ホーム / Romansa / Aku Hamil Anak Musuhku / Bab 6 — Jarak yang Dipaksakan

共有

Bab 6 — Jarak yang Dipaksakan

last update 公開日: 2026-03-25 20:11:48

Diana menatap jalanan dari jendela apartemennya, hujan tipis menetes di kaca, seolah meniru perasaannya yang bercampur aduk. Setiap tetes air tampak seperti pengingat malam-malam yang baru saja ia lalui—malam yang mengubah segalanya, malam yang membuatnya kehilangan pijakan dalam hidupnya. Ia menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri, tapi hatinya masih berdebar kencang, rasa marah dan malu masih bercampur, membuatnya sulit berpikir jernih.

“Kenapa semua ini harus terjadi padaku?” gumamnya pelan, suaranya nyaris tenggelam di dalam suara hujan. Ia menunduk, menutupi wajahnya dengan tangan, menahan air mata yang nyaris tumpah. “Kenapa aku tidak bisa hanya menjalani hidup normal?”

Teleponnya bergetar di meja. Diana menatap layar, tangan gemetar. Pesan itu dari Randy. Ia menahan diri untuk tidak membukanya, menahan napas, menahan emosi yang mencoba kembali menyeretnya ke malam itu. “Tidak… tidak sekarang,” bisiknya, menutup telepon dengan kasar. Ia memutuskan untuk menjauh, untuk memberi jarak—jarak yang dipaksakan oleh rasa sakit dan kebingungan yang belum bisa ia atasi.

Diana mengumpulkan pakaiannya, menyiapkan tas, dan memutuskan untuk keluar. Jalan kaki di tengah kota terasa seperti pelarian—setiap langkah membuatnya merasa sedikit lebih bebas dari bayangan Randy yang terus menghantuinya. Ia mencoba menenangkan diri, menata ulang pikirannya, tapi setiap sudut kota, setiap lampu jalan yang ia lewati, selalu mengingatkannya pada sorot mata dingin Randy, tatapannya yang menusuk, kendali yang ia rasakan di setiap gerakan pria itu.

Ia berhenti di sebuah taman kecil, duduk di bangku kayu yang basah oleh hujan, menarik napas dalam-dalam. Tubuhnya lelah, tapi pikirannya tidak berhenti berputar. “Aku harus menjauh. Aku tidak bisa membiarkan diriku terus… terus terikat pada… pada dia,” bisiknya, menunduk, menyembunyikan wajahnya dari dunia.

Tiba-tiba, suara langkah kaki terdengar dari kejauhan. Diana menoleh dengan cepat, jantungnya berdetak kencang. Namun, saat sosok itu muncul dari balik pepohonan, ia tersadar itu hanya seorang pria tua yang lewat dengan payung. Ia menarik napas lega, menepuk-nepuk dirinya sendiri. “Hanya pikiranku saja,” gumamnya. “Aku terlalu… terlalu terpaku pada malam itu.”

Diana menutup mata sejenak, berusaha menenangkan diri. “Aku harus tegar. Aku harus bisa mengatur jarak ini. Tidak ada lagi kontak. Tidak ada lagi pesan. Tidak ada lagi tatapan dingin itu.” Ia menggenggam tangannya sendiri, mencoba memaksa diri untuk tetap kuat, untuk tidak terjebak dalam permainan yang telah membuatnya merasa hancur.

Malam itu, Diana pulang lebih cepat dari biasanya, menutup pintu apartemen dengan perlahan. Ia menghela napas panjang, menatap kosong ke dinding. Setiap bayangan, setiap suara kecil di apartemen, membuatnya teringat Randy. Ia menggigit bibir, menahan air mata, menutup mata sejenak, mencoba memaksa pikirannya untuk fokus pada hal lain.

Namun, meskipun ia menjauh, meskipun ia menutup diri, Diana tidak bisa menghilangkan perasaan diawasi. Ia merasa setiap gerakannya diperhatikan, setiap langkahnya dianalisis, dan setiap keputusan yang ia ambil seperti tertangkap oleh pandangan Randy—meski pria itu tidak mengejar atau menemuinya lagi. Rasanya seperti ada jarak yang dipaksakan, tapi tidak pernah benar-benar ada ruang aman.

