Share

Penolongku

Author: Pena Chr
last update publish date: 2026-08-10 11:12:26

"Tapi, mana mungkin suamiku sejahat itu? bukankah dia sendiri yang mengatakan bulan lalu, kalau dia masih sanggup menafkahiku meskipun aku tidak lagi berpenghasilan?"

Sepanjang jalan pulang, aku bermonolog sendiri. Perdebatan di otakku semakin tak karuan. Sebagian lain meyakini kalau suamiku memang tidak berniat menafkahiku dengan layak, sebagian lain meyakini kalau mas Doni melakukan ini semua atas perintah ibunya.

"Bener. Mas Doni kan anak yang patuh. Pasti ibu yang meminta dia untuk bohong sama aku," simpulku begitu motor ini berbelok ke teras rumah.

Karena tetangga mertuaku tadi bilang kalau mereka pergi dengan mobil agen perjalanan, terlintas ide dipikiranku untuk mendatangi travel-travel terdekat dan menawarkan mobil langsung kepada mereka.

"Toh cara ini belum pernah aku coba. Kalau mau telfon juga kan aku nggak tahu mau nelfon siapa," kataku meyakinkan diri sendiri.

"Kalau tidak dicoba, nggak tahu hasilnya. Semangat, Rinjani!"

Aku mencari, mencatat, dan membuat daftar kantor agen perjalanan serta tempat persewaan mobil yang akan aku datangi hari ini.

Kantor demi kantor. Beberapa menerima kartu namaku dengan baik. Beberapa lainnya mengabaikanku dan mengusirku dengan ketus.

Kepalaku terasa pusing luar biasa, efek samping dari belum ada makanan yang masuk sama sekali sejak kemarin.

Motorku berbelok ke salah satu kantor agen perjalanan yang lumayan besar, tempat persewaan mobil yang sudah diulas lebih dari seribu orang di internet.

"Permisi, Kak. Saya numpang istirahat sebentar boleh?" tanyaku pada resepsionis.

"Silahkan, Kak," jawabnya ramah. Dia juga menyerahkan segelas air mineral kepadaku. Tak lupa aku mengucapkan terima kasih.

Aku menyandarkan kepala ke dinding, dan tiba-tiba semuanya gelap.

Begitu mata terbuka, aku sudah berbaring di sofa. Gegas aku bangun, tidak enak tidur di sofa orang, apalagi ini kantor.

"Jangan langsung bangun, Kak. Nanti pusing. Nggak papa, istirahat dulu saja. Sekarang masih jam istirahat kok. Kantor kami tutup sampai jam satu siang," jelas resepsionis yang tadi.

"Maaf ya, Kak. Saya malah merepotkan, padahal tadi niatnya cuma mau istirahat sebentar saja," ucapku lirih. Jujur, malu sekali rasanya.

Resepsionis muda itu lagi-lagi tersenyum, menyodorkan sekotak nasi dan segelas air lagi. "Makan siang dulu yuk, Kak," ajaknya.

Aku sempat menolak, tapi dia memaksaku. Rasa syukurku meluap, Tuhan selalu hadir dalam semua masalahku.

Lebih dari satu jam, kita bertiga saling bertukar cerita. Resepsionis muda ini ternyata anak rantau, yang kebetulan mendapatkan bos yang luar biasa baik. Bosnya jugalah yang memberi dua nasi kotak tadi.

"Itu bos saya, Kak. Siapa tahu beliau bisa membantu. Bulan kemarin ada satu unit mobil kami yang terjual, biasanya Pak Bos akan cari gantinya," katanya sembari menunjuk laki-laki yang baru turun dari motor.

"Pak Dika, kakaknya sudah bangun, Pak."

"Alhamdulillah." Suaranya lembut, tak sesuai dengan tampangnya yang terlihat garang.

"Sudah lebih baik, Bu?" tanyanya, begitu lelaki yang kutafsirkan usianya diatasku ini sudah sampai tepat di depanku.

"Maaf ya, Pak. Saya jadi mengacau di tempat usahanya."

"Bukan masalah besar, Bu. Lebih baik seperti ini. Kalau lelah, istirahat. Daripada jatuh di jalan raya, bukan hanya nyawa ibu yang bahaya, tapi pengguna jalan lain juga," tuturnya.

Tanpa ditanya, resepsionis muda tadi menjelaskan pada bosnya apa pekerjaanku dan apa yang sedang aku lakukan di hari sabtu seperti ini.

