Share

Bab 2

Penulis: Kayla
Tiba-tiba hening di ujung telepon. Aku tidak tahu apakah itu karena dia terkejut atau terlalu gembira untuk berbicara. Bagaimanapun juga, hanya jika aku bercerai, dia baru bisa menggantikan posisiku.

Aku menutup telepon dan duduk di depan meja kopi sambil diam-diam menunggu Stephan pulang. Namun, setelah menunggu sepanjang malam, Stephan tidak pulang. Sebaliknya, yang datang adalah asistennya, Lily.

Sejak Lily masuk, aku bisa merasakan permusuhannya terhadapku. Dia telah menjadi asisten Stephan selama tiga tahun, dan aku samar-samar bisa merasakan bahwa dia menaruh perasaan terhadap Stephan.

Melihatku yang kelelahan karena tidak tidur sepanjang malam, dia terlihat sangat sombong dan berkata dengan angkuh, "Pak Stephan sudah memelihara kamu selama hampir empat tahun. Sekarang, Bu Sadie akan segera jadi istrinya. Kamu pasti sedih banget kan sekarang?"

Memeliharaku? Heh! Pernikahan diam-diamku dengan Stephan memang disembunyikan dengan sangat baik. Empat tahun lalu, semua senior di Keluarga Kurniadi menentang keras pernikahanku dengan Stephan. Alasannya karena statusku yang rendah.

Pada akhirnya, aku berkompromi dan setuju untuk hanya mendaftarkan pernikahan tanpa mengadakan pesta pernikahan. Selain orang-orang terdekatku, tidak ada yang tahu tentang pernikahan kami.

Pada saat itu, Stephan menatapku dengan sedih, lalu mengelus rambutku dan berkata aku telah dirugikan. Dia berjanji akan mengadakan pesta pernikahan mewah untukku begitu dia mewarisi Grup Kurniadi.

Faktanya, Stephan sudah mendapatkan hak waris, tetapi aku tidak pernah mendapatkan pernikahan itu. Bahkan sekarang, asistennya masih menganggapku sebagai wanita simpanannya.

Lily berujar dengan sombong, "Pak Stephan minta aku untuk selidiki rumor semalam. Kebetulan, skandal mengenai Bu Sadie itu bocor dari perusahaanmu. Sebagai pemimpin redaksi departemen hiburan, kamu pasti tahu, 'kan?"

Jika memang sudah berniat untuk menyalahkan, alasan apa pun bisa digunakan. Stephan tidak memberikan penjelasan apa pun atas perselingkuhannya, tetapi malah menuduhku terlebih dahulu.

Aku menyahut tanpa ekspresi, "Bukan aku."

Lily mencemooh, "Buktinya ada di depan mata. Lebih baik kamu ngaku dan berpisah secara baik-baik dengan Pak Stephan! Daripada diusir, itu akan sangat memalukan!"

Sebelum dia selesai berbicara, aku tiba-tiba berdiri dan menamparnya.

Lily pun mematung di tempat. Dia menutupi wajahnya dan menatapku dengan tidak percaya.

Aku melempar surat kesepakatan cerai di depannya, lalu menoleh dan berkata, "Apa yang terjadi antara aku dan bosmu bukan urusanmu! Pergi sana!"

Mata Lily langsung melebar saat melihat surat kesepakatan cerai itu. "Kamu dan Pak Stephan sudah nikah?"

Namun, begitu teringat bosnya sudah bersama Sadie, dia pun menggertakkan gigi dan memaksakan tawa dingin.

"Pak Stephan beri aku kekuasaan penuh untuk tangani hal ini. Kalau kamu nggak ngaku kamu yang bocorkan informasi itu, berlututlah di aula pemujaan untuk renungkan perbuatanmu. Kamu baru boleh bangun setelah sadari kesalahanmu! Gimanapun, Bu Sadie masih menangis sampai sekarang!"

Aku hampir tertawa karena marah. Yang berselingkuh itu Stephan, tetapi malah aku yang disuruh untuk merenungkan perbuatanku?

"Nggak masalah juga kalau kamu keberatan. Tapi jangan lupa, alat bantu jantung dan paru-paru yang dipakai ibumu yang koma itu dikembangkan Grup Kurniadi, juga baru akan dipasarkan sebulan lagi. Saat ini, Pak Stephan bisa hentikan pemakaian mesin itu kapan saja. Kalau itu terjadi, ibumu tinggal tunggu mati!"

