu yang menghancurkan harga dirinya.

Mobil hitam itu akhirnya berhenti di depan sebuah rumah besar yang berdiri megah di kawasan elit kota.

Gerbangnya tinggi.

Halaman rumahnya luas.

Rumah itu jauh lebih mewah daripada rumah mereka.

Vivian menatap bangunan itu dengan perasaan aneh.

“Turun,” kata Rayan singkat.

Vivian tidak langsung bergerak.

Dadanya tiba-tiba terasa sesak.

Ia tahu begitu keluar dari mobil ini… hidupnya mungkin tidak akan pernah sama lagi.

“Vivian.”

Nada suara Rayan terdengar tidak sabar.

Vivian akhirnya membuka pintu mobil.

Kakinya terasa berat saat menginjak tanah. Angin pagi menyapu wajahnya, tetapi tidak mampu menghilangkan dingin yang merayap di hatinya.

Rayan berjalan lebih dulu menuju pintu rumah itu tanpa menoleh ke belakang.

Seolah yakin Vivian pasti akan mengikutinya.

Dan memang Vivian akhirnya berjalan di belakangnya.

Seorang pelayan membuka pintu.

“Tuan Rayan sudah datang. Tuan Arsen menunggu di ruang tamu,” katanya sopan.

Vivian sedikit terkejut mendengar nama itu.

Arsen.

Nama sahabat Rayan yang kemarin disebutnya.

Mereka berjalan masuk ke ruang tamu yang luas. Sofa mahal, lukisan besar, dan lampu kristal menggantung di langit-langit.

Namun perhatian Vivian langsung tertarik pada suara kecil dari sudut ruangan.

Tangisan bayi.

Tangisan itu lembut… tetapi cukup untuk membuat jantung Vivian bergetar.

Tubuhnya langsung membeku.

Suara itu terlalu familiar.

Terlalu menyakitkan.

Seorang pria tinggi berdiri dari sofa ketika mereka masuk. Wajahnya tampan dengan aura tenang, namun terlihat kelelahan.

“Rayan,” katanya.

Rayan mengangguk singkat.

“Arsen.”

Kemudian tatapan pria itu berpindah pada Vivian.

Ia tampak sedikit terkejut melihat wanita itu, mungkin dia cukup mengenalinya.

Tapi Arsen juga sadar jika Vivian tidak mengenalinya.

Dan tidak menyangka wanita yang dibawa Rayan terlihat begitu pucat dan rapuh.

“Ini istriku, Vivian,” kata Rayan datar.

Vivian hanya menunduk sedikit.

Tangisan bayi itu terdengar lagi.

Kali ini lebih jelas.

Perlahan Vivian menoleh ke arah suara itu.

Seorang pengasuh berdiri di dekat sofa sambil menggendong bayi kecil yang terus menangis.

Bayi itu sangat kecil.

Pipinya merah.

Matanya tertutup rapat karena menangis.

Jantung Vivian terasa seperti diremas.

Tanpa sadar tangannya mengepal.

Bayinya dulu… juga sekecil itu.

“Dia sudah menangis sejak kemarin,” kata Arsen dengan nada lelah. “Susu formula apa pun tidak bisa masuk. Dia selalu muntah.”

Vivian menelan ludah.

Rayan menoleh pada Vivian.

“Pergilah.”

Vivian menatapnya bingung.

“Ambil bayi itu.”

Kalimat itu membuat napas Vivian terhenti.

“Mas…” suaranya gemetar.

Namun Rayan tidak mengubah ekspresinya sedikit pun.

“Bukankah itu alasan kita datang?”

Tangisan bayi itu kembali terdengar.

Lebih keras kali ini.

Vivian menatap bayi kecil itu lama.

Tangannya perlahan bergetar.

Hatinya menolak.

Tetapi tubuhnya… tubuh seorang ibu… merespons berbeda.

Dadanya tiba-tiba terasa nyeri.

Air susu itu kembali terasa penuh.

Air mata Vivian jatuh lagi tanpa ia sadari.

Perlahan ia berjalan mendekat.

Setiap langkah terasa seperti berjalan di atas luka.

Ketika pengasuh itu menyerahkan bayi kecil itu ke pelukannya, tubuh Vivian langsung membeku.

Bayi itu hangat.

Sangat kecil.

