تسجيل الدخولLing Xuan menahan napas. “Di mana, keberadaan Tabib Agung?”Tabib itu menatap wajah-wajah di hadapannya satu per satu sebelum akhirnya menghela napas panjang.“Tabib Agung bernama Mu Qinghe,” jawabnya. “Ia adalah Tetua Agung Sekte Pohon. Penguasa jalur penyembuhan tertinggi di selatan benua ini.”Nama itu jatuh berat.“Namun,” lanjut tabib tua itu, suaranya makin lirih, “sudah bertahun-tahun tak ada yang melihatnya. Bahkan Sekte Pohon sendiri tidak tahu di mana keberadaannya sekarang. Ada yang bilang ia masuk ke Hutan Roh Purba. Ada yang bilang ia menyegel dirinya di suatu tanah rahasia untuk menekan penyakit lama. Semua… hanya rumor.”Ling Yue terasa seperti disiram air es.“Jadi… kami tidak punya arah?” bisiknya.Tabib tua itu tidak menjawab langsung.Ling Xuan sudah mengepalkan tangan. Retakan merah samar kembali merayap di bawah kulitnya, qi di tubuhnya bergejolak, berat dan panas.Zhou Han.Wajah itu muncul jelas di benaknya. Senyum palsu. Obat yang dijadikan rantai.‘Meminta oba
Senyum Zhou Han benar-benar lenyap.Untuk pertama kalinya sejak ia memasuki paviliun itu, topeng ketenangan yang selalu ia kenakan retak.“Jaga ucapanmu, Bai Yuer,” katanya dingin. Nada suaranya tidak lagi lunak. Aura qi di tubuhnya mulai berputar, menyebar seperti kabut es tipis yang merayap di lantai batu. “Kau sudah terlalu jauh.”Bai Yuer menyeringai.“Terlalu jauh?” ulangnya ringan. “Aku baru mulai.”Hening sekejap.Tiba-tiba tekanan aura meledak dari tubuh Zhou Han. Cambuk yang tadi tergeletak di lantai terangkat dengan sendirinya, melayang di udara seperti ular besi yang hidup. Ujungnya bergetar, membelah udara dengan suara mendesis tajam.Beberapa murid mundur refleks.“Keluar dari paviliun!” perintah Zhou Han tanpa menoleh, suaranya penuh otoritas. “Ini bukan urusan kalian!”Tak seorang pun berani membantah.Dalam sekejap, paviliun obat menjadi arena tertutup. Formasi pelindung Zhou Han aktif, menutup pintu dan jendela dengan lapisan qi transparan.Ling Yue tersentak. “Kak Yu
Ling Xuan akhirnya menyerah.Benteng pertahanan yang ia bangun, runtuh begitu saja di hadapan Bai Yuer.Dengan satu gerakan cepat, ia menarik pinggang Bai Yuer ke arahnya. Tubuh mereka saling mendekap. Jarak yang tersisa lenyap.Ciuman itu tidak lagi ragu. Tidak lagi ditahan. Penuh emosi yang terpendam terlalu lama. Kerinduan, penyesalan, dan sesuatu yang lebih dalam. Napas mereka berpadu, dunia sekitar seolah menyempit hanya menjadi detak jantung dan kehangatan satu sama lain.Bai Yuer sempat terkejut, namun kemudian membalas, jemarinya mencengkeram jubah Ling Xuan seakan takut ia akan menghilang lagi.Beberapa saat berlalu.Terlalu singkat.Tiba-tiba, langkah kaki tergesa-gesa terdengar dari kejauhan.Bai Yuer tersentak lebih dulu. Alisnya berkerut, naluri sektenya langsung siaga. Ia menarik diri setengah langkah, menoleh ke arah sumber suara.“Kenapa di dalam sekte tiba-tiba begitu gaduh?” gumamnya.Ling Xuan juga menegakkan tubuh. Auranya mengendur, namun matanya mengeras. “Mungki