Stephan lebih kejam dari yang kubayangkan. Dia tahu jelas bahwa ibuku adalah satu-satunya keluargaku yang tersisa di dunia ini!

Akhirnya, aku berlutut di atas lantai yang dingin. Aroma samar ambergris di aula pemujaan yang mirip dengan aroma tubuh Stephan seketika menyelimutiku.

Aku tidak pernah berpikiran sejernih saat ini. Aku harus bercerai dengan Stephan.

Melihat ini, pembantu rumah kami, Bi Laras, menggantikanku memohon dengan panik, "Bu Lily, Nyonya nggak boleh dibiarkan berlutut seperti itu! Keadaan lututnya nggak bagus. Dia benar-benar nggak boleh berlutut seperti itu."

Tiga tahun lalu, setelah anak kami meninggal, Stephan hanya melontarkan sedikit hiburan yang acuh tak acuh, lalu lanjut terbang keliling dunia dengan alasan pekerjaan. Yang tidak dia ketahui adalah aku berlutut di aula pemujaan setiap malam untuk memohon agar dewa bisa mengembalikan anakku.

Alih-alih beristirahat dengan baik setelah melahirkan, aku menghabiskan hari-hariku berlutut di aula pemujaan, tanpa makan atau minum. Hal itu pun meninggalkan penyakit kronis pada tubuhku.

Pada saat itu, hujan turun terus-menerus. Aku pun didiagnosis menderita rematik. Bahkan dokter juga terkejut orang semuda aku bisa menderita penyakit seperti itu. Dokter juga mengatakan bahwa penyakit itu tidak dapat disembuhkan. Pada hari-hari hujan, aku hanya bisa mengatasi rasa sakit dengan obat-obatan.

Bahkan Bi Laras juga mengetahui semua ini, tetapi Stephan tidak.

Bi Laras memohon kepada Lily tetapi tidak mendapatkan hasil. Dia tidak tahan melihatku menderita lebih lama lagi dan berujar, "Aku akan telepon Tuan sekarang juga!"

Aku menahan rasa sakit yang luar biasa di lututku dan menyahut sambil menggertakkan gigi, "Bi Laras, jangan telepon Stephan!"

Sebelumnya, aku tidak memberi tahu Stephan mengenai hal-hal ini karena tidak ingin dia sedih bersamaku. Sekarang, itu tidak perlu dikatakan lagi. Sebab, Stephan sama sekali tidak akan sedih untukku.

Namun, Bi Laras tidak mendengarkan nasihatku dan bersikeras untuk menghubungi nomor Stephan.

Kali ini, bukan Stephan yang menjawab, tetapi suara polos seorang gadis kecil. "Siapa ini? Papa lagi temani Mama beli baju."

Aku pun menertawakan diriku.

Entah sejak kapan, Stephan mengubah kata sandi ponselnya dan hampir tidak pernah membiarkanku menyentuhnya. Kupikir, dia terlalu peduli dengan privasinya. Nyatanya, selingkuhan dan putrinya boleh menyentuh ponselnya dengan bebas. Hanya aku yang tidak boleh.

Ekspresi Bi Laras langsung membeku. Dia segera memeriksa nomornya untuk memastikan dirinya tidak salah menelepon. Melihat ekspresiku, dia langsung mengerti apa yang terjadi dan segera menutup telepon.

Aku hanya tersenyum tipis.

Setelah darah merembes dari lututku, Lily baru mencibir dan berbalik untuk pergi. Saat pergi, dia melontarkan ancaman. "Sikapmu dalam mengakui kesalahan sangat bagus, jadi aku nggak akan beri tahu Pak Stephan."

Setelah Lily pergi, Bi Laras segera memapahku ke kamar. Setiap langkah yang kuambil membuatku meringis kesakitan.

Bi Laras membelaku dan berujar dengan suara tercekat, "Tuan sudah keterlaluan! Bisa-bisanya dia suruh Nyonya berlutut di sini selama berjam-jam, sedangkan dia masih punya waktu luang untuk temani wanita lain belanja. Gadis kecil itu juga. Dia ...."

Bi Laras tidak mampu melanjutkan kata-katanya, hanya menatapku dengan khawatir.

Aku tersenyum lemah dan menyahut, "Bi Laras, boleh tolong ambilkan kotak P3K untukku?"

Tidak lama kemudian, aku mendengar suara langkah kaki yang familier di luar pintu. Stephan sudah pulang.

Aku mendengar percakapannya dengan Bi Laras.

"Buat apa kamu ambil kotak P3K?" tanya Stephan.

