مشاركة

Kebodohanku

مؤلف: Pena Chr
last update تاريخ النشر: 2026-08-10 11:13:16

"Kamu sewa mobil untuk apa, Mas?" tanyaku. "Dan perempuan ini siapa ya? sepertinya aku belum pernah melihatnya."

"Oh, ini Dewi. Sepupu jauh. Anaknya saudara ibu. Kalian memang belum pernah bertemu, tapi Dewi sering main ke rumah ibu," jelas suamiku.

"Dewi," kata perempuan itu, menyodorkan tangan, memperkenalkan diri.

"Rinjani."

"Kami sewa mobil untuk perjalanan luar kota minggu depan, Mbak Rinjani. Ada salah satu anggota keluarga yang ada di Yogjakarta melangsungkan pernikahan," jelas Dewi, tiba-tiba saja menjadi juru bicara suamiku.

"Oh." Aku tidak bertanya lebih. Sudah biasa jika aku tidak tahu apapun tentang acara keluarga besar suamiku. Aku sudah kebal dianggap tak ada.

"Kamu sendiri kenapa di sini, An? kamu tidak kerja?" selidik Doni.

"Ini kerja, Mas. Kebetulan bosnya beli unit dariku," jawabku.

"Wah, cair ini. Bulan depan masih bisa kerja berarti ya? nggak jadi dipecat," kata Doni sumringah.

"Alhamdulillah."

"Aku bisa nabung lagi berarti. Kamu semangat kerjanya. Usahakan jangan sampai dipecat lagi. Aku sudah bilang ke ibu untuk tidak sering-sering memintamu izin, biar pekerjaanmu lancar," katanya tanpa beban.

Aku hanya bisa menanggapi dengan senyuman karena sadar ada banyak telinga yang mendengarkan obrolan kami kali ini.

Suamiku menyelesaikan transaksinya, begitupun denganku. Kami pulang masing-masing—berbeda arah. Dari kaca spion aku melihat Dewi merapatkan posisi duduknya, memeluk suamiku. Namun, tak selang berapa lama pelukan itu dilepas oleh suamiku.

---

Hari yang dimaksud Dewi tiba juga. Aku tidak ikut seperti biasa. Doni tidak mengizinkan aku untuk libur. Dia khawatir kontrak kerjaku akan diakhiri lagi.

Belajar dari pengalaman, aku tidak mengatakan dengan jujur gaji yang aku dapatkan padanya. Aku hanya menghitung gaji pokok dan komisi penjualan satu unit saja. Sisanya aku simpan di rekening lain—tanpa sepengetahuan suamiku.

Badanku rasanya remuk. Beberapa hari terakhir ini nafsu makanku seperti hilang. Kepalaku terasa berat dan pusing yang tak berkesudahan. Begitu menjejakkan kaki di rumah, aku langsung merebahkan diri di atas sofa ruang tamu, sekedar meluruskan punggung sebelum lanjut membersihkan rumah.

Saat pandanganku menatap kosong ke arah dinding, mataku menangkap sesuatu yang aneh. Di balik pigura foto pernikahan kami yang menggantung anggun, ada sudut buku kecil yang sedikit menyembul.

Dahiku berkerut. Aku bangkit berdiri, melangkah mendekat karena penasaran. Jemariku menjangkau benda itu dan membawanya ke bawah temaram lampu ruang tamu.

Buku rekening atas nama suamiku, Doni Hasta.

"Untuk apa mas Doni menyembunyikan buku tabungannya di balik pigura?" gumamku heran.

Dengan rasa ingin tahu yang membuncah, aku membukanya. Halamannya kubalik satu per satu hingga mataku tertuju pada angka di kolom saldo terakhir.

Rp 5.000.000,-

Darahku rasanya berhenti mengalir. Sepuluh detik aku hanya bisa terpaku menatap nominal lima juta rupiah itu.

"Gak mungkin..." bisikku dengan suara gemetar. "Ini pasti bukan buku tabungan untuk program hamil kami."

Selama dua tahun lebih, suamiku menyisihkan hampir seluruh gajinya untuk program bayi tabung. Dari total tujuh juta lebih itu, aku hanya mendapatkan nafkah bulanan sebesar tujuh ratus ribu rupiah saja. Aku berhemat setengah mati, menekan semua pengeluaran pribadi, bekerja lebih keras agar bisa menambal kekurangan di sana-sini.

Lalu kemana sisa gajinya setiap bulan?!

Mataku menyisir lembar mutasi rekening itu dengan lebih teliti, membaca detail demi detail transaksi. Polanya sangat rapi. Setiap tanggal gajian, ada penarikan rutin dengan nominal besar yang ditransfer ke satu rekening tujuan yang sama.

