Share

Bab 3

Penulis: Kayla
"Bukannya Tuan?"

Setelah Bi Laras menyelesaikan ucapannya, Stephan seharusnya langsung menelepon. Suaranya terdengar dingin, tetapi nadanya yang tegas tidak memberi ruang untuk bantahan. "Lily, pergilah ke departemen keuangan untuk ambil gajimu besok. Mulai sekarang, kamu nggak perlu datang ke Grup Kurniadi lagi."

Kemudian, Stephan membawa kotak P3K masuk ke kamarku. Dengan wajah dingin, dia langsung berjalan ke tempat tidur dan duduk. Dia memegang pergelangan kakiku dan meletakkan betisku di pangkuannya.

"Agak sakit, tahan dikit."

Mata pria yang gelap itu tertuju pada darah kering di lututku. Kemudian, dia dengan lembut membersihkan lukaku dengan kapas yang mengandung yodium.

Jika bukan karena adegan-adegan dalam foto yang sudah sepenuhnya menghancurkan harapanku terhadapnya, ekspresi fokusnya akan membuatku merasa seolah-olah dia telah kembali menjadi Stephan yang mencintaiku seperti dahulu kala.

Namun, Stephan bersama wanita itu semalam, sepanjang malam. Tidak, mungkin selama tiga tahun terakhir ketika Stephan menggunakan perjalanan bisnis sebagai alasan, mereka juga selalu bersama.

Aku tiba-tiba merasa mual, lalu buru-buru menarik kakiku dan duduk menjauh darinya. Aku mengambil kapas lain untuk mendisinfeksi luka. Rasa sakit yang tajam dan menusuk mengingatkanku bahwa tidak ada jalan kembali bagi aku dan Stephan.

Aku tidak menatap matanya. Aku menunduk untuk memasang perban di lututku sambil berkata, "Stephan, kita cerai saja!"

Keputusan yang kubuat setelah pertimbangan matang semalaman, perpisahan yang menyakitkan dan menyiksa bagiku, ternyata tidak menimbulkan sedikit pun reaksi terkejut dari Stephan.

Wajahnya yang dingin dan tampan tetap tak berubah. "Cerai? Memangnya kamu rela?"

Bagaimanapun juga, setelah diadopsi oleh Keluarga Yurdika saat berusia lima tahun, aku sudah mengenal Stephan. Sejak saat itu, aku mengikutinya ke mana pun dia pergi dan menjadikannya pusat seluruh perhatianku.

Dia menatapku dengan tatapan merendahkan. "Ucapin kata-kata ngambek sekali atau dua kali nggak masalah. Tapi, gimana kalau aku benar-benar setuju lain kali?"

Aku menekan kesedihanku dan bertanya dengan sinis, "Kamu bahkan sudah punya anak dengan wanita lain, apa yang membuatmu berpikir aku harus tetap setia padamu?"

Mata Stephan yang tajam menyipit. Dia mengamatiku dan bertanya, "Kamu sudah tahu?"

Aku memaksakan senyum pahit. Suaraku terdengar penuh kegetiran saat bertanya, "Putri kalian kelihatannya sudah sekitar tiga tahun, 'kan? Itu berarti dia lahir nggak lama setelah anak kita meninggal. Benar nggak?"

Kilatan aneh melintas di wajah dingin Stephan. Dia tidak membenarkan atau menyangkalnya.

Suasananya mendadak terasa mencekam.

Setelah keheningan yang panjang, dia mengerutkan kening dan bertanya, "Kamu benar-benar begitu keberatan dengan keberadaan Dora?"

Jadi, nama gadis kecil itu adalah Dora.

Aku menjawab dengan lemah, "Kalau keberadaannya cuma untuk puaskan keinginanmu dipanggil ayah, aku nggak akan keberatan."

Stephan tiba-tiba mendekat. Dia membungkuk dan meletakkan tangannya di kedua sisi tubuhku untuk menjebakku dalam pelukannya. Aku mendorongnya sekuat tenaga, tetapi aku sama sekali tidak mampu menggesernya sedikit pun.

Stephan mendekat. Suaranya yang biasanya tenang kini terdengar memikat. Dia berbisik di telingaku, "Dibandingkan dengan orang lain yang panggil aku ayah, aku lebih suka dengar kamu panggil aku begitu."

Sebelum dia menjalankan ritual ibadahnya, kami seperti pasangan lainnya yang penuh gairah ketika berhubungan intim. Terkadang, kami terlalu larut dalam momen itu. Entah sudah berapa kali dia memaksaku memanggilnya "Ayah". Setelah mengingat semua itu sekarang, aku sangat ingin menghilang dari dunia ini.