"Oh, kebetulan. Ini saya baru pulang dari dealer mobil, tapi sales yang biasanya sudah berhenti kerja. Kamu kerja di dealer mana?"

Aku menegakkan posisi duduk, menjelaskan di mana tempatku bekerja dan mulai bertanya-tanya mengenai mobil apa saja yang hendak dibeli.

"Oke, Bu Rinjani. Senin kita ketemu lagi ya. Mungkin jam sembilan atau sepuluh siang, nanti saya hubungi lagi."

"Terima kasih, Pak Mahardika. Terima kasih sekali." Tanpa sadar, ada sebulir air mata yang keluar tanpa diminta. Cepat-cepat aku mengelapnya.

Tidak lama kemudian aku pamit pulang. Segala skenario sudah aku siapkan di kepala. Aku menghubungi sales senior yang ditugaskan untuk mendampingiku, bertanya apa saja yang bisa aku tawarkan pada pembeli.

Motor suamiku—Doni—sudah terparkir di teras. Pintu terbuka lebar.

"Assalamualaikum, Mas," sapaku riang.

"Bagus! Suami tidak di rumah malah kelayapan. Sudah lupa kalau punya suami? berasa lajang kamu?!"

"Aku kerja, Mas."

"Kerja apa? Hari ini kamu libur!" bentak Doni, suaranya menggema di rumah subsidi kami. Tangannya yang besar melayang, mendarat keras di pipiku—seperti biasanya.

"Berani-beraninya kamu berbohong padaku? kamu pikir aku pikun? baru minggu lalu kamu membagikan jadwalmu, dan disana tertulis jelas kamu libur di hari sabtu untuk dua minggu kedepan!

Jangan kurang ajar kamu jadi istri. Sudah berapa kali aku memperingatkanmu untuk di rumah saja kalau suami sedang keluar."

"Aku kerja, Mas. Door to door, mencari nasabah. Ini sudah masuk bulan ketiga, Mas. Kalau penjualanku masih nol, kontrakku tidak akan diperpanjang," jelasku, terisak.

Tamparan darinya tidak terasa apa-apa kali ini, dadaku sudah sesak luar biasa.

Dia tahu istrinya tidak memegang uang, bahan makanan habis di rumah, bahkan tidak ada beras barang sebutir pun. Dan dia malah tidak pulang, pergi entah kemana dengan keluarganya tanpa kabar sama sekali.

"GOBLOK!" teriaknya. "Dari awal memang mereka ingin memecatmu. Mereka tahu kamu nggak punya kapasitas. Harusnya selama tiga bulan ini kamu ngelamar ke tempat lain juga, bukannya malah mengusahakan yang jelas-jelas tidak kamu kuasai. Makanya sekolah, biar nggak goblok!"

"Buatkan makan, aku lapar!" perintah Doni kemudian.

"Nggak ada apapun di rumah dari kemarin, Mas. Aku sudah memberitahumu dari pagi. Dari kemarin aja kita nggak sarapan."

"Terus kamu makan apa? kok bisa kamu masih berdiri tegak begini kalau nggak makan dua hari? kamu pasti berbohong kan? sengaja ingin meminta uangku lagi?"

"Kok bisa kamu menuduhku begitu? sejak kapan aku berani berbohong padamu, Mas?"

"Ya mana aku tahu. Kan kamu yang bohong, bukan aku. Buktinya kamu masih bisa berkendara, keluar untuk mendatangi rumah orang-orang, dan masih sehat sampai sekarang. Kalau kamu beneran nggak makan, harusnya kamu sudah pingsan!"

"Jadi kamu sengaja nggak pulang? sengaja membiarkan aku kelaparan hanya untuk tahu apakah aku masih bisa hidup atau sudah mati hari ini?" kali ini nada bicaraku sudah tidak bisa biasa lagi.

"Kamu ngomong apa tadi?!"

Suara Doni bukan lagi sekedar bentakan. Itu adalah raungan binatang buas yang kehilangan kendali.

PRANG!

Belum sempat aku menarik napas untuk membalas, tangannya melayang menyambar gelas kaca yang ada di atas meja. Dalam hitungan detik, benda itu melayang dan hancur berkeping-keping menghantam lantai.

Aku meloncat kaget, menyilangkan kedua tangan di depan dada. Namun, sebelum aku sempat mundur, langkah lebar Doni sudah memangkas jarak diantara kami.

