LOGIN"Menikah? Sekarang? Kau jangan bercanda, ini tidak ada dalam rencana kita," pekik Selena bingung. Baru dua hari bertemu tiba-tiba langsung ngajak nikah di KUA. Semua berawal dari kekasihnya, Charlie, pria yang Selena anggap sebagai pria paling setia dan paling baik sedunia, ternyata selingkuh dengan adik tirinya, Nami. Selena tak sengaja memergoki keduanya check in di hotel milik temannya. Hubungan Nami dan Charlie sudah sangat intim sehingga membuat hati Selena hancur dikhianati orang-orang terdekatnya. Tak ingin hancur sendiri, Selena memutuskan untuk balas dendam dengan menikahi calon tunangan Nami, bernama Satria, CEO muda yang tampan dan kaya raya.
View More"Ke mana si Charlie? Kenapa susah sekali dihubungi?" gumam Selena yang berjalan mondar mandir dipinggir jalan sendirian karena mobilnya mogok. "Mana ada meeting lagi." Selena mendengus kesal. Berkali-kali ia menelepon kekasihnya tapi ponselnya mati sejak kemarin.
Manajer cantik itu mencoba membuka cup depan mobilnya untuk memeriksa apakah ada yang rusak. Sayangnya, ia tidak mengerti mesin. Di saat yang sama, Charlie melintas di sisi Selena sambil mengendarai mobil BMW-nya. Selena tak sengaja melihat kekasihnya yang ternyata tidak sendirian. Ada wanita lain di sampingnya. "Charlie! Berhenti!" panggil Selena sambil berlari, tapi pacarnya tidak dengar. Selena mulai panik. Jelas-jelas Charlie sedang asyik selingkuh darinya. Jika tidak, mana mungkin pacarnya itu sampai menonaktifkan ponselnya dan asyik semobil dengan wanita lain. Tanpa pikir panjang, Selena menghentikan mobil yang melintas di depannya, entah itu taksi atau bukan. Pokoknya ia harus bisa mengejar mobilnya Charlie untuk mengetahui kebenarannya. "Pak buka pintunya!" pekik Selena sambil menggedor-gedor pintu kaca mobil, berharap, Sang sopir mobil mewah itu mau membukakan pintu mobil. "Ada apa Mbak?" tanya si sopir setelah menurunkan pintu kaca. "Bisa minta tolong nggak Pak. Kejar mobil yang ada di depan. Nanti saya bayar deh." "Mbaknya lagi dicopet?" tanya sopir itu. "Nanti Saya jelaskan sambil jalan. Nggak ada waktu lagi Pak. Saya harus cepat kejar mobil BMW itu sebelum kehilangan jejak." Selena hampir mencak-mencak karena tidak sabar. Sang sopir melirik penumpang lain yang ada di kabin belakang melalui kaca spion apakah wanita tak dikenal ini diizinkan masuk apa tidak. Sekilas pria misterius yang lagi sibuk memeriksa tabletnya mengangguk pelan. "Silahkan Mbak," ujar sang sopir setelah mendapat kode setuju dari atasannya. "Terimakasih Pak," ucap Selena langsung duduk di samping sang sopir tanpa tahu kalau ada orang lain di belakang. Karena pikiran gadis itu masih kalut, Selena tidak memedulikan yang lain. Pandangan mata Selena hanya tertuju pada mobil Charlie. "Emang yang di dalam mobil itu siapa, Mbak? Kok Mbaknya kayak panik gitu?" tanya si sopir penasaran, begitupula dengan orang yang duduk di belakang tapi Selena masih belum sadar. "Pacar saya Pak. Dia kayaknya selingkuh sama wanita lain. Makanya saya harus pastikan apakah dia selingkuh atau tidak." "Kenapa nggak di telepon aja pacarnya Mbak. Daripada kejar-kejaran gini." "Sudah Pak, tapi ponselnya tidak aktif." "Wah jelas-jelas selingkuh itu Mbak. Ngapain coba ponsel dimatiin pas lagi sama wanita lain," kompor si sopir. Selena tidak menyahut, terlalu sibuk dengan pikirannya sendiri. Sedangkan Pria dingin yang duduk di belakang mereka hanya menyunggingkan senyum, matanya menatap lurus Selena yang sama sekali tidak menoleh ke