Partager

Bab 3

Auteur: Ipak Munthe
last update Date de publication: 2026-03-10 12:03:19

Arsen masih menatap putrinya yang tertidur di pelukan Vivian.

Wajah kecil itu terlihat begitu damai, seolah tidak pernah menangis berjam-jam sebelumnya.

Rasa lega jelas terlihat di mata pria itu.

Namun ketenangan di ruangan itu kembali pecah ketika Rayan berbicara lagi.

“Kalau begitu, ada satu hal lagi.”

Arsen mengalihkan pandangannya.

“Apa?”

Rayan melirik sekilas ke arah Vivian sebelum kembali menatap sahabatnya.

“Bayi tidak mungkin hanya menyusu sekali sehari.”

Vivian langsung menegang.

Ia sudah bisa menebak ke mana arah pembicaraan ini.

Tapi apakah mungkin Rayan sendiri yang mengatakan hal itu?

“Iya, itu benar. Jadi?” tanya Arsen.

Rayan menjawab dengan santai, seolah ini bukan hal besar.

“Vivian akan tinggal di sini sementara.”

Kalimat itu membuat Vivian langsung mendongak.

“Apa?”

Suara itu keluar sebelum ia sempat menahannya.

Rayan menatapnya dingin.

“Ini untuk bayi itu.”

Vivian menggenggam selimut bayi dengan tangan gemetar.

“Kamu tidak pernah mengatakan itu sebelumnya,” katanya pelan.

Namun Rayan tidak tampak peduli.

“Sekarang aku mengatakannya.”

Arsen tampak sedikit terkejut dengan usulan itu.

“Rayan… apa itu tidak terlalu—”

“Putrimu butuh ASI,” potong Rayan cepat.

Ia menatap sahabatnya dengan serius.

“Kalau Vivian harus bolak-balik setiap beberapa jam, itu tidak praktis.”

Ruangan itu tiba-tiba terasa sunyi.

Vivian menatap pria yang telah menjadi suaminya selama bertahun-tahun itu.

Dadanya terasa sesak.

"Tapi aku bisa mengantarkan asi setiap pagi, bayi ini bisa minum asi dengan bantuan botol susu," kata Vivian yang masih bisa berpikir jernih.

"Tidak, bayi ku tidak mau minum dari botol," jawab Rayan.

"Maka dari itu Vivian akan tinggal disini!" tegas Rayan.

“Rayan…” suaranya bergetar. “Aku punya rumah.”

“Rumah itu tidak akan ke mana-mana.”

Jawaban Rayan begitu dingin.

Vivian hampir tidak mengenali pria di depannya.

“Dan ibumu,” lanjut Rayan dengan nada rendah, “butuh uang untuk kemoterapi.”

Kalimat itu kembali menghantamnya.

Seolah mengingatkan bahwa ia tidak punya ruang untuk menolak.

Vivian menundukkan kepalanya perlahan.

Ia tidak ingin Arsen melihat betapa rapuhnya dirinya saat ini.

Bayi kecil di pelukannya bergerak sedikit, tetapi tetap tertidur.

Tangannya yang kecil masih menggenggam baju Vivian.

Hati Vivian terasa remuk.

Anaknya dulu juga sering menggenggam bajunya seperti ini ketika tidur.

Arsen memperhatikan Vivian beberapa detik.

Wajah wanita itu pucat.

Matanya merah.

Namun ia tetap memeluk bayi itu dengan hati-hati, seolah bayi itu adalah sesuatu yang sangat berharga.

Akhirnya Arsen menghela napas pelan.

“Kalau… Vivian setuju,” katanya hati-hati, “dia bisa tinggal di sini. Aku akan memastikan dia diperlakukan dengan baik.”

Vivian tidak menjawab.

Beberapa detik berlalu.

Lalu perlahan ia mengangguk kecil.

Gerakan itu begitu pelan… tetapi cukup jelas.

Karena ia tahu…

ia tidak punya pilihan lain.

Rayan tersenyum tipis, puas.

“Bagus.”

Vivian menatap bayi kecil yang masih tertidur di pelukannya.

Air matanya hampir jatuh lagi.

Hari ini ia datang ke rumah ini hanya untuk menyusui bayi itu sekali.

Namun sekarang…

ia bahkan tidak tahu kapan bisa pulang.

Vivian benar-benar merasa bahwa dirinya telah ditinggalkan oleh suaminya sendiri.

