Share

Adaptasi

Author: Dwrite
last update Last Updated: 2023-01-20 09:37:14

"Ci, kamu yakin mau nikah sama yang modelan begini?" Kualihkan pandangan dari cermin di depan pada Lola--sahabat yang sejak subuh tadi menemaniku didandani. "Tingginya bahkan 189,7 centi. Hampir 190! Nggak kebayang segede gimana ... anu, badannya maksudku." Aku memutar bola mata saat Lola meralat ucapannya sendiri.

Tahu akan begini, lebih baik tak kuberi tahu tadi. Biarkan dia melihatnya nanti saat akad beberapa saat lagi.

"Modelan begini itu gimana, La?" Kujawab pertanyaannya dengan pertanyaan lagi.

"Rambut gondrong lurus sebahu, bewok penuh semuka dijamin bikin geli. Alis codet sebelah. Spek preman macam ini kamu yakin bisa jadi pengganti Ali?!"

Dari balik cermin besar di hadapan. Kutatap tajam mata Lola yang menunduk dibuatnya.

"Sorry."

"Kenapa orang selalu mudah menyimpulkan cuma dari penampilan yang sekilas dipindai?"

Ibu satu anak itu diam membisu.

"Setidaknya Mas Fariz memberi harapan pasti, daripada dia yang pergi setelah berjanji, tapi ujungnya malah mengkhianati."

"Ci!" Lola meremas bahuku.

Kutatap pantulan diri berkebaya putih. Wajah yang sudah bubuhi make up minimalis itu tiba-tiba berubah samar saat sesuatu yang menggenang di pelupuk mata berdesakan ingin keluar.

"Sebaik-baiknya lelaki adalah dia yang berani mengikat ikrar suci, bukan yang hanya sekadar pengisi kekosongan hati. Aku udah kecewa dengan jenis lelaki macam Ali." Aku menoleh menatap Lola. Bibir perempuan berambut pirang kemerahan itu mulai bergetar.

"Ingat, kalau jodoh itu cerminan diri? Kadang searah, kadang juga memantul?"

"Ci, please ...." Lola menggenggam jemariku, sesekali meremasnya kuat.

"Kamu yang paling tahu gimana masa laluku, yang nggak sesuci namaku. Dengan Mas Fariz aku akan coba untuk kembali menata hati, lalu sama-sama memperbaiki diri."

.

.

.

"Nggak!" Suara tegas itu kembali menyentak lamunanku. "Gue nggak tahu, dan nggak akan mau tahu. Siapa pun lu di masa lalu, gue cuma tahu lu sebagai Suci, dan kita suami-istri."

Tanpa sadar senyumku mengembang.

"Tapi, kalau Mas masih ngerokok di hadapan saya, saya nggak akan ragu buat bertindak lebih jauh daripada tadi."

Mas Fariz memejamkan mata. "Oke, gue nggak akan ngerokok di hadapan lu lagi. Puas!"

Dia menyisir rambut gondrongnya ke belakang, lalu menggunakan karet di bungkus gorengan untuk mengikatnya.

Aku tertegun.

Dilihat dari dekat seperti ini. Paras Mas Fariz tak seburuk yang orang-orang katakan. Dia lumayan tampan.

"Nggak usah liat-liat. Gue orangnya ge'eran." Meski wajahnya lurus ke depan, tapi sudut mata Mas Fariz sesekali memerhatikan.

Aku tak menjawab, dan memilih terus menatap.

"Apa, sih, Ci!" Mas Fariz tampak kesal sendiri.

"Emang nggak boleh liatin suami sendiri?" cetusku tak peduli.

"Udah dibilang gue ge'eran."

"Ya, terus kenapa?" Gemas dengan tingkahnya, aku sengaja makin mendekatkan diri.

"Sekali lagi begitu beneran gue cium, ya!" Dia mengancam.

"Silakan! Mau di sebelah mana?" Semakin tertantang aku sengaja menyodorkan muka, tapi Mas Fariz justru menarik diri.

