เข้าสู่ระบบKepala Arsen terasa seperti ingin meledak.
Ia baru saja keluar dari kamar mandi dengan wajah tegang. Rambutnya masih sedikit basah karena air yang tadi ia guyurkan ke wajahnya berkali-kali. Hampir tiga puluh menit ia mengurung diri di sana. Mencoba menenangkan pikirannya. Mencoba mengusir rasa frustasi yang sejak tadi menyesakkan dadanya. Namun tetap saja tidak berhasil. Bukannya mereda, perasaan itu justru semakin membuatnya gelisah. Arsen mengusap wajahnya kasar. Dadanya naik turun menahan emosi yang sulit ia kendalikan. Untuk menenangkan kepalanya yang terasa hampir pecah, Arsen memutuskan pergi melihat putrinya. Ia berjalan menuju kamar Cila. Biasanya setiap malam ia datang ke sana untuk menenangkan diri. Mendengar napas kecil putrinya, atau bahkan tangisannya yang sering membuat rumah ini terasa hidup. Namun malam ini berbeda. Aneh. Tidak ada tangisan. Rumah justru terasa lebih tenang dari biasanya. Arsen mengerutkan kening, rasa penasaran muncul di dalam dirinya. Ia membuka pintu kamar itu perlahan. Begitu masuk, matanya langsung tertuju pada sofa yang berada di tengah ruangan. Di sana… Vivian sedang duduk bersandar dengan mata terpejam. Wanita itu tertidur. Kepalanya sedikit miring, wajahnya tampak lelah namun tenang. Di dalam pelukannya, Cila juga tertidur dengan damai. Namun ada satu hal yang membuat tubuh Arsen seketika menegang. Putrinya masih menyusu. Meski kedua mata kecilnya sudah terpejam, mulut bayi itu masih bergerak pelan… menghisap ASI dengan naluri alaminya. Pemandangan itu membuat Arsen terdiam. Untuk beberapa saat, ia hanya berdiri di ambang pintu. Tak bergerak. Tak bersuara. Entah kenapa… pemandangan sederhana itu justru terasa begitu menegangkan sekaligus memancing lebih kuat naluri kelelakiannya. Hasrat yang belum sepenuhnya meredam kembali bergejolak dan ingin tiba dipuncaknya. Rumah besar ini terasa begitu hampa. Istrinya ada… tetapi seperti tidak pernah benar-benar menjadi miliknya. Ia kesepian. Ia membutuhkan dekapan seorang wanita, tapi Arsen terus ditampar kenyataan. Mata Arsen seakan tak bisa beralih sedikit saja, andai saja bisa ia ingin sebentar saja menjadi bayi agar bisa diposisi putrinya. Bahkan dres Vivian sedikit tersingkap menunjukkan bagian pahanya yang mulus. Arsen benar-benar meneguk saliva, ia ingin menyentuhnya, mendekap bahkan lebih dari itu. "Sial." umpatnya. Pikiranya kacau. Vivian bergerak sedikit di sofa. Alisnya berkerut pelan. Beberapa detik kemudian matanya perlahan terbuka. Pandangan yang masih buram itu mencoba menyesuaikan diri dengan cahaya lampu kamar yang redup. Namun begitu fokus penglihatannya kembali, jantung Vivian langsung berdetak kencang. Arsen berdiri tidak jauh dari sana. Menatap ke arahnya. Vivian langsung tersentak kaget. Tubuhnya refleks menegak, namun gerakannya langsung terhenti ketika ia menyadari sesuatu. Cila masih menyusu. Bahkan dada yang sebelahnya juga hampir terlihat semua. Ia buru-buru menutup dadanya. “Ma… maaf…” ucap Vivian gugup dengan suara pelan. Tangannya otomatis merapikan pakaian yang sedikit bergeser karena ia tertidur tadi. “Aku… aku tidak sengaja tertidur.” Wajahnya memerah karena malu. Ia benar-benar tidak menyangka Arsen akan masuk dan melihatnya dalam keadaan seperti ini. Apalagi dengan Cila yang masih menyusu di pelukannya. Vivian menundukkan pandangannya, tidak berani menatap pria itu terlalu lama. Sementara Arsen masih berdiri di tempatnya. Bayi itu kembali bergerak, mulutnya mencari sesuatu yang terlepas dari mulutnya. Vivian tau bayi itu ingin kembali menyusu tapi bagaimana cara mengeluarkannya sedangkan Arsen masih berdiri disana. Bahkan seperti tak ada tanda-tanda akan pergi. "Maaf Tuan, tapi Nona kecil ini sepertinya sangat kehausan dan dia tidak mau tidur kalau tidak sambil menyusu," katanya tegang sekaligus ingin meminta Arsen keluar secara tidak langsung. "Berikan, itukan tugasmu," jawab Arsen tenang. Vivian