Share

Alergi

Author: Dwrite
last update Huling Na-update: 2023-01-20 09:38:03

Terkadang, takdir hidup memang  begitu lucu. Dua insan yang pernah sedekat nadi, tiba-tiba terpisah sejauh mentari. Saling mengenalkan diri bak orang asing yang tahu posisi.

Namun, kadang kala kita juga lupa, mulut mungkin bisa berbohong, tapi hati tidak. Dalam beberapa situasi mulut bisa mengkhiati hati, hingga yang terucap berdasarkan yang diingat, bukan apa yang telah dirancang otak.

Dua tahun kebersamaanku dan Mas Ali, tentu membawa kesan tersendiri yang terpatri. Baik-buruk kami sama-sama saling mengetahui. Akan tetapi, apa yang sudah terjadi tak akan pernah bisa dikehendaki, meskipun kini kami saling menghindari.

Masa lalu hanyalah bumbu, pelajaran hidup yang tak akan bisa diulang lagi. Saat Mas Fariz mengatakan bahwa dia tak peduli dengan masa laluku, saat itu juga aku kembali berjanji pada diri sendiri untuk tak pernah mengungkitnya lagi.

"Jawab, Li! Kenapa lu tahu tentang alergi Suci?" Suara tegas Mas Fariz memecah keheningan yang sesaat lalu mengisi ruangan ini. Mungkin sekarang sudah saatnya aku turun tangan.

"Ng, anu--"

"Maaf, Mas. Kita baru kenal, jadi nggak usah sok tahu!" Kusambar piring kecil di tangan Mas Fariz, kemudian berjongkok untuk menghabiskan sisa pecel yang menjadi penyebab keributan ini.

Wajah Mas Ali berubah, dia mengusap tengkuk sembari tersenyum kikuk menatap istri, mertua, dan iparnya yang menunggu penasaran.

"Saya becanda, Riz." Dia memaksakan sebuah senyuman pada Mas Fariz.

Pada saat itulah helaan napas lega terdengar seirama.

"Yaelah lu pake nge-prank segala. Bikin jantungan aja. Gue kira lu pernah ada something sama Si Suci."

Hening kembali.

Sampai suara berwibawa Pak Jamal, menjadi penyelamat suasana canggung ini.

"Udah, nggak enak ngobrol sambil berdiri. Mending kita makan dulu, habis itu baru lanjutin yang tadi."

Semua orang mengangguk setuju, dan mulai membubarkan diri. Begitu pun Mas Fariz yang berjalan menghampiri dan mengambil alih piring kosong di tanganku.

"Mau lagi? Masih banyak, tuh di meja." Aku menggeleng cepat.

Terus terang hanya karena ingin menghindari pembahasan tentang masa laluku dan Mas Ali, aku rela mengambil risiko mengonsumsi satu-satu jenis makanan yang menyebabkan alergi. Entah apa yang terjadi setelah ini.

"Nggak usah, Mas. Udah cukup. Kayaknya pecelnya kepedesan, deh."

"Oh, lu nggak kuat pedes? Mau minta Bi Surti buatin lagi? Tinggal rikues cabenya cuma kasih satu."

"Nggak, makasih." Sedikit meringis aku menahan tangannya yang hendak berlalu memdahulu.

"Oh, ya udah. Kita makan dulu kalau gitu, habis itu gue ajak keliling."

Aku hanya mengangguk menanggapi.

***

"Sekarang kamu udah punya istri, Riz. Pertimbangin lagi tawaran Papa buat masuk ke Pabrik. Posisi Personalia masih kosong, kok." Pak Jamal memulai percakapan yang sempat tertunda setelah kami selesai menunaikan Salat Maghrib dan berkumpul di ruang keluarga. Aku bersyukur Farah, Mas Ali dan Hafiz sudah pamit sebelum Maghrib tadi.

"Nggak, perlu, Pa. Bukan bermaksud nolak rezeki. Tapi, Fariz yakin bisa nafkahi Suci tanpa belas kasihan kalian. Alhamdulillah Toko Otomotif Fariz lagi rame akhir-akhir ini. Rencananya Fariz sama anak-anak juga mau buka doorsmeer (bengkel yang menyediakan service ganti oli dan pencucian.) di sekitar daerah Mangga Dua."

"Ya alhamdulillah kalau gitu. Kita jadi nggak khawatir kamu nganu-nganu yang bikin dada Mama ngilu. Mudah-mudahan aja setelah sama Suci hidup kamu bisa terarah lagi," sahut Bu Nurul sembari menatap hangat ke arahku.

"Dih, emang selama ini hidup Fariz nggak ada tujuan gitu?" Dia semot sendiri, "Ya, bener juga, sih," lanjutnya kemudian.