Hari-hari berlalu dengan lambat. Diana menjaga jarak dari kantor, dari teman-teman yang mungkin bisa memberitahunya tentang Randy, dari media sosial, dari setiap hal yang bisa mengingatkannya pada malam itu. Ia bekerja, bertemu rekan bisnis, dan mencoba menata kehidupannya kembali, tapi setiap kali malam tiba, pikirannya selalu kembali ke Randy.

Ia menatap dirinya di cermin kamar mandi, wajahnya pucat, mata merah, tapi berusaha tegar. “Aku harus bisa melakukannya sendiri. Tidak ada Randy, tidak ada musuh yang menempel di sisiku. Aku harus tegar,” gumamnya, menepuk wajahnya dengan perlahan, seolah menegaskan pada diri sendiri bahwa ia masih bisa bertahan.

Suatu sore, ketika Diana sedang berjalan pulang dari kantor, hujan mulai turun lagi. Ia membuka payungnya, menundukkan kepala, berharap bisa mengabaikan semua orang dan semua hal yang bisa mengingatkannya pada Randy. Namun, bayangan di seberang jalan membuatnya terhenti. Ia menahan napas, tubuhnya membeku. Sosok itu… tidak perlu berlari, tidak perlu berbicara, hanya berdiri di sana, diam.

Diana menelan ludah, gemetar. “Tidak… bukan mungkin… bukan dia,” gumamnya dalam hati, tapi setiap indra menegaskan bahwa itu memang Randy. Ia berdiri di seberang jalan, payung di tangan, wajahnya tertutup sedikit oleh hujan, tapi tatapan dinginnya jelas tertuju padanya.

Rasa takut dan marah campur aduk dalam diri Diana. Ia ingin berlari, ingin berteriak, ingin menegur, tapi ia tahu bahwa menghadapi Randy bukanlah hal yang bisa dilakukan dengan mudah. Ia menarik napas dalam, mencoba tetap tegar, mencoba menegaskan jarak yang ia buat selama ini.

Randy berjalan perlahan ke arah persimpangan, matanya tidak lepas dari Diana. Tidak ada senyuman, tidak ada sapaan hangat, hanya tatapan dingin yang membuat darah Diana membeku. “Aku… aku harus bisa menjauh,” bisiknya, tapi kakinya terasa berat, tubuhnya seperti terpaku di tempat.

Randy berhenti beberapa meter dari Diana. Suasana hening, hujan menetes di sekeliling mereka, udara malam terasa tegang. “Diana,” suaranya rendah, tapi cukup untuk membuat seluruh tubuh Diana merinding. “Kau tidak perlu lari. Aku tidak di sini untuk… menyakiti atau mengejar. Aku hanya…” Suaranya terhenti sejenak, tatapannya tetap dingin tapi ada kilatan yang sulit dipahami Diana.

Diana menelan ludah, menahan napas, matanya tidak lepas dari Randy. “Hanya apa? Hanya untuk mengawasi? Hanya untuk membuatku merasa hancur?” Suaranya pecah, gemetar, campur marah dan ketakutan. “Kau… kau tidak mengerti apa yang kulalui!”

Randy mencondongkan tubuh sedikit, jaraknya masih aman tapi menegaskan dominasi yang ia miliki. “Aku mengerti lebih dari yang kau kira, Diana. Tapi kau harus belajar—jarak ini… jarak yang kau buat, itu baik. Kau butuh waktu. Kau butuh ruang. Aku… tidak akan memaksakan diriku padamu. Tapi kau harus sadar, bahwa meskipun kau menjauh, aku tetap memperhatikan. Tidak ada yang bisa benar-benar lepas begitu saja.”

