分享

Bab 8

作者: Gusmandora
last update publish date: 2026-07-22 11:08:36

Aku merasa bersalah sekali ke Reza, karena telah menghilangkan ponselnya. Laki-laki itu memang memiliki ponsel lebih dari satu, ponsel yang dia bawa kemarin itu ponsel pribadi khusus menyimpan nomor-nomor keluarga, untuk urusan pekerjaan dan bisnis, dia punya ponsel tersendiri.

Pagi ini sebelum berangkat ke kantor, aku sudah menyiapkan nasi goreng diatas meja, aku berkutat di dapur sejak selepas subuh hanya untuk menyiapkan nasi goreng spesial toping berbagai macam seafood. Hitung-hitung seba
在 APP 繼續免費閱讀本書
掃碼下載 APP
已鎖定章節

最新章節

  • Aku Bukan Orang Ketiga    Bab 17

    Sudah pernah merasakan makan sambil menangis? ya, sekarang aku merasakan bagaimana sakitnya makan sambil menahan tangis. "Udah Don, nanti keselek." Loli memberikan selembar tissue padaku yang langsung kuraih. "Kenapa harus bohong sih." "Mungkin ada yang harus dia jaga dari lo." Tebak Loli. "Apa? gue udah tau hubungan nya sama Fanny, apalagi kali ini yang dia sembunyikan." "Kan belum pasti juga dia pergi sama Fanny semalam. Katanya Fanny penyakitan, ya mustahil lah Reza ajak mabuk." Loli benar juga, Fanny yang sakit-sakitan itu tidak mungkin pergi ketempat yang bisa membuat hidupnya lebih pendek. Jadi Reza pergi sama siapa kemarin. "Kalau menurut gue sih mending Lo tanya langsung aja ke Reza daripada menduga-duga seperti ini, yang ada Lo sakit sendiri." Aku mengangguk, menghapus sisa air mata terakhir yang keluar," Kenapa hidup gue gini amat sih Lol, kayak enggak pernah dikasih mudah sama Tuhan." "Sabar ya sayang, semua ada ujiannya masing-masing kok, udah ada porsi m

  • Aku Bukan Orang Ketiga    Bab 16

    Paginya masih kutunggu, Reza belum juga pulang. Aku akhirnya memutuskan untuk mandi dan bersiap berangkat kerja. Aku keluar kamar lagi sudah siap dengan pakaian kerja sambil menjinjing tas. Kulirik pintu kamar Reza, masih tertutup. Aku beralih ke dapur, mengisi tumbler dengan air hangat. "Sudah mau berangkat?" Aku terperanjat saat suara muncul dari belakang, suara Reza. "Abang baru pulang?" Tanyaku, memindai wajahnya yang kusut, kemejanya sudah keluar, lengan kemeja sudah digulung sampai siku, rambutnya berantakan. "Aku telpon hp Abang gak aktif, biasanya ngabarin kalau pulang telat." "Ponsel mati, kehabisan baterai." Reza mendekatiku, dia mengambil gelas yang ada di samping tubuhku hingga badan nya condong kearahku. "Abang minum?" Aku langsung menutup hidung, bau alkohol bercampur rokok menyengat membuatku sakit kepala. "Sedikit." Jawabnya sambil menuangkan air dingin ke gelas yang baru saja diambilnya tadi." Enggak enak sama bos, jadi nyicip dikit." Lanjutnya. "Bohong."

  • Aku Bukan Orang Ketiga    Bab 15

    Sama-sama bekerja di dunia perbankan, aku dan Reza agak kewalahan mengajukan cuti untuk ke Zurich kali ini. Apalagi jabatan Reza yang seorang manager, ditambah pengajuan cuti untuk akhir bulan. Pengajuanku hampir tidak di ACC kepala cabang, namun syukur nya baik aku maupun Reza bisa mendapatkan cuti , tidak banyak hanya 5 hari kerja, satu minggu totalnya jika dihitung hari Sabtu dan Minggu. Aku mengemasi barangku diatas meja kerja dan Loli melipat tangan didada sambil memperhatikan kegiatanku dari tadi. " Lo mau cuti seminggu kayak orang mau resign aja." Protesnya. Aku tertawa kecil, " Mau dibawain oleh-oleh apa?" "Zurich itu terkenal apanya sih?" "Emm, apa ya? gue belum pernah kesana." Aku balik bertanya. "Coklat Swiss aja." Aku mengangguk,"Tungguin gue balik ya sayang." "Iya sayang gueeh, eh btw gimana prospek mendapatkan cinta suami, udah berapa persen progres nya?" "Entahlah." Aku mengedikkan bahu." Cowok kalau naksir ke cewek bisa dilihat secara kasat mata gak s