"ARGH!"

Dada suamiku menghantamku keras. Dia mendorong tubuhku dengan seluruh tenaganya, melempar bobot badanku hingga punggungku menabrak dinding semen di belakangku.

BUK!

Rasa nyeri menusuk tulang belikatku dengan tajam, membuat seluruh udara terhempas keluar dari paru-paru. Kepalaku menyenggol dinding, menyisakan pening, membuat pandanganku mendadak kabur. Aku meringis, meraba tembok, berusaha mempertahankan keseimbanganku yang goyah.

Namun, suamiku tidak memberiku ampun. Amarah itu sudah merenggut akal sehatnya.

Dengan gerakan kalap, tangan kanannya menyambar vas keramik kecil yang tergantung di pajangan dinding tepat di samping kami. Tanpa ragu, dia menghentakkannya ke pinggiran lemari kayu.

PRANG!

***

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Ajari Aku, Mas Duda   Tak Takut Mati

    Aku menatap wajah suamiku yang memerah. Kata-katanya tentang syariat, keadilan dan kebaikan berhamburan seperti sampah di udara. Aku tahu, jika aku terus mendengarkan celoteh liciknya, hatiku yang bodoh ini bisa saja terdorong untuk luluh dan percaya lagi. "Aku mau cerai, Mas."Mata Doni membelalak, "Apa kamu bilang?!" "AKU MAU CERAI!" teriakku tepat di depan wajahnya. "Aku sudah muak dengan semua kegilaan ini. Hiduplah berdua dengan pujaan hatimu itu!"BUK!Pukulan keras mendarat di rahangku, melemparkan tubuhku hingga tersungkur ke lantai. Belum sempat aku memulihkan napas, Doni menjambak rambutku dengan kasar, memaksa kepalaku mendongak. PLAK!"Cerai?!" bentaknya seraya menampar wajahku lagi. "Dasar perempuan tak tahu diri. Perempuan tak tahu terima kasih. Sudah merasa hebat kamu sampai berani meminta cerai dariku?""Aku mau cerai!" ulangku. Doni menendang rusukku, membuatku terbatuk-batuk menahan sesak."Kenapa? karena kamu sudah berhasil menjual diri kepada laki-laki hidung b

  • Ajari Aku, Mas Duda   Kebodohanku

    "Kamu sewa mobil untuk apa, Mas?" tanyaku. "Dan perempuan ini siapa ya? sepertinya aku belum pernah melihatnya.""Oh, ini Dewi. Sepupu jauh. Anaknya saudara ibu. Kalian memang belum pernah bertemu, tapi Dewi sering main ke rumah ibu," jelas suamiku. "Dewi," kata perempuan itu, menyodorkan tangan, memperkenalkan diri. "Rinjani.""Kami sewa mobil untuk perjalanan luar kota minggu depan, Mbak Rinjani. Ada salah satu anggota keluarga yang ada di Yogjakarta melangsungkan pernikahan," jelas Dewi, tiba-tiba saja menjadi juru bicara suamiku. "Oh." Aku tidak bertanya lebih. Sudah biasa jika aku tidak tahu apapun tentang acara keluarga besar suamiku. Aku sudah kebal dianggap tak ada."Kamu sendiri kenapa di sini, An? kamu tidak kerja?" selidik Doni."Ini kerja, Mas. Kebetulan bosnya beli unit dariku," jawabku. "Wah, cair ini. Bulan depan masih bisa kerja berarti ya? nggak jadi dipecat," kata Doni sumringah. "Alhamdulillah.""Aku bisa nabung lagi berarti. Kamu semangat kerjanya. Usahakan ja

  • Ajari Aku, Mas Duda   Titik Balik

    Dengan gerakan kalap, tangan kanannya menyambar vas keramik kecil yang tergantung di pajangan dinding tepat di samping kami. Tanpa ragu, dia menghentakkannya ke pinggiran lemari kayu. PRANG!Bunyi keramik pecah beradu di udara. Sebagian vas itu hancur berhamburan ke lantai, sementara sebagian lagi yang menyisakan pecahan tajam berpola bergerigi masih berada dalam cengkeraman jemarinya. Sebelum aku sempat menjerit, Doni mencengkeram rahangku dengan tangan kirinya, menekan kepalaku, membuatnya makin terdesak ke tembok. Lalu, dengan deru napasnya yang memburu, dia memajukan pecahan vas berujung runcing itu—menempelkannya tepat di atas urat nadi leherku. Dingin. Ujung keramik tajam itu menusuk kulit leherku. Rasa perih itu kini mulai terasa dan setetes cairan hangat mulai merembes. "Berani kamu meninggikan suaramu padaku, hah?!" napas Doni memburu tepat di depan wajahku. Matanya merah, melotot seperti hendak melompat keluar. "Berani kamu?! Cari mati kamu ya?!"Jantungku berdegup tak k