Diana menatapnya, seluruh tubuhnya tegang, napasnya tersendat. Rasa takut, marah, dan bingung bercampur aduk. Ia ingin berteriak, ingin menolak, tapi tubuhnya tidak bisa bergerak. Hanya tatapan Randy yang menusuk, tenang, dominan, membuatnya merasa kecil dan rapuh.

“Ini… ini tidak adil!” Diana akhirnya bersuara, suaranya hampir berteriak, tapi tertahan oleh rasa tercekik di dada. “Aku berusaha menjauh, berusaha menata hidupku sendiri, tapi kau… kau selalu di sana, entah bagaimana, selalu ada!”

Randy tersenyum tipis, dingin, tapi ada nada yang membuat Diana semakin bingung. “Adil atau tidak, Diana… kenyataan ini tidak bisa diubah. Kau memilih jarak, dan itu baik. Tapi ingat, aku tidak akan menghilang. Aku selalu ada di tempat yang kau tidak lihat, di setiap keputusanmu, di setiap langkahmu. Malam itu, malam sebelumnya… hanyalah awal dari apa yang akan kau hadapi.”

Diana menelan ludah, tubuhnya gemetar, menatap hujan yang menetes di jalan. Ia menyadari satu hal: meskipun ia berusaha menjauh, meskipun ia mencoba menahan diri, Randy tetap menjadi bayangan yang menempel pada hidupnya—dalam jarak yang dipaksakan, dalam diam yang menegangkan, dalam pengawasan yang tidak terlihat.

Hujan semakin deras, angin malam menggerakkan rambutnya, dan Diana berdiri di sana, terpaku. Ia menutup mata, menarik napas panjang, berusaha menenangkan diri. Tapi satu hal jelas: malam ini tidak akan berakhir dengan damai. Ada sesuatu yang akan datang, sesuatu yang tidak bisa ia hindari, dan Randy… Randy tetap menjadi bagian dari semua itu, meskipun ia mencoba menjauh.

Di ujung jalan, sebuah mobil hitam berhenti, lampu rem menyala, bayangan seseorang di dalam mobil mengintip keluar. Diana menatap, jantungnya berdetak kencang. Ia tahu, entah bagaimana, malam ini tidak akan berakhir hanya dengan jarak dan hujan. Ada ancaman lain yang datang, dan ia harus bersiap menghadapi sesuatu yang bahkan lebih besar daripada yang ia bayangkan.

Bersambung, Saksikan kelanjutan ke Bab 7 — Bayangan yang tidak hilang

この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード

最新チャプター

  • Aku Hamil Anak Musuhku   Bab 48 — Kedekatan yang Membingungkan

    “Jangan menyentuhku.” Diana langsung menarik tangannya ketika Randy mencoba membantu menopang tubuhnya. Namun pria itu justru menatapnya lebih tajam. “Kau hampir jatuh.” “Aku bisa menjaga diriku sendiri.” “Kau yakin?” Pertanyaan itu terdengar sederhana, tapi menghantam tepat ke dalam pertahanan Diana. Karena sebenarnya… ia mulai lelah menjaga semuanya sendiri. Dan kelelahan itu semakin terasa setiap Randy berada di dekatnya. Pria itu mulai membuat Diana merasa tidak sendirian. Namun justru itulah masalahnya. Sebab Diana tahu hubungan mereka tidak seharusnya berubah menjadi seperti ini. Mereka seharusnya saling membenci. Bukan saling memperhatikan dalam diam. Tatapan Randy perlahan turun ke wajah pucat Diana sebelum akhirnya berkata pelan— “Kau tidak terlihat baik-baik saja akhir-akhir ini.” Tubuh Diana langsung menegang. Restoran itu masih dipenuhi tatapan orang-orang. Beberapa diam-diam merekam. Beberapa berbisik sambil melirik ke arah mereka tanpa rasa malu. Dan

