Home / Young Adult / Ajari Aku Ciuman, Mas CEO / Bagian 114 - Degup Kencang Tiada Akhir

Share

Bagian 114 - Degup Kencang Tiada Akhir

Author: Daisy
last update Last Updated: 2025-11-08 11:43:45

Keduanya langsung duduk tegap dan wajah Biya pias.

"Biar saya ambil, kamu tenang saja," ucap Bagas sambil berdiri dan melangkah untuk mengambil ponsel milik Biya.

Akh!

Biya berteriak karena Bagas langsung berdiri tanpa memakai celananya. Tapi, si pria justru hanya tersenyum kecil dan menghiraukan nya saja. Terlihat jelas bagaimana kejantanan pria itu yang masih berdiri tegak seolah tidak pernah puas.

Benar saja, Bang Arsen- kontak yang tertulis disana sedang memanggil.

"Makasih, Mas," ucap Biya duduk tegap dan menerima ponselnya.

Baru saja Biya menggeser tombol hijau dan menerimanya, Bagas justru berjongkok dan melebarkan kaki Biya yang dihadiahi kebingungan darinya.

"Kamu di mana, Dek?" tanya Arsen diseberang sana.

Baru saja Biya akan menjawab, Bagas sudah lebih dulu menempelkan bibirnya di area sensitif milik Biya.

"Ah, A-aku ... a-aku cari angin, Bang."

Bagas menahan tawa kecil di antara paha Biya yang mulai gemetar. Lidahnya bergerak perlahan, menggoda kelopak yang masih b
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Ajari Aku Ciuman, Mas CEO   Bagian 172 - Happy Ending

    Bagi sebagian orang, pernikahan adalah peristiwa sakral. Bagi Bagas, itu adalah momen ketika dadanya terasa terlalu sempit untuk napasnya sendiri.Saat Biya melangkah masuk ke altar, senyum di wajahnya muncul secara otomatis dengan hangat. Ada sesuatu yang mengeras di tenggorokannya, sesuatu yang selama ini tak pernah ia izinkan muncul. Untuk pertama kalinya, Bagas menyadari betapa dekat jaraknya antara kebahagiaan dan air mata.Langkah Biya pelan, gaun putihnya jatuh sederhana, cahaya pagi menyelinap melalui jendela kapel, memantul lembut di rambutnya. Bagas berdiri tegak dengan jemari mengepal tanpa sadar saat Biya sampai di hadapannya dan mengangkat wajah.Mata mereka bertemu.“Beautiful,” ucapnya lirih yang membuat Biya tersenyum.Upacara berjalan dengan tenang. Saat Bagas mengucap janji, ia tidak mencoba terdengar sempurna. Pria itu memilih jujur.“Saya berjanji untuk tidak selalu benar,” katanya, menatap Biya tanpa berpaling. “Tapi saya akan selalu hadir. Saya berjanji memberi k

  • Ajari Aku Ciuman, Mas CEO   Bagian 171 - Danau Como, Italia

    Dua minggu kemudian.Matteo menyandarkan tubuhnya di balkon vila kecil di pinggiran Danau Como, Italia. Matahari sore menggantung rendah, memantulkan cahaya keemasan di permukaan air yang tenang. Tempat itu tidak ramai, tidak pula berlebihan, tenang, intim, dan terlalu indah untuk disebut kebetulan.“Bapak yakin Ms. Biya tidak akan curiga?” tanya Matteo sambil menyesap espresso-nya.Bagas berdiri di sampingnya, jas tipis berwarna gelap melekat rapi di tubuhnya. “Dia pikir ini hanya makan malam biasa.”Matteo mengangguk pelan, lalu melirik jam di pergelangan tangannya. “Sepuluh menit lagi Ms. Biya sampai. Saya sudah atur kapal kecilnya berlabuh di dermaga pribadi. Tidak ada tamu lain.”Bagas tidak menjawab. Pandangannya terpaku pada danau yang berkilau, tapi jelas pikirannya tidak sedang di sana. Ada ketegangan tipis di bahunya karena hari ini, ia berniat untuk melamar Biya dengan layak dan pantas, tidak sepertinya waktu itu di pantry pagi hari.Bagas terkekeh dengan aksinya terlalu im

