Home / Romansa / Aku Hamil Anak Musuhku / Bab 2 — Pria Asing di Pagi Hari

Share

Bab 2 — Pria Asing di Pagi Hari

last update publish date: 2026-03-25 20:03:01

Diana membuka mata perlahan, pandangannya buram oleh sinar matahari yang menembus tirai kamar. Kepala pusing dan tubuh lelah membuatnya terhuyung saat mencoba duduk. Napasnya terengah saat menyadari bau maskulin yang masih menyelimuti ruangan.

Matanya membesar saat menatap sosok yang duduk di kursi dekat jendela, menatap keluar tanpa menoleh. Randy. Rambutnya masih sedikit berantakan, jas yang ia kenakan semalam tampak kusut, tapi aura dominannya tetap tak berubah. Diana menahan napas. “Randy… kau masih di sini?” suaranya pecah, canggung dan gugup.

Randy menoleh sebentar, matanya dingin seperti kaca es. “Ya. Tidurmu terlalu panjang,” katanya datar, suaranya rendah tanpa emosi, seperti membicarakan hal biasa. “Seharusnya kau sudah sarapan dan siap pergi.”

Diana menelan ludah, rasa malu menghangat di wajahnya. Tubuhnya gemetar, bukan hanya karena pusing tapi juga karena ingatan malam sebelumnya menyerang tanpa ampun. “Kau… kau tidak merasa… salah?” suaranya hampir berbisik.

Randy mengangkat bahu, menoleh kembali ke jendela. “Salah? Diana, itu terjadi. Aku tidak membesar-besarkan. Aku tidak terikat oleh itu.” Nada suaranya datar, bahkan cenderung dingin, seolah kejadian itu hanyalah rutinitas biasa baginya.

Diana menatapnya, rasa terhina merayap ke seluruh tubuhnya. Ia menunduk, mencoba menenangkan napasnya yang tak beraturan. “Aku… aku tidak tahu harus berkata apa… setelah semua yang terjadi.”

Randy menoleh lagi, matanya yang tajam menembus dirinya. “Kau tidak perlu berkata apa-apa. Yang penting kau sadar, dan kau harus menghadapi konsekuensi dari pilihanmu sendiri.”

“Konsekuensi? Kau menyebut ini… pilihanku?” Diana membentak, suara penuh emosi, antara syok dan kemarahan. Tubuhnya ingin menjauh, tapi kakinya terasa berat, hampir menempel ke lantai. “Aku tidak pernah memilih ini! Kau yang… kau yang memaksa…”

Randy menghela napas panjang, menatapnya tanpa satu emosi pun tergurat di wajahnya. “Aku tidak memaksa, Diana. Semuanya terjadi. Dan kau harus menerima itu.” Kata-katanya tajam, setiap huruf terasa menekan dada Diana.

Diana menunduk, menutupi wajahnya dengan tangan. Mata merahnya bersinar karena tangis yang tertahan. “Aku… aku merasa… dipermalukan… di depan semua orang… dan sekarang aku… di sini… denganmu.” Suaranya pecah, menahan airmata yang nyaris jatuh.

Randy berdiri, melangkah mendekat, tapi kali ini jarak yang ia pertahankan membuat Diana sadar bahwa ia tidak ingin mengulangi malam sebelumnya. “Aku bukan di sini untuk menyenangkanmu, Diana. Aku di sini karena… situasi sudah terjadi. Jangan salah sangka tentang maksudku.”

Diana menggeleng, bingung, napasnya tidak beraturan. “Maksudmu… apa? Kau bersikap dingin, seolah semua ini normal. Kau tidak merasa apa-apa tentang malam itu?”

Randy memandangnya sebentar, matanya menyipit, lalu berbalik, menatap jendela lagi. “Kenapa harus merasa? Semua orang punya malam mereka sendiri. Kau membuat keputusanmu, aku membuat keputusanku. Itu saja.”

Diana menelan ludah, hatinya remuk. Ia ingin menjerit, menuntut, tetapi setiap kata seakan tertahan di tenggorokannya. Malam itu membawanya ke batas emosi, dan kini pagi harinya ia benar-benar menghadapi realita. Randy, pria yang seharusnya musuhnya, bersikap tenang, dominan, dan tak terpengaruh sama sekali.

“Lalu… apa yang harus kulakukan sekarang?” Diana akhirnya bertanya, suaranya hampir serak, tangan gemetar menahan tubuhnya.

