Beranda / Romansa / Aku Hamil Anak Musuhku / Bab 5 — Musuh dalam Kehidupan Nyata

Share

Bab 5 — Musuh dalam Kehidupan Nyata

last update Tanggal publikasi: 2026-03-25 20:09:28

Diana berdiri di tengah ruang tamu, napasnya terengah, jantungnya berdegup liar. Pesan di telepon masih terpampang jelas, menyisakan rasa marah yang membakar kulitnya. “Kau… kau dari pihak mereka?” suaranya hampir tak terdengar, tapi penuh dengan kemarahan yang terkumpul.

Randy, yang duduk santai di sofa, menatapnya dengan tatapan dingin, matanya menyipit tipis seolah menilai setiap reaksi Diana. “Ya, Diana. Aku dari pihak yang berseberangan. Dan kau… kau baru menyadarinya sekarang.” Suaranya rendah, mantap, dan tidak menunjukkan satu pun rasa bersalah.

Diana menatapnya dengan mata membara, darahnya mendidih. “Berarti… semua yang kau lakukan selama ini… semua kebohongan, semua permainan… semuanya untuk menguntungkan pihakmu?” Ia menepuk meja, hampir menjatuhkan gelas yang ia pegang. “Kau benar-benar menghancurkan hidupku!”

Randy mengangkat bahu, menatapnya dengan tenang. “Aku tidak bilang ini mudah. Tapi aku tidak bisa membiarkan pihakku kalah hanya karena pertimbangan perasaanmu. Kau harus memahami, Diana, ini bukan soal pribadi. Ini tentang strategi, tentang siapa yang bertahan dan siapa yang kalah.”

Diana melangkah mendekat, tubuhnya gemetar tapi matanya tak lepas dari Randy. “Jadi… aku dikhianati dua kali! Malam itu… aku merasa kau memperlakukanku seperti mainan. Dan sekarang… aku tahu kau musuh keluargaku? Kau musuhku?” Suaranya pecah, marah dan kecewa sekaligus.

Randy berdiri, tubuhnya tegap, aura dominannya memenuhi ruangan. “Ya. Dan aku tidak bisa menyalahkanmu kalau kau merasa dikhianati. Tapi kau harus belajar menerima fakta: dunia ini tidak ramah, Diana. Kau tidak bisa berharap semua orang bermain jujur, bahkan aku.”

Diana menatapnya, seluruh tubuhnya tegang. “Jadi… semua ini… semua perhatian, semua dominasi… itu semua bagian dari permainanmu? Dari pihakmu?” Suaranya serak, matanya merah.

Randy berjalan mendekat, jaraknya hanya beberapa langkah dari Diana. “Tidak sepenuhnya permainan, Diana. Ada sisi lain yang kau belum pahami. Tapi kau harus tahu satu hal: aku tidak akan menyerah pada pihakku, dan aku tidak akan membiarkanmu mengacaukan segalanya. Kau berada di garis yang salah.”

Diana menggeleng, napasnya tercekat. “Kau… kau membuatku merasa hancur, Randy. Tidak ada kata-kata yang bisa menggambarkan marahku sekarang. Malam itu… semua yang terjadi… aku merasa… terhina, dan sekarang… ternyata kau musuhku juga?”

Randy menatapnya dengan tajam, matanya seperti menembus seluruh pertahanan Diana. “Aku tidak mengatakan itu untuk menyakiti. Aku hanya memastikan kau memahami situasi. Dan kau harus mulai berpikir dengan kepala dingin, bukan hati yang terluka.”

Diana menunduk, menahan napas. Air matanya nyaris jatuh, tapi ia menahannya dengan keras. “Kau… kau tidak mengerti… rasanya dikhianati dua kali. Pertama oleh orang yang aku percayai… dan sekarang olehmu. Kau… kau membuat semua ini menjadi mimpi buruk yang nyata.”

Randy mencondongkan tubuh sedikit lebih dekat, suara rendah tapi penuh kendali. “Aku mengerti, Diana. Tapi kau harus belajar sesuatu: emosi tidak akan menyelesaikan masalah. Hanya strategi dan kendali yang akan memastikan kau bertahan. Malam itu, pagi ini… semuanya adalah pelajaran untukmu.”

Diana menatapnya, tubuhnya gemetar, napasnya tercekat. “Pelajaran? Kau menyebut ini pelajaran?” Suaranya bergetar, matanya berkaca-kaca, tapi marahnya tetap membara. “Kau menghancurkan kepercayaanku, Randy. Kau menghancurkan harga diriku!”

