แชร์

Air Susuku, Harga Kebangkrutan Suamiku
Air Susuku, Harga Kebangkrutan Suamiku
ผู้แต่ง: Ipak Munthe

Bab 1

ผู้เขียน: Ipak Munthe
last update วันที่เผยแพร่: 2026-03-10 05:15:07

Lima Bulan yang Terlalu Singkat

Rumah itu terlalu sunyi.

Vivian duduk di tepi ranjang sambil memeluk baju bayi kecil berwarna biru yang sudah lama tidak dipakai. Tangannya gemetar, tetapi ia tidak mampu melepaskannya.

Lima bulan.

Hanya lima bulan Tuhan memberinya waktu untuk menjadi seorang ibu.

Air matanya jatuh lagi tanpa suara. Sejak pagi ia sudah menangis berkali-kali sampai matanya terasa perih. Namun setiap kali mencoba berhenti, ingatan tentang anaknya kembali datang seperti gelombang yang menabrak dada.

Lemari bayi di sudut kamar masih terbuka.

Botol susu, selimut kecil, mainan berbunyi lembut—semuanya masih tersusun rapi seperti menunggu pemiliknya kembali.

Namun bayi itu tidak akan pernah kembali.

Vivian menunduk ketika rasa nyeri di dadanya kembali muncul. Bukan hanya karena hatinya yang hancur.

Dadanya terasa penuh.

Air susu masih terus keluar.

Tubuhnya belum mengerti bahwa anak yang seharusnya meminumnya sudah tidak ada.

Vivian memejamkan mata sambil menggigit bibirnya.

“Aku bahkan tidak sempat mengucapkan selamat tinggal…” bisiknya lirih.

Tiba-tiba suara pintu kamar terbuka.

Vivian tidak menoleh. Ia sudah tahu siapa yang masuk.

Langkah kaki itu berat, tetapi tegas.

Suaminya.

“Vivian.”

Suara pria itu terdengar datar. Tidak lembut. Tidak juga penuh empati.

Vivian mengusap air matanya dengan cepat sebelum akhirnya menoleh.

Di depan pintu berdiri seorang pria tinggi dengan jas abu-abu mahal.

Pria itu adalah suaminya.

Rayan

Sudah satu minggu sejak pemakaman bayi mereka. Namun Vivian merasa suaminya tidak pernah benar-benar berduka.

“Ada apa?” tanya Vivian pelan.

Rayan berjalan masuk beberapa langkah. Tatapannya menyapu kamar bayi yang masih dipenuhi barang-barang kecil.

“Masih seperti ini?” katanya.

Nada suaranya membuat hati Vivian terasa ditusuk.

“Dia anak kita,” jawab Vivian lirih.

Rayan menghela napas seolah lelah dengan situasi itu.

“Kita tidak bisa terus seperti ini.”

Vivian menatapnya. Ada sesuatu yang aneh dalam cara suaminya berbicara malam ini.

“Apa maksudmu?”

Rayan memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana. Tatapannya berubah serius.

“Aku butuh kamu melakukan sesuatu.”

Vivian mengerutkan kening.

“Apa?”

Beberapa detik Rayan terdiam, seolah sedang menimbang kata-kata.

Kemudian ia berkata dengan tenang.

“Sahabatku punya bayi yang alergi susu formula.”

Vivian berkedip bingung.

“Apa hubungannya denganku?”

Rayan menatap langsung ke arah dadanya, lalu kembali menatap wajah Vivian.

“Kamu masih punya ASI.”

Tubuh Vivian langsung membeku.

“Apa?”

“Bayinya butuh ibu susu.”

Vivian merasa seolah tidak mendengar dengan benar.

“Kamu… bercanda?”

“Tidak.”

Jawaban itu terlalu cepat.

Jantung Vivian berdetak keras.

“Kamu menyuruhku menyusui bayi orang lain?” suaranya bergetar.

Rayan tetap tenang.

“Hanya sementara.”