Dan begitu rapuh.

Tangisan bayi itu tiba-tiba mereda ketika berada di pelukannya.

Vivian menatap wajah kecil itu dengan mata basah.

Bibirnya bergetar.

“Anakku dulu…” bisiknya pelan.

Vivian kembali memeluk seorang bayi setelah kehilangan putrinya satu minggu yang lalu.

Dan hatinya hancur untuk kedua kalinya.

Namun bayi itu tetap gelisah, mulut kecilnya bergerak-gerak seperti mencari sesuatu.

Vivian menelan ludah.

Dadanya terasa berat.

Air susu itu masih ada.

Tubuhnya tahu apa yang harus dilakukan… meskipun hatinya belum siap.

Vivian menoleh pelan ke arah Rayan lagi.

Pria itu berdiri dengan ekspresi datar, seolah semua ini hanyalah urusan biasa.

Tidak ada kata-kata penghiburan.

Tidak ada kelembutan.

Hanya tatapan yang menunggu.

Vivian menunduk kembali pada bayi itu.

Air mata kembali menggenang di matanya.

Dengan tangan gemetar, Vivian akhirnya duduk di sofa. Ia menyesuaikan posisi bayi itu di pelukannya.

Pengasuh di sampingnya segera membantu menutupi Vivian dengan selimut tipis agar lebih nyaman.

Beberapa detik kemudian.

Bayi itu akhirnya menemukan yang ia cari.

Tangisan kecil itu langsung berhenti.

Ruangan yang sejak tadi dipenuhi suara tangisan tiba-tiba menjadi sunyi.

Hanya ada suara lembut bayi yang sedang menyusu.

Vivian memejamkan matanya.

Air mata mengalir tanpa bisa ia tahan.

Sensasi itu terlalu familiar.

Terlalu menyakitkan.

Anaknya dulu juga menyusu seperti ini… dengan tenang, dengan percaya penuh di pelukannya.

“Jadi?” suara Rayan memecah kesunyian.

Nada suaranya terdengar seperti seseorang yang sedang membicarakan urusan bisnis biasa.

Vivian menegang sedikit.

Arsen menoleh ke arah Rayan.

Rayan berdiri santai dengan kedua tangan di saku celana.

“Aku rasa kau sudah melihat sendiri,” lanjutnya. “Putrimu tenang dengan Vivian.”

Arsen mengangguk pelan.

“Itu benar.”

Tatapan Rayan berubah tajam, langsung menuju inti pembicaraan.

“Kalau begitu kita bisa membicarakan kesepakatan kita.”

Kata kesepakatan itu membuat dada Vivian terasa seperti diremas.

Tangannya yang sedang memeluk bayi itu sedikit mengencang.

Ia tahu pembicaraan ini akan datang.

Tetapi mendengarnya secara langsung… tetap terasa menyakitkan.

“Perusahaanku butuh suntikan dana segera,” kata Rayan tanpa ragu. “Aku harap kau tidak berubah pikiran.”

Arsen terdiam beberapa detik.

Tatapannya sempat melirik ke arah Vivian yang duduk dengan bayi di pelukannya.

Wanita itu terlihat pucat.

Matanya sedikit merah, seolah sudah terlalu banyak menangis.

Namun ia tetap duduk di sana… memeluk bayi itu dengan hati-hati.

Arsen menghela napas pelan.

“Deal,” Rayan mengangkat tangan seolah transaksi mereka sudah saling menyetujui.

"Deal," Arsen membalasnya.

Vivian menundukkan kepalanya.

Setiap kata yang keluar dari mulut suaminya terasa seperti pisau yang perlahan mengiris harga dirinya.

Ia tahu… ia sedang dibicarakan.

Tubuhnya.

Air susunya.

Semuanya seperti bagian dari transaksi.

“Selama Vivian bisa membantu putriku,” lanjut Arsen, “aku akan menepati janjiku.”

Rayan tersenyum tipis.

“Itu yang ingin kudengar.”

Vivian menggigit bibirnya.

Air mata perlahan menggenang di matanya, tetapi ia menahannya mati-matian agar tidak jatuh.

Ia tidak ingin bayi di pelukannya terbangun.

Ia juga tidak ingin dua pria itu melihat betapa hancurnya ia saat ini.