Atas nama: Dewi Saraswati.

Buku tabungan itu terlepas, jatuh meluncur ke lantai. Tubuhku mendadak lunglai.

"Dewi Saraswati..." ulangku parau.

Memori beberapa hari lalu mendadak berputar. Wanita yang diakui sebagai sepupu jauh itulah orangnya. Pantas saja interaksi mereka tidak terlihat seperti saudara sepupu.

Tangisku pecah. Rasa dikhianati dan dibodohi menyergap dadaku hingga terasa sesak. Dengan tangan gemetar hebat, aku menyambar ponselku dan mencoba menghubungi nomor suamiku.

Satu panggilan. Dua panggilan. Sepuluh panggilan.

Sama sekali tak ada respon.

"Jangan menangis, Rinjani. Jangan menangis. Bangkitlah. Berjuanglah. Jangan menjadi perempuan naif dan bodoh lagi. Pendidikanmu boleh rendah, tapi hati dan pikiranmu harus lebih luas. Bangun Rinjani, berpikirlah, ambil tindakan yang tepat. Jangan salah langkah lagi!" bisik nuraniku keras, menampar kesadaran yang sepertinya sudah lama meninggalkan diri ini.

Aku menghapus air mata dengan kasar. Rasa sedih perlahan menguap, berubah menjadi amarah. Aku harus bergerak cepat dan tepat sebelum akal sehatku kalah lagi.

Aku menggeledah kamar, mencari tas kerja suamiku. Mencari bukti apa saja yang bisa aku gunakan untuk gugatan di pengadilan nanti. Aku membuka laptopnya, menembus setiap akun media sosial miliknya, milik adik iparku, hingga milik ibu mertua. Akun-akun yang tidak mungkin bisa aku temukan jika menggunakan akunku sendiri karena mereka semua memblokirku.

Sebuah akun F******k atas nama Dewi Hasta langsung mencuri perhatianku. Aku menelisik satu demi satu postingan. Suami, adik ipar, dan ibu mertua selalu menyukai semua postingan di sana. Bukan hanya itu, interaksi mereka di kolom komentar juga cukup banyak.

Aku menggulir dengan cepat, berhenti di salah satu foto yang dibagikan tahun lalu.

Tepat satu tahun yang lalu.

Foto pernikahan yang begitu megah, dengan Doni yang tersenyum lebar menggenakan jas pengantin—bersanding mesra dengan wanita itu.

Di kolom komentar, adik ipar dan ibu mertua memberikan ucapan selamat dan serentetan doa-doa manis.

Hancur, lenyap sudah rasa percayaku. Bukan hanya satu orang yang menipu dan membodohiku, tapi satu keluarga—yang selama ini masih berusaha kutatap dengan penuh rasa hormat.

Malam berlalu bagai neraka. Aku tidak tidur semenit pun, duduk tegak di sofa dalam kegelapan, mencari-cari bukti, menyamakan dengan semua ingatan selama ini.

Hingga keesokan harinya, derak kunci pintu depan terdengar.

Doni melangkah masuk dengan wajah lelah, meletakkan tasnya. Saat pandangannya beradu denganku yang masih duduk membisu di sofa, alisnya bertaut.

"Kamu ngapain di sini, An? kok gelap-gelapan begini?" tanyanya santai, seolah tidak terjadi apa pun.

Aku menyerahkan buku tabungan itu padanya. "Bisakah kamu menjelaskan kepadaku, Mas? kenapa kamu mengirimkan uang dalam jumlah yang besar kepada Dewi Saraswati setiap bulannya?"

Doni membeku. Untuk beberapa detik dia terlihat panik saat melihat buku tabungan itu. Namun dalam sekejap mata, raut panik itu lenyap—berganti menjadi tatapan murka.

PLAK

"Lancang kamu, Rinjani!" bentaknya, seolah sengaja membalikkan keadaan. "Siapa yang mengajarimu menggeledah barang-barang pribadi milik suami, hah?! Kemana perginya sopan santunmu sebagai istri?!"

Aku menatapnya, mencoba mencari raut wajah bersalah, tapi nihil.

"Kamu menuduhku selingkuh?! kamu berniat menjadi istri durhaka?! sudah berani kurang ajar kamu?!" lanjutnya bertubi-tubi, memajukan tubuhnya untuk memojokkanku. "Kamu sudah tidak lagi percaya denganku? padahal kamu tahu aku selalu melakukan sesuatu dengan penuh pertimbangan. Semua yang aku lakukan untuk kebaikan rumah tangga kita, Rinjani!"

"Penuh pertimbangan untuk kebaikan kita," ulangku dengan suara bergetar. "Kebaikan yang mana, Mas? kebaikan untuk dirimu sendiri."