mengangguk, tapi Arsen tak juga pergi seperti yang ia harapkan. "Kenapa hanya diam?" Vivian pun mengangguk lalu matanya melihat kain selimut kecil, lalu menutupnya sedikit dan bayi itu kemudian menyusu dengan lahap. Meskipun ditutup tapi entah kenapa Vivian merasa risih dengan tatapan Arsen. Dan bayi itu kembali terlelap sambil menyusui dengan tenang. “Dia tidak menangis?” tanya Arsen akhirnya dengan suara rendah. Vivian menggeleng pelan. “Tidak… sejak tadi dia tidur sambil menyusu.” Tangannya dengan hati-hati mengusap punggung kecil bayi itu. Gerakannya begitu lembut, begitu naluriah. Arsen memperhatikan semua itu tanpa berkata apa-apa. Ada sesuatu yang terasa aneh di dadanya. Sudah berbulan-bulan ia melihat putrinya menangis hampir setiap malam. Namun malam ini… Cila justru tidur begitu damai. Dan penyebabnya adalah wanita yang bahkan bukan ibunya sendiri. "Vivian, apa kamu bisa bekerja lebih dari menyusui bayiku?" tanya Arsen tiba-tiba. Vivian menatapnya bingung. "Maksud anda, Tuan?" tanyanya penasaran. Arsen kembali menatapnya, tatapan seperti menelanjangi wanita itu. Membuat Vivian merasa risih. Namun, Vivian berusaha untuk menyingkirkan pikiranya. Merasa itu tidak mungkin sebab Arsen punya istri yang begitu cantik. Tapi lagi- tatapan Arsen berkata lain. "Tu-tuan..." panggil Vivian sambil meneguk ludah. "Tidak, lanjutkan tidurnya. Aku pergi dulu," Arsen pun segera pergi, ia ragu untuk mengatakan maksudnya. Namun jika saja Vivian mau menerima bayaran untuk memuaskan hasratnya malam ini Arsen akan sangat senang. Segera Arsen menuju ruang kerjanya, meneguk alkohol yang tak juga bisa membuatnya mabuk. Entah kenapa bayangan Vivian dengan dada terbuka kembali berputar dibenaknya, ia melampiaskan pada hisapan rokok yang semakin kuat. Asap mengepul, seiring pikiranya yang tak juga bisa tenang. "Kenapa dia datang lagi, bukankah susah payah aku melupakanmu, Vivian!" Siapa sebenarnya Vivian? Kenapa Arsen mengenalinya tapi tidak dengan sebaliknya?Kepala Arsen terasa seperti ingin meledak. Ia baru saja keluar dari kamar mandi dengan wajah tegang. Rambutnya masih sedikit basah karena air yang tadi ia guyurkan ke wajahnya berkali-kali. Hampir tiga puluh menit ia mengurung diri di sana. Mencoba menenangkan pikirannya. Mencoba mengusir rasa frustasi yang sejak tadi menyesakkan dadanya. Namun tetap saja tidak berhasil. Bukannya mereda, perasaan itu justru semakin membuatnya gelisah. Arsen mengusap wajahnya kasar. Dadanya naik turun menahan emosi yang sulit ia kendalikan. Untuk menenangkan kepalanya yang terasa hampir pecah, Arsen memutuskan pergi melihat putrinya. Ia berjalan menuju kamar Cila. Biasanya setiap malam ia datang ke sana untuk menenangkan diri. Mendengar napas kecil putrinya, atau bahkan tangisannya yang sering membuat rumah ini terasa hidup. Namun malam ini berbeda. Aneh. Tidak ada tangisan. Rumah justru terasa lebih tenang dari biasanya. Arsen mengerutkan kening, rasa penasaran muncul d
Karla keluar dari kamar mandi dengan tubuh masih terbalut handuk putih tebal. Rambutnya yang basah menjuntai di bahunya, beberapa tetes air masih menetes di kulitnya. Arsen yang sejak tadi berdiri di dekat jendela menoleh. Tatapannya tertuju pada istrinya. Sudah hampir tiga bulan berlalu sejak kelahiran Cila. Dan selama itu pula Arsen tidak pernah benar-benar mendapatkan kembali kedekatan sebagai seorang suami. Ia sudah beberapa kali mencoba mendekati Karla. Bahkan dengan sabar meminta Karla untuk meluangkan waktu baginya. Namun setiap kali pula Karla selalu menolak. Selalu ada alasan. Lelah. Tak ingin tubuhnya berubah. Atau sekadar mengatakan ia sedang tidak ingin diganggu. Arsen menarik napas pelan, mencoba menahan rasa kesal yang mulai muncul di dalam dadanya. Sementara Karla tampak sama sekali tidak memikirkan hal itu. Ia berjalan santai menuju meja rias, lalu mulai mengeringkan rambutnya dengan handuk. Seolah tidak menyadari tatapan Arsen yang masih t