Vivian berdiri dengan cepat. Tangannya masih menggenggam baju bayi kecil itu.

“Anakku baru saja meninggal!” suaranya pecah.

Namun Rayan tidak menunjukkan ekspresi apa pun.

“Dan susumu masih ada,” katanya dingin. “Kalau tidak dipakai, itu hanya akan terbuang.”

Kalimat itu terasa seperti tamparan keras.

Air mata Vivian langsung jatuh.

“Bagaimana kamu bisa mengatakan itu…?”

Rayan berjalan mendekat.

“Aku tidak mengatakan ini tanpa alasan.”

Tatapannya berubah tajam.

“Perusahaanku hampir bangkrut.”

Vivian menatapnya dengan napas tersendat.

“Apa hubungannya dengan… aku menyusui bayi itu?”

Rayan menatapnya beberapa detik.

Lalu ia mengucapkan kalimat yang membuat dunia Vivian runtuh untuk kedua kalinya.

“Sahabatku akan menyuntikkan dana besar ke perusahaanku.”

Vivian merasa kakinya lemas.

“Dan sebagai gantinya,” lanjut Rayah tanpa emosi, “kamu akan menjadi ibu susu bayinya.”

Baju bayi kecil itu jatuh dari tangan Vivian.

Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia merasa dirinya tidak lebih dari sebuah barang.

“Aku rasa kau tidak punya banyak waktu untuk berpikir, karena ibumu juga butuh uang untuk kemoterapi,” kata Rayan lagi dengan suara datar.

Kalimat itu jatuh seperti batu besar yang menghantam dada Vivian.

Vivian mendongkak perlahan. Matanya membesar, seolah tidak percaya bahwa kata-kata itu benar-benar keluar dari mulut suaminya sendiri.

“Mas Rayan…” suaranya serak, hampir seperti bisikan. “Kamu… memakai ibuku untuk menekanku?”

Rayan tidak menjawab. Tatapannya tetap dingin, bahkan nyaris tidak menunjukkan emosi sedikit pun.

Vivian merasa tenggorokannya tercekat.

Ia menatap pria di depannya itu lama. Pria yang dulu ia pilih menjadi suaminya. Pria yang dulu berjanji akan melindunginya.

Namun sekarang… pria yang sama sedang memaksanya menjual sesuatu yang paling pribadi dari tubuhnya.

Perlahan tangan Vivian bergerak ke dadanya.

Dadanya masih terasa berat.

Air susu itu masih ada.

Tubuhnya masih percaya bahwa bayinya masih hidup… bahwa sebentar lagi akan ada tangisan kecil yang meminta untuk disusui.

Namun bayi itu sudah tidak ada.

Dan sekarang…

Suaminya ingin susu itu diberikan kepada anak orang lain.

Air mata Vivian akhirnya jatuh tanpa bisa ditahan.

“Anakku baru saja meninggal…” bisiknya lirih. “Bahkan belum sebulan…”

Rayan tetap diam.

Tidak ada simpati. Tidak ada penyesalan.

Vivian tertawa kecil, tetapi tawanya terdengar lebih seperti tangisan yang pecah.

“Jadi sekarang… aku harus menyusui bayi orang lain demi menyelamatkan perusahaanmu?”

Rayan menatapnya datar.

“Anggap saja begitu.”

Jawaban singkat itu terasa seperti pisau yang ditarik perlahan di luka yang belum sembuh.

Vivian menutup matanya. Air mata terus mengalir.

Dalam benaknya tiba-tiba muncul wajah kecil bayinya.

Tangan mungil itu.

Tangisan lembutnya.

Cara bayi itu menggenggam jarinya dengan kuat seolah takut ditinggalkan.

Dada Vivian terasa sesak.

“Maafkan Mama…” bisiknya pelan, seolah berbicara kepada anaknya yang sudah tidak ada.

Namun suara langkah Rayan kembali menariknya pada kenyataan yang lebih menyakitkan.

“Besok,” kata Rayan tegas.

Vivian membuka matanya perlahan.