"Astagfirullah ini tempat umum, Ci!" Dia mengusap wajah frustrasi. "Entar, kalau cuma berdua, baru gue bera--"

"Abaangg!"

Suara nyaring teriakan seorang perempuan menginterupsi kami.

"Pantes lama kek nunggu antrian Bansos. Orang yang bawa mobil anak bunting," celetuk Mas Fariz saat melihat adiknya berjalan hati-hati sembari memegangi perut yang kutaksir sudah berjalan lima bulan.

Sesaat setelah sampai di hadapan kami, Farah memelukku dan Mas Fariz bergantian.

"Nggak usah pake peluk-pelukan! Kita buka teletubis." Mas Fariz mendorong wajah Farah dengan jari telunjuknya. "Kalau mau nyambut itu mending bawa kado, duit, atau paling enggak makanan."

Farah mengerucutkan bibirnya.

"Udah ada, tuh di mobil."

"Sip, dah."

"Oh, iya. Selamat menembuh hidup baru, semoga jadi keluarga yang sawama. Maaf nggak bisa hadir waktu akad sama resepsi. Mas Ali tiba-tiba diare," ungkapnya kemudian.

"Aamiin." Aku hanya menanggapi doanya, tanpa peduli tentang alasan yang membuat mereka tak menghadiri acara pernikahan kami.

Alasan yang cukup klise sebenarnya. Padahal itu bukan hal yang fatal. Komunitas Moge Mas Fariz saja bahkan menyempatkan diri datang. Arak-arakan menempuh perjalanan roda dua hampir seharian. Sedangkan mereka yang notabennya keluarga justru malah berhalangan. Entahlah.

Ternyata sosok Farah tak sesuai ekspektasi. Kukira dia tipe orang yang pendiam dan tenang. Ternyata berisik dan ceria juga.

"Halah, alasan. Palingan Si Ali nggak mau datang karena disuruh ngasih sambutan, tapi nggak dikasih amplop."

"Astagfirullah. Kebiasaan Abang, ih. Suudzon mulu sama ipar." Farah memukul pelan lengan Mas Fariz yang hanya bisa mengedikkan bahu tak peduli.

"Omong-omong kenapa lu yang jemput, Far. Mang Dani, atau laki lu mana? Masa orang bunting disuruh nyetir. Kita nunggu hampir sejaman dari tadi."

"Aku yang minta gantiin Mang Dani. Itung-itung bayar rasa bersalah karena nggak datang ke Lumanjang. Kalau Mas Ali ada jadwal ngisi kajian hari ini," tutur Farah sembari menuntun kami menuju mobik mewah yang terparkir di ujung sana.

"Tapi dia tahu, kan lu mau jemput kita?" tanya Mas Fariz lagi.

"Tahu, kok."

"Terus masih aja izinin lu pergi sendirian? Sebenarnya lebih penting mana, sih keluarga atau pekerjaan?"

Farah terdiam mendengar kalimat tajam yang diucapkan kakaknya.

"Bilang sama laki lu, nggak perlu terlalu banyak pencitraan. Heran, kek haus banget pujian sama pengakuan Si Ali--"

"Mas!" Aku menengahi. Mencengkeram lengan Mas Fariz, karena menyadari Farah sama sekali tak menanggapi.

"Bukannya akhir-akhir ini dia bahkan jarang pulang? Kesian tuh Si Hafiz, nanyain Bapaknya mulu saban hari. Dakwah, sih dakwah, tapi tahu jalan pulang juga kali--"

"Kenapa, sih, Bang!" sentak Farah tiba-tiba. "Repot banget ngurusin Mas Ali. Kalau sirik bilang aja kali. Nggak perlu sampe nyindir dan mojokin kayak gini. Pantes aja Papa lebih respek sama suamiku daripada anaknya sendiri. Kelakuan Abang yang begini emang kadang bikin jiji--"

"Farah!" Sekali lagi aku menengahi karena sadar perdebatan ini sudah terlampau jauh. Bisa kulihat wajah Farah memerah, sementara kepalan tangan dan rahang Mas Fariz mengetat.