Randy berdiri tegap, menatapnya dengan tatapan dingin tapi jelas. “Dan kau harus menerima itu. Tidak ada kompromi dalam permainan ini. Kau berada di garis yang salah, Diana. Dan kau harus tahu: musuhmu bukan hanya pihak lain… tapi aku juga.”

Diana menahan napas, tubuhnya tegang, marah dan terhina. “Kau… kau benar-benar musuhku… dalam kehidupan nyata. Tidak hanya malam itu, tapi semuanya… kau ada di balik semua masalahku.”

Randy mengangguk pelan, matanya tajam. “Ya, dan kau harus mulai menyesuaikan langkahmu. Dunia ini keras, Diana. Dan malam itu hanyalah awal. Kau tidak bisa lari, kau tidak bisa menolak. Kau harus menghadapi kenyataan bahwa musuhmu… bukan hanya orang asing. Aku adalah bagian dari itu.”

Diana menunduk, menahan napas, merasa tubuhnya lelah, tapi emosinya masih berkecamuk. “Aku… aku tidak tahu harus bagaimana… menghadapi semua ini… menghadapimu…” Suaranya nyaris berbisik, penuh ketegangan.

Randy melangkah mendekat lagi, jarak mereka hanya beberapa langkah. “Kau harus belajar satu hal, Diana. Kau tidak bisa menghindar. Kau tidak bisa memilih sisi. Kau harus bertahan, dan kau harus memahami bahwa aku… akan selalu ada di jalur yang sama, mengawasi setiap langkahmu. Malam itu… hanyalah awal dari pertarungan yang sebenarnya.”

Diana menggigit bibir, menahan gemetar, menatap Randy dengan mata membara. “Kau… kau membuatku merasa hancur… dan sekarang kau menegaskan bahwa aku harus menghadapi musuhku secara langsung… dan itu adalah kau…”

Randy mencondongkan tubuh sedikit lebih dekat, matanya menusuk, suaranya rendah tapi mantap. “Dan kau harus menerima itu, Diana. Tidak ada cara lain. Malam itu, pagi ini, semua ini… hanyalah permulaan. Dan kau… kau baru saja menyadari siapa yang benar-benar menjadi musuhmu.”

Diana menelan ludah, seluruh tubuhnya tegang, dan napasnya tersendat. Ia menyadari satu hal: konflik yang ia hindari selama ini sekarang berada di hadapannya, dalam wujud Randy—musuh yang tidak hanya mengendalikan malamnya, tapi juga kehidupannya.

Tiba-tiba, suara langkah dari lantai atas membuat keduanya terhenti. Pintu ruang tamu terbuka, dan seorang pria muncul dengan tatapan tajam. Sosok itu membawa dokumen, ekspresinya serius, dan seolah membawa rahasia yang bisa menghancurkan Diana lebih cepat daripada Randy sendiri.

Diana menatap Randy, napasnya tercekat. Randy hanya tersenyum tipis, dingin tapi percaya diri. “Kau lihat? Dunia ini penuh musuh, Diana. Dan malam ini… kau baru saja bertemu salah satu yang paling berbahaya.”

Diana menelan ludah, tubuhnya gemetar. Ia menatap pria di pintu, lalu kembali menatap Randy, dan menyadari satu hal yang menakutkan: ia dikelilingi oleh musuh, dan satu-satunya yang paling dekat dengannya—yang ia pikir bisa dipercaya—ternyata adalah bagian dari ancaman itu.

Bersambung, Saksikan kelanjutan ke Bab 6 — Jarak yang di paksakan

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Aku Hamil Anak Musuhku   Bab 48 — Kedekatan yang Membingungkan

    “Jangan menyentuhku.” Diana langsung menarik tangannya ketika Randy mencoba membantu menopang tubuhnya. Namun pria itu justru menatapnya lebih tajam. “Kau hampir jatuh.” “Aku bisa menjaga diriku sendiri.” “Kau yakin?” Pertanyaan itu terdengar sederhana, tapi menghantam tepat ke dalam pertahanan Diana. Karena sebenarnya… ia mulai lelah menjaga semuanya sendiri. Dan kelelahan itu semakin terasa setiap Randy berada di dekatnya. Pria itu mulai membuat Diana merasa tidak sendirian. Namun justru itulah masalahnya. Sebab Diana tahu hubungan mereka tidak seharusnya berubah menjadi seperti ini. Mereka seharusnya saling membenci. Bukan saling memperhatikan dalam diam. Tatapan Randy perlahan turun ke wajah pucat Diana sebelum akhirnya berkata pelan— “Kau tidak terlihat baik-baik saja akhir-akhir ini.” Tubuh Diana langsung menegang. Restoran itu masih dipenuhi tatapan orang-orang. Beberapa diam-diam merekam. Beberapa berbisik sambil melirik ke arah mereka tanpa rasa malu. Dan