“Kita temui sahabatku itu.”

Tidak ada ruang untuk menolak.

Tidak ada ruang untuk memohon.

Vivian berdiri di sana seperti seseorang yang baru saja kehilangan segalanya.

Anaknya sudah pergi.

Dan sekarang harga dirinya pun akan diambil.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Air Susuku, Harga Kebangkrutan Suamiku   Bab 6

    Kepala Arsen terasa seperti ingin meledak. Ia baru saja keluar dari kamar mandi dengan wajah tegang. Rambutnya masih sedikit basah karena air yang tadi ia guyurkan ke wajahnya berkali-kali. Hampir tiga puluh menit ia mengurung diri di sana. Mencoba menenangkan pikirannya. Mencoba mengusir rasa frustasi yang sejak tadi menyesakkan dadanya. Namun tetap saja tidak berhasil. Bukannya mereda, perasaan itu justru semakin membuatnya gelisah. Arsen mengusap wajahnya kasar. Dadanya naik turun menahan emosi yang sulit ia kendalikan. Untuk menenangkan kepalanya yang terasa hampir pecah, Arsen memutuskan pergi melihat putrinya. Ia berjalan menuju kamar Cila. Biasanya setiap malam ia datang ke sana untuk menenangkan diri. Mendengar napas kecil putrinya, atau bahkan tangisannya yang sering membuat rumah ini terasa hidup. Namun malam ini berbeda. Aneh. Tidak ada tangisan. Rumah justru terasa lebih tenang dari biasanya. Arsen mengerutkan kening, rasa penasaran muncul d

  • Air Susuku, Harga Kebangkrutan Suamiku   Bab 5

    Karla keluar dari kamar mandi dengan tubuh masih terbalut handuk putih tebal. Rambutnya yang basah menjuntai di bahunya, beberapa tetes air masih menetes di kulitnya. Arsen yang sejak tadi berdiri di dekat jendela menoleh. Tatapannya tertuju pada istrinya. Sudah hampir tiga bulan berlalu sejak kelahiran Cila. Dan selama itu pula Arsen tidak pernah benar-benar mendapatkan kembali kedekatan sebagai seorang suami. Ia sudah beberapa kali mencoba mendekati Karla. Bahkan dengan sabar meminta Karla untuk meluangkan waktu baginya. Namun setiap kali pula Karla selalu menolak. Selalu ada alasan. Lelah. Tak ingin tubuhnya berubah. Atau sekadar mengatakan ia sedang tidak ingin diganggu. Arsen menarik napas pelan, mencoba menahan rasa kesal yang mulai muncul di dalam dadanya. Sementara Karla tampak sama sekali tidak memikirkan hal itu. Ia berjalan santai menuju meja rias, lalu mulai mengeringkan rambutnya dengan handuk. Seolah tidak menyadari tatapan Arsen yang masih t

  • Air Susuku, Harga Kebangkrutan Suamiku   Bab 4

    Pintu depan terbuka. Seorang wanita melangkah masuk dengan langkah percaya diri. Namun langkahnya langsung terhenti begitu matanya menangkap sosok seorang wanita asing yang berdiri di ruang tamu. Alisnya langsung berkerut. Pandangan tajam itu bergerak dari kepala hingga kaki Vivian, seolah sedang menilai siapa sebenarnya wanita yang berada di rumahnya. Tidak jauh dari sana, Arsen masih berdiri dengan tenang. Wanita itu menoleh padanya dengan ekspresi penuh tanya. “Arsen…,” katanya pelan, namun nada suaranya jelas menunjukkan ketidaknyamanan. Matanya kembali melirik ke arah Vivian. “Dia siapa?” “Namanya Vivian,” kata Arsen akhirnya, memecah keheningan yang sejak tadi terasa menekan. “Dia istri Rayan, sahabatku. Dia di sini… untuk menjadi ibu susu bagi putri kita.” Karla terdiam sesaat. Namun hanya sekejap. Detik berikutnya, senyum langsung terbit di wajahnya. Matanya bahkan terlihat berbinar, seolah baru saja mendengar kabar yang sangat ia tunggu. Sementara