Randy menoleh sebentar, menatapnya dengan mata dingin tapi menahan sesuatu yang lebih dalam. “Kau harus tetap hidup, Diana. Pergi bekerja, hadapi dunia. Aku akan tetap di sini… mengawasi. Itu saja.”

Diana menatapnya, seluruh wajahnya memerah karena malu dan bingung. Ia ingin berlari, tapi kakinya terasa lemah. Tubuhnya gemetar, dan pikiran kacau. “Mengawasi…? Maksudmu…?”

Randy tidak menjawab langsung. Ia hanya mencondongkan tubuh ke arah Diana sedikit lebih dekat, tatapannya menusuk dan penuh arti. “Aku akan memastikan kau tidak melakukan kesalahan lagi. Dan kau… kau tidak akan pernah bisa melupakan malam ini, Diana.”

Diana menunduk, menutup wajahnya, mencoba menahan airmata. Ia merasa hancur, dihancurkan oleh kesadaran bahwa Randy tidak peduli pada kehormatannya, pada malu yang ia rasakan. Ia hanya bagian dari permainan Randy, seakan semua itu bukan masalah baginya.

Hati Diana panas, darahnya mendidih, tapi juga muncul rasa takut yang membuatnya tak berani menatap mata Randy. Setiap gerakan pria itu membuat jantungnya berdegup lebih cepat, bukan karena cinta, tapi karena dominasi dan kontrol yang tak bisa ia lawan.

“Diana…” suara Randy lagi, pelan tapi penuh tekanan, “kau harus menyadari satu hal. Malam ini… bukan tentang siapa yang salah. Ini tentang apa yang akan terjadi selanjutnya. Kau tidak punya pilihan lagi.”

Diana menoleh sebentar, napasnya tercekat, matanya bertemu dengan pandangan Randy yang menusuk, membuatnya merinding. “Apa maksudmu… selanjutnya? Kau… kau tidak bisa serius…”

Randy mendekat, jarak mereka hanya beberapa sentimeter. “Aku selalu serius, Diana. Dan kau… akan belajar bahwa malam ini hanyalah awal dari sesuatu yang jauh lebih besar.”

Diana menelan ludah, seluruh tubuhnya bergetar. Ia sadar malam sebelumnya bukan sekadar ledakan emosional, tapi awal dari hubungan yang tidak normal, yang tidak bisa ia kendalikan, dan yang bahkan Randy sendiri tidak anggap penting secara emosional.

Ia menunduk, menutup wajahnya, merasakan campuran marah, takut, dan terhina. Namun satu hal jelas—malam itu mengubah segalanya. Dan Randy, dengan sikap dinginnya, memastikan Diana tidak bisa lari dari kenyataan.

Ketika Diana mencoba menyingkirkan pikiran gelapnya dan bangkit dari tempat tidur, telepon di meja berdering. Diana menoleh, jantungnya tercekat. Nomor yang muncul di layar membuatnya hampir menjerit.

Itu adalah panggilan yang bisa mengungkap lebih banyak rahasia—atau membawa masalah baru yang lebih besar dari Randy sendiri. Diana menatap layar, napasnya tercekat, dan tangannya gemetar sebelum akhirnya mengangkat telepon.

“Ya… halo?” suaranya bergetar, penuh ketegangan.

Suara di ujung sana membuat seluruh tubuh Diana membeku. Suara yang selama ini tersembunyi, yang ia harap tak pernah terdengar lagi, kini kembali menghantui hidupnya.

Bersambung, Saksikan kelanjutan ke Bab 3 — Kesepakatan Tanpa Nama

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Aku Hamil Anak Musuhku   Bab 48 — Kedekatan yang Membingungkan

    “Jangan menyentuhku.” Diana langsung menarik tangannya ketika Randy mencoba membantu menopang tubuhnya. Namun pria itu justru menatapnya lebih tajam. “Kau hampir jatuh.” “Aku bisa menjaga diriku sendiri.” “Kau yakin?” Pertanyaan itu terdengar sederhana, tapi menghantam tepat ke dalam pertahanan Diana. Karena sebenarnya… ia mulai lelah menjaga semuanya sendiri. Dan kelelahan itu semakin terasa setiap Randy berada di dekatnya. Pria itu mulai membuat Diana merasa tidak sendirian. Namun justru itulah masalahnya. Sebab Diana tahu hubungan mereka tidak seharusnya berubah menjadi seperti ini. Mereka seharusnya saling membenci. Bukan saling memperhatikan dalam diam. Tatapan Randy perlahan turun ke wajah pucat Diana sebelum akhirnya berkata pelan— “Kau tidak terlihat baik-baik saja akhir-akhir ini.” Tubuh Diana langsung menegang. Restoran itu masih dipenuhi tatapan orang-orang. Beberapa diam-diam merekam. Beberapa berbisik sambil melirik ke arah mereka tanpa rasa malu. Dan