  • Aku Hamil Anak Musuhku   Bab 47 — Perhatian yang Mulai Terlihat

    “Kau belum makan sejak tadi siang, kan?” Diana langsung mengangkat kepala ketika Randy meletakkan makanan di depannya. Pria itu duduk tanpa meminta izin, seolah keberadaannya di sana adalah hal biasa. “Aku tidak lapar.” “Kau berbohong.” Nada suara Randy terdengar datar, tetapi justru itu yang membuat Diana semakin gugup. Randy mulai terlalu mengenalnya. Pria itu mulai menyadari kebiasaan kecil Diana. Cara wanita itu menghindari tatapan saat gugup. Cara napasnya berubah saat sedang menahan sesuatu. Dan itu membuat Diana semakin tidak tenang. “Apa semua ini hiburan untukmu?” tanya Diana pelan. Randy mengernyit. “Apa maksudmu?” “Memperhatikanku seperti ini.” Untuk beberapa detik, Randy tidak menjawab. Tatapannya justru semakin sulit dibaca. Seolah pria itu sendiri mulai bingung dengan alasan di balik semua perhatian yang ia berikan. Namun sebelum suasana berubah semakin aneh, Diana mendadak memegangi meja karena kepalanya terasa pusing. Dan Randy langsung berdiri panik. “

  • Aku Hamil Anak Musuhku   Bab 46 — Jarak yang Tidak Lagi Jelas

    “Duduk dulu.” Nada suara Randy terdengar rendah saat pria itu menarik kursi di depan Diana. Wanita itu langsung menegang. Ia tidak suka bagaimana Randy mulai bersikap seolah punya hak untuk mengatur dirinya. “Aku tidak butuh diatur.” “Kau juga tidak terlihat baik-baik saja.” Kalimat itu langsung membuat Diana terdiam. Beberapa hari terakhir semuanya terasa semakin sulit. Tekanan dari keluarga belum hilang, sementara Randy kini terus muncul di sekelilingnya tanpa memberi ruang untuk bernapas. Dan yang paling berbahaya— Diana mulai terbiasa dengan kehadiran pria itu. Ia membenci fakta tersebut. Karena semakin sering mereka bersama, semakin sulit baginya menjaga jarak emosional. Tatapan Randy tidak lagi terasa setajam dulu. Ada sesuatu yang berubah perlahan, sesuatu yang membuat Diana takut pertahanannya runtuh. “Kau terlihat lelah,” ujar Randy lagi pelan. Diana buru-buru memalingkan wajah. Sebab jika ia terus menatap pria itu lebih lama… ia takut akan mulai percaya bahwa Ran

  • Aku Hamil Anak Musuhku   Bab 45 — Tekanan yang Tidak Bisa Dihindari

    “Kau pikir semua ini bisa terus disembunyikan?” Nada suara Randy terdengar lebih tajam malam itu. Diana langsung membeku. Ia tahu pria itu mulai curiga lagi. Dan itu membuat kepalanya terasa semakin berat. “Aku tidak menyembunyikan apa pun.” “Kau bahkan tidak bisa mengatakannya sambil menatapku.” Kalimat itu langsung menusuk pertahanan Diana. Tekanan dari keluarga belum selesai. Bisik-bisik mulai terdengar semakin jelas. Sementara Randy kini terus memperhatikannya dengan cara yang membuat Diana sulit bernapas. Seolah pria itu sedang menyusun semua potongan yang belum ia pahami. Dan Diana takut pada satu kemungkinan— Jika Randy benar-benar mengetahui semuanya… hidupnya akan berubah total. Tatapan Randy perlahan turun ke arah tubuh Diana sebelum kembali menatap matanya tajam. “Apa sebenarnya yang sedang kau sembunyikan dariku?” Jantung Diana langsung berhenti sesaat. Mobil Randy melaju cepat membelah jalan malam. Suasana di dalamnya terasa sesak. Bukan karena sempit. T