  • Aku Bukan Orang Ketiga    Bab 14

    Mama masuk ke dapur saat aku dan mbak Rima masih mengupas buah. Tanpa tedeng aling-aling dia langsung memeluk pinggangku, mengelus perutku persis seperti yang mbak Rima lakukan tadi. "Udah ada tanda-tanda keberadaan cucu oma belum nih?" Guraunya. Lagi-lagi wajahku memerah,"Belum ma." Jawabku tersipu. "Ah, si Reza kurang topcer, mama dulu kosongnya cuma sebulan, habis itu langsung hamil Rima." "Baru juga empat bulan ma, Rima dulu kosongnya satu tahun malah." Mbak Rima menyahut sambil mencuci buah. "Iya, kamu waktu itu sama Vino kan LDR, kamu di Jakarta, si Vino di Samarinda. Itu buktinya pas Vino pindah ke Jakarta, kamu langsung hamil." Reza masuk ke dapur saat aku baru saja ingin bicara, membuat kata-kata yang ingin kekeluarkan kutelan lagi. "Pada ngomongin apa sih?" Tanyanya santai sambil membuka kulkas. "Ngomongin kamu yang kurang topcer, masa udah empat bulan si Donna belum tekdung juga." Mama membalas. Reza tertawa renyah, dia mengambil air minum kemasan dari kulk

  • Aku Bukan Orang Ketiga    Bab 13

    Ini adalah hari ke 124 aku menikah dengan Reza. Yap, aku menghitungnya, kutandai setiap hari yang dilalui bersamanya sejak dia mengikrarkan janji sucinya dulu di depan penghulu. "Don... Donna, kamu di dalam?" Suara Reza terdengar dari luar pintu kamarku. Aku melangkah membukakan pintu. "Ya, kenapa bang?" " Mama barusan nelpon, nanyain kita kapan kesana." Mama yang dimaksud Reza adalah mama mertuaku, wanita berusia 65 an, masih sangat energik, pensiunan PNS Kemenkeu. Sejak pensiun dia hanya menghabiskan waktu di rumah, menanam berbagai jenis bunga, dia juga memiliki kios bunga segar, kadang beliau menghabiskan waktunya di kios juga. "Ada acara?" Reza mengangguk,"Bagas pulang." Bagas itu adiknya Reza yang bungsu, yang lagi ngambil S2 di Zurich, Swiss. Dia waktu itu enggak bisa pulang pas kami menikah. "Udah nyampe rumah?" Tanyaku. "Belum, jam 7 baru landing, nanti kita jemput ke bandara abis itu langsung kerumah mama, kamu siap-siap ya, lima belas menit lagi kita pergi

  • Aku Bukan Orang Ketiga    Bab 12

    Loli menggeleng kepala sambil tersenyum miris melihat tekadku. "Gue bukannya skeptis sama usaha Lo sih Don, tapi kalau gue jadi Lo, gue bakalan jambak habis-habisan tuh si Reza. Gila ya, masa menggantung anak orang sebegitunya, kalau dia sudah punya pacar enggak seharusnya dia nikahin Lo, itu zholim namanya. Menikahi lo cuma sebagai status." Yang dikatakan Loli lagi-lagi sangat masuk akal, Reza tidak seharusnya menikahiku kalau hanya menjadikanku sebagai pion catur dalam hidupnya. "Dia udah nidurin gue." Ucapku pelan. Loli yang baru saja meminum sisa air mineralnya langsung memuncratkan lagi air yang terlanjur masuk ke dalam mulut, dan percikannya kemana-mana, termasuk ke wajahku. "APAAAA.....?!" Aku mengangguk pelan sambil mengambil tisue, menghapus jejak air diwajahku,"Satu kali, habis itu gak pernah lagi." "Gila, katanya gak mencintai lo tapi nidurin Lo, kurang brengsek apa coba si Reza, gedeg banget gue, sumpah." "Gak perlu pake cinta kalau soal begituan, cuma perlu n

更多章節
探索並免費閱讀 優質小說
GoodNovel APP 免費暢讀海量優秀小說,下載喜歡的書籍,隨時隨地閱讀。
在 APP 免費閱讀書籍
掃碼在 APP 閱讀
DMCA.com Protection Status