Compartir

Titik Balik

Autor: Pena Chr
last update Fecha de publicación: 2026-08-10 11:13:01

Dengan gerakan kalap, tangan kanannya menyambar vas keramik kecil yang tergantung di pajangan dinding tepat di samping kami. Tanpa ragu, dia menghentakkannya ke pinggiran lemari kayu.

PRANG!

Bunyi keramik pecah beradu di udara. Sebagian vas itu hancur berhamburan ke lantai, sementara sebagian lagi yang menyisakan pecahan tajam berpola bergerigi masih berada dalam cengkeraman jemarinya.

Sebelum aku sempat menjerit, Doni mencengkeram rahangku dengan tangan kirinya, menekan kepalaku, membuatnya makin terdesak ke tembok. Lalu, dengan deru napasnya yang memburu, dia memajukan pecahan vas berujung runcing itu—menempelkannya tepat di atas urat nadi leherku.

Dingin. Ujung keramik tajam itu menusuk kulit leherku. Rasa perih itu kini mulai terasa dan setetes cairan hangat mulai merembes.

"Berani kamu meninggikan suaramu padaku, hah?!" napas Doni memburu tepat di depan wajahku. Matanya merah, melotot seperti hendak melompat keluar. "Berani kamu?! Cari mati kamu ya?!"

Jantungku berdegup tak karuan, rasanya seperti hendak meledak. Lidahku mendadak kelu. Padahal beberapa detik yang lalu aku begitu murka. Aku hanya ingin menuntut penjelasan, menanyakan kenapa dia sengaja tidak pulang hanya untuk mengujiku—untuk melihat apakah aku akan pingsan karena kelaparan tanpa uang receh darinya atau tidak.

Namun sekarang, saat melihat maut mengintai tepat di leherku, keberanian yang tadi membakar dadaku langsung padam, berganti menjadi ketakutan yang berhasil melumpuhkan seluruh sarafku.

"Jawab!" gertaknya lagi, menekan ujung keramik itu sedikit lebih dalam. "Kamu pikir siapa kamu tanpaku, Rinjani?!"

"M-Maaf..." bisikku terbata, dengan bibir yang bergetar hebat.

"M-Maaf, Mas... m-maaf..."

Air mataku pecah, membasahi tangannya yang masih mencengkeram rahangku. Aku memejamkan mata rapat-rapat, merendahkan suaraku hingga hampir tercekik.

"Aku salah... t-tolong lepas, Mas..." racauku gagap, menyerah sepenuhnya demi menyelamatkan diri.

"Buka matamu! lihat aku!" perintahnya.

Aku pasrah, menuruti semua kemauannya.

Doni mendadak terdiam. Tatapan matanya yang tadi penuh amarah kini mengendur, menyisakan keheningan yang amat mencekam. Sementara itu, air mataku terus menetes deras, membasahi pipi dan jemarinya yang perlahan mulai mengendurkan cengkeraman.

PRANG!

Dalam sepersekian detik, pecahan vas bunga yang ada di tangan Doni itu hancur berkeping-keping karena dilemparkan ke sembarang arah. Sebelum aku sempat mengangkat tangan untuk melindungi diri, kedua tangan lelaki itu merengkuh tubuhku, menarikku ke dalam pelukan yang amat erat—hampir membuatku sesak napas.

"Maafkan Mas, Sayang... Mas minta maaf ya...." bisiknya, terisak di bahuku. Suaranya berubah drastis, menjadi penuh penyesalan.

Pria yang sedetik lalu hampir menusuk leherku kini justru mendekapku seolah aku adalah hal paling berharga di hidupnya.

"Mas cuma gak mau kamu jadi istri durhaka, Rinjani," ucapnya parau, menangkup kedua pipiku dan menatap mataku lekat-lekat dengan raut penuh kesedihan. "Mas melakukan ini semua karena Mas sangat mencintai kamu. Mas cuma mau mendidik kamu... Mas mau kita masuk surga sama-sama, Sayang. Kamu paham, kan?"

Aku hanya mengangguk, pasrah dalam diam.