"Aku punya alasan, Rinjani!"

"Alasan? alasan untuk menipuku selama bertahun-tahun, Mas?"

"Siapa yang menipumu? aku tidak pernah menjadi penipu!" potong Doni cepat, dadanya naik turun. Dia mengangkat dagunya, memasang wajah tanpa dosa. "Secara agama, laki-laki tidak perlu izin istri pertama untuk menikah lagi! Poligami itu sah. Jangan sok pintar kamu, menuduhku ini itu, padahal aku tak melawan syariat sama sekali."

Doni melangkah mendekat, menunjuk wajahku dengan telunjuknya yang gemetar oleh emosi.

"Selama ini aku sudah berusaha berlaku adil! Kurang apa lagi aku sama kamu?!" cercanya tanpa malu. "Aku kasih kamu waktu dan perhatianku dengan selalu pulang ke rumah ini karena aku tahu kamu kesepian. Sedangkan Dewi, dia butuh uangku karena dia memang hanya ibu rumah tangga biasa. Dewi tidak bisa bekerja terlalu keras karena keterbatasan fisiknya.

Kamu kan bekerja, Rinjani! Kamu punya gaji sendiri! Masa sama madumu sendiri kamu perhitungan? harusnya rasa syukurmu itu lebih besar, aku menghadirkan keluarga di hidupmu yang sepi itu!"

***

استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق

أحدث فصل

  • Ajari Aku, Mas Duda   Onar Di Tempat Kerja

    Aku mematung. Perutku mual bukan main. Kenapa aku tidak pernah berfikir sampai sejauh ini. Apa karena uangku tak lagi bisa dia nikmati? jadi dia menghancurkan citraku di tempat kerja juga?Mata-mata itu menatapku dengan nyalang, sebagian dari staf perempuan tak perlu repot-repot menyembunyikan perasaan jijiknya."Pantas saja anak baru langsung bisa closing di awal bulan. Jadi begini cara mainnya?" celetuk salah satu staf perempuan senior. "Ah... Kupikir dia sepolos penampilannya lo, Mbak. Ternyata bunting sama laki orang juga?" timpal yang lain. Aku berjongkok, merenggut lengan Doni dan memaksanya untuk berdiri. "Pergilah, Mas! Berhentilah bersandiwara!" desisku tajam. Doni sengaja menjatuhkan tubuhnya ke belakang, seolah aku baru saja menghempaskannya dengan sangat kasar. Dia menatapku dengan mata yang berkaca-kaca, "Sebegitu jijiknya kah kamu padaku sekarang, Sayang? Apa karena pria kaya itu? aku tahu cintaku memang tidak bisa membuatmu bergelimang harta, tapi selama empat tahun

  • Ajari Aku, Mas Duda   Putar Balik Fakta

    "Apalagi sekarang dia sedang hamil, Pak. Kami sudah bertahun-tahun menjadi pejuang garis dua. Program kesana-kemari dan selalu gagal. Dokter bilang sperma saya kurang cocok dengan sel telur istri saya, jadi susah dibuahi. Lalu, setelah dia pindah kerja dan dekat dengan duda itu, tiba-tiba saja dia hamil. Apa... apa iya itu anak saya?"Laki-laki itu meneteskan air mata—palsu tentu saja. Petugas penyidik berdecak pelan, simpati jelas bergeser padanya. Bahkan aku bisa tahu dengan melihat tatapan para petugas itu kepadaku. "Tapi demi Tuhan, Pak," Doni menyeka air matanya, suaranya terdengar begitu heroik. "Saya bersedia memaafkan pengkhianatannya. Saya bersedia merawat bayi dari laki-laki itu asalkan istri saya mau pulang. Saya sangat mencintainya, Pak. Saya ingin menyelamatkan rumah tangga kami."Aku reflek tertawa—tak percaya. Doni membuat skenario yang sangat rapi, begitu masuk akal bagi orang luar yang tidak tahu apa-apa. Mahardika yang kebetulan menolongku, kehamilanku yang tiba-tib

  • Ajari Aku, Mas Duda   Apa Selanjutnya, Tuhan?

