登入"Tolong, Rin. Setuju saja dengan saranku. Bapak Becak dan Bu Janda juga butuh istirahat."Aku menatap dua pekerjaku yang masih setia mendengarkan perdebatanku dengan Mahardika. "Bagaimana, Pak, Bu?" tanyaku. "Kalau aku menutup warung sampai waktu yang tidak ditentukan, selama itu juga kalian tidak mendapatkan gaji kan?""Kami ikut Mbak Rinjani saja," jawab Bapak Becak. "Rinjani! Sekali saja, kamu berfikir logis. Penghasilanmu dari warung tidak akan bisa membuat nyawamu kembali, Rinjani!" bentak Mahardika. "Kamu orang yang paling tahu seberapa kejamnya Doni. Dia tega menghajarmu, dan tak ada sedikit pun keinginan untuk mengantarkanmu ke rumah sakit."Aku tertegun, mendengar bentakan dari Mahardika. Seingatku, dia tidak pernah meninggikan suaranya di depanku. "Aku... aku hanya takut semuanya hancur, Pak Dika. Warung ini kuperjuangkan dari nol. Dari kos-kosan, mendatangi satu persatu pelanggan," bisikku melemah, tangisku semakin pecah. Kepalaku tertunduk dalam, menyembunyikan wajah di
Aku meloncat turun dari mobil bahkan sebelum mesinnya sepenuhnya mati. Langkah kakiku terpaku di atas aspal halaman. Napasku mendadak tercekat di tenggorokan. Warung makanku hancur lebur. Pecahan kaca jendela berserakan berkilau di bawah terik matahari siang, berpadu dengan kursi-kursi kayu yang patah dan meja kasir yang terbalik. Plang nama warung menggantung mengenaskan dengan satu sisi tali yang hampir putus. "Bu Janda! Bapak Becak!" teriakku histeris, berlari menerobos reruntuhan pintu warung. Dari arah dapur belakang, Bu Janda muncul dengan langkah tertatih. Sudut bibirnya membiru, dan kain kerudungnya nampak kotor terkena debu. Di belakangnya, Bapak Becak menyusul dengan tangan kiri yang dibebal kain perca berlumuran darah kering, meringis menahan sakit sambil memegangi rusuknya. "Ya Allah, Mbak Rinjani... Alhamdulillah, akhirnya Mbak Rinjani datang," lirih Bu Janda gemetar, langsung memeluk tubuhku erat-erat. Air matanya tumpah seketika di bahuku. "Ibu, ini kenapa? Siapa
"Wah, wah... lihat ini! Sugar dady-mu ternyata emosian juga ya, An!" cemooh Doni dengan suara sengaja dibesarkan agar menarik perhatian orang-orang di sekitar. "Kenapa? tersinggung karena aku bilang kalau wanitamu itu bekas pakai? Asal kamu tahu saja, bos besar, dia itu aslinya—"Bugh!Suara hantaman tinju yang keras memecah keheningan pagi, menghentikan kalimat—yang aku yakini kotor—yang hendak meluncur dari bibir Doni. Mahardika tidak lagi menahan diri. Kepalan tangan pria kepala empat itu mendarat telak di rahang Doni, membuat tubuh mantan suamiku tersebut terhuyung ke belakang dan tersungkur jatuh ke atas aspal jalanan. "Jangan pernah berani menyebut namanya dengan mulut kotormu itu!" desis Mahardika tajam, suaranya bergetar menahan amarah yang meledak-ledak. Pria itu melangkah maju, siap melayangkan pukulan kedua, sementara Doni meringis kesakitan sambil memegangi pipinya. Suasana pagi di depang warung mendadak riuh oleh beberapa orang yang lewat dan berhenti untuk menonton. Bu
Layar ponsel mendadak memamerkan sederetan pesan dari nomor tak dikenal. "Wah, wah, wah... ternyata apa yang dikatakan oleh ibuku ternyata benar ya! Hidupmu jadi enak bukan karena kesuksesan warung makanmu. Tapi karena kamu berhasil menguras harta bos travel itu.""Pakai dukun di mana kamu, An? Bagilah infonya! Jangan disimpan sendiri. Yang ingin kaya dengan cara instan kan bukan cuma kamu saja. Siapa tahu aku bisa menggaet adik perempun bos travel itu. Kan jadi saudara ipar kita! Memangnya kamu tidak merindukanku? Kalau iparan, kita jadi mudah bertemu.""Besok aku mampir ke warung ya. Beritahu aku siapa dukunnya. Pelet apa yang kamu gunakan. Tapi janji, kamu jangan melaporkanku ke polisi. Aku mampir cuma butuh tahu nama dukunnya saja kok."Aku hanya sanggup tertawa miris membaca semua pesan itu. Setelah sekian lama, dan aku yakin dia berhasil mendapatkan hati anak si pemilik bengkel—adik Maya—tapi kenapa dia masih saja perduli dengan kehidupan pribadiku?Sebagai penyintas yang pern
"Sekarang kamu mau ke mana? Urusanku sudah selesai. Sekarang waktunya untukmu. Pilihlah, kemana pun yang kamu mau, selagi bisa dijangkau, akan kuturuti," ucapnya penuh percaya diri. "Kemana ya, Pak. Saya nggak punya tujuan," ucapku jujur. Aku sudah lama sekali tidak pernahh mendatangi pusat perbelanjaan. Dulu, saat menjadi istrinya Doni, aku tidak diizinkan belanja baju di mall. Doni selalu mengingatkanku; "Semua baju yang kita beli nanti harus dipertanggung jawabkan di akhirat, An. Jadi janganlah kamu menumpuk pakaian di almari. Secukupnya saja. Jika ada yang tak layak, baru beli, dengan jumlah yang sama seperti yang tak layak pakai."Namun, jika kupikir-pikir lagi, hampir setiap minggu Doni selalu pulang dengan baju baru. Entah itu kemeja kerja, atau kaos untuk sehari-hari. "Ah, masa kegelapan itu, memang tak layak untuk diingat lagi," batinku.Mahardika sepertinya menyadari keheningan diriku. Pria itu menghentikan langkah, menoleh ke arahku dengan tatapan yang lembut. "Kalau begi
"Halo, Dik? di mana? ada kabar baru ini dari anak-anak. Bajingan itu berulah lagi. Rumah ibunya Rinjani diiklankan di market place, tapi nomor yang terpasang sebagai nara hubung nomornya si bajingan itu!" cicit Pak Surya dari ujung panggilan. "Kamu jual rumah ibumu, Rin?" tanya Mahardika, meminggirkan mobilnya ke salah satu minimarket yang sepertinya buka dua puluh empat jam. "Kamu sama Rinjani, Dik?" sahur Pak Surya dari ujung panggilan. "Malam, Pak," sapaku. "Kamu memang berniat menjual rumah ibumu, Rin?" tanya Pak Surya. "Enggak, Pak. Terakhir kali datang ke desa juga saya nggak ada ngomong apa-apa kok. Lagian, rumah ibuku itu dekat dengan sawah, di belakang rumah orang, kalau dijual paling harganya dibawah sepuluh juta, Pak," jawabku tegas. "Jadi sudah pasti kalau ini scam yang coba dilakukan oleh Doni itu ya? kamu mengizinkan aku untuk mengambil tindakan atau gimana?" tanya Pak Surya. Saat aku melihat ke arah ke Mahardika, laki-laki itu juga nampak sedang menungguku memberi







