Share

Laki-laki Bertubuh Gempal

"Arvin, aku pamit pulang dulu. Mau mandi sama ke rumah Mbah Jenggot untuk membantu menyembuhkan adik kamu."

"Sarapan dulu, Mas. Nanti baru pulang."

"Nantilah gampang. Aku sarapa di rumah saja. Kamu tuh jangan sampai telat sarapan biar tetap sehat supaya bisa merawat adik kamu," ujar Anton memberi sedikit perhatian pada tetangganya. 

"Iya, Mas. Terima kasih banyak atas bantuannya." 

"Sama-sama. Nanti aku ke sini sorean, ya. Pamit dulu. Assalamualaikum."

"Wa'alaikumsalam. Hati-hati, Mas." Arvin mengangkat telapak tangannya menatap kepergian Anton meninggalkan ruang rawat. 

Kini hanya tinggal dirinya dan Farhan yang kembali tertidur usai sarapan dan meneguk obat pemberian dokter. 

Tadi saat bangun, dia sempat kembali berteriak histeris. Hingga membuat pasien lain yang di kamar itu sedikit terganggu dengan ulah Farhan.

Namun untungnya, Arvin bisa menenangkan adiknya.

Arvin pun memutuskan untuk tidur sesaat ketika Farhan kembali tidur setelah disuntik obat penenang oleh dokter. 

Semalam dia tidak bisa tidur karena mengalami beberapa gangguan gaib. Belum lagi Farhan yang sering histeris jika terbangun. Membuat kepala Arvin berdenyut karena kurang tidur.

Namun, baru saja dia memejamkan kedua matanya, Arvin kembali membuka matanya sambil bibirnya meringis saat perutnya terasa dipelintir. 

"Asam lambungnya kambuh," keluhnya sembari menyentuh bagian dadanya yang terasa panas juga perih. 

Arvin memang memiliki riwayat penyakit asam lambung. Biasanya akan kambuh jika dia kurang tidur, terlalu banyak pikiran, juga telat makan.

Persis seperti apa yang dialaminya sejak semalam. 

Dia pun mengurungkan niatnya untuk tidur. Arvin bangkit dari duduknya sambil membawa tasnya. Kakinya melangkah keluar ruangan setelah menitipkan Farhan pada suster yang jaga.

"Saya mau keluar sebentar, Sus. Tolong jaga adik saya, ya. Ini nomor telepon saya. Hubungi saya saja jika terjadi apa-apa pada adik saya," ujar Arvin sambil memberikan kertas berisi nomor teleponnya yang sudah dia tulis sebelumnya.

"Oh, ya. Baik, Mas." Suster itu menerima kertas pemberian Arvin. Lalu menyimpannya di saku baju seragamnya. 

"Terima kasih, Sus."

"Sama-sama," balasnya dengan senyum ramah. 

Setelah menitipkan Farhan pada suster, Arvin pun memilih keluar rumah sakit. Berjalan dengan langkah gontai. Kemudian masuk ke dalam warung makan yang menyediakan makanan prasmanan.

Perutnya harus segera diisi dengan makanan sebelum sakit yang dirasakannya semakin bertambah parah.

"Bu, nasi rames, ya," ucapnya pada penjaga warung.

"Oh, iya, Mas. Silakan ambil sendiri sesuai selera," balas penjaga warung itu sambil memberikan piring dan sendok pada Arvin. 

"Terima kasih. Tapi, lauk bebas sama saja sepuluh ribu, Bu?" tanyanya memastikan.

Pasalnya, uang yang ada di dompetnya hanya tinggal beberapa lembar saja. Karena gajian masih beberapa hari lagi. Belum lagi, bulan ini banyak tanggal merah, dia menjadi sering libur.

Jadi, harus berhemat. Untung saja, biaya pengobatan Farhan ditanggung pihak penyedia jasa jaminan kesehatan. Sehingga, dia tidak perlu pusing memikirkan biaya rumah sakit.

"Betul. Pakai lauk apa saja hanya sepuluh ribu, Mas," jawab perempuan berhijab abu-abu itu dengan senyum ramah.

"Oke," sahut Arvin.

Kemudian, dia mulai mengambil sedikit nasi, lauk ayam semur dan oseng sayur labu siam. Setelahnya, dia duduk di ujung warung. Karena hanya itu meja yang tidak berpenghuni.

Baru saja dia melahap satu suapan. Tiba-tiba suara bariton seorang laki-laki sedikit mengejutkannya karena datangnya yang tiba-tiba.

"Permisi, boleh saya duduk di sini?" tanyanya pada Arvin. 

Arvin menghentikan suapannya. Kemudian mengangkat wajah. Penasaran dengan wajah orang yang ada di hadapannya.

"Boleh, Pak. Silakan," jawab Arvin dengan senyum ramah.

"Terima kasih," ujarnya. 

"Sama-sama."

Arvin masih berusaha mengukir senyum. Meski hati dan pikirannya sedang tidak sejalan karena masalah yang tengah menimpa dirinya. 

Mereka pun menghabiskan makanannya masing-masing dalam diam.

Hingga saat Arvin hendak membayar makanan yang sudah dihabiskannya, laki-laki dengan perut buncit itu berbicara, "Sepertinya ada masalah denganmu, Anak muda?" tanyanya yang membuat Arvin mengurungkan langkahnya. 

Dia menatap laki-laki itu dengan kening berkerut.

"Maksud Mas?" Tanyanya penasaran.

"Saya tahu apa yang sedang menimpamu," ujarnya lagi. Membuat Arvin menyunggingkan sedikit bibirnya tanpa laki-laki itu tahu. "Jangan meremehkan. Aku bahkan bisa tahu apa isi hatimu tanpa kamu beritahu kepadaku. 

"Maaf, Pak. Saya harus permisi," kata Arvin yang malah mengabaikan ucapan orang itu. Tidak tertarik sama sekali. Dia hanya menganggap orang itu berbohong saja. 

"Saya bisa menyembuhkan adik kamu yang terkena gangguan gaib itu," ujarnya. 

Arvin melebarkan kedua matanya. Menatap laki-laki bertubuh gempal itu dengan rasa penasaran. 

Bagaimana dia bisa tahu apa yang sedang dia risaukan?

Apakah dia bisa membaca hati manusia? 

Tapi masa iya? 

Pikiran Arvin semakin dipenuhi oleh tanda tanya. Membuat kepalanya semakin berdenyut. Namun, dia coba untuk bertahan demi kesembuhan adiknya.

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status