Kau Menolakku, Aku Berpaling

Kau Menolakku, Aku Berpaling

last update最終更新日 : 2026-10-26
作家:  Sri_Eahyuniたった今更新されました
言語: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
評価が足りません
6チャプター
20ビュー
読む
本棚に追加

共有:  

報告
あらすじ
カタログ
コードをスキャンしてアプリで読む

概要

Wanita Kuat

Drama

Dewasa

Identitas Tersembunyi

Cantik

Istri Kedua

Pengkhianatan

Cinta pada Pandangan Pertama

Cinta Satu Malam

“Longgar banget, Bun. Enggak kerasa apa-apa,” ujar Mas Ogi, suamiku. Kalimat sederhana itu seketika menghancurkan hatiku. Bukan hanya karena aku merasa gagal menjadi seorang istri, tetapi juga karena pria yang selama ini kucintai tega membuatku merasa tak berharga di matanya sendiri. Aku sudah berusaha memberikan yang terbaik. Menjaga rumah tangga, melayani suami, dan mengubur egoku demi kebahagiaannya. Namun, ternyata semua itu belum cukup untuk membuat Mas Ogi merasa bahagia bersamaku. Lalu, apa yang salah denganku? Apakah aku memang sebegitu mengecewakannya, atau justru Mas Ogi yang sudah tak lagi menginginkanku? Malam itu, air mataku menjadi saksi atas hancurnya harga diriku sebagai seorang istri. Aku lelah terus bertahan dalam hubungan yang membuatku merasa tak berarti. Hingga akhirnya, aku mengambil keputusan nekat yang tak pernah kubayangkan sebelumnya. Keputusan yang bisa menghancurkan rumah tanggaku sendiri, tetapi juga menjadi satu-satunya cara untuk membuktikan bahwa aku bukan perempuan yang bisa diperlakukan sesuka hati. Lantas, apa yang sebenarnya kulakukan hingga membuat kehidupan Mas Ogi berubah drastis? Dan ketika penyesalan datang, akankah semuanya masih bisa diperbaiki?

もっと見る

第1話

Diabaikan

Malam ini begitu dingin. Hujan mengguyur sejak sore, membasahi bumi tanpa jeda. Namun, dinginnya udara tak sebanding dengan dinginnya perlakuan Mas Ogi terhadapku. Di dalam kamar yang seharusnya menjadi tempat kami berbagi kasih, justru hatiku kembali dibuat remuk berkeping-keping.

"Longgar banget, Bun, enggak kerasa apa-apa," ujar Mas Ogi, suamiku.

Namun begitu, ia tetap menuntaskan hasratnya hingga selesai.

Selepas itu, dia pergi begitu saja tanpa memperdulikan rasa sakit di hatiku.

Kata-kata Mas Ogi tak hanya menusuk relung hati ini, tapi juga mengoyak harga diriku sebagai seorang istri.

Malam ini bukan kali pertama ia mengucapkannya.

Bagaimana tidak longgar, dua bidadari sudah kuhadirkan ke dunia untuknya.

"Buruan ke kamar mandi sana, terus tidur," kata Mas Ogi, membuyarkan lamunanku.

"Mas, aku masih pengen," rengekku.

"Besok aja lagi. Salah siapa longgar," jawabnya semakin mengiris hatiku.

Setelah dari kamar mandi ia langsung merebahkan tubuhnya di sampingku lalu memejamkan mata.

Demi Mas Ogi, setiap hari aku berlatih senam aerobik dan kegel, berkat postingan seseorang yang lewat di beranda.

Berlatih sendiri di rumah ternyata tak semudah yang kupikir. Bukan hasil maksimal yang kudapatkan, malah badan pegal-pegal semua.

Akhirnya, ku beranikan diri meninggalkan komentar di salah satu video terbarunya,

"Lentur banget, Kak. Jadi pengen ikut latihan. Kalau deket, pasti udah aku ikutan gabung."

Tak kuduga, hanya beberapa menit kemudian, notifikasi masuk.

"Gas ikutan, Kak! Olahraga anti pelakor!"

Aku tersenyum kecil membaca balasan itu. Spontan, rasa penasaran membuncah.

"Lokasi mana, Kak?"

Kutulis dengan hati-hati, berharap tempatnya tak terlalu jauh. Jika memang dekat, aku sudah bertekad akan datang.

Dan beberapa saat kemudian, balasannya muncul lagi.

"Di Studio Movefit, dekat taman kota Jepara. Latihan tiap hari mulai jam satu siang."

Aku membacanya dengan jantung sedikit berdebar. Tempat itu… tak sampai empat puluh menit dari rumahku.

Dalam hati aku mengangguk.

Aku akan datang. Demi mas Ogi bisa menghargaiku.

Sekarang di sinilah aku, sedang latihan yang dipandu Mbak Ika. Wanita beranak tiga itu nampak segar, meski usianya sudah menginjak kepala empat. Ia tampak seperti perempuan dua puluhan—penuh semangat dan energi.

"Ayok, terus... bokongnya di goyangin!" teriak Mbak Ika sambil tersenyum lebar, menambah semangat kami yang sudah mulai berkeringat.

Aku mencoba menyesuaikan gerakan, walau otot-ototku masih kaku dan malas diajak bergerak. Tapi aura positif Mbak Ika membuatku tak ingin menyerah.

Di sekelilingku, beberapa peserta lain juga sibuk mengikuti instruksi, tertawa dan saling menyemangati.