  • Ajari Aku, Mas Duda   Penolongku

    "Tapi, mana mungkin suamiku sejahat itu? bukankah dia sendiri yang mengatakan bulan lalu, kalau dia masih sanggup menafkahiku meskipun aku tidak lagi berpenghasilan?"Sepanjang jalan pulang, aku bermonolog sendiri. Perdebatan di otakku semakin tak karuan. Sebagian lain meyakini kalau suamiku memang tidak berniat menafkahiku dengan layak, sebagian lain meyakini kalau mas Doni melakukan ini semua atas perintah ibunya."Bener. Mas Doni kan anak yang patuh. Pasti ibu yang meminta dia untuk bohong sama aku," simpulku begitu motor ini berbelok ke teras rumah. Karena tetangga mertuaku tadi bilang kalau mereka pergi dengan mobil agen perjalanan, terlintas ide dipikiranku untuk mendatangi travel-travel terdekat dan menawarkan mobil langsung kepada mereka. "Toh cara ini belum pernah aku coba. Kalau mau telfon juga kan aku nggak tahu mau nelfon siapa," kataku meyakinkan diri sendiri. "Kalau tidak dicoba, nggak tahu hasilnya. Semangat, Rinjani!"Aku mencari, mencatat, dan membuat daftar kantor

  • Ajari Aku, Mas Duda   Kehilangan Penghasilan

    "Rin, maaf ya. Menurutku, tindakan kekerasan itu bukan bahasa cinta. Baik itu dilakukan oleh orang tua, ataupun oleh pasangan kita.""Maksudnya gimana ya, Bu?" Aku tak sepenuhnya paham dengan apa yang dikatakan oleh ketua timku. Apakah dia sedang menyinggung masalah rumah tanggaku? tapi tahu dari mana? aku tidak pernah menceritakan apapun kepada rekan kerjaku. "Ya... Aku hanya menyampaikan pendapatku saja, Rinjani. Menurutku, tindakan kekerasan itu bukan bahasa cinta. Jadi, kalau kamu mendapatkan kekerasan dari pasanganmu, ya lebih baik ditinggalkan. Karena kekerasan itu bukan bahasa cinta.""Tapi saya tidak mendapatkan kekerasan dari suami saya, Bu," bantahku. "Syukurlah kalau kamu tidak mengalami KDRT, Rin," ucap ketua timku. Dia menatapku sejenak, kemudian meninggalkanku. Aku menelan saliva, mencoba menyunggingkan senyum agar terlihat baik-baik saja. Tadi, ketika satpam dan beberapa orang bertanya tentang benjolan di dahiku, aku menjelaskan jika ini terjadi karena benturan deng

  • Ajari Aku, Mas Duda   Kejutan

    Aku membaca pesan itu berulang kali, memikirkannya. Namun, tak ada jawaban yang muncul juga. Suamiku memang ringan tangan—sesekali, tapi dia selalu punya alasan dibaliknya. Menurut mas Doni, ada banyak hal yang tidak aku ketahui di dunia ini. Aku percaya, kenapa? karena dia adalah orang yang menolongku, mengajariku bertahan di dunia kerja yang memang kejam. Aku sadar kalau aku banyak tak tahunya. Ibuku membesarkanku sendirian. Ayahku pulang ke rumah istri pertamanya. Menurut pengakuan ibu dan keluarga besar, ayahku mengaku sebagai duda tanpa anak saat meminang ibuku—padahal pernikahan pertamanya baik-baik saja, dan ketika istri pertamanya melabrak ibu dan meminta ayah untuk memilih, ayah memilih istri pertamanya. Jadi sampai sekarang, di usiaku yang sudah mendekati angka dua puluh lima ini, aku tak pernah mendapatkan didikan dari seorang ayah. Berdiri sendiri, melindungi diri sendiri.Ketika lulus SMA, aku langsung mencari kerja. Mas Doni adalah orang yang menerimaku bekerja—setel

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status