Dalam benaknya tiba-tiba muncul wajah ibunya.

Ibunya yang kurus.

Ibunya yang selalu tersenyum meskipun tubuhnya semakin lemah karena penyakit.

Kemoterapi.

Biayanya tidak sedikit.

Dan ibunya… adalah satu-satunya keluarga yang Vivian miliki di dunia ini.

Dadanya terasa sesak.

Harga dirinya mungkin sedang diinjak-injak.

Tetapi ia tidak punya pilihan.

Kalau ia menolak…

bagaimana dengan ibunya?

Vivian memejamkan matanya sebentar.

Satu tetes air mata akhirnya jatuh ke pipi bayi kecil yang tertidur di dadanya.

Dengan cepat ia menghapusnya.

Lalu ia kembali menunduk.

Tetap diam.

Karena saat ini… diam adalah satu-satunya hal yang bisa ia lakukan.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Air Susuku, Harga Kebangkrutan Suamiku   Bab 6

    Kepala Arsen terasa seperti ingin meledak. Ia baru saja keluar dari kamar mandi dengan wajah tegang. Rambutnya masih sedikit basah karena air yang tadi ia guyurkan ke wajahnya berkali-kali. Hampir tiga puluh menit ia mengurung diri di sana. Mencoba menenangkan pikirannya. Mencoba mengusir rasa frustasi yang sejak tadi menyesakkan dadanya. Namun tetap saja tidak berhasil. Bukannya mereda, perasaan itu justru semakin membuatnya gelisah. Arsen mengusap wajahnya kasar. Dadanya naik turun menahan emosi yang sulit ia kendalikan. Untuk menenangkan kepalanya yang terasa hampir pecah, Arsen memutuskan pergi melihat putrinya. Ia berjalan menuju kamar Cila. Biasanya setiap malam ia datang ke sana untuk menenangkan diri. Mendengar napas kecil putrinya, atau bahkan tangisannya yang sering membuat rumah ini terasa hidup. Namun malam ini berbeda. Aneh. Tidak ada tangisan. Rumah justru terasa lebih tenang dari biasanya. Arsen mengerutkan kening, rasa penasaran muncul d

  • Air Susuku, Harga Kebangkrutan Suamiku   Bab 5

    Karla keluar dari kamar mandi dengan tubuh masih terbalut handuk putih tebal. Rambutnya yang basah menjuntai di bahunya, beberapa tetes air masih menetes di kulitnya. Arsen yang sejak tadi berdiri di dekat jendela menoleh. Tatapannya tertuju pada istrinya. Sudah hampir tiga bulan berlalu sejak kelahiran Cila. Dan selama itu pula Arsen tidak pernah benar-benar mendapatkan kembali kedekatan sebagai seorang suami. Ia sudah beberapa kali mencoba mendekati Karla. Bahkan dengan sabar meminta Karla untuk meluangkan waktu baginya. Namun setiap kali pula Karla selalu menolak. Selalu ada alasan. Lelah. Tak ingin tubuhnya berubah. Atau sekadar mengatakan ia sedang tidak ingin diganggu. Arsen menarik napas pelan, mencoba menahan rasa kesal yang mulai muncul di dalam dadanya. Sementara Karla tampak sama sekali tidak memikirkan hal itu. Ia berjalan santai menuju meja rias, lalu mulai mengeringkan rambutnya dengan handuk. Seolah tidak menyadari tatapan Arsen yang masih t

  • Air Susuku, Harga Kebangkrutan Suamiku   Bab 4

    Pintu depan terbuka. Seorang wanita melangkah masuk dengan langkah percaya diri. Namun langkahnya langsung terhenti begitu matanya menangkap sosok seorang wanita asing yang berdiri di ruang tamu. Alisnya langsung berkerut. Pandangan tajam itu bergerak dari kepala hingga kaki Vivian, seolah sedang menilai siapa sebenarnya wanita yang berada di rumahnya. Tidak jauh dari sana, Arsen masih berdiri dengan tenang. Wanita itu menoleh padanya dengan ekspresi penuh tanya. “Arsen…,” katanya pelan, namun nada suaranya jelas menunjukkan ketidaknyamanan. Matanya kembali melirik ke arah Vivian. “Dia siapa?” “Namanya Vivian,” kata Arsen akhirnya, memecah keheningan yang sejak tadi terasa menekan. “Dia istri Rayan, sahabatku. Dia di sini… untuk menjadi ibu susu bagi putri kita.” Karla terdiam sesaat. Namun hanya sekejap. Detik berikutnya, senyum langsung terbit di wajahnya. Matanya bahkan terlihat berbinar, seolah baru saja mendengar kabar yang sangat ia tunggu. Sementara