  • Aku Hamil Anak Musuhku   Bab 47 — Perhatian yang Mulai Terlihat

    “Kau belum makan sejak tadi siang, kan?” Diana langsung mengangkat kepala ketika Randy meletakkan makanan di depannya. Pria itu duduk tanpa meminta izin, seolah keberadaannya di sana adalah hal biasa. “Aku tidak lapar.” “Kau berbohong.” Nada suara Randy terdengar datar, tetapi justru itu yang membuat Diana semakin gugup. Randy mulai terlalu mengenalnya. Pria itu mulai menyadari kebiasaan kecil Diana. Cara wanita itu menghindari tatapan saat gugup. Cara napasnya berubah saat sedang menahan sesuatu. Dan itu membuat Diana semakin tidak tenang. “Apa semua ini hiburan untukmu?” tanya Diana pelan. Randy mengernyit. “Apa maksudmu?” “Memperhatikanku seperti ini.” Untuk beberapa detik, Randy tidak menjawab. Tatapannya justru semakin sulit dibaca. Seolah pria itu sendiri mulai bingung dengan alasan di balik semua perhatian yang ia berikan. Namun sebelum suasana berubah semakin aneh, Diana mendadak memegangi meja karena kepalanya terasa pusing. Dan Randy langsung berdiri panik. “

  • Aku Hamil Anak Musuhku   Bab 46 — Jarak yang Tidak Lagi Jelas

    “Duduk dulu.” Nada suara Randy terdengar rendah saat pria itu menarik kursi di depan Diana. Wanita itu langsung menegang. Ia tidak suka bagaimana Randy mulai bersikap seolah punya hak untuk mengatur dirinya. “Aku tidak butuh diatur.” “Kau juga tidak terlihat baik-baik saja.” Kalimat itu langsung membuat Diana terdiam. Beberapa hari terakhir semuanya terasa semakin sulit. Tekanan dari keluarga belum hilang, sementara Randy kini terus muncul di sekelilingnya tanpa memberi ruang untuk bernapas. Dan yang paling berbahaya— Diana mulai terbiasa dengan kehadiran pria itu. Ia membenci fakta tersebut. Karena semakin sering mereka bersama, semakin sulit baginya menjaga jarak emosional. Tatapan Randy tidak lagi terasa setajam dulu. Ada sesuatu yang berubah perlahan, sesuatu yang membuat Diana takut pertahanannya runtuh. “Kau terlihat lelah,” ujar Randy lagi pelan. Diana buru-buru memalingkan wajah. Sebab jika ia terus menatap pria itu lebih lama… ia takut akan mulai percaya bahwa Ran

  • Aku Hamil Anak Musuhku   Bab 45 — Tekanan yang Tidak Bisa Dihindari

    “Kau pikir semua ini bisa terus disembunyikan?” Nada suara Randy terdengar lebih tajam malam itu. Diana langsung membeku. Ia tahu pria itu mulai curiga lagi. Dan itu membuat kepalanya terasa semakin berat. “Aku tidak menyembunyikan apa pun.” “Kau bahkan tidak bisa mengatakannya sambil menatapku.” Kalimat itu langsung menusuk pertahanan Diana. Tekanan dari keluarga belum selesai. Bisik-bisik mulai terdengar semakin jelas. Sementara Randy kini terus memperhatikannya dengan cara yang membuat Diana sulit bernapas. Seolah pria itu sedang menyusun semua potongan yang belum ia pahami. Dan Diana takut pada satu kemungkinan— Jika Randy benar-benar mengetahui semuanya… hidupnya akan berubah total. Tatapan Randy perlahan turun ke arah tubuh Diana sebelum kembali menatap matanya tajam. “Apa sebenarnya yang sedang kau sembunyikan dariku?” Jantung Diana langsung berhenti sesaat. Mobil Randy melaju cepat membelah jalan malam. Suasana di dalamnya terasa sesak. Bukan karena sempit. T