Pintu depan terbuka. Seorang wanita melangkah masuk dengan langkah percaya diri. Namun langkahnya langsung terhenti begitu matanya menangkap sosok seorang wanita asing yang berdiri di ruang tamu. Alisnya langsung berkerut. Pandangan tajam itu bergerak dari kepala hingga kaki Vivian, seolah sedang menilai siapa sebenarnya wanita yang berada di rumahnya. Tidak jauh dari sana, Arsen masih berdiri dengan tenang. Wanita itu menoleh padanya dengan ekspresi penuh tanya. “Arsen…,” katanya pelan, namun nada suaranya jelas menunjukkan ketidaknyamanan. Matanya kembali melirik ke arah Vivian. “Dia siapa?” “Namanya Vivian,” kata Arsen akhirnya, memecah keheningan yang sejak tadi terasa menekan. “Dia istri Rayan, sahabatku. Dia di sini… untuk menjadi ibu susu bagi putri kita.” Karla terdiam sesaat. Namun hanya sekejap. Detik berikutnya, senyum langsung terbit di wajahnya. Matanya bahkan terlihat berbinar, seolah baru saja mendengar kabar yang sangat ia tunggu. Sementara
Arsen masih menatap putrinya yang tertidur di pelukan Vivian. Wajah kecil itu terlihat begitu damai, seolah tidak pernah menangis berjam-jam sebelumnya. Rasa lega jelas terlihat di mata pria itu. Namun ketenangan di ruangan itu kembali pecah ketika Rayan berbicara lagi. “Kalau begitu, ada satu hal lagi.” Arsen mengalihkan pandangannya. “Apa?” Rayan melirik sekilas ke arah Vivian sebelum kembali menatap sahabatnya. “Bayi tidak mungkin hanya menyusu sekali sehari.” Vivian langsung menegang. Ia sudah bisa menebak ke mana arah pembicaraan ini.Tapi apakah mungkin Rayan sendiri yang mengatakan hal itu? “Iya, itu benar. Jadi?” tanya Arsen. Rayan menjawab dengan santai, seolah ini bukan hal besar. “Vivian akan tinggal di sini sementara.” Kalimat itu membuat Vivian langsung mendongak. “Apa?” Suara itu keluar sebelum ia sempat menahannya. Rayan menatapnya dingin. “Ini untuk bayi itu.” Vivian menggenggam selimut bayi dengan tangan gemetar. “Kamu tidak p
Perjalanan itu terasa terlalu panjang. Vivian duduk di kursi penumpang mobil dengan tubuh kaku. Tangannya saling menggenggam di pangkuannya, sementara pandangannya kosong menatap jalan di depan. Sejak mereka meninggalkan rumah, tidak ada satu kata pun yang keluar dari mulutnya. Di sampingnya, Rayan menyetir dengan tenang seperti biasanya, seolah hari ini hanyalah hari biasa. Padahal bagi Vivian, hari ini terasa seperti langkah menuju sesuatu yang menghancurkan harga dirinya. Mobil hitam itu akhirnya berhenti di depan sebuah rumah besar yang berdiri megah di kawasan elit kota. Gerbangnya tinggi. Halaman rumahnya luas. Rumah itu jauh lebih mewah daripada rumah mereka. Vivian menatap bangunan itu dengan perasaan aneh. “Turun,” kata Rayan singkat. Vivian tidak langsung bergerak. Dadanya tiba-tiba terasa sesak. Ia tahu begitu keluar dari mobil ini… hidupnya mungkin tidak akan pernah sama lagi. “Vivian.” Nada suara Rayan terdengar tidak sabar. Vivian akhirn
Lima Bulan yang Terlalu Singkat Rumah itu terlalu sunyi. Vivian duduk di tepi ranjang sambil memeluk baju bayi kecil berwarna biru yang sudah lama tidak dipakai. Tangannya gemetar, tetapi ia tidak mampu melepaskannya. Lima bulan. Hanya lima bulan Tuhan memberinya waktu untuk menjadi seorang ibu. Air matanya jatuh lagi tanpa suara. Sejak pagi ia sudah menangis berkali-kali sampai matanya terasa perih. Namun setiap kali mencoba berhenti, ingatan tentang anaknya kembali datang seperti gelombang yang menabrak dada. Lemari bayi di sudut kamar masih terbuka. Botol susu, selimut kecil, mainan berbunyi lembut—semuanya masih tersusun rapi seperti menunggu pemiliknya kembali. Namun bayi itu tidak akan pernah kembali. Vivian menunduk ketika rasa nyeri di dadanya kembali muncul. Bukan hanya karena hatinya yang hancur. Dadanya terasa penuh. Air susu masih terus keluar. Tubuhnya belum mengerti bahwa anak yang seharusnya meminumnya sudah tidak ada. Vivian memejamkan mata