Ling Xuan berdiri di atas punggung batu hitam yang menjulur dari lereng terjal.Di kejauhan, garis pegunungan membentuk siluet sekte yang pernah ia sebut rumah. Sekte Batu. Tenang. Tertib. Seolah tidak pernah mengusirnya ke Lembah Neraka.Angin malam mengibaskan jubahnya. Bau tanah basah dan logam bercampur di udara.Ia menunduk, menatap telapak tangannya sendiri.Retakan tipis berpendar merah samar di bawah kulit, bekas kekuatan yang tidak seharusnya ia miliki. Kekuatan yang ia peroleh… karena ia dibuang.“Zhou Han…” gumamnya pelan.Jejak aura itu masih segar di ingatannya. Tidak mungkin salah. Pola aliran qi yang jelas, dingin, dan penuh perhitungan. Ia mengenalnya dengan baik.Persahabatan mereka dulu terpecah bukan dengan teriakan, ataupun dengan pertarungan. Melainkan dengan diam.Ling Xuan mengepalkan tangan.‘Sekte Batu….' Pikiran berikutnya langsung menusuk lebih dalam. "Zhou Han, apa yang kau rencanakan dengan keluargaku!" Giginya mengerat menekan, ekspresi merah padam berapi
Ling Yue terdiam.Angin menggeser dedaunan di atas kepala mereka, namun suara itu justru membuat keheningan terasa semakin berat. Dadanya naik turun tidak teratur, seolah ada sesuatu yang menekan dari dalam.Akhirnya, ia menutup mata.“Maaf…” ucapnya lirih. “Aku berbohong.”Bai Yuer tidak bergerak. Tidak mendesak. Ia hanya menunggu.Ling Yue membuka mata kembali. Di sana ada ketakutan, namun juga kelegaan yang rapuh, seperti seseorang yang akhirnya berhenti berlari.“Aku memang adiknya,” katanya pelan. “Adik Ling Xuan.”Kalimat itu jatuh dengan sederhana. Tanpa dramatis. Namun beratnya terasa di antara mereka.Bai Yuer menghembuskan napas perlahan. Seperti… sebuah kepastian yang akhirnya mendapat bentuk.“Kenapa kamu menyembunyikannya?” tanyanya lembut.Ling Yue menggenggam ujung jubahnya lebih erat.“Kakak Zhou bilang,” jawabnya pelan. “Ia bilang… nama Kakak Xuan masih dianggap aib di sekte. Kalau orang tahu aku adiknya, aku dan Ling Rou bisa ikut disingkirkan. Atau lebih buruk.”Ia
Ling Yue mengangguk pelan.Gerakan kecil itu hampir tak terlihat, namun cukup bagi Bai Yuer.“Oh,” gumam Bai Yuer lirih, lalu senyum tipis terukir di bibirnya, senyum yang tidak sepenuhnya pahit, namun juga jauh dari bahagia. “Aku tahu. Pasti karena rumor itu, kan?”Ia berbalik, memunggungi Ling Yue. Punggungnya lurus, namun bahunya tampak sedikit menegang.“Semua orang menyalahkannya,” lanjut Bai Yuer, suaranya tenang tapi ada getar halus yang sulit disembunyikan. “Mereka bilang, dia menodaiku. Mereka mengutuknya, menghinanya, menghapus namanya seolah dia tidak pernah ada.”Tangannya mengepal perlahan di balik lengan jubah.“Padahal,” katanya pelan, “tidak satu pun dari mereka yang tahu bagaimana isi hatiku.”Bai Yuer menghela napas panjang. Lalu ia berbalik kembali, menatap Ling Yue secara langsung. Tatapan itu jernih, seperti seseorang yang telah lama memendam kata-kata tanpa tempat untuk menaruhnya.“Apa kamu mau mendengar ceritaku?”Ling Yue terdiam sesaat, lalu mengangguk dengan