“Vivian, aku akan menjemputmu nanti,” kata Rayan.

Vivian menatapnya dengan bingung.

“Nanti?”

Rayan menatapnya sekilas sebelum menjawab dengan nada datar, seolah hal itu bukan sesuatu yang perlu diperdebatkan.

“Setelah bayi itu tidak lagi membutuhkan ASI.”

Kalimat itu membuat dada Vivian terasa seperti diremas.

Air matanya menetes begitu saja tanpa bisa ia tahan.

Dulu… Rayan adalah pria yang bahkan tidak tahan berpisah dengannya terlalu lama. Pria yang selalu ingin ia berada di sisinya.

Namun sekarang…

Pria yang sama justru meninggalkannya di rumah orang lain dengan begitu mudah.

Seolah Vivian bukan lagi istrinya.

Seolah ia hanya sebuah barang… yang bisa ditaruh sementara, lalu diambil kembali ketika sudah tidak dibutuhkan lagi.

Setelah mobil Rayan benar-benar menghilang di balik gerbang besar, halaman rumah itu kembali sunyi.

Sekarang… hanya ada Arsen dan Vivian yang masih berdiri di sana.

Tidak ada yang berbicara.

Keheningan itu terasa aneh… bahkan seperti mencengkam.

Vivian menundukkan kepalanya, kedua tangannya saling menggenggam di depan tubuhnya. Ia tidak berani menatap pria di depannya terlalu lama.

Baru beberapa saat yang lalu mereka bahkan tidak saling mengenal.

Namun sekarang… ia harus tinggal di rumah pria itu.

Sebagai ibu susu bagi bayinya.

Angin sore berhembus pelan, membuat rambut Vivian sedikit bergerak. Tetapi dingin yang ia rasakan bukan berasal dari angin.

Melainkan dari perasaan asing yang menyesakkan dadanya.

Rumah itu terlalu besar.

Terlalu mewah.

Dan terlalu bukan tempatnya.

Vivian berdiri kaku, seolah tidak tahu harus melakukan apa atau harus pergi ke mana.

Sementara Arsen berdiri beberapa langkah darinya, juga tampak sedikit canggung dengan situasi yang tiba-tiba ini.

Beberapa detik berlalu.

Lalu menit terasa berjalan lambat.

Vivian akhirnya menarik napas pelan, mencoba menenangkan dirinya sendiri.

Namun satu hal terasa sangat jelas di dalam hatinya.

Ia adalah orang asing di rumah ini.

Arsen berdiri tidak jauh dari Vivian.

Tatapannya tertuju pada wanita itu sejak tadi.

Vivian yang berdiri dengan kepala sedikit menunduk, tangan saling menggenggam, seolah berusaha mengecilkan dirinya di tempat yang begitu asing baginya.

Arsen mengangkat sedikit sudut alisnya.

Ada sesuatu dalam ekspresinya… seolah ia sedang memikirkan sesuatu.

Namun wajahnya tetap tenang.

Tidak ada yang bisa menebak apa yang sebenarnya ada di dalam pikirannya.

Hanya Arsen sendiri yang tahu.

Sementara Vivian sama sekali tidak menyadari tatapan pria itu.

Ia masih tenggelam dalam perasaannya sendiri.

Perasaan asing… dan kesepian… yang sejak tadi mencengkam dadanya.

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application
Commentaires (1)
goodnovel comment avatar
Elsa muthia Handini
sialan tuh suami yg g bertanggung jawab
VOIR TOUS LES COMMENTAIRES

Dernier chapitre

  • Air Susuku, Harga Kebangkrutan Suamiku   TAMAT

    Beberapa hari kemudian, Vivian akhirnya diperbolehkan pulang dari rumah sakit. Begitu tiba di rumah, suasana langsung berubah total. Rumah yang sebelumnya sudah ramai oleh tingkah Cila kini menjadi jauh lebih hidup. "Oeee... oeee..." Tangisan salah satu bayi terdengar dari lantai atas. Belum sempat suara itu reda, bayi satunya ikut menangis. "Oeee... oeee..." "Astaga," gumam Arsen sambil mengusap wajahnya. Baru saja ia berhasil menenangkan anak pertama, kini anak kedua ikut menangis. Dari ruang keluarga terdengar tawa Melati yang sedang menggendong salah satu cucunya. Sedangkan Ferdy sibuk mondar-mandir membawa botol susu seperti seorang ajudan pribadi. Rumah itu benar-benar dipenuhi suara bayi. Namun di tengah semua keramaian itu, ada satu orang yang mulai menunjukkan perubahan. Cila. Gadis kecil itu kini terlihat lebih lengket daripada biasanya kepada Vivian. Setiap kali Vivian menggendong salah satu bayi, Cila akan segera datang dan memeluk kaki atau le