belakang. Fokus gadis itu seolah tidak ada di dalam mobil ini. "Ngapain mereka ke hotel. Wuah, ada yang nggak beres ini. Tolong menepi di depan hotel itu saja Pak," pinta Selena dengan emosi tertahan. Begitu mobil menepi, Selena memberikan beberapa lembar uang seratus ribuan dan ia letakkan di atas dasbor mobil. "Terima kasih ya Pak, atas tumpangannya," ujarnya seraya menutup pintu mobil dengan keras tanpa perlu menunggu jawaban. "Tuan, apa yang harus dilakukan dengan uang ini?" tanya sang sopir pada majikannya yang sejak tadi duduk manis di belakang, tapi keberadaannya tak dianggap oleh si gadis asing tadi. "Biarkan saja disitu, aku punya firasat, kalau dia akan balik lagi kemari," ujar pria misterius itu sambil menatap Selena yang berlari kencang masuk ke dalam hotel. "Nami?" pekik Selena kaget setengah mati setelah tahu wanita yang digandeng Charlie masuk ke dalam hotel adalah adik tirinya. Mereka bahkan berpelukan dan bergandengan tangan mesra layaknya pasutri yang hendak bulan madu. Tidak mungkin, aku pasti salah lihat. Ini tidak mungkin ... bagaimana bisa mereka ..., jerit Selena dalam hati. Rasanya ia tidak percaya kalau pacar dan adik tirinya telah mengkhianatinya. Untung Selena kenal dengan pemilik hotel ini jadi ia langsung menghubungi Lala, temannya yang juga sekaligus investor perusahaan ayahnya tempat Selena bekerja. Dengan begini Selena bisa tahu apa yang dilakukan Charlie dan Nami sampai harus check in hotel segala. "La, ini aku. Aku butuh bantuanmu sebentar sebelum kita meeting. Bisakah kau... " Selena menjelaskan apa yang terjadi pada temannya melalui sambungan telepon. Tentu saja wanita yang bernama Lala itu terkejut dan bersedia membantu Selena. "Oke kalau gitu Sel, kamu tunggu bentar. Aku hubungi resepsionisnya. " Makasih La. Aku akan menemuimu setelah urusanku selesai." "Gampang, aku masih ada rapat dengan Pak Satria, CEO dari grub Wijaya. Katanya dia sudah di depan hotel. Setelah urusanku dengannya selesai. Aku bisa rapat denganmu." panggilan tertutup karena CEO dari grub Wijaya sudah meneleponnya untuk membicarakan proyek kerjasama. Tak ingin menunggu waktu lama, Selena berjalan menuju meja resepsionis untuk menyampaikan pesan dari pemilik hotel ini. Resepsionis itu memberikan kunci kamar hotel secara diam-diam atas permintaan atasannya langsung di balik map hijau. "Mbaknya bisa langsung cek sendiri, didalamnya terdapat kunci," bisik Sang resepsionis. "Makasih Mbak," ucap Selena sambil tersenyum. Ia beruntung ada teman yang mau membantunya mengungkap perselingkuhan kekasih dan adik tirinya. Dengan bergemuruh mendidih seperti larva yang siap meledak kapan saja, Selena berjalan menuju kamar hotel yang dipesan oleh kekasihnya. Kurang dari 5 menit saja, Selena sudah sampai di depan kamar hotel yang dimaksud. Selena membuka pintu perlahan dengan kunci yang tadi diberikan resepsionis. Betapa terkejutnya Selena saat ia melihat apa yang ada didepannya...Malam itu, sebuah mobil hitam melaju menuju kawasan permukiman karyawan. Hujan turun cukup deras. Jalanan yang sempit dan gelap membuat perjalanan mereka berlangsung lebih lambat dari perkiraan. Ketika akhirnya tiba di depan rumah Maya, Selena langsung turun. Rumah sederhana itu tampak gelap. Tidak ada lampu yang menyala. Pintu depannya sedikit terbuka. Selena menatap Satria. "Sepertinya ada sesuatu yang tidak beres." Satria berdiri di sampingnya. "Jangan masuk sendirian." Keduanya melangkah mendekati pintu. "Permisi, Maya?" Tidak ada jawaban. Selena mendorong pintu perlahan. "Maya?" Ruang tamu tampak berantakan. Beberapa barang berserakan di lantai, sementara sebuah kursi terbalik di dekat meja. Selena segera masuk. "Maya!" Satria mengikuti dari belakang sambil memperhatikan keadaan sekitar. Di atas meja terdapat sebuah amplop cokelat yang terbuka. Selena segera menghampirinya. Di dalamnya terdapat beberapa lembar dokumen dan sebuah foto lama. Ia mengambil foto tersebut. F