  • Aku Hamil Anak Musuhku   Bab 44 — Batas yang Mulai Retak

    “Kenapa kau terus memperhatikanku?” Pertanyaan Diana membuat Randy diam beberapa saat. Tatapan pria itu tidak lagi sedingin dulu. “Aku juga tidak tahu.” Jawaban jujur itu justru membuat suasana semakin kacau. Diana langsung memalingkan wajah, berusaha mengabaikan detak jantungnya yang mulai tidak stabil. Hubungan mereka berubah terlalu cepat. Dan perubahan itu menakutkan. Karena semakin sering mereka bersama, semakin kabur batas antara kebencian dan perhatian. Sementara di luar sana, tekanan keluarga terus meningkat tanpa memberi mereka ruang bernapas. “Kau harus berhenti dekat-dekat denganku,” bisik Diana pelan. “Kenapa?” Diana menatap Randy lama sebelum akhirnya berkata lirih— “Karena semuanya akan jadi lebih buruk.” Randy langsung menyipitkan mata. Seolah pria itu mulai menyadari ada sesuatu yang belum Diana katakan. Ruangan arsip itu mendadak terasa terlalu sempit untuk mereka berdua. Udara terasa berat. Penuh ketegangan yang tidak lagi bisa disembunyikan di bali

  • Aku Hamil Anak Musuhku   Bab 43 — Rahasia yang Semakin Berat

    “Aku tidak butuh bantuanmu.” Diana langsung menarik tangannya saat Randy mencoba menahannya. Namun pria itu justru menatapnya semakin tajam. “Kau pikir kau bisa menghadapi semuanya sendiri?” “Aku memang selalu sendiri.” Jawaban itu membuat Randy terdiam sesaat. Diana segera memalingkan wajah. Ia terlalu lelah. Tekanan dari keluarga, rasa takut rahasianya terbongkar, dan kehadiran Randy yang semakin dekat membuat pertahanannya mulai retak sedikit demi sedikit. Namun yang paling membuatnya takut adalah dirinya sendiri. Karena sebagian kecil hatinya mulai merasa nyaman saat Randy berada di dekatnya. Dan itu salah. Sangat salah. Randy memperhatikan wajah pucat Diana beberapa detik lebih lama sebelum akhirnya berkata pelan— “Kau terlihat seperti sedang memikul sesuatu yang terlalu berat.” Tubuh Diana langsung menegang. Lorong kantor yang tadi ramai kini mulai sepi. Namun bagi Diana, dunia tetap terasa bising. Bisikan. Tatapan. Notifikasi berita. Semua seperti terus menge

  • Aku Hamil Anak Musuhku   Bab 5 — Musuh dalam Kehidupan Nyata

    Diana berdiri di tengah ruang tamu, napasnya terengah, jantungnya berdegup liar. Pesan di telepon masih terpampang jelas, menyisakan rasa marah yang membakar kulitnya. “Kau… kau dari pihak mereka?” suaranya hampir tak terdengar, tapi penuh dengan kemarahan yang terkumpul.Randy, yang duduk santai d

  • Aku Hamil Anak Musuhku   Bab 4 — Nama yang Tidak Seharusnya Diketahui

    Diana menatap layar teleponnya dengan tangan gemetar. Suara di seberang terdengar tenang, tapi setiap kata yang keluar membuat seluruh tubuhnya menegang. “Apakah kau benar-benar tahu siapa dia?” suara itu menekannya lebih daripada ledakan kemarahan semalam.Diana menelan ludah, jantungnya berdetak

  • Aku Hamil Anak Musuhku   Bab 3 — Kesepakatan Tanpa Nama

    :Diana menatap Randy dari seberang meja ruang konferensi, hatinya masih panas. Malam sebelumnya terasa seperti mimpi buruk yang nyata, dan sekarang ia harus duduk di sini, berhadapan dengan pria yang membuatnya merasa terluka dan terhina. Napasnya tak beraturan, tapi ia mencoba menahan diri agar t

  • Aku Hamil Anak Musuhku   Bab 2 — Pria Asing di Pagi Hari

    Diana membuka mata perlahan, pandangannya buram oleh sinar matahari yang menembus tirai kamar. Kepala pusing dan tubuh lelah membuatnya terhuyung saat mencoba duduk. Napasnya terengah saat menyadari bau maskulin yang masih menyelimuti ruangan.Matanya membesar saat menatap sosok yang duduk di kursi

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status