  • Ajari Aku Ciuman, Mas CEO   Bagian 170 - PillowTalk

    Biya membuka mata perlahan. Tatapannya langsung menuju Bagas, menatap dengan keterkejutan yang membuat Bagas tersenyum.“Aku nggak cemburu. Ngapain juga cemburu? Ke siapa juga lagian,” ucapnya lirih.Bagas menghentikan gerakan tangannya sesaat, lalu melanjutkan mengelus rambut Biya dengan ritme yang lebih lambat. Tidak ada respon dari pria itu yang membuat Biya kesal.“Saya akan anggap kamu sudah jujur,” desah Bagas.“Aku serius,” suara itu mulai meninggi dan bukannya menakutkan justru menggemaskan.Bagas akhirnya mengangkat selimut sedikit lalu turut berbaring di samping perempuannya. Menarik tubuh mungil itu, menyelipkan lengan kanan di bawah kepala Biya dan memeluk erat. Biya terdiam sesaat ketika tubuhnya sudah berada dalam dekapan Bagas.“Aku beneran nggak cemburu,” ulangnya lebih pelan, kali ini nyaris berbisik. “Kalau kamu dekat sama Valerie secara profesional, itu bukan urusanku.”Bagas menunduk sedikit, dagunya menyentuh rambut Biya. “Justru itu yang ingin saya pastikan,” kat

  • Ajari Aku Ciuman, Mas CEO   Bagian 169 - Pembicaraan Tenang, Meski Masih Membenci

    Total seminggu hari, Biya tidak mau bicara dengan Arsen dan keduanya terlibat perang dingin. Dan, meski Arsen masih belum menerima Bagas secara utuh, pria itu tidak masalah untuk bertemu terkait dengan pembahasan pindah.“Biya memang tergolong masih muda dan adikmu. Tapi, bukan berarti segala bentuk keputusan hidupnya harus diawasi oleh kamu, Arsen,” ucap Bagas sambil memperhatikan Arsen yang sedang mengambil air- untuk dirinya sendiri.“Kalau bukan aku, siapa lagi,” jawab Arsen lalu menoleh pada Bagas yang masih setia menatapnya, “you? Hah orang yang sudah nyakitin Biya? Seriously?”“Saya tidak menyangkal itu,” potong Bagas tenang. “Saya memang pernah menyakiti Biya. Dan saya tidak datang ke sini untuk menghapus fakta itu.”Arsen berhenti menuang air. Gelasnya sudah penuh sampai hampir meluap, tapi ia tidak sadar. “Terus apa?”Bagas berdiri menyandar di meja dapur, tidak defensif, tidak pula merendah. “Saya datang untuk memastikan satu hal bahwa keputusan tentang kepindahan dan menet

  • Ajari Aku Ciuman, Mas CEO   Bagian 168 - Pindah ke Belanda

    Bagas tidak menunggu Arsen menjawab, “itu kenyataan yang sama-sama tidak nyaman. Buat kamu, buat Biya, bahkan buat saya. Tapi kebencian kamu ke saya tidak akan mengubah fakta bahwa Biya tetap berhak memilih hidupnya sendiri.”Arsen tertawa pendek, pahit. “Kamu bicara soal hak, seolah dunia ini adil sejak awal.”“Tidak,” sahut Bagas cepat. “Saya bicara soal tanggung jawab. Kamu kakaknya. Tugas kamu melindungi, bukan mengendalikan.”Arsen mengepalkan tangan. Rahangnya mengeras. “Dan kamu? Apa tanggung jawabmu?”Bagas menghela napas, kali ini lebih dalam. “Menepati apa yang saya katakan. Menjaga Biya tetap punya ruang untuk menjadi dirinya sendiri bahkan kalau suatu hari itu berarti dia memilih pergi dari saya.”Kata-kata itu membuat Arsen terdiam lebih lama dari sebelumnya. Dari balik pintu, Biya merasakan dadanya mengencang. Ada bagian dari dirinya yang ingin keluar sekarang juga, tapi kakinya seperti tertanam di lantai.“Kamu sadar,” ujar Arsen akhirnya, suaranya lebih rendah, “kalau k

  • Ajari Aku Ciuman, Mas CEO   Bagian 167 - Menghormati, bukan Melindungi

    "Ahh ah... ah .. ah," Biya tetus mendesah selaras dengan dorongan tubuhnya yang kadang menyentuh cermin.Sudah tidak terhitung berapa lama mereka berganti posisi bercinta. hingga saat ini di jam yang sudah menunjukkan pukul 1 dini hari, keduanya dengan kondisi telanjang, keringat membuat kulit bersinar dan erangan yang tidak berhenti mengisi apartemen. Mereka bercinta di depan cermin besar milik Biya di ruang tamu denga bagas terus bergerak liar dari belakang.“Nghh, so tight,” geram Bagas yang meski sudah berulang kali melakukan, milik Biya masih sangat ketat.Biya berdiri membungkuk sedikit, kedua telapak tangannya menempel di kaca dingin, meninggalkan jejak sidik jari berkabut setiap kali dorongan Bagas membuat tubuhnya terdorong ke depan. Rambutnya yang basah menempel di pipi dan leher, beberapa helai menutupi mata, tapi ia tetap memaksa matanya terbuka, ingin melihat segalanya.Bagas di belakangnya seperti binatang dengan tubuhnya yang besar, otot-otot punggung dan lengannya mene

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status