  • Aku Hamil Anak Musuhku   Bab 47 — Perhatian yang Mulai Terlihat

    “Kau belum makan sejak tadi siang, kan?” Diana langsung mengangkat kepala ketika Randy meletakkan makanan di depannya. Pria itu duduk tanpa meminta izin, seolah keberadaannya di sana adalah hal biasa. “Aku tidak lapar.” “Kau berbohong.” Nada suara Randy terdengar datar, tetapi justru itu yang membuat Diana semakin gugup. Randy mulai terlalu mengenalnya. Pria itu mulai menyadari kebiasaan kecil Diana. Cara wanita itu menghindari tatapan saat gugup. Cara napasnya berubah saat sedang menahan sesuatu. Dan itu membuat Diana semakin tidak tenang. “Apa semua ini hiburan untukmu?” tanya Diana pelan. Randy mengernyit. “Apa maksudmu?” “Memperhatikanku seperti ini.” Untuk beberapa detik, Randy tidak menjawab. Tatapannya justru semakin sulit dibaca. Seolah pria itu sendiri mulai bingung dengan alasan di balik semua perhatian yang ia berikan. Namun sebelum suasana berubah semakin aneh, Diana mendadak memegangi meja karena kepalanya terasa pusing. Dan Randy langsung berdiri panik. “

  • Aku Hamil Anak Musuhku   Bab 46 — Jarak yang Tidak Lagi Jelas

    “Duduk dulu.” Nada suara Randy terdengar rendah saat pria itu menarik kursi di depan Diana. Wanita itu langsung menegang. Ia tidak suka bagaimana Randy mulai bersikap seolah punya hak untuk mengatur dirinya. “Aku tidak butuh diatur.” “Kau juga tidak terlihat baik-baik saja.” Kalimat itu langsung membuat Diana terdiam. Beberapa hari terakhir semuanya terasa semakin sulit. Tekanan dari keluarga belum hilang, sementara Randy kini terus muncul di sekelilingnya tanpa memberi ruang untuk bernapas. Dan yang paling berbahaya— Diana mulai terbiasa dengan kehadiran pria itu. Ia membenci fakta tersebut. Karena semakin sering mereka bersama, semakin sulit baginya menjaga jarak emosional. Tatapan Randy tidak lagi terasa setajam dulu. Ada sesuatu yang berubah perlahan, sesuatu yang membuat Diana takut pertahanannya runtuh. “Kau terlihat lelah,” ujar Randy lagi pelan. Diana buru-buru memalingkan wajah. Sebab jika ia terus menatap pria itu lebih lama… ia takut akan mulai percaya bahwa Ran

  • Aku Hamil Anak Musuhku   Bab 45 — Tekanan yang Tidak Bisa Dihindari

    “Kau pikir semua ini bisa terus disembunyikan?” Nada suara Randy terdengar lebih tajam malam itu. Diana langsung membeku. Ia tahu pria itu mulai curiga lagi. Dan itu membuat kepalanya terasa semakin berat. “Aku tidak menyembunyikan apa pun.” “Kau bahkan tidak bisa mengatakannya sambil menatapku.” Kalimat itu langsung menusuk pertahanan Diana. Tekanan dari keluarga belum selesai. Bisik-bisik mulai terdengar semakin jelas. Sementara Randy kini terus memperhatikannya dengan cara yang membuat Diana sulit bernapas. Seolah pria itu sedang menyusun semua potongan yang belum ia pahami. Dan Diana takut pada satu kemungkinan— Jika Randy benar-benar mengetahui semuanya… hidupnya akan berubah total. Tatapan Randy perlahan turun ke arah tubuh Diana sebelum kembali menatap matanya tajam. “Apa sebenarnya yang sedang kau sembunyikan dariku?” Jantung Diana langsung berhenti sesaat. Mobil Randy melaju cepat membelah jalan malam. Suasana di dalamnya terasa sesak. Bukan karena sempit. T