Ya, ampun padahal kami baru saja bertemu. Mereka juga sempat berpelukan tadi.

"Maaf, kalau saya ikut campur. Tapi kayaknya bentar lagi ujan. Kalau kalian terus begini, bisa-bisa kita nginep di terminal."

Farah mendengkus keras, setelah itu membuka pintu belakang, mengempaskan bokong sembari memangku tangan.

"Lah, terus siapa yang nyet--" Belum sempat Mas Fariz menyelesaikan kalimat, Farah sudah lebih dulu melempar kunci mobil ke dasboard.

Mas Fariz menggertakkan gigi. "Sialan. Adek kurang aj--" Dia langsung melunak, dan menghela napas panjang hanya dengan tatapan tajamku. "Oke, kita pulang!"

***

"MasyaAllah. Anak-anak Ma--" Belum sempat Bu Nurul menyelesaikan kalimat, menyambut kedatangan kami--Mas Fariz dan Farah sudah nyelonong masuk begitu saja setelah mengecup pipi Papa dan Mamanya.

Sementara aku yang mengekor di belakang mereka sontak mencium punggung tangan kedua mertuaku bergantian, yang entah sejak kapan sudah berdiri di teras rumah besar lantai tiga ini.

"Mereka pasti berantem lagi," cetus Pak Jamal tepat sasaran.

Aku hanya meringis menanggapinya.

"Maklum, ya, Ci. Mereka kadang emang suka nggak inget umur," terang Bu Nurul sembari menggandeng tanganku masuk ke dalam. "Mama udah siapin makan. Kita makan dulu, ya. Habis itu baru ngobrol-ngobrol di ruang tengah."

Aku hanya mengangguk menanggapi. Kemudian mengedarkan pandangan ke kanan kiri, memindai rumah besar ini hingga tatapan terjatuh pada sepasang suami-istri yang tengah duduk di sofa ruang tengah, bersama putra kecilnya.

"Mas!" Farah mengguncang pelan bahu lelaki itu.

Dia menoleh, kami bersitatap. Cukup lama sampai tak sadar Farah kembali berujar.

"Untuk sementara Mbak Suci bakal tinggal di sini."

Lelaki itu mengangguk, tak lepas pandangannya saat beranjak menghampiri dan berdiri tepat di hadapanku saat ini.

"Saya Ali, suaminya Farah. Kita pernah ketemu di acara lamaran terakhir kali. Maaf, kami nggak bisa menghadiri pernikahan kalian beberapa hari lalu. Semoga betah, ya. Kalau ada yang bisa dibantu jangan sungkan buat kasih tahu."

Entah sejak kapan kedua tanganku sudah terkepal di sisi tubuh. Sempurna sekali skenario yang sudah dia rancang seolah kita memang dua orang asing yang tak pernah saling mengenal.

Sebenarnya apa yang ada di balik wajah tenang tanpa dosa itu? Sampai detik ini aku masih tak mengerti kenapa kamu bisa meninggalkanku seperti, Mas Ali!

"Ci, nih ada pecel enak kali. Seger banget buat ngilangin mabuk darat habis perjalanan jauh tadi." Mas Fariz tiba-tiba muncul di tengah-tengah kami, membawa piring kecil berisi pecel yang hendak ia suapi.

"Mas, saya--"

"Dia alergi kacang," sahut Mas Ali yang membuat semua orang langsung mengalihkan pandangan ke arahnya.

"Lah, kok lu tahu?" tanya Mas Fariz heran.

.

.

.

Bersambung.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Akibat Sumpah Sebelum Menikah   Terlambat?