"Nyonya berlutut di aula pemujaan sepanjang malam. Lututnya lecet."

"Dia serapuh itu?"

Stephan jelas tidak memercayai ucapan Bi Laras. Dia sedang menyiratkan bahwa aku hanya bersekongkol dengan Bi Laras untuk mendapatkan simpatinya.

Bi Laras mengumpulkan keberaniannya dan menjawab, "Bu Lily yang menindasnya. Dia menendang bantalan di dalam aula dan suruh Nyonya berlutut langsung di atas lantai selama berjam-jam."

Stephan bertanya dengan nada yang lebih dingin lagi, "Siapa yang suruh dia berbuat begitu?"
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Aku Ajukan Cerai, Suamiku yang Dingin Melanggar Pantangannya   Bab 50

    Aku memandang Stephan dengan ekspresi tidak percaya dan membalas, "Kamu ... mau aku donor darah untuk anak itu? Stephan, jangan lupa aku juga menderita anemia. Bahkan anemiaku sangat parah karena mengikutimu menjadi vegetarian selama tiga tahun."Ekspresi Stephan tampak terkejut sesaat, lalu kembali menjadi dingin. Dia menanggapi, "Anemiamu nggak akan mengancam nyawamu, tapi sekarang Dora harus diselamatkan. Cuma kamu yang bisa menyelamatkannya."Aku mengepalkan tanganku dengan erat sampai-sampai kukuku menusuk telapak tanganku. Aku menimpali dengan geram, "Dia itu anaknya kamu dan Sadie, aku nggak percaya golongan darah kalian nggak cocok dengannya! Masa kamu bukan suruh Sadie donor darah, malah menyuruhku?"Aku menegaskan, "Kamu menyerah saja! Jangan harap aku mau menyelamatkan putrimu!"Tiba-tiba, Sadie yang menunggu di luar menerobos masuk. Dia berlari ke samping tempat tidurku, lalu berlutut dan memohon seraya menangis, "Bu Zayleen, aku mohon selamatkan Dora. Dia masih kecil, aku

  • Aku Ajukan Cerai, Suamiku yang Dingin Melanggar Pantangannya   Bab 49

    Aku menjawab tanpa ragu sedikit pun.[ Iya, jual saja. ]Awalnya aku mengira cinta Stephan padaku tak ada duanya seperti kalung itu. Namun, Stephan sudah berubah. Pernikahan kami juga hancur, jadi rasanya ironis melihat simbol ikatan cinta ini.Jesslyn membantuku menjual perhiasan dan membayar biaya pengobatan ibuku. Kemudian, dia membawa sampel Stephan dan Dora ke laboratorium tes DNA yang terkenal di Kota Heiken.....Dua hari kemudian, hasil tes DNA sudah keluar. Probabilitasnya 99,99 persen, jadi Stephan memang ayah biologis Dora.Aku memang sudah menduga hasilnya seperti ini. Namun, semua yang terjadi di antara aku dan Stephan sejak kecil muncul di benakku saat melihat tulisan yang padat di laporan tes DNA itu.Jelas-jelas dulu hubunganku dengan Stephan begitu dekat. Akan tetapi, semuanya berubah sejak Dora lahir tiga tahun yang lalu. Aku bukan lagi orang yang terpenting bagi Stephan, melainkan orang yang bisa dia tinggalkan dengan mudah."Um, ini memang hasil yang kuinginkan," ka

  • Aku Ajukan Cerai, Suamiku yang Dingin Melanggar Pantangannya   Bab 48

    Aku merasa sedikit gugup. Aku bertanya lagi, "Ibu nggak beri tahu Sadie aku juga pergi, 'kan?"Ibu angkatku tertawa dan menjawab, "Bukannya kamu melarangku memberitahunya? Jadi, aku nggak bilang.""Baguslah kalau begitu," timpalku yang merasa lega. Aku menambahkan, "Kalau begitu, aku dan Stephan pasti datang Rabu depan."Sesudah mengakhiri panggilan telepon ibu angkatku, pihak rumah sakit yang merawat ibuku menelepon. Mereka mendesakku untuk membayar biaya pengobatan.Biaya pengobatan ibuku setiap tahun sangat mahal. Dulu, Keluarga Yurdika yang menanggung semua biaya ini.Setelah aku menikah dengan Stephan, dia yang berinisiatif ingin menanggung semua biaya pengobatan ibuku. Waktu itu, Stephan selalu mengutamakanku dan memperhatikanku. Akan tetapi, sekarang Stephan menemani Sadie jalan-jalan dan melupakan semua janjinya padaku dulu.Aku menggenggam ponsel sambil memandangi layar untuk waktu yang lama, lalu aku memutuskan untuk menelepon Stephan.Sadie yang menjawab panggilan telepon, "