  • Air Susuku, Harga Kebangkrutan Suamiku   Bab 3

    Arsen masih menatap putrinya yang tertidur di pelukan Vivian. Wajah kecil itu terlihat begitu damai, seolah tidak pernah menangis berjam-jam sebelumnya. Rasa lega jelas terlihat di mata pria itu. Namun ketenangan di ruangan itu kembali pecah ketika Rayan berbicara lagi. “Kalau begitu, ada satu hal lagi.” Arsen mengalihkan pandangannya. “Apa?” Rayan melirik sekilas ke arah Vivian sebelum kembali menatap sahabatnya. “Bayi tidak mungkin hanya menyusu sekali sehari.” Vivian langsung menegang. Ia sudah bisa menebak ke mana arah pembicaraan ini.Tapi apakah mungkin Rayan sendiri yang mengatakan hal itu? “Iya, itu benar. Jadi?” tanya Arsen. Rayan menjawab dengan santai, seolah ini bukan hal besar. “Vivian akan tinggal di sini sementara.” Kalimat itu membuat Vivian langsung mendongak. “Apa?” Suara itu keluar sebelum ia sempat menahannya. Rayan menatapnya dingin. “Ini untuk bayi itu.” Vivian menggenggam selimut bayi dengan tangan gemetar. “Kamu tidak p

  • Air Susuku, Harga Kebangkrutan Suamiku   Bab 2

    Perjalanan itu terasa terlalu panjang. Vivian duduk di kursi penumpang mobil dengan tubuh kaku. Tangannya saling menggenggam di pangkuannya, sementara pandangannya kosong menatap jalan di depan. Sejak mereka meninggalkan rumah, tidak ada satu kata pun yang keluar dari mulutnya. Di sampingnya, Rayan menyetir dengan tenang seperti biasanya, seolah hari ini hanyalah hari biasa. Padahal bagi Vivian, hari ini terasa seperti langkah menuju sesuatu yang menghancurkan harga dirinya. Mobil hitam itu akhirnya berhenti di depan sebuah rumah besar yang berdiri megah di kawasan elit kota. Gerbangnya tinggi. Halaman rumahnya luas. Rumah itu jauh lebih mewah daripada rumah mereka. Vivian menatap bangunan itu dengan perasaan aneh. “Turun,” kata Rayan singkat. Vivian tidak langsung bergerak. Dadanya tiba-tiba terasa sesak. Ia tahu begitu keluar dari mobil ini… hidupnya mungkin tidak akan pernah sama lagi. “Vivian.” Nada suara Rayan terdengar tidak sabar. Vivian akhirn

  • Air Susuku, Harga Kebangkrutan Suamiku   Bab 1

    Lima Bulan yang Terlalu Singkat Rumah itu terlalu sunyi. Vivian duduk di tepi ranjang sambil memeluk baju bayi kecil berwarna biru yang sudah lama tidak dipakai. Tangannya gemetar, tetapi ia tidak mampu melepaskannya. Lima bulan. Hanya lima bulan Tuhan memberinya waktu untuk menjadi seorang ibu. Air matanya jatuh lagi tanpa suara. Sejak pagi ia sudah menangis berkali-kali sampai matanya terasa perih. Namun setiap kali mencoba berhenti, ingatan tentang anaknya kembali datang seperti gelombang yang menabrak dada. Lemari bayi di sudut kamar masih terbuka. Botol susu, selimut kecil, mainan berbunyi lembut—semuanya masih tersusun rapi seperti menunggu pemiliknya kembali. Namun bayi itu tidak akan pernah kembali. Vivian menunduk ketika rasa nyeri di dadanya kembali muncul. Bukan hanya karena hatinya yang hancur. Dadanya terasa penuh. Air susu masih terus keluar. Tubuhnya belum mengerti bahwa anak yang seharusnya meminumnya sudah tidak ada. Vivian memejamkan mata

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status