  • Air Susuku, Harga Kebangkrutan Suamiku   Bab 3

    Arsen masih menatap putrinya yang tertidur di pelukan Vivian. Wajah kecil itu terlihat begitu damai, seolah tidak pernah menangis berjam-jam sebelumnya. Rasa lega jelas terlihat di mata pria itu. Namun ketenangan di ruangan itu kembali pecah ketika Rayan berbicara lagi. “Kalau begitu, ada satu hal lagi.” Arsen mengalihkan pandangannya. “Apa?” Rayan melirik sekilas ke arah Vivian sebelum kembali menatap sahabatnya. “Bayi tidak mungkin hanya menyusu sekali sehari.” Vivian langsung menegang. Ia sudah bisa menebak ke mana arah pembicaraan ini.Tapi apakah mungkin Rayan sendiri yang mengatakan hal itu? “Iya, itu benar. Jadi?” tanya Arsen. Rayan menjawab dengan santai, seolah ini bukan hal besar. “Vivian akan tinggal di sini sementara.” Kalimat itu membuat Vivian langsung mendongak. “Apa?” Suara itu keluar sebelum ia sempat menahannya. Rayan menatapnya dingin. “Ini untuk bayi itu.” Vivian menggenggam selimut bayi dengan tangan gemetar. “Kamu tidak p

  • Air Susuku, Harga Kebangkrutan Suamiku   Bab 2

    Perjalanan itu terasa terlalu panjang. Vivian duduk di kursi penumpang mobil dengan tubuh kaku. Tangannya saling menggenggam di pangkuannya, sementara pandangannya kosong menatap jalan di depan. Sejak mereka meninggalkan rumah, tidak ada satu kata pun yang keluar dari mulutnya. Di sampingnya, Rayan menyetir dengan tenang seperti biasanya, seolah hari ini hanyalah hari biasa. Padahal bagi Vivian, hari ini terasa seperti langkah menuju sesuatu yang menghancurkan harga dirinya. Mobil hitam itu akhirnya berhenti di depan sebuah rumah besar yang berdiri megah di kawasan elit kota. Gerbangnya tinggi. Halaman rumahnya luas. Rumah itu jauh lebih mewah daripada rumah mereka. Vivian menatap bangunan itu dengan perasaan aneh. “Turun,” kata Rayan singkat. Vivian tidak langsung bergerak. Dadanya tiba-tiba terasa sesak. Ia tahu begitu keluar dari mobil ini… hidupnya mungkin tidak akan pernah sama lagi. “Vivian.” Nada suara Rayan terdengar tidak sabar. Vivian akhirn

  • Air Susuku, Harga Kebangkrutan Suamiku   Bab 1

    Lima Bulan yang Terlalu Singkat Rumah itu terlalu sunyi. Vivian duduk di tepi ranjang sambil memeluk baju bayi kecil berwarna biru yang sudah lama tidak dipakai. Tangannya gemetar, tetapi ia tidak mampu melepaskannya. Lima bulan. Hanya lima bulan Tuhan memberinya waktu untuk menjadi seorang ibu. Air matanya jatuh lagi tanpa suara. Sejak pagi ia sudah menangis berkali-kali sampai matanya terasa perih. Namun setiap kali mencoba berhenti, ingatan tentang anaknya kembali datang seperti gelombang yang menabrak dada. Lemari bayi di sudut kamar masih terbuka. Botol susu, selimut kecil, mainan berbunyi lembut—semuanya masih tersusun rapi seperti menunggu pemiliknya kembali. Namun bayi itu tidak akan pernah kembali. Vivian menunduk ketika rasa nyeri di dadanya kembali muncul. Bukan hanya karena hatinya yang hancur. Dadanya terasa penuh. Air susu masih terus keluar. Tubuhnya belum mengerti bahwa anak yang seharusnya meminumnya sudah tidak ada. Vivian memejamkan mata

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status