  • Aku Ajukan Cerai, Suamiku yang Dingin Melanggar Pantangannya   Bab 47

    Aku sedang mencari alasan untuk membuat Stephan meninggalkan rumah sakit. Tiba-tiba, pintu kamar diketuk. Ternyata Sadie yang datang.Aku benar-benar salut pada Sadie. Dia bukan hanya sibuk mengadakan konser, syuting iklan, dan film. Bahkan dia masih sempat untuk mengawasi Stephan setiap hari. Orang yang berdedikasi tinggi seperti ini pasti berhasil dalam melakukan apa pun.Mata Sadie bengkak. Dia berbicara dengan lembut, "Kak Stephan, aku datang untuk menjenguk Bu Zayleen. Tadi pagi Dora ikut aku, jadi aku nggak bisa bicarakan masalah Bu Zayleen. Katanya luka Bu Zayleen sangat parah. Bagaimana kondisinya sekarang?"Stephan menyahut, "Operasinya sangat berhasil. Dokter bilang nggak akan meninggalkan gejala sisa."Sadie menanggapi, "Baguslah kalau begitu. Kalau terjadi sesuatu pada Bu Zayleen, aku pasti nggak bisa tenang seumur hidup."Stephan bertanya saat melihat mata Sadie yang bengkak, "Matamu kenapa?""Nggak apa-apa," jawab Sadie. Dia menyeka air matanya dan meneruskan dengan mata

  • Aku Ajukan Cerai, Suamiku yang Dingin Melanggar Pantangannya   Bab 46

    Stephan mendengus, lalu mengamatiku seraya berkomentar, "Sekarang kamu tahu dia itu orang tuaku? Dulu kamu nggak begitu patuh waktu dia melarangmu menikah denganku."Suaraku tercekat. Perasaan cinta dan pengorbananku untuk Stephan dulu malah menjadi alat Stephan untuk menyakitiku sekarang.Stephan menjepit rahangku untuk memaksaku melihatnya. Dia menegaskan, "Zayleen, sudah cukup kamu berpura-pura jual mahal. Asalkan kamu nggak mempersulit Sadie dan menyakiti Dora, aku nggak akan mencabut posisimu sebagai istriku."Stephan mengira jaminannya akan membuatku tenang dan berterima kasih padanya. Namun, aku makin yakin untuk bercerai dengan Stephan.Untuk apa aku mempertahankan posisi sebagai istri Stephan yang hampa itu? Masa aku harus tinggal di vila itu seumur hidup untuk melihat keharmonisan Stephan bersama Sadie dan putri mereka?Aku sudah bisa mengungkap kebenaran kurang dari setengah bulan. Begitu teringat bukti yang pengacara suruh aku kumpulkan, aku tiba-tiba berbicara dengan lembu

  • Aku Ajukan Cerai, Suamiku yang Dingin Melanggar Pantangannya   Bab 45

    Sebenarnya aku juga terkejut. Sekarang Stephan menghentikan ibunya demi aku.Helen yang tidak rela menegur, "Stephan, kenapa kamu menghentikanku? Masa kamu nggak tahu seberapa besar pengaruh berita yang dirilisnya hari ini untuk Grup Kurniadi?"Stephan melihatku sekilas, lalu berkata kepada ibunya, "Grup Kurniadi sudah menghadapi banyak masalah besar sejak didirikan. Masa satu berita saja bisa menimbulkan pengaruh besar bagi Grup Kurniadi?"Helen memandangi putranya dengan ekspresi terkejut sembari menanggapi, "Sampai sekarang kamu masih membelanya? Stephan, sekarang kamu sudah punya Sadie dan Dora. Jangan sampai kamu dicelakai wanita ini lagi. Kalau nggak, apa kamu nggak merasa bersalah pada Sadie?"Stephan membalas dengan datar, "Aku bisa selesaikan masalahku sendiri. Aku suruh Jovin antar kamu pulang.""Nggak bisa!" tegas Helen. Dia melanjutkan, "Wanita rendahan ini bukan cuma nggak pantas menjadi istrimu, dia bahkan berani menjelek-jelekkan Grup Kurniadi dan cemburu pada Sadie. Buk

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status