INICIAR SESIÓNReza berjalan menuju kamar tanpa menyalakan lampu. Sesampainya di kamar mandi, dia melepaskan kemejanya, lalu membiarkan pakaian yang lain jatuh begitu saja ke lantai. Dia masuk ke bawah shower dan memutar keran sampai air mengguyur seluruh tubuhnya. Namun air tidak mampu menghapus apa pun. Reza menundukkan kepala, tangannya mengepal. "Aku yang menghancurkan semuanya..." Suaranya bergetar. "Aku sendiri." Dia teringat bagaimana dulu Donna menunggunya di malam pernikahan mereka dan dia pergi, demi Fanny. Demi seseorang yang akhirnya justru menjadi alasan dia kehilangan perempuan yang benar-benar mencintainya. Napas Reza semakin berat. "Kenapa aku baru sadar sekarang?" Tinju Reza menghantam dinding. Sekali. Lalu sekali lagi. Sampai akhirnya matanya tertuju pada kaca besar di hadapannya. Dalam pantulan kaca itu, dia melihat dirinya sendiri. Laki-laki yang kehilangan istrinya karena kebodohannya sendiri. "Kenapa dulu aku nggak lihat kamu, Don?" Air mata bercampur dengan air
POV REZA Pintu apartemen tertutup keras di belakang Reza. Untuk beberapa detik, dia hanya berdiri di sana. Diam. Tatapannya kosong, tetapi dadanya terasa sesak seolah ada sesuatu yang menekan dari dalam. Percakapan dengan Mama terus terngiang di kepalanya. "Kalau ada seseorang yang patut disalahkan, salahkan dirimu sendiri." Dia memejamkan mata, rasanya seperti ditusuk-tusuk pecahan kaca tanpa ampun, begitu sakit."Ada laki-laki bodoh yang meninggalkan istrinya demi wanita lain." Reza bahkan tidak berani membuka matanya sekarang. Donna, nama itu kembali muncul di kepalanya. Wajah Donna ketika terluka, tangis gadis itu, tatapannya ketika memutuskan untuk pergi. Semua kembali seperti potongan-potongan film yang tidak bisa dia hentikan. Reza seolah terlempar ke masa itu, masa dimana mama memanggilnya dan mengatakan kalau ingin menjodohkannya dengan cucu dari kerabat mama. "Mama sudah bilang berapa kali sama kamu, putuskan pacarmu itu, mama enggak suka." "Ma...Fanny anak ba
"Itu dokter Galih mirip siapa sih, yang kita tonton itu, di Pursuit Of Jade." Mama menoleh ke Rima. "Marquis Wuan." "Iya , Marquis Wuan. Udah cakep perhatian pula sama Donna." Tambah mama tanpa menghiraukan Reza. Aku melirik Reza yang sekarang sedang meneguk minumnya, ekspresi laki-laki itu tidak terbaca. “Dari cara dia melihat Donna, mama sih tau kalau Galih itu orang baik, setidaknya Donna sekarang punya orang yang benar-benar memperhatikan kondisinya.” Ruangan mendadak hening. Aku bisa melihat rahang Reza mengeras. “Maksud Mama apa?” Mama pura-pura tidak melihat perubahan wajah putranya. “Tidak ada maksud apa-apa.” Kemudian Mama menatapku. “Dulu Mama sering khawatir Donna sendirian, sekarang sepertinya mama enggak perlu khawatir lagi.” Reza menarik napas pelan.“Ma…” “Apa?” Mama balik bertanya santai. “Mama cuma bilang apa yang Mama lihat kok.” Mbak Rima akhirnya mencoba mencairkan suasana. “Ma, jangan mulai.” Mama terkekeh kecil. “Memangnya Mama salah?” Kal
Nenek datang tak lama kemudian, bergantian dengan Reza dia menungguiku. Sedang Reza keluar, ke kantin mencari kopi. "Gimana?" masih sakit?" Nenek mengelus perutku pelan. Aku menggeleng,"Enggak."’ Pintu kamar rawat terbuka pelan. Aku yang sedang setengah berbaring langsung menoleh. “Mama…” Mama masuk lebih dulu, disusul Mbak Rima yang membawa beberapa kantong makanan dan pakaian. Wajah Mama terlihat cemas, tetapi begitu melihatku masih dalam keadaan baik, ekspresinya sedikit melunak. “Bagaimana sekarang?” Mama langsung mendekat ke tempat tidur. “Sudah mendingan,Ma. Tadi malam masih sering mulas, tapi sekarang sudah berkurang.” Mama mengusap rambutku pelan. “Kamu bikin Mama hampir nggak bisa tidur. Reza nelpon mama katanya kamu kontraksi." Aku tersenyum kecil. “Maaf.” Mbak Rima meletakkan barang-barangnya di kursi. “Ya ampun, Don. Kamu ini kalau bikin keluarga panik jangan setengah-setengah.” Aku terkekeh pelan."Cucu mama nih mbak." Aku mengelus perutku. “Permisi.”
Mataku mengerjap menyesuaikan cahaya yang masuk menembus kaca jendela, rupanya hari telah pagi. Punggung tangan kananku sudah dipasang infus, kulirik botol infus yang tergantung ditiang infus, isinya tinggal setengah. Aku ingin menggerakkan tangan kiriku tapi terasa berat, aku menoleh. Kepala Reza bersandar ditepi tempat tidur, sambil menggenggam tangan kiriku. Dia masih tidur. Aku bergerak, gerakanku membuat laki-laki itu terbangun. "Masih sakit?" Itu ucapan pertama nya saat bangun, apa dia menungguiku semalaman? Aku menggeleng,"Nenek mana?" aku tidak melihat nenek diruangan ini. "Nenek pulang subuh tadi mau ambil barang-barang, nanti kesini lagi." "Abang disini semalaman?" Tanyaku pelan. Reza mengangguk, dia kemudian berdiri, melihat kearah perutku sebentar,"Enggak sakit lagi?" Sudah dua kali dia menanyakan apakah aku masih sakit atau tidak, dan ku jawab dengan gelengan kepala. Reza mengangguk sekilas kemudian mengambil minum diatas meja dan memberikannya padaku,"minum
Aku masih berdiri di samping tempat tidur ketika suara mobil berhenti di depan rumah. Nenek sibuk mengusap punggungku pelan berusaha mengurangi rasa sakitnya. Tidak lama kemudian terdengar ketukan di pintu. "Donna!" Suara Galih. Nenek langsung keluar kamar dan membukakan pintu, sementara aku masih dikamar karena kontraksi kembali datang. Aku memegang perut sambil meringis."Ahh..." Pintu kamarku terbuka, Galih langsung masuk dan wajahnya berubah ketika melihatku membungkuk menahan sakit. "Donna!" Dia menghampiriku dengan cepat. "Kontraksinya masih datang?" Aku mengangguk. "Iya..." "Berapa menit sekali?""Aku nggak tahu." Galih melihat jam tangannya."Mulai sekarang kita hitung." Aku menatap wajahnya yang terlihat jauh lebih tegang daripada biasanya. "Galih..." "Hm?" "Jangan panik, okay." Dia justru menatapku seolah tidak percaya."Aku yang seharusnya bilang begitu ke kamu." Aku hampir tersenyum, tetapi rasa sakit kembali datang, Galih langsung menopang bahuku. "Ta







