LOGINAku belum pernah ke penjara ruang bawah tanah seumur hidupku. Sama sekali.
Tempat ini temaram, nyaris sulit melihat apapun. Dingin dan lembap, serta pengap. Tidak ada apa-apa di tempat ini, tidak ada kasur, selimut, atau setidaknya tumpukan jerami yang bisa membuat lebih hangat. Hanya ada sebuah ember untuk buang air.
Aku tidak pernah menyangka akan mendatangi tempat seperti ini. Di sinilah aku, berdiam duduk di lantai, menemani suamiku.
"Apa kau sudah makan?"
Ia menggeleng pelan. "Kenapa?! Apa mereka tidak memberimu makan?"
Ia hening.
Bunda Suci telah memberiku tanda-tanda, dan aku mengabaikannya. Tanda di malam itu, di pesta debutante dimana aku menemukan sakit hatiku yang pertama. Sofia Romanov ... iblis itu akan terus mengikutiku hingga ke liang kubur. Dia akan melakukan segalanya untuk membuatku celaka. Tapi ... kali ini aku tak akan menyingkirkan apa yang telah Bunda Suci berikan kepadaku.Tanda-tanda. Ini adalah kehendak-Nya.Aku ingat malam itu di penginapan Rob. Setelah kumelihat siluet perempuan misterius itu, Anya Levitski, aku berdoa sungguh-sungguh kepada Bunda Suci. Aku bersumpah kepadanya, jika aku bertemu dengan Anya Levitski sekali lagi, maka jadilah ini kesempatanku yang kedua, kesempatanku untuk mengulang hidup sekali lagi.Aku tidak akan menolak takdir ini. Aku akan mengusahakannya.
"Maaf? Maksud Anda?""Setelah semuanya kubeli dan kulunasi, apa yang akan kau lakukan?""Sa-saya ... mungkin akan bekerja di desa dan membeli rumah kecil."Aku lengang beberapa saat. Sedikit kekagetan, kekaguman, dan ketidakpercayaan bercampur jadi satu. Perempuan bangsawan begini ... dia mau melakukan itu? Maksudku, ayolah, perempuan bangsawan mana yang mau kerja di desa kecil pelosok di rumah kecil?!"Apa kau sudah menikah? Apa ada laki-laki yang dekat denganmu?"Kini Anya Levitski dengan wajah putih cantiknya yang asing tertunduk.Ia mengulum bibirnya dan melirih. "Tidak, my lord,"Jantungku bertambah debarannya. Mengapa? Mengapa aku malah sesenang ini dengan kemalangannya?Mulutku hendak terbuka. Aku ingin mengatakan sesuatu yang lain, sesuatu yang mengikuti hasratku selama ini. Sesuatu yang mengganjaliku sejak aku pertama bertemu dengannya di pesta debutante dua belas tahun lalu."My lord, Vadim di sini."Igo
Kutarik tali kekang kuda hingga mengikik.Kemudian aku berusaha mati-matian menyembunyikan kegugupan ini. Tapi memang aku dasarnya tolol saja. Tadinya aku ingin berkata, 'Hai apa kabar?'. Namun yang keluar dari mulut adalah sesuatu yang lain."Igor! Siapa ini?!" Igor malah jadi sasaran semburanku pagi-pagi."My lord, beliau adalah Lady Levitski.""Levitski?"Aku memastikan sekali lagi. Kali ini aku betul-betul mengucapkan namanya. Dan ia berada di hadapanku! Jantungku kian tidak beres. Dia tak kunjung tenang. Dadaku berdebar tidak karuan saat sadar bahwa ini semua bukanlah mimpi."Sergei! Ambil alih! Berikan mereka makan dan latihan satu jam lagi!""Baik my lord! Hiya!" Sergei memyahut cekatan. Pasukan berkudaku mengikuti pria itu masuk ke pelataran kastil. Kaki-kaki kuda mereka bergemuruh. Seakan gempa sekecil itu pun bisa membuat wanita kecil nan menggemaskan ini runtuh.Ia terlihat takut pada laju kuda-kuda pasukanku.
Malam hari tiba, besok kami akan langsung kembali ke Kota Balazmir. Sebelum tidur, aku dan Sergei memutuskan untuk sedikit minum-minum di kedai lantai bawah."Apa yang sebenarnya terjadi? Bukankah kau ingin bertemu dengan wanita itu?"Sergei telah menanggalkan segala formalitasnya. Saat kami cuma berdua, ia berubah menjadi seorang kawan baik. Sahabatku.Aku menyesap bir dingin yang baru disajikan oleh Ela. Kami duduk di meja panjang kedai. Ela kembali mengelapi gelas-gelas."Tidak juga."Sergei mengernyit di bawah rambut hitamnya yang ikal."Apa maksudmu? Bukankah kita jauh-jauh kemari supaya kau bisa bertemu dengannya?"Aku merenung.Aku pun tak yakin mengapa aku melakukan ini semua. Bermil-mil jauhnya dari rumah hanya untuk melihat sekilas sosok itu. Lalu pulang tanpa berbincang dan bahkan menyapanya."Aku sudah mengiriminya surat. Jika dia memang mau menjual asetnya, dia bisa datang ke tempat kita. Tapi ... sepertinya
"My lord, apa benar ini jalannya?" tanya Sergei."Kurasa begitu."Kami menyusuri jalanan desa dengan kuda. Aku dan Sergei bersama dua orang pengawal lagi telah tiba di wilayah Barony Levitski. Ternyata perjalanan cukup melelahkan dan butuh berhari-hari. Kami tidak pernah menjejakkan kaki di wilayah ini. Ini adalah wilayah selatan yang tidak begitu terjamah oleh pembangunan. Namun berbeda dengan wilayah timur yang sulit ditanami pangan, wilayah selatan jauh lebih subur. Tak dapat pembangunan besar pun wilayah ini lebih bisa menghidupi diri mereka sendiri. Industri lokal juga seharusnya berkembang.Berjalan-jalan di desa begini serasa mengarungi waktu. Desa ini terasa kuno. Mungkin terlambat sepuluh tahun dari daerah-daerah di kota."Kita cari penginapan," perintahku.Tak butuh waktu lama bagi kami untuk tiba di salah satu bangunan dua lantai yang seperti penginapan. Ada seorang pria yang sedari tadi bersandar di dekat daun pintu. Sergei segera
Rumah tanggaku telah berakhir. Aku resmi menjadi seorang duda. Tentu agak alot dan sukar, namun aku berhasil meyakinkan pengadilan dan gereja agar bisa mempermudah perceraian kami.Sofia, si perempuan tidak tahu diri itu meminta Kastil Marie sebagai syarat untuk bercerai. Seorang pria bernama Vadim, dia orang yang serba bisa kini menjadi asistenku. Ia begitu piawai membelaku di pengadilan. Hingga aku hanya perlu membayar satu juta keping Lyrac kepada Sofia sebagai kompensasi perceraian. Sofia menuduhku tak menafkahinya. Namun itu terpatahkan oleh semua bukti pengiriman uang dari bank. Dan ia tak bisa meminta Kastil Marie karena itu masih dalam nama Ibu. Segalanya berjalan lancar. Meski sekarang timbul gosip dan isu miring tentangku. Berbagai fitnah bermunculan. Alexey Korzakov si penjagal, Alexey Korzakov si tukang main perempuan, dan lain-lain. Aku tahu siapa yang menyebarkan dan menciptakan fitnah-fitnah keji itu. Mungkin di kalangan bangsawan kelas atas, gosip menyebar tanpa ampun.






