LOGINBersuamikan lelaki manipulatif dan pelaku KDRT,Relung Rinjani mengalami trauma hebat. Selama ini dia bertahan karena yakin suaminya mencintai dengan tulus—meskipun dengan cara yang berbeda. Peristiwa di hari itu menjadi titik balik hidupnya. Rinjani sadar bahwa cinta suaminya adalah kesemuan belaka. Dia memilih untuk bercerai. Namun, suaminya tak melepasnya begitu saja. Rinjani mendapatkan kekerasan, teror di tempat kerja, dan terusir dari rumahnya sendiri. Kini, dia terbaring di ranjang rumah sakit—sendirian. Mahardika, duda premium—yang pernah menjadi pelanggan Rinjani—iba melihatnya. Dia memberikan tumpangan dan juga pekerjaan. Seiring waktu berjalan, benih-benih cinta itu tumbuh dihati Mahardika. Namun, cintanya tak disambut dengan baik. Rinjani dan segudang traumanya telah mengunci hatinya rapat-rapat. Dia bahkan mulai menjaga jarak dan bersiap untuk pergi dari kehidupan Mahardika. Mahardika tak diam saja, dia memperjuangkan cintanya. Mampukah lelaki itu meyakinkan Rinjani jika cinta yang tulus mampu menyembuhkan semua luka dan traumanya?
View MoreAku menatap wajah suamiku yang memerah. Kata-katanya tentang syariat, keadilan dan kebaikan berhamburan seperti sampah di udara. Aku tahu, jika aku terus mendengarkan celoteh liciknya, hatiku yang bodoh ini bisa saja terdorong untuk luluh dan percaya lagi. "Aku mau cerai, Mas."Mata Doni membelalak, "Apa kamu bilang?!" "AKU MAU CERAI!" teriakku tepat di depan wajahnya. "Aku sudah muak dengan semua kegilaan ini. Hiduplah berdua dengan pujaan hatimu itu!"BUK!Pukulan keras mendarat di rahangku, melemparkan tubuhku hingga tersungkur ke lantai. Belum sempat aku memulihkan napas, Doni menjambak rambutku dengan kasar, memaksa kepalaku mendongak. PLAK!"Cerai?!" bentaknya seraya menampar wajahku lagi. "Dasar perempuan tak tahu diri. Perempuan tak tahu terima kasih. Sudah merasa hebat kamu sampai berani meminta cerai dariku?""Aku mau cerai!" ulangku. Doni menendang rusukku, membuatku terbatuk-batuk menahan sesak."Kenapa? karena kamu sudah berhasil menjual diri kepada laki-laki hidung b
"Kamu sewa mobil untuk apa, Mas?" tanyaku. "Dan perempuan ini siapa ya? sepertinya aku belum pernah melihatnya.""Oh, ini Dewi. Sepupu jauh. Anaknya saudara ibu. Kalian memang belum pernah bertemu, tapi Dewi sering main ke rumah ibu," jelas suamiku. "Dewi," kata perempuan itu, menyodorkan tangan, memperkenalkan diri. "Rinjani.""Kami sewa mobil untuk perjalanan luar kota minggu depan, Mbak Rinjani. Ada salah satu anggota keluarga yang ada di Yogjakarta melangsungkan pernikahan," jelas Dewi, tiba-tiba saja menjadi juru bicara suamiku. "Oh." Aku tidak bertanya lebih. Sudah biasa jika aku tidak tahu apapun tentang acara keluarga besar suamiku. Aku sudah kebal dianggap tak ada."Kamu sendiri kenapa di sini, An? kamu tidak kerja?" selidik Doni."Ini kerja, Mas. Kebetulan bosnya beli unit dariku," jawabku. "Wah, cair ini. Bulan depan masih bisa kerja berarti ya? nggak jadi dipecat," kata Doni sumringah. "Alhamdulillah.""Aku bisa nabung lagi berarti. Kamu semangat kerjanya. Usahakan ja
Dengan gerakan kalap, tangan kanannya menyambar vas keramik kecil yang tergantung di pajangan dinding tepat di samping kami. Tanpa ragu, dia menghentakkannya ke pinggiran lemari kayu. PRANG!Bunyi keramik pecah beradu di udara. Sebagian vas itu hancur berhamburan ke lantai, sementara sebagian lagi yang menyisakan pecahan tajam berpola bergerigi masih berada dalam cengkeraman jemarinya. Sebelum aku sempat menjerit, Doni mencengkeram rahangku dengan tangan kirinya, menekan kepalaku, membuatnya makin terdesak ke tembok. Lalu, dengan deru napasnya yang memburu, dia memajukan pecahan vas berujung runcing itu—menempelkannya tepat di atas urat nadi leherku. Dingin. Ujung keramik tajam itu menusuk kulit leherku. Rasa perih itu kini mulai terasa dan setetes cairan hangat mulai merembes. "Berani kamu meninggikan suaramu padaku, hah?!" napas Doni memburu tepat di depan wajahku. Matanya merah, melotot seperti hendak melompat keluar. "Berani kamu?! Cari mati kamu ya?!"Jantungku berdegup tak k
"Tapi, mana mungkin suamiku sejahat itu? bukankah dia sendiri yang mengatakan bulan lalu, kalau dia masih sanggup menafkahiku meskipun aku tidak lagi berpenghasilan?"Sepanjang jalan pulang, aku bermonolog sendiri. Perdebatan di otakku semakin tak karuan. Sebagian lain meyakini kalau suamiku memang tidak berniat menafkahiku dengan layak, sebagian lain meyakini kalau mas Doni melakukan ini semua atas perintah ibunya."Bener. Mas Doni kan anak yang patuh. Pasti ibu yang meminta dia untuk bohong sama aku," simpulku begitu motor ini berbelok ke teras rumah. Karena tetangga mertuaku tadi bilang kalau mereka pergi dengan mobil agen perjalanan, terlintas ide dipikiranku untuk mendatangi travel-travel terdekat dan menawarkan mobil langsung kepada mereka. "Toh cara ini belum pernah aku coba. Kalau mau telfon juga kan aku nggak tahu mau nelfon siapa," kataku meyakinkan diri sendiri. "Kalau tidak dicoba, nggak tahu hasilnya. Semangat, Rinjani!"Aku mencari, mencatat, dan membuat daftar kantor






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.