Stephan mengagumi wajahku yang memerah dan terlihat puas. Dia menyeringai dan bertanya, "Sudah ingat sekarang?"

Pipiku terasa sangat panas. Namun, saat menatap wajah yang familier namun asing itu, aku tiba-tiba merasa lega.

Aku menyahut dengan tenang dan pelan, "Stephan, kita nggak akan bisa kembali seperti dulu. Apa pun yang terjadi di antara kita dulu nggak akan terulang lagi."

Kilatan aneh melintas di wajah tampan Stephan. Dia menegakkan tubuhnya dan tidak lagi menahanku seperti sebelumnya. Dia berkata dengan nada merendahkan, "Jadilah istriku yang baik. Taktik jual mahal ini nggak berpengaruh padaku."

Aku tidak tahan lagi dan hendak menggunakan foto-foto yang kubeli seharga 20 miliar semalam untuk bernegosiasi dengannya. Dengan begitu, dia mungkin akan mengerti tekadku untuk menceraikannya.

"Stephan, tandatangani saja surat kesepakatan cerai itu. Kita bisa pisah baik-baik. Kalau nggak, aku akan ...."

Sebelum aku selesai bicara, ponsel Stephan berdering. Dia menjawab dengan nada yang termasuk lembut, "Emm, ada di rumah. Oke."

Setelah memutuskan panggilan telepon, dia berkata kepadaku, "Orang tuamu akan segera datang."

Kata-kata yang hendak kuucapkan tersangkut di tenggorokanku. Orang tua yang disebutkan Stephan adalah orang tua angkatku. Mereka memperlakukanku seperti putri kandung mereka sendiri.

Setelah mereka pergi, aku akan bicara lagi dengan Stephan mengenai perceraian. Jika tidak, suasananya akan sangat canggung ketika mereka tiba.

Melihatku tetap diam, Stephan pergi ke aula pemujaan dan tidak peduli lagi padaku. Sementara itu, aku pergi ke dapur untuk menyiapkan makan malam bersama Bi Laras.

...

Pada sore hari, orang tua angkatku datang.

"Ayah, Ibu, kalian sudah datang! Kebetulan, makan malam sudah siap. Ayo duduk."

Aku memaksakan senyum dan berpura-pura tidak terjadi apa-apa.

Melihatku yang berjalan pincang, ibu angkatku bertanya dengan khawatir, "Apa yang terjadi pada kakimu?"

Berhubung takut mereka tahu, aku menjawab dengan santai, "Aku nggak sengaja jatuh."

Ayah angkatku berkata dengan penuh kasih sayang, "Haih, kamu memang selalu ceroboh sejak kecil. Sekarang, kamu sudah dewasa, kenapa masih bisa jatuh waktu jalan? Sudah pergi ke rumah sakit?"

"Emm, dokter bilang nggak apa-apa," jawabku dengan asal.

Ibu angkatku melihat ke sekeliling dan bertanya, "Di mana Stephan?"

Menyebut namanya membuatku tidak nyaman. "Dia di aula pemujaan. Aku akan panggil dia."

Ayah angkatku segera menghentikanku dan berujar dengan nada hati-hati, "Nggak perlu panggil dia. Kita tunggu saja."

Aku dapat mendengar kerendahan hati dalam suara ayah angkatku dan merasa sedih.

Meskipun Keluarga Yurdika dan Keluarga Kurniadi telah menjalin hubungan dekat sejak lama, kakak laki-lakiku tidak ahli dalam berbisnis. Dalam beberapa tahun terakhir, bisnis Keluarga Yurdika sudah merosot hingga hampir keluar dari komunitas kalangan elite Kota Heiken.

Sementara itu, setelah Stephan mengambil alih bisnis keluarga, Grup Kurniadi secara agresif memperluas wilayahnya, mengakuisisi beberapa perusahaan dan mengembangkan kerajaan bisnisnya dengan cepat. Selama bertahun-tahun, jika tanpa dukungan Grup Kurniadi, Grup Yurdika bisa dengan cepat ditelan oleh para pesaing.

Jadi, sikap orang tua angkatku terhadap Stephan menjadi makin rendah hati. Dari senior yang berwibawa menjadi orang yang meminta bantuan dengan rendah diri.