    "Bisakah Pak Mahardika menghubungi Bu Azura? saya tidak ingin masalah ini dibesarkan, Pak," pintaku dengan suara parau. Bayangan Doni menghajarku tanpa ampun masih segar di ingatan. Dan fakta bahwa aku mengandung anaknya menjadi salah satu pertimbanganku. Jika aku saja yang luntang-lantung sendirian, aku tidak keberatan. Tapi bagaimana dengan anak yang ada di kandunganku ini? tegakah aku membiarkan dia hidup dengan kesengsaraan?"Bu Rinjani mau damai?" tanya Mahardika. Dari tatapan dan juga nada bicaranya, sepertinya beliau tidak percaya dengan keinginanku untuk damai."Laki-laki itu masih tinggal di rumah saya, Pak. Dan saya juga baru tahu hari ini kalau saya hamil. Jika masalah ini sampai ke polisi, kemungkinan saya dihajar sampai mati akan lebih besar.""Ya kalau begitu jangan pulang. Jangan temui dia. Jangan lagi berhubungan dengan laki-laki gila itu sampai masalah ini sudah tertangani dengan baik oleh pihak kepolisian."Aku tersenyum kecut, "Bapak ini terlalu baik atau terlalu

  • Ajari Aku, Mas Duda   Tak Takut Mati

    Aku menatap wajah suamiku yang memerah. Kata-katanya tentang syariat, keadilan dan kebaikan berhamburan seperti sampah di udara. Aku tahu, jika aku terus mendengarkan celoteh liciknya, hatiku yang bodoh ini bisa saja terdorong untuk luluh dan percaya lagi. "Aku mau cerai, Mas."Mata Doni membelalak, "Apa kamu bilang?!" "AKU MAU CERAI!" teriakku tepat di depan wajahnya. "Aku sudah muak dengan semua kegilaan ini. Hiduplah berdua dengan pujaan hatimu itu!"BUK!Pukulan keras mendarat di rahangku, melemparkan tubuhku hingga tersungkur ke lantai. Belum sempat aku memulihkan napas, Doni menjambak rambutku dengan kasar, memaksa kepalaku mendongak. PLAK!"Cerai?!" bentaknya seraya menampar wajahku lagi. "Dasar perempuan tak tahu diri. Perempuan tak tahu terima kasih. Sudah merasa hebat kamu sampai berani meminta cerai dariku?""Aku mau cerai!" ulangku. Doni menendang rusukku, membuatku terbatuk-batuk menahan sesak."Kenapa? karena kamu sudah berhasil menjual diri kepada laki-laki hidung b

  • Ajari Aku, Mas Duda   Kebodohanku

    "Kamu sewa mobil untuk apa, Mas?" tanyaku. "Dan perempuan ini siapa ya? sepertinya aku belum pernah melihatnya.""Oh, ini Dewi. Sepupu jauh. Anaknya saudara ibu. Kalian memang belum pernah bertemu, tapi Dewi sering main ke rumah ibu," jelas suamiku. "Dewi," kata perempuan itu, menyodorkan tangan, memperkenalkan diri. "Rinjani.""Kami sewa mobil untuk perjalanan luar kota minggu depan, Mbak Rinjani. Ada salah satu anggota keluarga yang ada di Yogjakarta melangsungkan pernikahan," jelas Dewi, tiba-tiba saja menjadi juru bicara suamiku. "Oh." Aku tidak bertanya lebih. Sudah biasa jika aku tidak tahu apapun tentang acara keluarga besar suamiku. Aku sudah kebal dianggap tak ada."Kamu sendiri kenapa di sini, An? kamu tidak kerja?" selidik Doni."Ini kerja, Mas. Kebetulan bosnya beli unit dariku," jawabku. "Wah, cair ini. Bulan depan masih bisa kerja berarti ya? nggak jadi dipecat," kata Doni sumringah. "Alhamdulillah.""Aku bisa nabung lagi berarti. Kamu semangat kerjanya. Usahakan ja

  • Ajari Aku, Mas Duda   Titik Balik

    Dengan gerakan kalap, tangan kanannya menyambar vas keramik kecil yang tergantung di pajangan dinding tepat di samping kami. Tanpa ragu, dia menghentakkannya ke pinggiran lemari kayu. PRANG!Bunyi keramik pecah beradu di udara. Sebagian vas itu hancur berhamburan ke lantai, sementara sebagian lagi yang menyisakan pecahan tajam berpola bergerigi masih berada dalam cengkeraman jemarinya. Sebelum aku sempat menjerit, Doni mencengkeram rahangku dengan tangan kirinya, menekan kepalaku, membuatnya makin terdesak ke tembok. Lalu, dengan deru napasnya yang memburu, dia memajukan pecahan vas berujung runcing itu—menempelkannya tepat di atas urat nadi leherku. Dingin. Ujung keramik tajam itu menusuk kulit leherku. Rasa perih itu kini mulai terasa dan setetes cairan hangat mulai merembes. "Berani kamu meninggikan suaramu padaku, hah?!" napas Doni memburu tepat di depan wajahku. Matanya merah, melotot seperti hendak melompat keluar. "Berani kamu?! Cari mati kamu ya?!"Jantungku berdegup tak k

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status