"Kan. Inget dulu cuma berapa kali pulang dalam sebulan? Inget berapa kali Papa tebus kamu di bui? Inget waktu tidur di emperan toko habis ngoplos minuman? Inget, inget, inget!" Bu Nurul mencecarnya sembari memukuli lengan Mas Fariz berkali-kali.

"Iya, inget. Nggak usah diperjelas juga kali. Ada Suci di sini." Mas Fariz memojokkan diri ke arahku, berusaha menghindari pukulan-pukulan yang Mamanya layangkan.

"Nggak apa-apa. Biar istri kamu tahu dan nggak nyesel di kemudian hari."

Aku hanya bisa tersenyum tipis. Sejak menunaikan salat maghrib tadi, aku memang mulai kehilangan konsentrasi. Rasanya tubuhku mulai letih, nyeri di bagian perut, bahkan aku sempat sembunyi-sembunyi untuk buang angin di kamar mandi.

"Hei, lu kenapa, Ci? Pias banget kayak ayam tiren." Ternyata gelagatku mulai disadari Mas Fariz. Harus kuakui untuk jenis lelaki dia cukup langka, karena bisa dibilang sangat peka.

"Hus!" Bu Nurul mencubit perut Mas Fariz.

"Nggak tahu, tiba-tiba nggak enak badan."

"Bawa ke atas, gih! Suruh istirahat. Mungkin Suci kecapean karena perjalanan jauh. Belum lagi kamu gempur siang-malem, yakan?" usul Bu Nurul yang berbuntut tuduhan.

"Dih, fitonah aja Si Mama. Mana ada gempur-siang malem. Nyicip aja bel--"

"Mas!" Aku menarik ujung kausnya untuk mengingatkan.

Hanya dengan tatapan, syukurnya dia langsung mengerti.

"Dah, ah. Kita pamit dulu. Ngobrol lagi nanti." Mas Fariz beralih padaku, lalu membantuku bangkit. "Kuat nggak? Mau dipangku? Keknya badan lu juga seringan bulu."

Aku menggeleng cepat. "Tuntun aja!"

"Oke, sip." Mas Fariz menurut, lalu menuntunku menuju tangga setelah pamit pada kedua mertua.

"Pegang pinggangnya! Kaku banget masa yang ditahan bajunya." Teriakan Bu Nurul masih bisa terdengar olehku dan Mas Fariz.

Meskipun sempat ragu, akhirnya dia melingkarkan lengannya dan menahan pinggangku.

***

"Jangan coba bohong lagi, Ci. Gue nggak bego. Ini gejala alergi," cetus Mas Fariz saat melihatku untuk ketiga kalinya keluar masuk kamar mandi.

Akhirnya aku menyerah, lalu memilih mengaku. "Ya, sebenarnya saya emang alergi kacang. Tolong jangan bilang sama Papa-Mamamu, ya. Saya terpaksa bohong karena nggak mau kalian salah paham. Kayaknya dia cuma nebak saat liat raut wajah saya saat itu."

Mas Fariz menghela napas panjang.

"Oke. Penjelasan diterima. Sekarang duduk sini!" Dia menepuk sisi lain ranjang di sebelahnya.

Aku menurut, lalu duduk tepat di sebelahnya.

"Mana yang sakit?" tanyanya sembari memindai tubuhku. Tampak di tangannya sudah terdapat sebotol minyak kayu putih.

Tanpa basa-basi aku langsung menarik naik atasan piama yang dikenakan, hingga mengekspos perutku.

"Astagfirullah. Nggak usah diliatin juga kali." Mas Fariz langsung mengalihkan pandangan.

"Biar jelas. Nggak usah sok polos. Aku yakin Mas udah pernah liat lebih banyak dari ini."

"Ya emang. Waktu lu pake baju Saringan Tahu!"

Aku tertegun.

"Yakin cuma saya? Wanita lainnya? Mantan-mantan Mas yang dulu-dulu?" pancingku.

Dia terdiam sejenak. Hanya sekejap, aku langsung menyadari ada lain dari tatapannya.

"Keknya emang hina banget gue di mata lu." Sorot matanya meredup.

"Bukan gitu, Mas. Di umur Mas yang segini dengan ruang lingkup yang seluas itu. Mustahil banget kalau Mas Fariz nggak pernah terjerumus dalam--"

"Seks bebas?" Dia memotong ucapanku. "Suci ...." Ada jeda panjang saat namaku mengudara. Tiba-tiba Mas Fariz mempersempit jarak di antara kita.

"Sebelumnya gue emang pemabuk berat, hobi gebukin orang, hobi bikin keributan, keluar masuk bui, suka party nggak jelas sampe tengah malem. Tapi, satu yang harus lu tahu. Gue nggak pernah main perempuan!"