Dengan gerakan yang amat lembut—seolah aku barang pecah belah—Doni menuntunku duduk di sofa. Dia bergegas mengambil kotak P3K, lalu secara perlahan membersihkan dan mengobati luka gores di leherku. Jemarinya mengusap lukaku dengan penuh kasih sayang, berbalik dengan kekejamannya beberapa menit yang lalu.

"Nah, sudah selesai," gumamnya manis. Mengecup keningku lama. "Sekarang kamu mandi, ganti baju. Kita keluar makan ramen kesukaan kamu ya."

Dia tersenyum hangat, seolah pertumpahan darah di ruang tamu tadi hanyalah ilusi yang sengaja diciptakan oleh pikiranku sendiri.

---

Sesuai dengan kesepakatan, aku mendatangi kantor agen perjalanan itu hari ini. Jam sepuluh pagi, begitu kata pemiliknya.

Aku sengaja tiba lima belas menit lebih awal. Membawakan kue basah untuk resepsionis muda yang telah membantuku sabtu lalu.

"Tunggu sebentar ya, Kak. Pak Dika itu orangnya tepat waktu kok. Mungkin karena belum jam sepuluh tepat, jadi beliau belum turun," jelas resepsionis tanpa aku tanya sebelumnya.

"Beliau tinggal di sini?" selidikku. Kantor ini besar. Tempat parkirnya luas, penuh dengan mobil dan motor. Jika tidak membaca papan nama yang ada di tepian jalan, orang pasti mengira ini toko mobil bekas.

Resepsionis muda—yang sampai sekarang belum aku ketahui namanya—menggeleng. "Kantor ini buka dua puluh empat jam. Satpam di depan itu aslinya enam orang. Bedanya kalau malam gerbangnya dikunci. Hanya melayani tamu yang sudah melakukan pemesanan daring dan lunas diawal saja. Pak Dika itu lumayan gila kerja. Apalagi semenjak istrinya meninggal, waktunya lebih banyak dihabiskan di kantor. Padahal rumahnya jauh lebih bagus daripada di sini."

Belum sempat melanjutkan obrolan, laki-laki yang sedang kami bahas ini datang juga. Dia menyambutku dengan ramah, dan memintaku untuk masuk ke ruang kerjanya. Setelah aku menjelaskan panjang lebar dan menunjukkan berkas-berkas yang harus dia berikan kepadaku serta keuntungan apa saja yang bisa kantorku berikan kepadanya, pekerjaanku akhirnya selesai juga.

"Bulan ini saya ambil dua unit dulu. Sisanya mungkin bulan depan. Target ibu sebagai sales baru hanya satu kan? ini sudah lebih target. Semoga ibu bisa mendapatkan bonus targetnya ya."

"Terima kasih, Pak. Semoga kerja sama ini meninggalkan kesan baik dan sama-sama memberi keuntungan dan keberkahan untuk masing-masing dari kita ya, Pak," kataku mengakhiri. Aku pamit keluar dengan senyum kebahagiaan. Meskipun bibirku diam, tapi hatiku tak henti-hentinya mengucap syukur.

Namun, langkah ringan ini terhenti tak jauh dari pintu ruangan Pak Mahardika.

Ada sepasang suami istri—atau mungkin kekasih, aku tak tahu pasti—sedang menyewa satu unit mobil untuk tiga hari kedepan.

"Kenapa berdiri di sini?"

Pertanyaan dari pak Mahardika menyadarkanku, dan membuat ketiga orang lain yang ada di ruangan ini juga menoleh ke arahku.

"Rinjani..."

Keterkejutan itu tidak bisa disembunyikan dengan baik oleh suamiku. Perempuan yang ada di sebelahnya menatapku penuh telisik, kemudian dia sedikit menggeser posisinya berdiri, menjauh dari suamiku.

Aku kembali melanjutkan langkah, mengingatkan diri kalau saat ini sedang berada di kantor orang. Dan meyakinkan diri kalau bisa saja apa yang aku lihat sebelumnya tidak sesuai dengan apa yang ada di pikiranku.