  • Air Susuku, Harga Kebangkrutan Suamiku   Bab 172

    "Ibu," seru Cila yang digendong babysitter nya. Vivian pun menoleh lalu tersenyum, bocah berusia tiga tahun itu terlihat semakin lucu dan menggemaskan. Vivian langsung mengangkat tangannya, "Anak Ibu," Katanya. Lalu Babysitter langsung memberikan pada Vivian. Vivian langsung memeluknya erat, "Aku nggak mau tambah anak lagi, Mas. Aku sudah cukup punya tiga anak, aku nggak mau Cila kurang kasih sayang karena kita terlalu punya banyak anak," Ucap Vivian. Arsen yang sedang berdiri di samping ranjang langsung menoleh ke arah Vivian. Di pelukan Vivian, Cila tampak manja. Kedua tangan kecilnya melingkar di leher sang ibu, seolah takut kehilangan perhatian setelah kehadiran dua adik barunya. Vivian mengecup pipi putrinya berkali-kali. "Aku nggak mau tambah anak lagi, Mas. Aku sudah cukup punya tiga anak. Aku nggak mau Cila kurang kasih sayang karena kita terlalu punya banyak anak," ucap Vivian dengan tulus. Ya, ada rasa takut yang terlintas di hatinya. Ia takut tidak bisa mencint

  • Air Susuku, Harga Kebangkrutan Suamiku   Bab 171

    Beberapa bulan kemudian. "Oeee... oeee..." Suara tangisan bayi memenuhi ruang bersalin rumah sakit, memecah ketegangan yang sejak tadi menyelimuti suasana. Vivian akhirnya melahirkan bayi kembar. Keduanya laki-laki, sehat, dan sangat menggemaskan. Tangisan mereka terdengar nyaring seolah mengumumkan kedatangan mereka ke dunia. Rasa bahagia yang dirasakan Arsen sulit untuk diungkapkan dengan kata-kata. Dadanya terasa penuh oleh haru, syukur, dan kebahagiaan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Selama hidupnya, ia sudah melewati banyak hal—kehilangan, penyesalan, dan berbagai ujian yang nyaris merenggut kebahagiaannya. Namun di detik ini, saat mendengar tangisan kedua putranya, semua rasa lelah itu seolah terbayar lunas. Arsen berdiri di samping ranjang Vivian dengan mata yang memerah. Tangannya menggenggam erat tangan sang istri. "Vivian..." suaranya bergetar. Vivian yang masih lemah menoleh sambil tersenyum kecil. "Kita punya dua anak laki-laki, Mas," bisiknya. A

  • Air Susuku, Harga Kebangkrutan Suamiku   Bab 170

    Ponsel Nindy yang berada di tangan Sandy berdering. Sandy melirik layar ponsel itu dan tersenyum tipis saat melihat nama yang tertera. Nino. Tanpa ragu, ia langsung menerima panggilan tersebut. "Nindy! Sekarang aku bangkrut! Apa kamu sengaja menghancurkan aku? Apa kamu meminta Arsen untuk menghancurkan aku?!" bentak Nino begitu panggilan tersambung. "Aku yang menghancurkanmu." Sandy menyandarkan tubuhnya dengan santai. Di seberang sana, Nino terdiam sesaat. "Kau?!" geramnya ketika mengenali suara Sandy. "Sandy! Beraninya kau lancang!" Sandy terkekeh pelan. "Lancang?" ulangnya. "Aku cuma memastikan seseorang menerima akibat dari perbuatannya." "Jangan gila! Mana mungkin kau bisa menikahi majikanmu? Kau pasti mengincar hartanya!" Senyum di wajah Sandy perlahan menghilang. "Aku tidak seperti dirimu, Nino." Suara Sandy terdengar tenang, namun justru itulah yang membuatnya terasa lebih mengintimidasi. "Kau mendekati Nindy karena apa yang dimilikinya. Sedangkan