  • Aku Hamil Anak Musuhku   Bab 44 — Batas yang Mulai Retak

    “Kenapa kau terus memperhatikanku?” Pertanyaan Diana membuat Randy diam beberapa saat. Tatapan pria itu tidak lagi sedingin dulu. “Aku juga tidak tahu.” Jawaban jujur itu justru membuat suasana semakin kacau. Diana langsung memalingkan wajah, berusaha mengabaikan detak jantungnya yang mulai tidak stabil. Hubungan mereka berubah terlalu cepat. Dan perubahan itu menakutkan. Karena semakin sering mereka bersama, semakin kabur batas antara kebencian dan perhatian. Sementara di luar sana, tekanan keluarga terus meningkat tanpa memberi mereka ruang bernapas. “Kau harus berhenti dekat-dekat denganku,” bisik Diana pelan. “Kenapa?” Diana menatap Randy lama sebelum akhirnya berkata lirih— “Karena semuanya akan jadi lebih buruk.” Randy langsung menyipitkan mata. Seolah pria itu mulai menyadari ada sesuatu yang belum Diana katakan. Ruangan arsip itu mendadak terasa terlalu sempit untuk mereka berdua. Udara terasa berat. Penuh ketegangan yang tidak lagi bisa disembunyikan di bali

  • Aku Hamil Anak Musuhku   Bab 43 — Rahasia yang Semakin Berat

    “Aku tidak butuh bantuanmu.” Diana langsung menarik tangannya saat Randy mencoba menahannya. Namun pria itu justru menatapnya semakin tajam. “Kau pikir kau bisa menghadapi semuanya sendiri?” “Aku memang selalu sendiri.” Jawaban itu membuat Randy terdiam sesaat. Diana segera memalingkan wajah. Ia terlalu lelah. Tekanan dari keluarga, rasa takut rahasianya terbongkar, dan kehadiran Randy yang semakin dekat membuat pertahanannya mulai retak sedikit demi sedikit. Namun yang paling membuatnya takut adalah dirinya sendiri. Karena sebagian kecil hatinya mulai merasa nyaman saat Randy berada di dekatnya. Dan itu salah. Sangat salah. Randy memperhatikan wajah pucat Diana beberapa detik lebih lama sebelum akhirnya berkata pelan— “Kau terlihat seperti sedang memikul sesuatu yang terlalu berat.” Tubuh Diana langsung menegang. Lorong kantor yang tadi ramai kini mulai sepi. Namun bagi Diana, dunia tetap terasa bising. Bisikan. Tatapan. Notifikasi berita. Semua seperti terus menge

  • Aku Hamil Anak Musuhku   Bab 6 — Jarak yang Dipaksakan

    Diana menatap jalanan dari jendela apartemennya, hujan tipis menetes di kaca, seolah meniru perasaannya yang bercampur aduk. Setiap tetes air tampak seperti pengingat malam-malam yang baru saja ia lalui—malam yang mengubah segalanya, malam yang membuatnya kehilangan pijakan dalam hidupnya. Ia menar

  • Aku Hamil Anak Musuhku   Bab 4 — Nama yang Tidak Seharusnya Diketahui

    Diana menatap layar teleponnya dengan tangan gemetar. Suara di seberang terdengar tenang, tapi setiap kata yang keluar membuat seluruh tubuhnya menegang. “Apakah kau benar-benar tahu siapa dia?” suara itu menekannya lebih daripada ledakan kemarahan semalam.Diana menelan ludah, jantungnya berdetak

  • Aku Hamil Anak Musuhku   Bab 5 — Musuh dalam Kehidupan Nyata

    Diana berdiri di tengah ruang tamu, napasnya terengah, jantungnya berdegup liar. Pesan di telepon masih terpampang jelas, menyisakan rasa marah yang membakar kulitnya. “Kau… kau dari pihak mereka?” suaranya hampir tak terdengar, tapi penuh dengan kemarahan yang terkumpul.Randy, yang duduk santai d

  • Aku Hamil Anak Musuhku   Bab 1 — Malam yang Tidak Seharusnya Terjadi

    Diana menendang pintu ruangan itu dengan frustrasi, rasanya seluruh tubuhnya terbakar oleh kemarahan yang tak terbendung. Suara tawa sumbang itu masih terngiang di telinganya, menghancurkan rasa percaya dirinya. “Bagaimana bisa kau melakukan ini di depan semua orang?” suaranya bergetar, hampir peca

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status