Sementara itu, di dalam kantor PT Arunika Sejahtera, Hendrawan berjalan mondar-mandir di ruangannya. Wajahnya terlihat sangat tegang. Di hadapannya, Damar duduk sambil memainkan ponsel. "Bagaimana bisa Satria Young berada di sini?" Hendrawan bertanya dengan nada kesal. Damar mengangkat bahu. "Memangnya kenapa?" "Jangan pura-pura tidak mengerti! Dia bukan orang sembarangan. Kalau dia mulai memeriksa perusahaan ini, kita bisa berada dalam masalah besar." Damar meletakkan ponselnya. "Tenanglah. Dia datang untuk mengurus proyek kawasan industri, bukan untuk memeriksa perusahaan kita." "Bagaimana kalau dia menemukan sesuatu?" "Selama dokumen yang kita siapkan terlihat benar, dia tidak akan bisa melakukan apa-apa." Hendrawan menggeleng. "Kau tidak mengenal Satria Young. Dia sangat teliti dalam urusan bisnis." Damar tertawa kecil. "Kalau begitu, kita harus memastikan dia tidak memiliki waktu untuk memeriksa urusan kita." Hendrawan menatapnya. "Apa maksudmu?" Damar berdiri, lalu ber
Selena masih menatap Satria dengan ekspresi tidak percaya. Pria itu berdiri di sampingnya dengan wajah tenang, seolah-olah kedatangannya di Pulau Arunika merupakan sesuatu yang sangat wajar. Padahal, sejak meninggalkan Maladewa, Selena sama sekali tidak mengetahui bahwa suaminya juga memiliki urusan di tempat yang sama. Lebih mengejutkan lagi, Satria baru saja memanggilnya dengan sebutan Sayang di hadapan orang-orang yang selama ini tidak mengetahui identitas aslinya. "Sayang, kau baik-baik saja?" ulang Satria. Selena menyipitkan mata. "Aku baik-baik saja." "Syukurlah." Satria tersenyum tipis, kemudian mengalihkan pandangan kepada Hendrawan. Sementara itu, pria tersebut masih berdiri kaku. Wajahnya tampak kehilangan warna begitu menyadari siapa sosok yang berada di hadapannya. "Tuan Satria Young?" ucapnya dengan suara tertahan. Satria mengangguk singkat. "Senang akhirnya kita bisa bertemu secara langsung." Hendrawan segera mengubah ekspresinya. Ia mencoba tersenyum, meskipun j
Di tempat lain, Satria baru saja tiba di gudang lama PT Arunika Sejahtera. Ia turun dari mobil bersama Kevin dan dua anggota timnya. Bangunan itu terletak agak jauh dari gedung utama. Dindingnya kusam, beberapa bagian atapnya berkarat, dan pintu besinya tampak sudah lama tidak diperbaiki. Namun, ada sesuatu yang menarik perhatian Satria. Di depan gudang terdapat sebuah truk besar dengan bak tertutup terpal. "Apakah kendaraan itu yang dilaporkan semalam?" tanyanya. Kevin mengangguk. "Benar, Tuan." Satria memperhatikan nomor kendaraan yang tertera pada bagian belakang truk. "Periksa nomor polisinya." Kevin segera menghubungi timnya. Sementara itu, seorang pria keluar dari dalam gudang. Begitu melihat kedatangan Satria, ia tampak terkejut. "Maaf, Anda siapa?" "Saya dari pihak pengelola proyek kawasan industri. Ada beberapa hal yang perlu kami klarifikasi terkait pengiriman bahan baku." Pria itu terlihat gelisah. "Ini bukan tempat yang bisa dimasuki sembarang orang."






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.