  • Air Susuku, Harga Kebangkrutan Suamiku   Bab 169

    Dreettt. Ponsel Vivian bergetar, membuatnya langsung menunduk dan melihat layar. Ia segera mengangkat panggilan itu. "Halo," jawab Vivian. "Vivian, aku Karla... aku ingin bicara. Temui aku di Restoran Bintang sekarang ya. Aku tunggu di sana, terima kasih," suara Karla terdengar dari seberang. "Eh—Karla?" Vivian sedikit terkejut. Namun panggilan itu sudah terputus. Vivian pun terpaku menatap layar ponselnya yang kembali gelap. Alisnya mengernyit, bingung. Kenapa Karla tiba-tiba mengajaknya bertemu? Ia menggigit bibir, ragu. Biasanya Karla selalu berbicara tajam padanya, tapi ini berbeda. Nada suaranya tadi juga terasa berbeda—lebih tenang, tapi justru membuat Vivian merasa tidak nyaman. Vivian menoleh ke arah koridor tempat Nindy dan Sandy pergi tadi. "Harusnya aku gimana, ya..." gumamnya pelan. Ia kembali menatap ponselnya, masih ragu antara pergi atau mengabaikannya. Tapi ada sesuatu di hatinya yang berkata bahwa ini bukan pertemuan biasa. *** Vivian tib

  • Air Susuku, Harga Kebangkrutan Suamiku   Bab 168

    Nindy pun segera menuju kantor Arsen. Ia bahkan langsung melangkah masuk tanpa menunggu izin. Begitu pintu terbuka, ia melihat Arsen tengah duduk di kursi kebesarannya. Pria itu langsung menghentikan pekerjaannya saat menyadari kehadiran Nindy, lalu mengalihkan seluruh perhatiannya pada sang adik. "Ada apa?" tanya Arsen. "Sebenarnya Sandy itu seperti apa?" tanya Nindy langsung. Arsen mengernyitkan kening, sedikit bingung dengan pertanyaan tiba-tiba itu. "Seperti apa?" ulang Arsen. "Arsen, dia itu orang seperti apa? Kenapa dia berubah?" tanya Nindy akhirnya. Arsen tersenyum miring mendengar pertanyaan kakaknya itu. "Kamu yang mau menikah dengannya, kenapa malah bertanya padaku?" tanya Arsen balik. "Tapi..." Nindy terdiam. Ucapan Arsen memang benar. Seharusnya dia yang lebih mengenal Sandy, bukan malah mencari jawaban dari orang lain. "Dia berubah, atau sebenarnya kamu yang tidak pernah benar-benar mengenalnya?" kata Arsen setengah mengejek. Nindy langsung terdia

  • Air Susuku, Harga Kebangkrutan Suamiku   Bab 49

    "Sayang, kan aku bilang aku tunggu di kamar." Arsen ingat sebelumnya Karla berbisik padanya, yang katanya ingin memuaskannya malam ini, tapi Arsen sudah tidak tertarik pada tawaran Karla karena sudah terlalu sering di tolak atau bahkan Karla tidak menyelesaikan permainan hingga selesai dan itu bu

  • Air Susuku, Harga Kebangkrutan Suamiku   Bab 7

    Arsen terbangun di ruang kerjanya saat hari sudah pagi, tubuhnya acak-acakan, semalaman ia berada di ruang kerjanya ditemani minuman. Kini seluruh tubuhnya terasa letih, ia pun berdiri lalu berjalan ke arah jendela sambil merenggangkan otot-ototnya yang kaku. Namun, tatapannya jatuh ke luar. Ma

  • Air Susuku, Harga Kebangkrutan Suamiku   Bab 6

    Kepala Arsen terasa seperti ingin meledak. Ia baru saja keluar dari kamar mandi dengan wajah tegang. Rambutnya masih sedikit basah karena air yang tadi ia guyurkan ke wajahnya berkali-kali. Hampir tiga puluh menit ia mengurung diri di sana. Mencoba menenangkan pikirannya. Mencoba mengusir r

  • Air Susuku, Harga Kebangkrutan Suamiku   Bab 5

    Karla keluar dari kamar mandi dengan tubuh masih terbalut handuk putih tebal. Rambutnya yang basah menjuntai di bahunya, beberapa tetes air masih menetes di kulitnya. Arsen yang sejak tadi berdiri di dekat jendela menoleh. Tatapannya tertuju pada istrinya. Sudah hampir tiga bulan berlalu seja

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status