Hari ini, aku tidak tahu apakah karena aku membuatnya tidak senang, tetapi dia masih belum keluar dari aula pemujaan, bahkan setelah orang tuaku tiba hampir dua jam yang lalu. Padahal, aku sudah meminta Bi Laras untuk memberitahunya. Dia seolah-olah sengaja membuat orang tuaku menunggu.

Ibu angkatku sepertinya merasakan sesuatu dan bertanya dengan cemas, "Zayleen, kemarin aku lihat berita yang bilang Sadie punya sugar daddy. Meski nggak ada foto wajahnya, punggungnya agak mirip Stephan. Apa ... itu benar-benar Stephan?"

Aku seketika merasa tegang. Mataku sangat perih dan aku hampir menangis.

Pada saat ini, Bi Laras bergegas datang dan berkata, "Tuan sudah tiba!"
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Aku Ajukan Cerai, Suamiku yang Dingin Melanggar Pantangannya   Bab 50

    Aku memandang Stephan dengan ekspresi tidak percaya dan membalas, "Kamu ... mau aku donor darah untuk anak itu? Stephan, jangan lupa aku juga menderita anemia. Bahkan anemiaku sangat parah karena mengikutimu menjadi vegetarian selama tiga tahun."Ekspresi Stephan tampak terkejut sesaat, lalu kembali menjadi dingin. Dia menanggapi, "Anemiamu nggak akan mengancam nyawamu, tapi sekarang Dora harus diselamatkan. Cuma kamu yang bisa menyelamatkannya."Aku mengepalkan tanganku dengan erat sampai-sampai kukuku menusuk telapak tanganku. Aku menimpali dengan geram, "Dia itu anaknya kamu dan Sadie, aku nggak percaya golongan darah kalian nggak cocok dengannya! Masa kamu bukan suruh Sadie donor darah, malah menyuruhku?"Aku menegaskan, "Kamu menyerah saja! Jangan harap aku mau menyelamatkan putrimu!"Tiba-tiba, Sadie yang menunggu di luar menerobos masuk. Dia berlari ke samping tempat tidurku, lalu berlutut dan memohon seraya menangis, "Bu Zayleen, aku mohon selamatkan Dora. Dia masih kecil, aku

  • Aku Ajukan Cerai, Suamiku yang Dingin Melanggar Pantangannya   Bab 49

    Aku menjawab tanpa ragu sedikit pun.[ Iya, jual saja. ]Awalnya aku mengira cinta Stephan padaku tak ada duanya seperti kalung itu. Namun, Stephan sudah berubah. Pernikahan kami juga hancur, jadi rasanya ironis melihat simbol ikatan cinta ini.Jesslyn membantuku menjual perhiasan dan membayar biaya pengobatan ibuku. Kemudian, dia membawa sampel Stephan dan Dora ke laboratorium tes DNA yang terkenal di Kota Heiken.....Dua hari kemudian, hasil tes DNA sudah keluar. Probabilitasnya 99,99 persen, jadi Stephan memang ayah biologis Dora.Aku memang sudah menduga hasilnya seperti ini. Namun, semua yang terjadi di antara aku dan Stephan sejak kecil muncul di benakku saat melihat tulisan yang padat di laporan tes DNA itu.Jelas-jelas dulu hubunganku dengan Stephan begitu dekat. Akan tetapi, semuanya berubah sejak Dora lahir tiga tahun yang lalu. Aku bukan lagi orang yang terpenting bagi Stephan, melainkan orang yang bisa dia tinggalkan dengan mudah."Um, ini memang hasil yang kuinginkan," ka

  • Aku Ajukan Cerai, Suamiku yang Dingin Melanggar Pantangannya   Bab 48

    Aku merasa sedikit gugup. Aku bertanya lagi, "Ibu nggak beri tahu Sadie aku juga pergi, 'kan?"Ibu angkatku tertawa dan menjawab, "Bukannya kamu melarangku memberitahunya? Jadi, aku nggak bilang.""Baguslah kalau begitu," timpalku yang merasa lega. Aku menambahkan, "Kalau begitu, aku dan Stephan pasti datang Rabu depan."Sesudah mengakhiri panggilan telepon ibu angkatku, pihak rumah sakit yang merawat ibuku menelepon. Mereka mendesakku untuk membayar biaya pengobatan.Biaya pengobatan ibuku setiap tahun sangat mahal. Dulu, Keluarga Yurdika yang menanggung semua biaya ini.Setelah aku menikah dengan Stephan, dia yang berinisiatif ingin menanggung semua biaya pengobatan ibuku. Waktu itu, Stephan selalu mengutamakanku dan memperhatikanku. Akan tetapi, sekarang Stephan menemani Sadie jalan-jalan dan melupakan semua janjinya padaku dulu.Aku menggenggam ponsel sambil memandangi layar untuk waktu yang lama, lalu aku memutuskan untuk menelepon Stephan.Sadie yang menjawab panggilan telepon, "

