FAZER LOGINLoli menggeleng kepala sambil tersenyum miris melihat tekadku. "Gue bukannya skeptis sama usaha Lo sih Don, tapi kalau gue jadi Lo, gue bakalan jambak habis-habisan tuh si Reza. Gila ya, masa menggantung anak orang sebegitunya, kalau dia sudah punya pacar enggak seharusnya dia nikahin Lo, itu zholim namanya. Menikahi lo cuma sebagai status." Yang dikatakan Loli lagi-lagi sangat masuk akal, Reza tidak seharusnya menikahiku kalau hanya menjadikanku sebagai pion catur dalam hidupnya. "Dia udah nidurin gue." Ucapku pelan. Loli yang baru saja meminum sisa air mineralnya langsung memuncratkan lagi air yang terlanjur masuk ke dalam mulut, dan percikannya kemana-mana, termasuk ke wajahku. "APAAAA.....?!" Aku mengangguk pelan sambil mengambil tidur, menghapus jejak air diwajahku,"Satu kali, habis itu gak pernah lagi." "Gila, katanya gak mencintai lo tapi nidurin Lo, kurang brengsek apa coba si Reza, gedeg banget gue, sumpah." "Gak perlu pake cinta kalau soal begituan, cuma perlu n
"Jangan tunggu abang." Sudah sangat jelas perkataannya padaku itu, tapi dengan bodohnya aku sekarang masih duduk di ruang tamu, sesekali melirik pintu berharap sosok itu muncul, menanti menit demi menit hingga terkumpul menjadi 5 jam, luar biasa Donna. 5 jam menunggu sosok yang akhirnya berdiri di depanku ini. Wajahnya nampak lelah, namun masih bisa memberikan senyum untukku, beruntung sekali mbak Fanny yang memiliki hati laki-laki ini, bukan hanya senyumnya. "Loh, kok belum tidur?" Aku menggeleng lemah, " Enggak bisa tidur." "Tau gitu tadi abang beli nasi goreng cumi kesukaan mu, abang pikir kamu pasti udah tidur jam segini." Aku melirik jam dinding, sudah pukul setengah dua belas malam. Aku kemudian berjalan menuju dapur, melewati tubuh jangkung Reza yang masih berdiri diruang tamu. "Gimana mbak Fanny?" Tanyaku membuka kulkas dan mengambil air dingin dari dalamnya. "Tadi hampir pingsan, hipotensi, dibawa ke rumah sakit dia nya gak mau, katanya mau istirahat dirumah aj
Aku menggeleng kepala pelan, tersenyum sendiri, Donna betapa geer nya dirimu, huh. Kami berkeliling setelah menyelesaikan makan, melihat- lihat beberapa toko yang memajang produk-produk merey, mataku terhenti pada sebuah toko pakaian bayi, tiba-tiba saja ada yang mengalir di dada, rasanya menyenangkan sekaligus menghangat saat melihat topi bayi yang menurutku sangat lucu terpajang di etalase. Seperti terhipnotis, kakiku melangkah masuk ke dalam toko, "Kita kesana sebentar." Ucapku dan Reza mengekoriku yang berjalan menduluinya menuju toko tersebut. "Untuk apa?" Tanyanya saat aku membeli dua topi bayi pilihanku, berwarna biru dan merah muda. "Pengen aja, bisa dijadiin kado juga nanti kalau ada teman yanh lahiran." Aku mengedikkan bahu, aku juga heran dengan tingkahku, tapi aku benar- benar suka topi itu, lucu. "Mungkin suatu hari nanti bisa kugunakan untuk bayiku." Gumamku sendu, meski suatu hari itu entah ada atau tidak. Suatu hari yang bagiku seperti bayangan yang menghila
Akhirnya sampai juga aku di apartemen ini, setelah lama tergugu di depan gedung pengadilan agama, apartemen yang menjadi saksi sebegitu kerasnya perjuangannku dalam meraih cinta sang suami. Tujuanku satu, mengemasi barang- barang dan pergi secepatnya dari sini. Kendati kepemilikan apartemen ini sudah dialihkan atas namaku, tapi aku tidak berniat untuk tinggal disini lagi, aku sudah berusaha menolak ketika dia memberikan apartemen ini padaku, aku tau ini adalah hasil kerja kerasnya, tapi Reza memaksa, baiklah aku terima, hitung- hitung sebagai kompensasi diriku yang telah menjadi janda di usia muda. Aku menyewakannya pada teman kantorku, dan aku sendiri lebih memilih tinggal bersama nenek. Ku kemasi barang ku satu per satu, tidak banyak, hanya 1 koper besar berisi pakaian dan 3 dus berisi peralatan. Kulihat ponselku tergeletak di atas nakas, tersenyum getir kuraih ponsel itu, ponsel penuh kenangan, ya ponsel ini dibelikan Reza, ingin menangis kala ingat momen saat itu. Waktu itu,
Aku merasa bersalah sekali ke Reza, karena telah menghilangkan ponselnya. Laki-laki itu memang memiliki ponsel lebih dari satu, ponsel yang dia bawa kemarin itu ponsel pribadi khusus menyimpan nomor-nomor keluarga, untuk urusan pekerjaan dan bisnis, dia punya ponsel tersendiri. Pagi ini sebelum berangkat ke kantor, aku sudah menyiapkan nasi goreng diatas meja, aku berkutat di dapur sejak selepas subuh hanya untuk menyiapkan nasi goreng spesial toping berbagai macam seafood. Hitung-hitung sebagai ucapan permintaan maafku ke Reza, aku belum bisa mengganti ponselnya paling tidak nasi goreng dulu untuk pagi ini. "Iya, iya sayang, hp aku hilang kemarin, besok aku jemput ya." Aku langsung membatu di depan kamar Reza, mendengar suara laki-laki itu menelpon kekasihnya membuat hati ini berdenyut, kenapa sakit sekali. Ku urungkan niat yang tadinya ingin memanggilnya untuk sarapan bersama. Keinginan itu sekarang menguap begitu saja, menyisakan rasa dongkol yang luar biasa. Mungkin kekasihn
Mendadak aku cemas setengah mati, mondar- mandir berjalan di depan kursi, wajahku memanas. Jantungku jangan ditanya, dia seperti ingin melompat keluar dari tulang iga yang mengungkunginya.Matilah aku kali ini, Reza akan membaca pesan itu, apa katanya nanti.Tuhan toloonggg...Reza sudah datang lagi dengan sepedanya membawa kantong plastik berisi ice cream. Dari jauh dia sudah tampak tersenyum padaku. Aku mencoba kembali peruntungan dengan membuka ponsel, pesan itu sudah tidak ada lagi di ponselku karena sudah terklik hapus untuk saya, namun sudah terkirim ke ponsel Reza, aihh sial sekali sih."Ini." Sodor Reza ice cream coklat pesananku membuatku kaget sebab aku tidak sadar kapan dia sudah tiba dan berdiri dihadapanku."Makasih." Gagapku meraih ice cream yang Reza sodorkan itu.Kami duduk di bangku bersebelahan sambil mulai memakan ice cream, aku memindai tubuh Reza, tidak ada tanda bahwa ia sedang mengantongi ponsel.Dimana ponselnya..."Ada apa?" Curiga Reza melihat gelagatku yan