Aku terbungkam.

"Di saat paling kepepet gue lebih milih maen pake tangan atau sabun di kamar mandi. Gue tahu ini aib, tapi gue bangga. Setidaknya nggak ada anak orang yang gue bikin nangis atau bunting di luar sana."

Aku benar-benar kehilangan kata sekarang.

"Sebagai sesama lelaki, Papa nggak pernah berhenti ngingetin. Jangan pernah coba-coba dengan zina, dampaknya nggak maen-maen katanya. Inget, kalau gue juga punya adik perempuan, inget gimana kalau suatu saat nanti gue juga punya anak perempuan. Pasti nggak akan rela digituin."

Aku mengangguk pelan. Menatap lekat wajah Mas Fariz yang terlihat begitu serius menceritakan sebagian kecil kisahnya tanpa perlu kuminta. Entah sejak kapan berbagai gejala nyeri akibat alergi sudah menguap entah kemana, atau memang ucapan Mas Fariz memang memiliki mantra penyembuh tersendiri?

"Lu mungkin nggak akan percaya, Ci. Waktu umur gue menginjak 15 tahun, Papa bahkan tutup mata gue saat kedapatan nonton kartun di TV, cuma gara-gara liat Si Sandy pake bikini!"

.

.

.

Bersambung.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Mga Comments (1)
goodnovel comment avatar
Fallen Angely
judul cerita yg baru sy baca yg lakonnya bernama avery
Tignan lahat ng Komento

Pinakabagong kabanata

  • Akibat Sumpah Sebelum Menikah   Terlambat?

    Sejak sore, Faqih sudah berdiri di depan cermin. Kemeja hitam polos diganti dengan cokelat muda yang dipatukan dengan angle pants berwarna cream. Jam tangan dipoles ulang. Rambut dirapikan untuk ketiga kalinya.Ia bahkan membuka kembali koper kecilnya dan mengeluarkan parfum yang jarang ia pakai, aroma maskulin lembut yang dulu sempat dipuji salah satu teman kampusnya.Beberapa semprotan. Lalu satu lagi. Sampai semerbak aromanya memenuhi kamar.Pintu kamarnya tiba-tiba terbuka tanpa diketuk. Fariz berdiri di sana, bersandar santai sambil memerhatikan putra semata wayangnya dari ujung kepala sampai kaki.“Lu mau dateng ke acara keluarga atau ngapel, sih? Rapi bener kayak mau kondangan,” tanyanya.Faqih menoleh, lalu cekikikan. “Ah, biasanya aja ini mah, Pak."Fariz mendekat, mengendus udara dramatis. “Busyet ... Wangi amat lagi. Ini acara keluarga, Tong. Bukan interview calon mertua.”Faqih memutar mata. “Kayak yang nggak pernah muda aja. Pasti bapak juga kalau ke kondangan pakai poma

  • Akibat Sumpah Sebelum Menikah   Jarak

    Pagi pertama Faqih kembali ke Lumajang terasa aneh. Udara masih sama. Jalanan menuju pesantren masih dilewati pedagang sayur dan anak-anak berseragam putih. Bahkan gerbang pesantren pun tidak banyak berubah.Namun, Faqih yang melangkah masuk bukan lagi remaja yang dulu berdiri petantang-petenteng di barisan wisuda.Ia datang sebagai alumni. Sebagai lelaki 26 tahun yang sudah melihat dunia yang lebih luas. Tentu saja ia lebih dewasa dan berwibawa.Beberapa santri perempuan yang kebetulan melintas melirik dua kali. Ada yang berbisik. Ada yang tersenyum malu-malu.Faqih pura-pura tidak sadar.Ia berjalan menuju kantor administrasi, berniat menemui salah satu ustaz lama. Hatinya sebenarnya tidak sepenuhnya tenang. Ada sesuatu yang membuatnya ingin datang hari itu—bukan sekadar silaturahmi.Saat melewati koridor dekat ruang kelas baru, ia mendengar suara yang membuat langkahnya berhenti.Suara itu tidak berubah. Tenang. Tegas. Dengan intonasi khas yang dulu sering memotong ucapannya.“Kala