    Sejak sore, Faqih sudah berdiri di depan cermin. Kemeja hitam polos diganti dengan cokelat muda yang dipatukan dengan angle pants berwarna cream. Jam tangan dipoles ulang. Rambut dirapikan untuk ketiga kalinya.Ia bahkan membuka kembali koper kecilnya dan mengeluarkan parfum yang jarang ia pakai, aroma maskulin lembut yang dulu sempat dipuji salah satu teman kampusnya.Beberapa semprotan. Lalu satu lagi. Sampai semerbak aromanya memenuhi kamar.Pintu kamarnya tiba-tiba terbuka tanpa diketuk. Fariz berdiri di sana, bersandar santai sambil memerhatikan putra semata wayangnya dari ujung kepala sampai kaki.“Lu mau dateng ke acara keluarga atau ngapel, sih? Rapi bener kayak mau kondangan,” tanyanya.Faqih menoleh, lalu cekikikan. “Ah, biasanya aja ini mah, Pak."Fariz mendekat, mengendus udara dramatis. “Busyet ... Wangi amat lagi. Ini acara keluarga, Tong. Bukan interview calon mertua.”Faqih memutar mata. “Kayak yang nggak pernah muda aja. Pasti bapak juga kalau ke kondangan pakai poma

  • Akibat Sumpah Sebelum Menikah   Jarak

    Pagi pertama Faqih kembali ke Lumajang terasa aneh. Udara masih sama. Jalanan menuju pesantren masih dilewati pedagang sayur dan anak-anak berseragam putih. Bahkan gerbang pesantren pun tidak banyak berubah.Namun, Faqih yang melangkah masuk bukan lagi remaja yang dulu berdiri petantang-petenteng di barisan wisuda.Ia datang sebagai alumni. Sebagai lelaki 26 tahun yang sudah melihat dunia yang lebih luas. Tentu saja ia lebih dewasa dan berwibawa.Beberapa santri perempuan yang kebetulan melintas melirik dua kali. Ada yang berbisik. Ada yang tersenyum malu-malu.Faqih pura-pura tidak sadar.Ia berjalan menuju kantor administrasi, berniat menemui salah satu ustaz lama. Hatinya sebenarnya tidak sepenuhnya tenang. Ada sesuatu yang membuatnya ingin datang hari itu—bukan sekadar silaturahmi.Saat melewati koridor dekat ruang kelas baru, ia mendengar suara yang membuat langkahnya berhenti.Suara itu tidak berubah. Tenang. Tegas. Dengan intonasi khas yang dulu sering memotong ucapannya.“Kala

  • Akibat Sumpah Sebelum Menikah   Pulang

    Mesin meraung pelan, lampu kabin meredup, dan bayangan wajah-wajah yang ia tinggalkan masih berkelebat di kepalanya.Ia mencoba tidur.Tapi yang muncul justru kabar itu.Ainun sudah dilamar oleh lelaki yang dulu datang ke tahlilan kakeknya. Lelaki yang berdiri di samping Ainun dengan sikap tenang, dewasa, dan entah kenapa terasa pantas. Lelaki yang saat itu membuat Faqih merasa seperti bocah yang belum selesai memahami apa itu cinta.Faqih masih ingat bagaimana ia menerima kabar itu.Tidak ada ledakan amaran, tidak ada ratapan atau kegalauan berkepanjangan. Yang ada hanya kekosongan, juga rasa kecewa yang bahkan sulit ia mengerti artinya.Ia pernah berpikir waktu akan menghapusnya. Tapi ternyata tidak. Waktu hanya membuatnya lebih rapi, agar dia bisa memulai kembali.***Tujuh tahun kemudian ....Bandara Changi siang itu ramai, seperti biasa. Penerbangan internasional, wisatawan, mahasiswa, pekerja migran—semuanya bercampur dalam satu arus besar.Di antara keramaian itu, seorang lelak