“Ayo, Manda! Jangan kalah semangat!” seru Mbak Ika dengan suara yang ceria dan penuh energi.

“Kita ulang lagi, gerakan kaki ke kanan, lalu ke kiri, terus ayunkan tangan sampai sejajar bahu!” imbuh Mbak Ika.

Aku mengusap keringat yang mulai mengalir di dahiku, berusaha mengikuti setiap gerakannya dengan sekuat tenaga.

“Ingat, napas yang teratur, jangan sampai ngos-ngosan, ya. Biar tubuh makin lentur dan bugar!” Mbak Ika tersenyum sambil memberi semangat ke semua peserta, membuat suasana jadi hangat dan menyenangkan.

“Bagus, Manda! Terus yok semangat!"

Suara musik yang upbeat memenuhi ruangan, menambah semangat kami untuk terus bergerak dan melupakan sejenak segala beban pikiran.

Namun langkah kaki seseorang mengalihkan perhatian kami dari Mbak Ika.

“Bang Jo…!! Huhuuu…!!” teriak teman-teman serempak sambil bertepuk tangan, sampai kegiatan senam pun terhenti sejenak.

Lelaki bertubuh tinggi itu tersenyum hangat dan membalas,

“Halo, semuanya! Masih semangat kan?"

Teman-teman langsung menyambutnya dengan sorak dan tepuk tangan semakin riuh.

"Semangat dong, Bang."

Lelaki yang dipanggil Bang Jo itu berbisik sebentar pada Mbak Ika. Mbak Ika pun tersenyum sambil mengangguk-angguk. Apakah Bang Jo suaminya, ya?

Setelah itu, Mbak Ika langsung mematikan musik, membuat kami semua saling melirik, penasaran.

Bang Jo menepuk tangan dua kali, lalu berkata, “Oke, teman-teman, mohon waktunya sebentar, saya mau menyampaikan sesuatu yang penting.”

Suasana jadi langsung hening.

“Besok lusa, MoveFit Angels Squad kita dapet undangan dari Pak Lurah buat ikutan memeriahkan jalan sehat 17 Agustusan. Jadi, siap-siap ya, kita bakal tampil bareng!”

Semua teman-teman langsung heboh, ngobrol kecil sambil senyum-senyum. Nama MoveFit Angels Squad adalah grup senam kami. Sedangkan aku sendiri tak tahu mengapa mereka begitu bahagia mendapat sebuah undangan.

Mbak Ika lalu mengangkat tangannya, mengajak semua untuk kembali fokus.

“Oke, teman-teman, yuk kita lanjut! Semangat, jangan sampai kendor! Apalagi ada Bang Jo yang akan membersamai kita!”

"Huuu.... Huuuu...!!" sorak gembira memenuhi ruangan ini.

Aku pun kembali mengatur napas, mencoba menyerap energi positif yang Bang Jo dan Mbak Ika bawa hari ini.

Semua teman-teman langsung terlihat lebih semangat dua kali lipat dari sebelumnya, apalagi waktu Bang Jo mulai berjalan ke arah kami. Lelaki itu memperhatikan satu per satu dari kami, membuat aku otomatis berusaha bergerak lebih baik, lebih luwes, namun kenyataannya gerakanku jauh dari kata sempurna.

Sampai akhirnya dia berhenti tepat di depanku. Tatapannya fokus, memperhatikanku dari kepala sampai kaki. Rasanya gugup setengah mati, kayak lagi disidang.

“Kamu kaku banget. Harusnya nggak gini, tapi begini.” Tangannya langsung membenarkan posisiku. Sentuhannya ringan, tapi cukup bikin jantungku makin nggak karuan. Apalagi saat tangannya tak sengaja menyentuh buah berhargaku.

"Huuu... Bang Jo aku juga mau di benerin dong," rengek Mbak Desi dengan manja. Wanita seumaran denganku yang berdiri di sampingku itu seorang janda beranak satu.

Pandangan Bang Jo beralih pada Mbak Desi, "Mbak Desi udah bagus banget, udah luwes."

"Uh... Makasih, Bang." Mbak Desi mengerlingkan sebelah matanya dan bang Jo hanya membalas dengan senyuman.

"Bang Jo, maaf Manda anak baru. Dia baru ikut pelatihan dua kali." Dari depan Mbak Ika ikut menimpali.

Memang benar, satu Minggu aku memutuskan hanya untuk mengambil dua kali latihan saja. Dengan alasan jarak yang jauh dan biaya masih menjadi kendala. Dan saat ini aku memasuki Minggu kedua.

Bang Jo fokus padaku kembali, "Oh... Anak baru. Ya udah pokoknya harus semangat buat bisa mengimbangi yang lain."

Aku tak menjawab apa pun selain mengangguk pelan. Kami sekarang ada di posisi jongkok, menahan napas seperti yang diinstruksikan Mbak Ika. Keringat mulai mengalir, tapi fokusku malah terganggu karena Bang Jo berdiri tepat di belakangku.

Kebetulan aku ada di posisi paling pojok, paling belakang pula.

“Kakinya majuin dikit... perutnya tarik ke atas, tahan ya,” ujar Bang Jo pelan, suaranya terdengar dekat di telingaku dan tanpa ku duga kedua tangan Bang Jo......

もっと見る
次へ
ダウンロード

最新チャプター

続きを読む

読者の皆様へ

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

コメントはありません
6 チャプター
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status