  • Akibat Sumpah Sebelum Menikah   Pulang

    Mesin meraung pelan, lampu kabin meredup, dan bayangan wajah-wajah yang ia tinggalkan masih berkelebat di kepalanya.Ia mencoba tidur.Tapi yang muncul justru kabar itu.Ainun sudah dilamar oleh lelaki yang dulu datang ke tahlilan kakeknya. Lelaki yang berdiri di samping Ainun dengan sikap tenang, dewasa, dan entah kenapa terasa pantas. Lelaki yang saat itu membuat Faqih merasa seperti bocah yang belum selesai memahami apa itu cinta.Faqih masih ingat bagaimana ia menerima kabar itu.Tidak ada ledakan amaran, tidak ada ratapan atau kegalauan berkepanjangan. Yang ada hanya kekosongan, juga rasa kecewa yang bahkan sulit ia mengerti artinya.Ia pernah berpikir waktu akan menghapusnya. Tapi ternyata tidak. Waktu hanya membuatnya lebih rapi, agar dia bisa memulai kembali.***Tujuh tahun kemudian ....Bandara Changi siang itu ramai, seperti biasa. Penerbangan internasional, wisatawan, mahasiswa, pekerja migran—semuanya bercampur dalam satu arus besar.Di antara keramaian itu, seorang lelak

  • Akibat Sumpah Sebelum Menikah   Bandara

    Bandara pagi itu lebih ramai dari biasanya. Troli berlalu-lalang, pengumuman keberangkatan bersahut-sahutan, dan aroma kopi bercampur parfum mahal memenuhi udara. Di salah satu sudut ruang tunggu, empat anak muda berdiri berjejer. Masing-masing dengan koper, ransel, dan wajah yang berusaha terlihat santai. Faqih menatap papan jadwal keberangkatan. Singapura. Di sampingnya, Akmal dan Aisha sibuk memastikan dokumen, sementara Furqon berdiri sedikit menjauh, menelpon seseorang dengan nada suara mantap, ciri khas orang yang sudah berdamai dengan pilihannya sendiri. Salsa berdiri paling belakang. Ia tersenyum, tapi jemarinya mencengkeram tali tas terlalu erat. Fariz datang dengan gaya paling ribut. “Ini bandara apa pasar?” omelnya sambil mendorong troli. “Orang jalan nggak lihat-lihat.” Suci menepuk lengannya. “Mas, kamu yang nyeruduk.” Fariz mendecak. “Iya, iya. Salah gue lagi.” Tapi begitu ia melihat Faqih berdiri dengan koper besar ... langkah Fariz melambat. Tak t

  • Akibat Sumpah Sebelum Menikah   Wisuda

    Hari wisuda akhirnya tiba.Pesantren Al-Huda dipenuhi wajah-wajah tegang bercampur bahagia. Spanduk besar terbentang di gerbang, suara pengeras mengalun dengan nada formal, dan para santri akhir berdiri rapi menunggu giliran dipanggil.Faqih berdiri di barisan tengah. Kokonya bersih, pecinya lurus, tapi matanya kerap melayang entah ke mana. Ia berusaha fokus, tapi pikirannya terlalu penuh untuk hari yang seharusnya sederhana. Wisuda bukan sekadar akhir masa belajar—ia adalah tanda bahwa sebentar lagi, jarak akan benar-benar mengambil alih.Di bangku tamu, Fariz duduk tak bisa diam.“Ini lama amat, ya?” gumamnya. “Dulu gue lulus cepet.”Suci menoleh sambil tersenyum tipis. “Mas, dulu kamu lulus atau dikeluarin?”Fariz terdiam sesaat. “Ck, pake dibahas.”Saat nama Faqih dipanggil, Fariz refleks berdiri dan bertepuk tangan paling keras.“Itu anak gue!” serunya lantang.Suci menepuk lengannya. “Mas, duduk. Semua orang juga punya anak di sini.”“Tapi yang paling ganteng cuma atu,” balas Fa

  • Akibat Sumpah Sebelum Menikah   Menetap

    Lumajang tidak lagi terasa seperti tempat singgah. Sejak Pak Ahmad jatuh sakit, rumah tua itu pelan-pelan kembali hidup. Fariz dan Suci memang pindah sementara—itu yang mereka katakan pada banyak orang. Tapi semakin hari, kata sementara mulai kehilangan maknanya. Ada kebiasaan yang tumbuh. Ada rutinitas yang mengakar. Dan ada satu hal yang tak bisa dipungkiri Suci, ia lebih tenang berada di dekat ibunya. Pagi itu, Suci membantu ibunya menjemur pakaian di halaman. Langit Lumajang cerah, angin berembus pelan. Ibu Suci bergerak pelan, tangannya gemetar saat meraih ujung kain. Suci refleks menahan jemuran itu. “Pelan-pelan, Bu,” katanya. Ibunya tersenyum, senyum yang sudah jauh berkurang sejak Pak Ahmad pergi. “Iya. Sekarang apa-apa harus pelan.” Kalimat itu sederhana, tapi Suci tahu maksudnya lebih dari sekadar gerak tubuh. Mereka duduk di bangku kayu. Sunyi sebentar. “Kalau kalian balik ke Jakarta,” ucap ibunya akhirnya, “ibu nggak apa-apa. Lagian ibu rasa ini udah terlalu lama b

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status