  • Akibat Sumpah Sebelum Menikah   Bandara

    Bandara pagi itu lebih ramai dari biasanya. Troli berlalu-lalang, pengumuman keberangkatan bersahut-sahutan, dan aroma kopi bercampur parfum mahal memenuhi udara. Di salah satu sudut ruang tunggu, empat anak muda berdiri berjejer. Masing-masing dengan koper, ransel, dan wajah yang berusaha terlihat santai. Faqih menatap papan jadwal keberangkatan. Singapura. Di sampingnya, Akmal dan Aisha sibuk memastikan dokumen, sementara Furqon berdiri sedikit menjauh, menelpon seseorang dengan nada suara mantap, ciri khas orang yang sudah berdamai dengan pilihannya sendiri. Salsa berdiri paling belakang. Ia tersenyum, tapi jemarinya mencengkeram tali tas terlalu erat. Fariz datang dengan gaya paling ribut. “Ini bandara apa pasar?” omelnya sambil mendorong troli. “Orang jalan nggak lihat-lihat.” Suci menepuk lengannya. “Mas, kamu yang nyeruduk.” Fariz mendecak. “Iya, iya. Salah gue lagi.” Tapi begitu ia melihat Faqih berdiri dengan koper besar ... langkah Fariz melambat. Tak t

  • Akibat Sumpah Sebelum Menikah   Wisuda

    Hari wisuda akhirnya tiba.Pesantren Al-Huda dipenuhi wajah-wajah tegang bercampur bahagia. Spanduk besar terbentang di gerbang, suara pengeras mengalun dengan nada formal, dan para santri akhir berdiri rapi menunggu giliran dipanggil.Faqih berdiri di barisan tengah. Kokonya bersih, pecinya lurus, tapi matanya kerap melayang entah ke mana. Ia berusaha fokus, tapi pikirannya terlalu penuh untuk hari yang seharusnya sederhana. Wisuda bukan sekadar akhir masa belajar—ia adalah tanda bahwa sebentar lagi, jarak akan benar-benar mengambil alih.Di bangku tamu, Fariz duduk tak bisa diam.“Ini lama amat, ya?” gumamnya. “Dulu gue lulus cepet.”Suci menoleh sambil tersenyum tipis. “Mas, dulu kamu lulus atau dikeluarin?”Fariz terdiam sesaat. “Ck, pake dibahas.”Saat nama Faqih dipanggil, Fariz refleks berdiri dan bertepuk tangan paling keras.“Itu anak gue!” serunya lantang.Suci menepuk lengannya. “Mas, duduk. Semua orang juga punya anak di sini.”“Tapi yang paling ganteng cuma atu,” balas Fa

  • Akibat Sumpah Sebelum Menikah   Menetap

    Lumajang tidak lagi terasa seperti tempat singgah. Sejak Pak Ahmad jatuh sakit, rumah tua itu pelan-pelan kembali hidup. Fariz dan Suci memang pindah sementara—itu yang mereka katakan pada banyak orang. Tapi semakin hari, kata sementara mulai kehilangan maknanya. Ada kebiasaan yang tumbuh. Ada rutinitas yang mengakar. Dan ada satu hal yang tak bisa dipungkiri Suci, ia lebih tenang berada di dekat ibunya. Pagi itu, Suci membantu ibunya menjemur pakaian di halaman. Langit Lumajang cerah, angin berembus pelan. Ibu Suci bergerak pelan, tangannya gemetar saat meraih ujung kain. Suci refleks menahan jemuran itu. “Pelan-pelan, Bu,” katanya. Ibunya tersenyum, senyum yang sudah jauh berkurang sejak Pak Ahmad pergi. “Iya. Sekarang apa-apa harus pelan.” Kalimat itu sederhana, tapi Suci tahu maksudnya lebih dari sekadar gerak tubuh. Mereka duduk di bangku kayu. Sunyi sebentar. “Kalau kalian balik ke Jakarta,” ucap ibunya akhirnya, “ibu nggak apa-apa. Lagian ibu rasa ini udah terlalu lama b

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status