로그인Muyin terpaksa menggantikan peran Ruyin sebagai pengantin untuk Jenderal Li. Ruyin ditemukan tewas bunuh diri dan nama Jenderal Li dikaitkan dengan kasus kematiannya. Mampukah Muyin terus bersandiwara? Sementara perasaannya terus bertentangan antara cinta dan benci.
더 보기Pagi hari baru beranjak dari ufuk timur, Lei Jun melangkah dengan malas keluar dari kamarnya. Ia menimba air sumur lalu mencuci muka dengan air dingin dan menggelung rambutnya ke atas. Setelah kesadarannya pulih ia merenggangkan otot-ototnya yang kaku.Saat menoleh ke depan dan memastikan penglihatannya, ia menemukan kereta yang tidak ada kudanya, tapi bergerak tak tentu arah ke sana kemari. Dengan pelan dan penuh rasa curiga ia mengambil cangkul yang ada di samping kamarnya dan segera mendekati kereta tersebut.Dua buah kaki mencuat keluar dari dalam kereta. Lei Jun menyibak tirai kereta dan melihat mayat tanpa kepala. Jadi tidak bisa dikenali, tetapi hatinya berkata lain. Ia segera menggeledah tubuh itu dan menemukan tanda yang sangat jelas bahwa yang tewas mengenaskan itu adalah Mojin.Cangkul di tangan Lei Jun terlepas begitu saja, dan jatuh tanah. Seluruh aliran darah di tubuhnya seakan berhenti mengalir. Ia yang biasanya bersikap santai dan suka bercanda itu kini jatuh berlutut
Pertarungan tidak seimbang itu berlangsung sengit. Meski Mojin adalah prajurit elite kebanggaan Jenderal Li yang memiliki kemampuan bela diri di atas rata-rata, menghadapi lima pasukan elite sekaligus dengan tangan kosong adalah hal yang mustahil.Satu tendangan keras menghantam dada Mojin, disusul serangan bertubi-tubi di bahu dan perutnya. Mojin terhuyung, lalu memuntahkan darah segar dari mulutnya. Napasnya tersengal, pandangannya mulai berkunang-kunang karena rasa sakit yang meremukkan tulang rusuknya.Menyadari bahwa ia tidak akan bisa menang dan harus segera memperingatkan Jenderal Li tentang keberadaan siluman keparat itu di ibu kota, Mojin memaksakan diri untuk berlari sekuat tenaga menuju pintu keluar.Belum sempat ia mencapai pintu, sebuah rantai besi tebal dengan ujung belati melesat dan menancap di punggungnya."Aargh!" jerit Mojin dengan suara tertahan.Belati tajam dan rantai itu ditarik lagi hingga darah muncrat dalam jumlah besar dan tubuhnya ambruk. Mojin jatuh dengan
Mojin berjalan dengan cepat dan waspada. Suasana tengah malam di ibu kota terasa sunyi. Sesekali ia melirik ke belakang, merasakan tatapan tajam yang mengikutinya. Punggungnya terasa dingin, firasat buruk mulai merayapi benaknya.'Siapa yang mengikutiku?' Mojin mencengkeram pangkal pedangnya.Tiba-tiba, firasat itu menjadi nyata. Suara pedang ditarik terdengar dari atap rumah-rumah warga.Mojin mendongak cepat. Lima sosok misterius berpakaian serba hitam dan bertopeng menutupi wajah, turun dari atap mendekati dirinya. Mereka bergerak dengan kecepatan luar biasa.'Pasukan elite!' pikir Mojin, ia langsung mencabut pedangnya.Kuda-kuda yang sempurna belum dipasang Mojin, serangan pertama sudah datang. Ia berhasil menangkisnya, tetapi kelima sosok itu mengelilinginya, menyerang dari segala arah secara bersamaan.Mojin bertarung dengan gagah berani, menunjukkan keahliannya sebagai prajurit elite. Namun, ia kalah jumlah. Kelima penyerang itu bergerak bagaikan satu pikiran, saling menutupi k
Pangeran Canglan melangkah melewati para pedagang yang menjajakan kain sutra dan rempah-rempah, serta aneka makanan. Topi bambu ditutupi kain hitam tipis yang menjuntai hingga ke dada, menutupi wajahnya dengan sempurna. Tidak ada satu pun rakyat jelata atau bangsawan yang menyadari bahwa pria dingin di balik kain gelap itu adalah Pangeran dari Timur.Mingze berjalan tepat di belakangnya, ia terus waspada memperhatikan setiap orang yang berlalu-lalang tanpa terlihat sama sekali.Tepat ketika mereka berbelok melewati sebuah kedai teh, langkah Pangeran Canglan mendadak terhenti. Angin berhembus menyingkap sedikit pinggiran kain hitam di topinya.Dari balik celah yang timbul, mata sedingin es miliknya terkunci pada sesosok pemuda berpakaian biru hitam yang baru saja lewat berlawanan arah dengannya. Pemuda itu membawa pedang panjang di pinggangnya dan berjalan dengan tegap, dan terlihat berbincang serta membeli buah dengan seorang pedagang sebelum kembali berjalan."Tuan? Ada yang salah?"
Muyin kembali membalut punggung Fenglan dengan perlahan. Sesekali ia menguap karena kantuk tak tertahankan. Namun, pekerjaannya tetap diselesaikan.Pada lilitan terakhir, Fenglan menahan tangan istrinya, hingga Muyin yang kelelahan meletakkan dagunya di bahu sang jenderal.“Dulu, dia datang ke bara
Pagi-pagi sekali, istirahat Fenglan terganggu. Suara kentungan membuat ia menutup telinga. Tapi suara itu tak kunjung berhenti. Hingga ia menyibak selimut dengan mata setengah terbuka.Di hadapannya terdapat seorang perempuan cantik sedang membaca doa dengan serius. Sebelah tangannya memegang japam
Fenglan meringis ketika punggungnya terasa ditikam benda tajam. Dengan spontan ia menjauhkan diri dan tangan Muyin terpelanting hingga menabrak dinding kayu.“Furen,” ucap Fenglan sambil menahan sakit dan menatap istrinya begitu dalam.“Aku membencimu, Fujun, kau membunuh kakakku!” Muyin berdiri da
Shu Li—wanita yang menguasai teknik mengubah seribu wajah sedang menahan sakit di dadanya. Ia bersembunyi di sebuah losmen kosong dan menarik napas dalam sejenak sambil duduk bersila.“Sial, kemampuannya benar-benar tidak bisa diremehkan,” ucap Shu Li sambil menahan batuk. Sedikit lagi ia berhasil






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
리뷰더 하기