"Kamu sewa mobil untuk apa, Mas?" tanyaku. "Dan perempuan ini siapa ya? sepertinya aku belum pernah melihatnya."

***

Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App

Último capítulo

  • Ajari Aku, Mas Duda   Onar Di Tempat Kerja

    Aku mematung. Perutku mual bukan main. Kenapa aku tidak pernah berfikir sampai sejauh ini. Apa karena uangku tak lagi bisa dia nikmati? jadi dia menghancurkan citraku di tempat kerja juga?Mata-mata itu menatapku dengan nyalang, sebagian dari staf perempuan tak perlu repot-repot menyembunyikan perasaan jijiknya."Pantas saja anak baru langsung bisa closing di awal bulan. Jadi begini cara mainnya?" celetuk salah satu staf perempuan senior. "Ah... Kupikir dia sepolos penampilannya lo, Mbak. Ternyata bunting sama laki orang juga?" timpal yang lain. Aku berjongkok, merenggut lengan Doni dan memaksanya untuk berdiri. "Pergilah, Mas! Berhentilah bersandiwara!" desisku tajam. Doni sengaja menjatuhkan tubuhnya ke belakang, seolah aku baru saja menghempaskannya dengan sangat kasar. Dia menatapku dengan mata yang berkaca-kaca, "Sebegitu jijiknya kah kamu padaku sekarang, Sayang? Apa karena pria kaya itu? aku tahu cintaku memang tidak bisa membuatmu bergelimang harta, tapi selama empat tahun

  • Ajari Aku, Mas Duda   Putar Balik Fakta

    "Apalagi sekarang dia sedang hamil, Pak. Kami sudah bertahun-tahun menjadi pejuang garis dua. Program kesana-kemari dan selalu gagal. Dokter bilang sperma saya kurang cocok dengan sel telur istri saya, jadi susah dibuahi. Lalu, setelah dia pindah kerja dan dekat dengan duda itu, tiba-tiba saja dia hamil. Apa... apa iya itu anak saya?"Laki-laki itu meneteskan air mata—palsu tentu saja. Petugas penyidik berdecak pelan, simpati jelas bergeser padanya. Bahkan aku bisa tahu dengan melihat tatapan para petugas itu kepadaku. "Tapi demi Tuhan, Pak," Doni menyeka air matanya, suaranya terdengar begitu heroik. "Saya bersedia memaafkan pengkhianatannya. Saya bersedia merawat bayi dari laki-laki itu asalkan istri saya mau pulang. Saya sangat mencintainya, Pak. Saya ingin menyelamatkan rumah tangga kami."Aku reflek tertawa—tak percaya. Doni membuat skenario yang sangat rapi, begitu masuk akal bagi orang luar yang tidak tahu apa-apa. Mahardika yang kebetulan menolongku, kehamilanku yang tiba-tib

  • Ajari Aku, Mas Duda   Apa Selanjutnya, Tuhan?

    "Bisakah Pak Mahardika menghubungi Bu Azura? saya tidak ingin masalah ini dibesarkan, Pak," pintaku dengan suara parau. Bayangan Doni menghajarku tanpa ampun masih segar di ingatan. Dan fakta bahwa aku mengandung anaknya menjadi salah satu pertimbanganku. Jika aku saja yang luntang-lantung sendirian, aku tidak keberatan. Tapi bagaimana dengan anak yang ada di kandunganku ini? tegakah aku membiarkan dia hidup dengan kesengsaraan?"Bu Rinjani mau damai?" tanya Mahardika. Dari tatapan dan juga nada bicaranya, sepertinya beliau tidak percaya dengan keinginanku untuk damai."Laki-laki itu masih tinggal di rumah saya, Pak. Dan saya juga baru tahu hari ini kalau saya hamil. Jika masalah ini sampai ke polisi, kemungkinan saya dihajar sampai mati akan lebih besar.""Ya kalau begitu jangan pulang. Jangan temui dia. Jangan lagi berhubungan dengan laki-laki gila itu sampai masalah ini sudah tertangani dengan baik oleh pihak kepolisian."Aku tersenyum kecut, "Bapak ini terlalu baik atau terlalu