  • Aku Hamil Anak Musuhku   Bab 44 — Batas yang Mulai Retak

    “Kenapa kau terus memperhatikanku?” Pertanyaan Diana membuat Randy diam beberapa saat. Tatapan pria itu tidak lagi sedingin dulu. “Aku juga tidak tahu.” Jawaban jujur itu justru membuat suasana semakin kacau. Diana langsung memalingkan wajah, berusaha mengabaikan detak jantungnya yang mulai tidak stabil. Hubungan mereka berubah terlalu cepat. Dan perubahan itu menakutkan. Karena semakin sering mereka bersama, semakin kabur batas antara kebencian dan perhatian. Sementara di luar sana, tekanan keluarga terus meningkat tanpa memberi mereka ruang bernapas. “Kau harus berhenti dekat-dekat denganku,” bisik Diana pelan. “Kenapa?” Diana menatap Randy lama sebelum akhirnya berkata lirih— “Karena semuanya akan jadi lebih buruk.” Randy langsung menyipitkan mata. Seolah pria itu mulai menyadari ada sesuatu yang belum Diana katakan. Ruangan arsip itu mendadak terasa terlalu sempit untuk mereka berdua. Udara terasa berat. Penuh ketegangan yang tidak lagi bisa disembunyikan di bali

  • Aku Hamil Anak Musuhku   Bab 43 — Rahasia yang Semakin Berat

    “Aku tidak butuh bantuanmu.” Diana langsung menarik tangannya saat Randy mencoba menahannya. Namun pria itu justru menatapnya semakin tajam. “Kau pikir kau bisa menghadapi semuanya sendiri?” “Aku memang selalu sendiri.” Jawaban itu membuat Randy terdiam sesaat. Diana segera memalingkan wajah. Ia terlalu lelah. Tekanan dari keluarga, rasa takut rahasianya terbongkar, dan kehadiran Randy yang semakin dekat membuat pertahanannya mulai retak sedikit demi sedikit. Namun yang paling membuatnya takut adalah dirinya sendiri. Karena sebagian kecil hatinya mulai merasa nyaman saat Randy berada di dekatnya. Dan itu salah. Sangat salah. Randy memperhatikan wajah pucat Diana beberapa detik lebih lama sebelum akhirnya berkata pelan— “Kau terlihat seperti sedang memikul sesuatu yang terlalu berat.” Tubuh Diana langsung menegang. Lorong kantor yang tadi ramai kini mulai sepi. Namun bagi Diana, dunia tetap terasa bising. Bisikan. Tatapan. Notifikasi berita. Semua seperti terus menge

  • Aku Hamil Anak Musuhku   Bab 6 — Jarak yang Dipaksakan

    Diana menatap jalanan dari jendela apartemennya, hujan tipis menetes di kaca, seolah meniru perasaannya yang bercampur aduk. Setiap tetes air tampak seperti pengingat malam-malam yang baru saja ia lalui—malam yang mengubah segalanya, malam yang membuatnya kehilangan pijakan dalam hidupnya. Ia menar

  • Aku Hamil Anak Musuhku   Bab 4 — Nama yang Tidak Seharusnya Diketahui

    Diana menatap layar teleponnya dengan tangan gemetar. Suara di seberang terdengar tenang, tapi setiap kata yang keluar membuat seluruh tubuhnya menegang. “Apakah kau benar-benar tahu siapa dia?” suara itu menekannya lebih daripada ledakan kemarahan semalam.Diana menelan ludah, jantungnya berdetak

  • Aku Hamil Anak Musuhku   Bab 3 — Kesepakatan Tanpa Nama

    :Diana menatap Randy dari seberang meja ruang konferensi, hatinya masih panas. Malam sebelumnya terasa seperti mimpi buruk yang nyata, dan sekarang ia harus duduk di sini, berhadapan dengan pria yang membuatnya merasa terluka dan terhina. Napasnya tak beraturan, tapi ia mencoba menahan diri agar t

  • Aku Hamil Anak Musuhku   Bab 2 — Pria Asing di Pagi Hari

    Diana membuka mata perlahan, pandangannya buram oleh sinar matahari yang menembus tirai kamar. Kepala pusing dan tubuh lelah membuatnya terhuyung saat mencoba duduk. Napasnya terengah saat menyadari bau maskulin yang masih menyelimuti ruangan.Matanya membesar saat menatap sosok yang duduk di kursi

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status