  • Aku Ajukan Cerai, Suamiku yang Dingin Melanggar Pantangannya   Bab 47

    Aku sedang mencari alasan untuk membuat Stephan meninggalkan rumah sakit. Tiba-tiba, pintu kamar diketuk. Ternyata Sadie yang datang.Aku benar-benar salut pada Sadie. Dia bukan hanya sibuk mengadakan konser, syuting iklan, dan film. Bahkan dia masih sempat untuk mengawasi Stephan setiap hari. Orang yang berdedikasi tinggi seperti ini pasti berhasil dalam melakukan apa pun.Mata Sadie bengkak. Dia berbicara dengan lembut, "Kak Stephan, aku datang untuk menjenguk Bu Zayleen. Tadi pagi Dora ikut aku, jadi aku nggak bisa bicarakan masalah Bu Zayleen. Katanya luka Bu Zayleen sangat parah. Bagaimana kondisinya sekarang?"Stephan menyahut, "Operasinya sangat berhasil. Dokter bilang nggak akan meninggalkan gejala sisa."Sadie menanggapi, "Baguslah kalau begitu. Kalau terjadi sesuatu pada Bu Zayleen, aku pasti nggak bisa tenang seumur hidup."Stephan bertanya saat melihat mata Sadie yang bengkak, "Matamu kenapa?""Nggak apa-apa," jawab Sadie. Dia menyeka air matanya dan meneruskan dengan mata

  • Aku Ajukan Cerai, Suamiku yang Dingin Melanggar Pantangannya   Bab 46

    Stephan mendengus, lalu mengamatiku seraya berkomentar, "Sekarang kamu tahu dia itu orang tuaku? Dulu kamu nggak begitu patuh waktu dia melarangmu menikah denganku."Suaraku tercekat. Perasaan cinta dan pengorbananku untuk Stephan dulu malah menjadi alat Stephan untuk menyakitiku sekarang.Stephan menjepit rahangku untuk memaksaku melihatnya. Dia menegaskan, "Zayleen, sudah cukup kamu berpura-pura jual mahal. Asalkan kamu nggak mempersulit Sadie dan menyakiti Dora, aku nggak akan mencabut posisimu sebagai istriku."Stephan mengira jaminannya akan membuatku tenang dan berterima kasih padanya. Namun, aku makin yakin untuk bercerai dengan Stephan.Untuk apa aku mempertahankan posisi sebagai istri Stephan yang hampa itu? Masa aku harus tinggal di vila itu seumur hidup untuk melihat keharmonisan Stephan bersama Sadie dan putri mereka?Aku sudah bisa mengungkap kebenaran kurang dari setengah bulan. Begitu teringat bukti yang pengacara suruh aku kumpulkan, aku tiba-tiba berbicara dengan lembu

  • Aku Ajukan Cerai, Suamiku yang Dingin Melanggar Pantangannya   Bab 45

    Sebenarnya aku juga terkejut. Sekarang Stephan menghentikan ibunya demi aku.Helen yang tidak rela menegur, "Stephan, kenapa kamu menghentikanku? Masa kamu nggak tahu seberapa besar pengaruh berita yang dirilisnya hari ini untuk Grup Kurniadi?"Stephan melihatku sekilas, lalu berkata kepada ibunya, "Grup Kurniadi sudah menghadapi banyak masalah besar sejak didirikan. Masa satu berita saja bisa menimbulkan pengaruh besar bagi Grup Kurniadi?"Helen memandangi putranya dengan ekspresi terkejut sembari menanggapi, "Sampai sekarang kamu masih membelanya? Stephan, sekarang kamu sudah punya Sadie dan Dora. Jangan sampai kamu dicelakai wanita ini lagi. Kalau nggak, apa kamu nggak merasa bersalah pada Sadie?"Stephan membalas dengan datar, "Aku bisa selesaikan masalahku sendiri. Aku suruh Jovin antar kamu pulang.""Nggak bisa!" tegas Helen. Dia melanjutkan, "Wanita rendahan ini bukan cuma nggak pantas menjadi istrimu, dia bahkan berani menjelek-jelekkan Grup Kurniadi dan cemburu pada Sadie. Buk

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status