  • Ajari Aku, Mas Duda   Tak Takut Mati

    Aku menatap wajah suamiku yang memerah. Kata-katanya tentang syariat, keadilan dan kebaikan berhamburan seperti sampah di udara. Aku tahu, jika aku terus mendengarkan celoteh liciknya, hatiku yang bodoh ini bisa saja terdorong untuk luluh dan percaya lagi. "Aku mau cerai, Mas."Mata Doni membelalak, "Apa kamu bilang?!" "AKU MAU CERAI!" teriakku tepat di depan wajahnya. "Aku sudah muak dengan semua kegilaan ini. Hiduplah berdua dengan pujaan hatimu itu!"BUK!Pukulan keras mendarat di rahangku, melemparkan tubuhku hingga tersungkur ke lantai. Belum sempat aku memulihkan napas, Doni menjambak rambutku dengan kasar, memaksa kepalaku mendongak. PLAK!"Cerai?!" bentaknya seraya menampar wajahku lagi. "Dasar perempuan tak tahu diri. Perempuan tak tahu terima kasih. Sudah merasa hebat kamu sampai berani meminta cerai dariku?""Aku mau cerai!" ulangku. Doni menendang rusukku, membuatku terbatuk-batuk menahan sesak."Kenapa? karena kamu sudah berhasil menjual diri kepada laki-laki hidung b

  • Ajari Aku, Mas Duda   Kebodohanku

    "Kamu sewa mobil untuk apa, Mas?" tanyaku. "Dan perempuan ini siapa ya? sepertinya aku belum pernah melihatnya.""Oh, ini Dewi. Sepupu jauh. Anaknya saudara ibu. Kalian memang belum pernah bertemu, tapi Dewi sering main ke rumah ibu," jelas suamiku. "Dewi," kata perempuan itu, menyodorkan tangan, memperkenalkan diri. "Rinjani.""Kami sewa mobil untuk perjalanan luar kota minggu depan, Mbak Rinjani. Ada salah satu anggota keluarga yang ada di Yogjakarta melangsungkan pernikahan," jelas Dewi, tiba-tiba saja menjadi juru bicara suamiku. "Oh." Aku tidak bertanya lebih. Sudah biasa jika aku tidak tahu apapun tentang acara keluarga besar suamiku. Aku sudah kebal dianggap tak ada."Kamu sendiri kenapa di sini, An? kamu tidak kerja?" selidik Doni."Ini kerja, Mas. Kebetulan bosnya beli unit dariku," jawabku. "Wah, cair ini. Bulan depan masih bisa kerja berarti ya? nggak jadi dipecat," kata Doni sumringah. "Alhamdulillah.""Aku bisa nabung lagi berarti. Kamu semangat kerjanya. Usahakan ja

  • Ajari Aku, Mas Duda   Titik Balik

    Dengan gerakan kalap, tangan kanannya menyambar vas keramik kecil yang tergantung di pajangan dinding tepat di samping kami. Tanpa ragu, dia menghentakkannya ke pinggiran lemari kayu. PRANG!Bunyi keramik pecah beradu di udara. Sebagian vas itu hancur berhamburan ke lantai, sementara sebagian lagi yang menyisakan pecahan tajam berpola bergerigi masih berada dalam cengkeraman jemarinya. Sebelum aku sempat menjerit, Doni mencengkeram rahangku dengan tangan kirinya, menekan kepalaku, membuatnya makin terdesak ke tembok. Lalu, dengan deru napasnya yang memburu, dia memajukan pecahan vas berujung runcing itu—menempelkannya tepat di atas urat nadi leherku. Dingin. Ujung keramik tajam itu menusuk kulit leherku. Rasa perih itu kini mulai terasa dan setetes cairan hangat mulai merembes. "Berani kamu meninggikan suaramu padaku, hah?!" napas Doni memburu tepat di depan wajahku. Matanya merah, melotot seperti hendak melompat keluar. "Berani kamu?! Cari mati kamu ya?!"Jantungku berdegup tak k

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status